Pernikahan Adat Batak

Sebenarnya tulisan ini ada komentar dari appara Rivai Sihombing (sebagai penghargaan saya terhadap komentar ini sengaja linknya saya set rel=”friend”) mengenai Pernikahan adat batak yang di posting di artikel Orang Batak yang Menikah Tanpa Adat Batak

berikut lengkapnya

Ketika saya hendak menikahpun, sebagai orang pria Batak – saya langsung dihadapkan dengan segala bentuk adat istiadat Batak. Saya sempat dibuat pusing tujuh keliling. Yang terbayang di hadapan saya adalah biaya pesta yang membengkak, di luar dugaan!. Saya sempat menolak mentah-mentah segala bentuk aturan adat istiadat Batak, yang saya rasa tidak perlu karena saya merasa tidak penting!. Kalau boleh jujur, alasan yang saya buat-buat adalah tidak sesuai dengan keyakinan / prinsip saya. Saya keras sekali menentang semua prosesi adapt Batak. Alasan yang saya buat-buat ketika itu sangat bertentangan dengan ajaran Injil (tidak sesuai dengan ajaran Kristus/Kristen). Padahal, alasan sebenarnya adalah soal biaya dan biaya. Setelah berkunsultasi kesana-kemari dengan orang tua dari kalangan orang Batak atau tidak. Dan saya tidak lupa berdoa untuk diturunkan pencerahan pikiran.

Entah kenapa waktu itu saya hanya pasrah saja. Saya serahkan pada TUHAN saja mana yang terbaik. Akhirnya saya setuju saja menyerahkan semua prosesi pernikahan saya dilakukan melalui prosesi adat Batat (Mangadati) secara penuh (adat na gok). Yang penting adalah niat saya yang tulus, kalau itu adalah jalan yang terbaik diberikan TUHAN. Dan tampa disangka-sangka, rejeki / order saya ada saja untuyk menutupi semua biaya pesta adat itu. Dan saya akhirnya menyadari apa makna adat Batak tersebut bagi pernikahan saya. Itu yang terpenting akan saya bagi bagi banyak orang.

Persoalannya sekarang, ada banyak pria di luar suku Batak atau pria Batak sekalipun kurang memahami adat tersebut. Atau banyak mereka tidak mau tahu atau peduli. Atau tidak mau direpotkan dengan semua prosesi adat Batak yang dianggap merepotkan/berbeli-belit! Yang terjadi sebenarnya adalah mereka tidak menerima semua prosesi adat Batak dalam pernikahan, bukan karena alasan pertentangan keyakinan!!!! Sekali lagi bukan!!!! Tetapi karena mereka tidak mau repot dan tidak mau banyak keluar biaya dalam pernikahan mereka. Mereka ketakutan keluar biaya banyak!!! Itu adalah alasan sebenarnya!!! Bukan karena keyakinan!!!! Apakah semua adat istiadat Batak sesuai dengan firman TUHAN. Saya katakana ya….ya…dan ya…

Tuhan akan memberkati pernikahan tersebut selamanya. Jika hubungan komunitas sosial dengan keluarga terdekat juga ikut merestui dan mendoakannya! Banyangkan jika pernikahan seorang wanita atau pria Batak TIDAK dihadiri salah satu orang tuanya atau familinya. Bayangkan betapa sakit hatinya orang tua si mempelai perempuan/laki-laki tersebut! Seperti pernah kasus di keluarga saya.

“Ito saya (saudara perempuan anak adik ayah saya) akan menikah dengan seorang pria di luar suku Batak, seorang pendeta dari golongan Kristen Kharismatik dari suku Indonesia timur. Kedua orang tuanya, dan famili tidak setuju atau menghadiri pernikahannya karena tidak disetujui orang tuanya karena pernikahan mereka tidak dilakukan secara prosesi adat Batak. Ditambah, pengaturan tanggal pernikahan mereka sendiri yang sudah mereka atur tampa pemberitahuan / persetujuan dari kedua orang tuanya. Saya sedih melihat adik ayah saya. Dia semakin trus stess memikirkan anak perempuannya yang sangat dicintainya. Bahkan nyaris adik ayah sayta terkena stroke. Tetapi pernikahan mereka tetap saja dilakukan tampa dihadiri keluarga adik bapak saya. Sangat tragis dan menyedihkan…!!! Apakah ini pernikahan yang diberkati TUHAN!

Jelas ini sangat bertentangan TUHAN! Saya tidak mengerti, mereka sangat dekat dengan TUHAN dan mengaku – ngaku sebagai hamba TUHAN yang kudus bertekun dalam doa, berani melakukan seperti ini. Tetapi justru sangat menyakitkan hati kedua hati orang tuanya! Apakah seperti ini pernikahan yang diberkati TUHAN???? Mana penghormatan terhadap orang tua!?

Sebenarnya, setelah saya alami semua prosesi pernikahan adat Batak pada pernikahan saya. Yang saya rasakan sekarang ini dan seterusnya adalah semua prosesi adapt batak tujuannya adalah bentuk dari penghormatan dan cinta kasih dari kedua orang tua, saudara sekandung, dan keluarga dekat, dan masyarakat sekitarnya. Semua prosesi adat istiadat BatakBatak tidaklah bertentangan dengan ajaran Kristen!!! Justru tujuannya adalah dalam rangka mempererat hubungan cinta kasih dan kepedulian kedua orang tua/keluarga, saudara, kerabat dekat dan masyarakats sekitarnya kepada anaknya yang sangat dicintai. Simbol ini diwakli dengan prosesi pemberian ulos. Dan itulah yang saya alami! Apakah hal itu benar-benar bertentangan dengan firman TUHAN seperti yang dikatakan banyak aliran Kristen kharismatik, yang mengatakan semua prosesi adat adalah bentuk “upacara berhala”. Sangat aneh…Bagi saya itu hanya alasan yang dibuat-buat mereka, karena tidak mau peduli atau tidak mau pusing atau direpotkan dengan semua prosesi adat Batak, dan tidak mau bersosialisi dengan kedua kerabat keluarga dan masyarakat sekitarnya. Ya.Mungkin juga karena ketakutan keluar biaya besar! Silahkan anda pikirkan. Terima kasih. (Rivai Sihombing) pembawaide@yahoo.com.

About these ads

46 Comments

  1. Posted April 14, 2009 at 6:07 pm | Permalink

    saya sdh baca artikel anda,bagus… namun saya kurang setuju pendapat ito,begini:dlm hal ini ito bilang bahwa ada bbrp org tdk mau pake adat karena:
    !.pembengkakan dana
    2.tdk mau rept
    3.krn alasan kebenaran Firman Tuhan

  2. Posted April 14, 2009 at 10:28 pm | Permalink

    Tdk secara kebetulan saya adalah boru batak yg menikah dgn tdk pake adat,dlm hal ini saya mau memberi pengalaman pernikahan kami,sama seperti adik saudara dapat suami orang timor(Ambon)& gereja karismatik…tp bedanya pernikahan kami dihadiri orang orangtua kami masing” plus saudara saparadatan kami.Dan dlm firman Tuhanpun adat tidak pernah dilarang karna Tuhan Yesus sendiri juga punya adat yaitu adat Yahudi,bacalah diPB.klo masalah dana bengkak???kami menikah menghabiskan uang 50 jt sangat lbh tinggi jika dibanding klo pake adat,krn 40 jtpun bisa kok pake adat udah adat penuh lagi ya nggakk??.Jadi dlm hal menikah pake adat ato tidak itu adalah pilihan…dan melakukannya harus dalam konteks yang benar,jgn sekali” menyalahkan gereja dalam hal ini seolah” kitalah yg paling benar…Tapi orangnya yang perlu kita tanya apa motivasinya melakukan pilihan itu.Masalah ulos gak ada yg salah dgn ulos yg jadi masalah adalah sering sekali dalam penyampaian ulos kpd ke2 mempelai kata”nya itu seperti ini”sai diramoti ulos on ma tondimu na gabe sari matua mahamu…”nah menurut anda apakah ulos dpt mangaramoti tondi(roh)manusia??yg dapat mangaramoti tondi manusia hanyalah Tuhan…Masalah cinta kasih kpd orgtua dan handaitolan…apakah anda jamin bahwa anda jauh lebih mencintai orangtua anda dibanding adik anda itu?itu cuma mslh mengekspresikan saja,anda bs mengespresikan cinta anda kpd orgtua anda lwt pesta adat dan mgkn adik anda mengekspresikan lwt berdoa setiap hari untk orgtua anda bahkan berdoa untuk anda juga…jadi kita tidak boleh menghakimi orang dengan seolah” kita merasa paling benar…Jd apapun yg kita lakukan dlm pernikahan asal sesuai norma” agama smua itu baik dihadapan Tuhan.Jd klo mau tulis artikel survei dulu dgn org” batak lainnya,sbab bs aja mereka tdk sepaham dgn anda..supaya lebih berbobot gituuu..GOD Bless,jgn marah yahh

  3. Posted Mei 20, 2009 at 8:22 pm | Permalink

    Saya jg salah satu dr boru batak yg menikah tanpa adat batak krn saya menikah dgn pria suku lain, tapi ortu dan sdr2 kami hadir semua. Adat batak tdk dilakukan selain krn kami merasa pemberkatan sdh sangat sah,itu jg dilakukan utk menghormati pihak pria yg dr sukunya sendiri sdh punya marga krn kalau pakai adat itu pria non batak harus diberi marga batak dulu paling tdk marga paribannya. Pasti sdr.ito itu jg punya alasan sendiri kenapa mereka tdk pakai adat batak N bkn melulu krn biaya. Tapi mrk memang hrs melakukan pendekatan terhadap ortu setelah menikah walaupun ortunya tdk hadir. 1 hal yg perlu diingat,adat dlm pernikahan tdk menjamin diberkati tdknya pernikahan krn ada 2 sdr sy yg nikah dgn adat gok tp sursar Rumah tangganya jd pernikahan itu Tuhan yg memberkati N kita menjalani sesuai dgn firman-Nya..jd tdk melulu org menikah tdk pakai adat krn berat di ongkos dll, tentu ada banyak alasan..tp kalaupun ada yg krn biaya mrk nikah tanpa adat ya ga dosa jg kok, malah kalau mrk sampai ngutang krn mau buat adat itu yg jd pertanyaan, setelah nikah ada beban, ada PR yg hrs diselesaikan. Untuk membahagiakan ortu ada bnyk cara salah satunya kita jalani pernikahan sesuai dgn janji nikah, krn ortu kita akan bahagia jika rumah tangga anaknya langgeng, bahagia, Mohon maaf kalau ada kata yg salah, Tuhan Yesus memberkati rumah tanggamu.

  4. Posted Mei 20, 2009 at 9:57 pm | Permalink

    mantap komentar diatas…

  5. Sianturi Klt
    Posted Juni 3, 2009 at 9:22 pm | Permalink

    Sebagai orang batak kita harus bangga, adat yang dibuat oleh orang tua kita dulu tujuannya sangat mulia, jangan karena kita sudah kristen adat batak diplintir hanya karena segi bahasa yang tidak sesuai dengan agama. Kita harus jujur adat batak merupakan adat yang menjungjung penghormatan kepada Tuhan dan sesama manusia, kalau ada orang batak yang mengatakan adat batak bertentangan dengan agama kristen, brarti orangnya yang tidak mengerti akan nilai luhur adat batak, yesus sendiri menghormati adat istiadat, jangan karena bahasa yang kurang kita pahami kita anggap tidak relevan dengan agama kristen, kita mengatakan menghormatu orang tua bukan dengan adat batak kita juga bisa berdoa, sama saja berdoa tapi ipmlementasinya tidak ada, bagaimana kita menghormati kerabat dengan berdoa tanpa dengan perbuatan? Dalamilah adat batak baru dengan sepenuh hati maka, ajaran kristen dan batak hampir sama bagaimana ajaran kristus kepada kita, Horas lestarikan adat batak.

  6. arin
    Posted Juni 6, 2009 at 2:25 pm | Permalink

    Kenapa orang batak harus nggak setuju sama orang yang beda suku/bukan orang batak yang menjadi pasangan hidup anaknya? apakah hanya orang batak harus mendapatkan jodoh orang batak pula?apakah itu tidak melarang ajaran Tuhan juga namanya karena membeda – bedakan suku.

  7. Ester Aritonang
    Posted Juni 9, 2009 at 2:34 pm | Permalink

    Sebagai org percaya pd-Nya seluruh aspek kehidupan kita diatur oleh Tuhan, termasuk suku apa jodoh yg akan Tuhan berikan.Sebagai ortu jg tentunya hrs berbesar hati menerima menantu yg tdk sesuku dgn anaknya..apalagi cerita di atas yg bukan suku Batak yg pria jadi gak salah jg kalau hanya pemberkatan ( netral )karna yg wanita akan ikut suami malah kalau yg pria non Batak tetapi memiliki fam ( marga )maka yg wanitalah menjadi bagian dr marga suaminya, sama seperti pasangan yg sama-sama orang Batak menikah pd akhirnya yg wanita menjadi hak marga suami. Pada akhirnya jg Firman Tuhan katakan “Hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, sebagaimana seharusnya didlm Tuhan “( kolose 3:18 ) Masalah cerita yg ada di atas hendaknya tdk menjadi perpecahan kel.besar tsb, KASIH yg dr Tuhan pasti sanggup mendamaikan ibu & anak jg mantu krn satu sama lain akan saling menerima, sebab KASIH YESUS universal, tdk memandang suku N Tuhan cinta semua bangsa, semua bangsa di dunia inggris Prancis Afrika India dan Indonesia..Tuhan cinta semua bangsa di dunia ( lagu sejak sekolah Minggu )1 hal saya yakin wanita di ats menikah tanpa adat pasti penuh pertimbangan & itu pilihan yg berat antara adat & iman yg dipegang & dia melakukan sesuai suara hati yg dibawa dlm doanya tetapi bukan berarti dia tdk menghormati ibunya apalagi harus mengalami penolakan dr kel.besar. GOD bless all…

  8. jon
    Posted Juni 10, 2009 at 2:58 pm | Permalink

    sy cman mo ngomentarin soal adat istiadat batak. namun, sya mo nanya. apakah adat batak it ada sesudah atw sblum kedatgan kristen ke tnah batak?

  9. Posted Juni 20, 2009 at 10:36 am | Permalink

    barangkali saya masih dangkal mengenai adat batak, tetapi di dalam darah saya mengalir darah batak yang kental, menjadi kebanggaan saya, yang harus dilestarikan. sesungguhnya, suku batak menarik garis dari keturunan bapak, sama seperti orang Israel, sehingga pewaris secara adat adalah anak laki-laki,tetapi sekarang perempuan (boru) batak juga tidaklah diabaikan begitu saja di dalam adat. perkawinan secara agama tentu berbeda secara adat, tetapi ephorus Silaban, mengemukakan supaya tidak ada pertentangan antara agama dan adat yaitu akarnya agama dan pohonnya adat. artinya keduanya sama penting dan saling membutuhkan. sehingga saya menyimpulkan sebaiknya laki – laki batak menikah dengan perempuan batak yang Kristen sehingga tradisi Batak tidak hilang, apalagi perempuan Batak menikahlah dengan Laki – laki Batak (Kristen)sehingga keturunan boru batak tidak kehilangan indentitasnya sebagai orang batak . Mengenai adat Batak ketika dilakukan mau besar atau kecilnya secara agama pada akhirnya akan membuahkan berkat yang tidak bisa dibeli. Agama hubungan kita pribadi kepada yang kuasa, didalamnya ada hubungan dengan sesama, itulah adat batak.

  10. ina
    Posted Juli 14, 2009 at 7:40 pm | Permalink

    pusingggggggg _

    aq gak ngerti sama sekali ,

  11. iwan
    Posted Juli 27, 2009 at 11:34 pm | Permalink

    pernikahan tidak pake adat batak, Kalo memang alasannya untuk menghemat biaya, apakah salah?
    apakah org harus memaksakan pinjam kiri-kanan untuk menutupi biaya pesta adat yg mahal itu? saya rasa tidak.

  12. tono
    Posted September 18, 2009 at 3:27 pm | Permalink

    horas tano batak …

  13. Posted September 24, 2009 at 9:42 am | Permalink

    HANYA 2 SUKU DI DUNIA INI, yaitu SUKU BATAK DAN tidak suku BATAK.
    BATAK IS THE BEST…
    GA HARUS KELUAR BANYAK BIAYA KOK KALO MANGADATI, 5 JUTA CUKUP, JD ITU PARA KARISMATIK YG MAU BAKAR ULOS KTANYA ADALAH ORANG2 BODOH….

  14. minderman sihombing
    Posted Oktober 1, 2009 at 9:12 am | Permalink

    Saudaraku masyarakat Batak sungguh berbangga dirilah kita dipanggil sebagai orang batak saya jauh diperantawan, orang asing bilang culture batak ini adalah unik dan saudaraku terutama generasi muda marilah kita lestarikan adat kebanggaan kita ini saya akui mempertahankan culture kita ini bukanlah pekerjaan yang murah terutama hal perkawinan sungguh kita berterimakasih kepada Tuhan bilamana kita mampu melakukan gereja/adat batak dalam pernikahan,kita sangat berbangga diri bukan? Apa halnya motivasi menuju perkawinan itu sendiri klak kita punya keturunan dan panjang umur patogu togu pahompu, saya sangat sedih saudar sekalian melihat percerayan benar- benar cerai -berai suami istri dan anak dinegri berkembang juga di negara super power,karena tidak menilai arti perkawinan itu maka perkawinan yang diikat Sumpah digereja/dan adat batak ulos itu membawa nilai yang tak ternilai menguatkan sumpah/ikatan perkawinan yang telah dilakukan disitulah pihak tulang hulahula memberikan petuah petuah membri ucapan selamat/bahagia kepada pengantin jadi ada dua bagian terpisah yang saling mendukung dalam melaksanakan perkawinan itu.trms

  15. koridor5
    Posted Oktober 1, 2009 at 5:53 pm | Permalink

    Dear Teman-teman,

    saya hendak mengomentari bbrp komentar teman-teman:

    @ Ester Aritonang

    Sebagai org percaya pd-Nya seluruh aspek kehidupan kita diatur oleh Tuhan, termasuk suku apa jodoh yg akan Tuhan berikan.

    Dalam Kristen yg diatur oleh Tuhan itu berupa siapa saja manusia yg akan masuk surga but not take it for granted & waktu kematian seseorang. Sedangkan kehidupan manusia mulai dari lahir sampai manusia ada ditangan manusia itu sendiri tanpa kecuali pasangan hidup, dan pekerjaan.
    Dalam Kristen pasangan hidup itu merupakan suatu pilihan bukan suatu nasib (dikasih ‘turun begitu saja’ dari Tuhan.
    Pekerjaan saja dalam Kristen yang dimana adalah suatu panggilan (latinnya vocere) Tuhan kepada manusia, manusia bisa saja.
    Apa yang diatur Tuhan itu bersifat absolut, jadi kalau begitu apabila ada manusia menyangkal Dia maka sudah diatur Tuhan bukan????tidak bukan.

    Sebagai ortu jg tentunya hrs berbesar hati menerima menantu yg tdk sesuku dgn anaknya..

    pernahkah berpikir seperti ini ???
    Pada waktu kita jadi orang tua nanti tentunya harus berbesar hati menerima menantu jangankan yang sesuku dari saya/suami saya namun bukan pengikut Kristus.

    “Hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, sebagaimana seharusnya didlm Tuhan “( kolose 3:18 )

    hendaknya ayat ini haruslah ada padanannya yang sama sekali tidak dapat dipisahkan yaitu ayat sebelumnya/sesudah.
    kalau kita hanya membaca Kolose 3:18 seolah laki-laki itu superior padahal Tuhan tidak menghendaki demikian bukan makanya ada ayat padanannya.

    Kalau Ayah,Ibu, Kakek & Nenek cerita yang melatar belakangi kenapa pesta pernikaha dalam adat batak itu banyak yang harus dilalui hanya untuk satu tujuan:
    pernikahan itu bukanlah suatu permainan kalau sudah lelah maka berhenti, tapi harus sampai kematian menjemput.

    Muliate,

  16. koridor5
    Posted Oktober 2, 2009 at 9:47 am | Permalink

    @ Ester Aritonang

    Fam bukanlah marga, karena fam = familiy itu adalah Suku.
    dengan bahasa sederhana Suku (fam) merupakan kumpulan dari marga-marga..
    pohon silsilah nya spt ini:
    Suku batak terdapat jenisnya lagi yakni Batak Toba, Simalungun, PakPak, Karo, Mandailing.
    Batak Toba terdiri dari berbagai macam marga, begitupun dengan batak lainnya.
    teringat dengan pelajaran biologi pd saat SMP & SMA…

    logikanya kalau ada laki2/ perempuan yang memiliki fam menikah dgn perempuan/laki2 yang memiliki marga gak ada bedanya dengan kakek menikah dengan cucu atau tulang menikah dengan anak.

    Horas

  17. koridor5
    Posted Oktober 2, 2009 at 9:52 am | Permalink

    @ Ina
    pusingggggggg atau gak mau tahu..cuek bebek..

    janganlah kacang lupa kulit

    supaya dpt nggerti belajarlah krn belajar itu proses dari tidak tahu sesuatu mjd tahu sesuatu entah itu sedikit/banyak.

    Semangat !

  18. Posted Oktober 13, 2009 at 3:10 pm | Permalink

    Adat penting,tp AGAMA lebih PENTING & YG T’PENTING

  19. Posted November 9, 2009 at 9:12 pm | Permalink

    ya begitu lah adat kita adat batak karna itu kita harus bangga menjadi orang batak bangga dengan adat yang kita miliki jangan kaya orang yang menberikan komentar yang diatas karna mereka tidak menikah secara adat jadi merka tidak akan mengerti adat orang batak

  20. Alponsius Sitorus
    Posted November 11, 2009 at 2:54 pm | Permalink

    Terima kasih atas artikelnya…..

    Artikelnya Bagus….tp terlalu menyalahkan pihak lain…

    thankzzzz….

  21. Juni Simbolon
    Posted November 21, 2009 at 12:53 pm | Permalink

    Saya senang bmembaca coment dr Lae,Ito di atas.
    Yg terpenting…lakukanlah sesuatu hal yang tdk bertentangan dgn lingkunaganmu( Agama,Adat ).

    Kdg masalah timbul krn kita ingin tambil beda…pengen hal2 yg baru….
    Krn satu sifat keras org batak adlh pengen mencoba hal yg baru.

    Jd sebelum mengambil sesuatu yg baru,pikirkan matang2.Komunikasikan sama ortu,keluarga,kerabat yang bisa memberikan masukan pd kita.

    So jangan pernah mengecewakan ORANG TUA…..

    Salam,

  22. okto silaban
    Posted Januari 30, 2010 at 4:25 pm | Permalink

    horas…..!!!!!
    buat bapak, ibu, abang, kakak, tulang, opung. saya mahasiswa yang sekarang ini membuat sebuah karya ilmiah tentang “fenomena perceraian dikalangan batak toba kristen”. saya sangat mengharapkan dari bantuan bapa, ibu . kenapa pada masyarakat batak toba kristen itu perceraian itu makin banyak. terimakasih….!
    horasssssss

  23. okto silaban
    Posted Januari 30, 2010 at 4:26 pm | Permalink

    22.

    horas…..!!!!!
    buat bapak, ibu, abang, kakak, tulang, opung. saya mahasiswa yang sekarang ini membuat sebuah karya ilmiah tentang “fenomena perceraian dikalangan batak toba kristen”. saya sangat mengharapkan dari bantuan bapa, ibu . kenapa pada masyarakat batak toba kristen itu perceraian itu makin banyak. terimakasih….!
    horasssssss

  24. Roy Nababan
    Posted Maret 7, 2010 at 3:47 pm | Permalink

    Horas ………
    Agama dan Adat tidak bisa di campur aduk/disatukan.
    Agama dan Adat berjalan beriringan .
    Tolong Koreksinya …….
    Untuk masalah mengormati orang tua , itu datang dari hati masing – masing. Salut untuk kita orang batak yang sangat menghargai orang tua . bukan cuma orang tua kandung , tetapi yang lainnya juga. Jaya selalu halak batak dimananpun berada . Imanuel ………….. Tuhan Beserta Kita ……

  25. Hasiholan Olan
    Posted April 4, 2010 at 10:42 am | Permalink

    Banggalah jadi org Batak, krn byk penelitian yang mengatakan diantaranya, Nomensen : Orang Batak orang yang pantang menyerah, penuggang kuda yang lihai, gigi dalam mencari masa depan, dll sebagainya.

  26. parende
    Posted April 22, 2010 at 2:43 pm | Permalink

    saya tertarik denan topik ini, soalnya saya tidak mengerti sama sekali yang namanya ruhut-ruhutni paradaton. beberapa waktu lalu saya mengikuti seharian penuh pesta pernikahan batak yang kebetulan diadati penuh. saya banyak dapat pengetian dan pemahaman yang baru tentang adat ini.
    dai pengamatan saya adat batak sungguh-sungguh tidak ada pertentangan dengan agama !!!!, jadi hamu angka dongan naposo manang namatua adat batak justru tindakan pelengkap sempurnanya kasih Tuhan lewat tindakan, kenapa ?? karena dalam prakteknya/intinya adalah melakukan penghormatan dan sembah kepada pihak yang patut disembah dan kerjasama yang harus solit antara pihak yang harus kerja sama dan merendahkan diri kepada pihak yang harus merendah !. ini lah nilai yang saya dapatkan dari ulaon adat batak khusus pernikahan.
    jadi adat batak sungguh tidak bertentangan dengan keyakinan kristen.

  27. lastiur sihombing
    Posted Juli 31, 2010 at 1:03 am | Permalink

    aduh pusing kali pun… ora ngerti ,,, ribet…!!!!
    meenikah itu yg penting diberkati digereja dan dipersatukan oleh Tuhan… dah slesai…
    jgn marah yaaa… :)

  28. Gokben Pandiangan
    Posted Agustus 1, 2010 at 1:28 am | Permalink

    Adat Batak itu sangat indah dan mulia,karena didasari Cinta kasih dan mufakat. yang tidak bertentangan dengan firman Tuhan. Karena Tuhan sendiripun berfirman dalam hukum Taurat Musa yang kedua supaya manusia saling mencintai dan saling mengasihi.
    Hal ini juga lebih ditekankan dalam Umpasa Batak :
    1. Tampakna do Tajomna, Rimni Tahi do gogona yang artinya Pekerjaan atau pesta yang dilaksanakan dengan kesepakatan akan membawa berkat yang melimpah.
    2. Disi sirungguk disi do Sitata, disi hita marpungu disi do Amanta Debata. Artinya setiap perkupulan selalu kita mulai dengan Doa untuk menghadirkan Roh Tuhan. Agar perkumpulan itu berjalan dengan Damai.
    3. Tuat ma na di dolok martungkot siala gundi, Pinungka ni angka Ompunta naparjolo pauli-lion ni hita naumpudi. Artinya apa yang telah dirintis para leluhur kita sebaiknya tetap kita lestarikan.
    4. Baliga ma Pagabe natinabotaboan, Asa sahat ma hita gabe molo masipaolo-oloan artnya kita akan sejahtera apabila kita saling memahami.
    5. Sahat solu nitogu tubontean, sahat ma hita leleng mangolu sahat tu nagabean. Artinya seluruhnya kegitan kita, kita serah kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar kita diberi rejeki dan berkat yang melimpah serta umaur yang panjang. Horas, maulite tu angka dongan lumobi tu angka natua-tua na peduli tu adat dohot tu Agama.Rimpunan na dangadong naundenggan sian namarsipaolo-oloan.

  29. Andreas
    Posted Agustus 5, 2010 at 11:38 am | Permalink

    Bagaimana dan siapa aja yang berkepentingan dalam acara adat na gok perkawinan orang Batak…, ini harus jelas….
    Kalau kita berbicara masalah dana untuk melaksanakan adat na gok…, sebenarnya tergantung kita sendiri…, saya bisa bilang…, adat na gok bukan ditentukan besar-kecilnya uang yang kita keluarkan…
    Adat na gok halak Batak sebenarnya sangat sederhana…, kita ingat aja “SUHI NI AMPANG NA OPAT” dan “DALIHAN NA TOLU”kalau ini komplit…,tidak perlu pakai dana yang besar seperti yang sekarang ini banyak kita lihat.
    Adapun Suhi Ni Ampang Na Opat :

    1. Hula-Hula
    2. Tulang
    3. Bona Tulang
    4. Bona Ni Ari

    Untuk Adat Na Gok…, boleh dibilang…, uang di bawah Rp10 juta juga bisa dilaksanakan..
    Kalau kita mau sederhana…

  30. man manal
    Posted Agustus 14, 2010 at 7:18 pm | Permalink

    Adat Batak, Adat Nagok adalah salah satu Budaya Batak. Sebagaimana pada umumnya Adat, Adat Batak pada prinsipnya hanya berlaku untuk lingkungan Batak sendiri. Apakah orang Batak harus mengikuti adat Batak? Kalau kita tidak melaksanakan adat Batak, katakanlah Adat Nagok, sebenarnya tidak ada sangksi pidananya kok. Yang ada hanya hanya sanksi Adat. Contoh. Si A anak laki-laki dari Tn. B, menikah dengan si C, anak perempuan dari Tn. D.dan pernikahannya belum secara adat nagok, maka sanksi adat yang akan diterimanya adalah al. :
    1. Pihak Kel. D akan menganggap keluarga B tidak tau ruhut-ruhut (bisa dicap naso maradat) bila adat nagok itu belum dilaksanakan.
    2. B dan C secara adat tidak diperkenankan mangulosi dalam pernikahan secara adat nagok.
    3. Anak-anaknya tidak dimungkinkan melakukan pernikahan adat nagok, selama orang tuanya tsb belum membayar adat nagok.
    4. Bilamana B dan C meninggal dunia, walaupun kondisi mereka sudah dapat dikategorikan sebagai Sarimatua/Saurmatua, bilamana mereka atau keturunannya tidak mau melaksanakan proses adat perkawinan adat nagok, maka prosesi meninggalnya B atau C tidak akan dilaksanakan sebagaimana Adat meninggal Saurmatua atau Sarimatua. Barangkali diperlakukakan seperti orang yang belum menikah.

    Untuk Agustina Sipahutar.
    Saya kurang mengerti dari mana ito tahu, bahwa ada orang yang mangulosi mengatakan bahwa ulos itu yang melindungi kedua mempelai? Sementara ito sendiri tidak pernah mangulosi atau diulosi. Semua nasihat maupun umpasa senantiasa bertumpu pada kasih kemurahan Tuhan? Bila tdk keberatan bisa sharing, saya juga dari aliran Pentakosta kok.

    SANG PUTRI NIKAH DENGAN SUKU LAIN?
    Banyak tanggapan yang berbeda atas pernikahan seperti ini, apakah perlu adat nagok atau tidak? Malah ada yang mengatkan bahwa bila adat nagok dilaksanakan, itu menunjukkan keegoisan orang Batak. Seperti dikatakan diatas bahwa Batak hanya berlaku untuk lingkungan orang Batak, dengan demikian bilamana adat nagok dilaksanakan maka pengantin laki-laki (suku lain) tersebut dijadikan Batak terlebih dahulu. Pertanyaan apakah hal tersebut bisa tercapai apalagi dalam kemajemukan yang ada. Atau hanya untuk sesaat saja? Banyak trend seperti itu yang saya lihat diperantauan. Dalam hati apa ya gunanya, apakah ini tidak melecehkan adat Batak itu sendiri?
    Memang ada beberapa buku yang saya baca mengenai Mangampu Anak/Boru. Bagi saya pelaksanaan dari adat mangampu itu hanya efektif bilamana dilakukan dalam lingkungan teritorial Batak itu sendiri, dimana didalam kehidupan sehari-harinya akan senantiasa berhadapan dengan ruhut-ruhut adat itu sendiri. Menurut pemikiran saya, mungkin didalam kehidupan sehari-hari, keluarga tersebut senantiasa mengikuti kegiatan adat marga hula-hulanya. Namun untuk anak-anaknya kita tidak mungkin memaksakan adat batak. Contohnya, bilamana anaknya nikah nggak mungkin kita paksa bayar jambar Tulang atau menyuruhnya nikah secara adat Batak. Demikian juga ruhut-ruhut Adat meninggal dunia, saya kira tidak wajar kalau kita memaksakan harus dengan cara adat Batak. Jadi menurut hemat saya kalau memang mangampu itu hanya untuk proses adat nagoknya saja, labih baik nggak usah, karena itu malah merendahkan filosofi adat Batak itu sendiri.

    Selanjutnya bagi yang merasa tidak perlu mengikuti Adat Batak, saran saya jangan terlalu risau. Mengikuti atau tidak mengikuti adat batak adalah merupakan pilihan, tidak ada paksaan. Boleh saja anda mengikuti adat lain, apagi kalau menikah dengan suku lain. Namun yang pasti kita selaku makhluk sosial akan terpengaruh oleh salah satu sistem adat di nusantara ini. Karena Bangsa ini merupakan kesatuan dan kelompok-kelompok adat. Untuk lebih jelasnya mohon pelajari ikhal Adat.

  31. Adi pardosi
    Posted Agustus 16, 2010 at 2:31 pm | Permalink

    iwan
    Dituliskan Juli 27, 2009 pada 11:34 pm | Tautan Permanen

    pernikahan tidak pake adat batak, Kalo memang alasannya untuk menghemat biaya, apakah salah?
    apakah org harus memaksakan pinjam kiri-kanan untuk menutupi biaya pesta adat yg mahal itu? saya rasa tidak.
    menurut saya pernikahan tanpa adat batak hanya karena menghindari biaya yang besar itu salah sebab adat batak tidak pernah menuntut harus mewah, dan tidak mengharuskan mengundang orang banyak dengan kata lain jika semua unsur suhi ni appang naopat sudah terpenuhi prosesi adat sudah dapat dilaksanakan. jadi kalau masalah biaya itu tergantung kesanggupan dari pihak yang membayar adat saja. mauliate mohon dikoreksi bila masih banyak kesalahan

  32. rosdiana rajagukguk
    Posted Agustus 23, 2010 at 11:02 pm | Permalink

    “Hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, sebagaimana seharusnya didlm Tuhan “( kolose 3:18 )Tunduk kepada suami ini juga harus bijak memaknai.ada dampak negatif juga bila kalimat ini dimaknai semput seperti setelah menikah segala peratran harus diterima perempuan.Saya tidak setuju.ketunjukan pada suami juga relatif.sesuaikah dengan perintah TUHAN maka menurut saya memaknai satu ayatpun dari Alkitab jangan harafiah.Para pendeta gereja banyak yang tidak banyak membaca referensi lain melulu hanya Alkitab satu saja .janganlah seperti orang buta bawa orang buta.Yang kharismatik juga jangan terlalu berlebihan yang namanya fanatik berlebihan salah sampai membakar ulos.Jodoh,dan lain-lainnya yang terjadi dalam hidup manusia adalah karena pilihan.Ada teman saya meninggal karena kanker paru-paru karena merokok 3 bungkus satu hari jadi kata Pendeta pada saat memberi kata-kata penghiburan bahwa TUHAN yang memanggil.Maka tepatlah kata ayat di Alkitab bahwa mulut mereka saja yang memuji Aku tapi pewrbuatannya jauh …..Apapun yang terjadi dalam hidup adalah pilihan kita karena TUHAN memberi kita hak unutk memilih sama dengan Ayub walau pencobaan datang dia tetap memilih menyembah TUHAN.Janganlah gampang sekali membawa nama TUHAN.Si wanita sudah hamil dsebelum menikah dan dipaksa harus menikah apakah TUHAN yang menjodohkan ini.Manusia diberi alternatif untuk dipilih tapi Tuhan memberkati dan membiarkan itu semua terjadi agar manusia sadar bahwa pilihan apapun yang diputuskan semua ada konsekwensinya.Banyak kali orang sangat miskin ,apakah ini juga TUHAN sudah menentukan harus miskin?Periksa gaya hidupnya pasti ada yang tidak beres contohnya malas, boros dan lain sebagainya.Tentang adat Batak juga tidak ada yang salah.Banyak anggota keluarga yang berkelahi habis-habisan tapi dengan adanya pesta pernikahan secara adat Batak pada keluarga tersebut akhirnya berdamai.Tentang biaya, bila memang ada rasa damai dari Kristus, dana sering koq digotongroyongkan kenapa jadi masalah.molo godang habis, saotik cukup.Itukan filosofi orang Batak ketika mengadakan pesta ? Tentang restu dari orang tua tentang pernikahan.Saya sangat teriris membaca komentar diatas mengatakan bahwa orang tua tidak perlu memaksakan diri menerima calon menantu non-Batak.jadi dimana lagi patik pa 5 hon itu?Hanya satu patik tentang orang tua dan dikatakan asa ganjang umurmu ,itu kan syarat.Coba kita posisikan diri kita sebagai orangtua dari perempuan tadi.Emang si gadis itu, mapultak sian bulu? Pohon yang baik dilihat dari Buahnya.Para karismatikpun banyak koq yang tidak benar pemahamannya sekarang bukan masalah karismatiknya tapi individunya banyak juga karismatik yang beradat .Masa sih ada yang bertuhan luar biasa tapi menghargai keduaorangtuanya yang membesarkan dia tak mampu menghargai?Omongkosong semua itu .Saran Saya bila sudah menamakan diri orang Kristen harus lebih baik dari atheis tapi fakta membuktikan lebih baik jadi sahabat yang Atheis dari pada sama-sama Batak dan Kristen.Kesimpulan akhir:jangan sering menyebut nama TUHAN secara sembarangan.Adat penting.Tuhan Yesuspun beradat.Orangtua wajib dihargai sampai kapanpun no reason.Agama L:ebih tinggi dari semua apapun ondeng di dunia ini.Apapun yang kita kerjakan di dunia harus dipertanggungjawabkan/Semoga bermanfaat bagi teman-teman orang Batak

  33. arin
    Posted Agustus 25, 2010 at 3:44 pm | Permalink

    Saya bukan mau nulis komentar tp mau tanya,
    1. apa kelebihan dan kekurangan dari adat na gok (di taru jual atau di alap jual)
    2. bagaimana menurut anda dgn mangalua? apa baik buruk nya?

  34. rencana sembiring
    Posted September 15, 2010 at 5:47 pm | Permalink

    Horas…

    Numpang comment

    Saya sangat antusias dengan perdebatan perdebatan tentang perlu tidaknya penyelanggaraan adat dalam perkawinan orang Batak yang “dihubungkan” dengan ajaran Kristen.
    Terus terang saya bukan orang yang pintar dalam dalil-dalil dan ajaran agama Kristen walaupun saya seorang penganut Kristiani.
    Saya lebih tertarik dengan analogi yang pernah diucapkan oleh seorang ibu (sekilas saya lihat seperti orang kolot & kampungan) tentang budaya batak dalam kaitannya dengan Agama Kristen.
    Analoginya seperti ini: “Kalau ada yang mengatakan bahwa adat & budaya Batak bertentangan dengan ajaran agama Kristen saya (ibu) akan mengajukan balik beberapa pertanyaan sebagai berikut
    (T: tanya; J: jawab)
    T: Kamu seorang Kristen ?
    J: Ya
    T: Sebagai seorang Kristen kamu percaya pada siapa ?
    J: Yesus Kristus
    T: Apakah kamu percaya juga bahwa Yesus menjalankan kesehariannya, adat, dan budaya bahkan sampai saat wafatNya sesuai dengan yang berlaku pada zaman tersebut ?
    J: Ehmm… Ya, ada dalam Kitab Suci
    T: Adat dan budaya apa yang dipakai-Nya ?
    J: Adat Yahudi orang orang Israel
    T: Kenapa bukan adat & budaya Batak ?
    J: Karena Yesus bukan orang Batak
    T: Kalo begitu seandainya Yesus lahir di Tano Batak, adat dan budaya siapa yang dipakai-Nya ?
    J: Adat dan budaya Batak. He… eh
    Seandainya Yesus adalah orang Batak, maka pada saat Ia lahir akan datanglah Tulang-Nya “mamboan aek ni utte”, datang juga tetangga-tetangga si Josep & Maria membawa beras, dan yang menyambut kelahiran-Nya bukan suara sangkakala Malaikat tetapi suara gondang Sabangunan dan sepanjang malam akan dihiasi dengan alunan gondang uning-uningan, Dia tidak akan dibalut dengan kain lampin tetapi dengan Ulos, Dia tidak akan makan roti dari gandum tetapi makan nasi, Dia tidak akan minum anggur tapi minum tuak, pakaian-Nya bukan jubah tapi pakai “mandar” dan ulos tenunan. Dia tidak dielu-elukan sebagai raja dengan daun Palma tetapi dikenakan Ulos di bahu-Nya. Bahkan sampai wafat-Nya, bukan minyak wangi-wangian dan rempah-rempah yang dibalur ke tubuh-Nya,
    dan bukan kain kafan yang menutup tubuh-Nya. “Tulang-Nya” pasti datang untuk memberikan Ulos Saput.
    Untunglah Yesus tidak menikah.
    Kalo ya… pastilah Yosep dan Maria dan “dongan tubu”-nya pergi ke rumah si perempuan untuk marhusip, marhata sinamot, dst…,dst…dst…. (Forgive me my Lord)
    Sayangnya Yesus yang diimani oleh orang-orang Kristen itu bukanlah orang Batak, jadi Dia tidak mengenal yang namanya Ulos, tortor, gondang, uning-uningan, dalihan natolu, parjambaran. Dia tetaplah seorang yang hidup di daerah Yahudi-Israel dengan segala bentuk adat-istiadat dan budaya di zaman-Nya.
    Seandainya Yesus orang Batak dan lahir di tanah Batak, pastilah tidak ada orang-orang Batak yang akan menolak atau mempersoalkan adat Batak dengan ajaran-Nya.
    Sangat prihatin melihat orang-orang Batak yang tidak bisa melestarikan adat istiadat dan budayanya sendiri (bahkan ada yang menolak dan membenci) dengan alasan ajaran agama (Kristen), tetapi pada kenyataannya rela mengadopsi budaya-budaya ala Eropa-Amerika dalam peristiwa-peristiwa penting hidupnya.
    Adakah yang bisa membuktikan secara biblis-teologis bahwa ulos, taganing, hasapi, sarune, gondang, uning-uningan, dll hanya diperuntukkan bagi penyembahan berhala sementara kain woll, gitar, terompet, drum, musik jazz, waltz tidak ?
    Apakah tor-tor hanya untuk penyembahan berhala sementara dance tidak ?
    Analogi lagi: Apakah orang berjudi hanya dengan menggunakan kartu dan dadu ? Tidak. Dengan tangan kosong dan jari-jari sekali pun bisa berjudi. Apakah jika mau menyembah berhala hanya bisa dengan ulos, gondag, dll itu ? Tidak! Dengan terompet dan gitar juga bisa, bahkan dengan tangan kosong juga bisa.

    Adat ditujukan sebagai apresiasi penghargaan dan penghormatan terhadap orang tua dan kaum kerabat, maka digunakanlah sarana-sarana yang sesuai dengan kebiasaan-kebiasaan (budaya) yang dibangun oleh nenek moyang kita dan menjadi ciri khasnya.

    Biaya ?
    Unsur utama perkawinan adat batak adalah dalihan natolu dan suhi ni ampang na opat. Jika unsur tersebut terpenuhi maka adat bisa terlaksana. Hal-hal lain yang ditambahkan dalam zaman modern ini(tempat pesta di wisma/hotel, shooting video, dekorasi mewah, mobil pengantin, undangan yang banyak, dll) tidak ada pengaruhnya sama sekali dengan proses adat. Jadi membengkaknya biaya bukan karena adat, tetapi karena nafsu untuk unjuk kebolehan.
    Besar kecil nya pesta adat perkawinan tidak berpengaruh kepada esensi dari paradaton itu sendiri.

    Melakukan adat atau tidak merupakan pilihan ?
    Saya tidak sependapat dengan hal ini.
    Bagaimana mungkin saya bisa tetap mengaku “Batak” jika tidak menjalankan adat dan budaya Batak ?
    Lagi-lagi analogi: Selama saya masih Indonesia, maka “Indonesia Raya” tetap kukumandangkan, “Merah Putih” benderaku dan “Garuda Pancasila” di dadaku karena itulah “CIRI/ADAT/BUDAYA” Indonesia.
    Selama saya masih BATAK, tidak ada tawar menawar dengan dengan adat istiadat dan budaya Batak.

    Moga-moga comment ini bermanfaat dan bisa memberi pencerahan.
    Bravo Batak

  35. Gets.
    Posted Oktober 11, 2010 at 1:37 pm | Permalink

    Horas Pak Rencana sembiring,

    Saya sangat senang membaca uraian bapak dan saya sangat setuju sekali. Kita orang batak harus beradat yaitu adat batak. Horas, Horas, Horas.

  36. M Simanjuntak
    Posted Oktober 11, 2010 at 3:58 pm | Permalink

    Memet bulung ni fior, ummetmetan ma bulung ni bane bane
    Denggan siboan tigor, dumenggan an iboan dame

    Jujur do mulani harakkaton
    Bolus mulani hatoropon,
    Jujur ni rohamu do amang inang, abang lae, ito paboahon/patorangkon alai bolus ma tabaen asa tottong di bagasan hatoropon

    Mauliate, horas jala gabe

  37. Posted Oktober 13, 2010 at 4:30 pm | Permalink

    @all

    kalau adat lebih mulia dari TUHAN itu yang bertentangan
    sama seperti adat istiadat Yahudi yang terkadang sering dipraktekkan berlebihan…

    ada juga beberapa prosesi adat batak yang memang bertentangan dengan prinsip kekristenan…
    itu harus diakui…

    contohnya, boras sipirnitondi, ulos tondi, ikkan mas sitio-tio d.l.l
    tetapi prosesi itu bisa tetap dilaksanakan dengan nuansa simbolisasi, ulos diberikan dengan ucapan bahwa yang berkenan menguatkan roh kita adalah TUHAN bukan ulos itu d.l.l

    salam

  38. Ir. Toba L. Siahaan
    Posted November 17, 2010 at 11:49 am | Permalink

    Untuk Okto Silaban, banyaknya perceraian di batak toba dikarenakan kegagalan pemahaman kekeristenan sesungguhnya. Orang batak hanya mendalami adat batak saja. Dalam keluarga saya ada dua pasangan yang bercerai yaitu satu dari keluarga mama saya dan keluarga dari bapa saya.
    Dan kedua-duanya bercerai karena tidak bisa mempunyai keturunan, tidak ada alasan lainnya. Karena didalam agama batak ( adat batak ) mempunyai tujuan hidup di muka bumi ini yaitu 3 H ( Hamoraon, Hagabeon dan Hasangapon ) sehingga karena pemahaman tujuan hidup itulah mata orang batak ditutup mata rohaninya walaupun dia seorang Kriten. Ajaran Kristen yang telah dianut tidak dipakai dalam menyelesaikan masalah ini.Kalau perceraian seperti ini terjadi jelas menjadi kegagalan ke-kekristenan-yang-lama, sehingga sangat wajar apabila orang batak Toba yang kristen beralih aliran kristennya ke yang baru ( contohnya Kristen Karismatik ). Dengan masuk kepada aliran yang baru orang batak merasa hal yang baru bahkan merasakan sesuatu kedamaian yang belum pernah dirasakan, bahkan sampai-sampai menyesali atau menjadi benci pada ke-kekristenan-yang-lama, ini adalah kenyataan yang terjadi. Oleh karena itu saya tidak menyalahkan kalau ada orang batak yang bersikap menolak adat batak demi suatu iman yang membuatnya damai sejahtera.
    Tambahan untuk Okto Silaban, Satu lagi masalah orang batak yang akan terjadi adalah kira-kira 25 atau 30 tahun lagi banyak orang batak toba nanti apabila kawin/menikah sudah tidak dihadiri orangtuanya, Hal ini terjadi bukan karena pernikahannya tidak diadati tapi karena orangtuanya telah meninggal, kenapa ini terjadi ?. Ini terjadi karena sekarang banyak orang batak kawin di usia yang banyak ( telat kawin ).
    Terus terang saya sangat prihatin dengan masalah ini terutama di perantauan, dan banyak orang batak tidak perdulikan masalah ini karena telah di tutup mata rohaninya. Sekian dari saya.

    Boleh mengomentari tulisan saya ini dengan hati yang lembut penuh kasih karena ini adalah kenyataan, bukan dengan egois kebatakan.
    Terima kasih.

  39. sihombing
    Posted November 22, 2010 at 1:12 pm | Permalink

    Generasi muda batak sudah waktunya untuk lebih konsern dalam menyikapi hal ini.
    Pertama kita harus memisahkan dulu mana yang termasuk prosesi adat dan mana yang termasuk atau yang bisa dimasukkan ke prosesi kristen.
    setelah itu maka dengan kuasa Tuhan dan pimpinan roh kudus kita akan bisa membuat suatu konsep yang kira2 bisa dikatakan prosesi adat yang kristini.
    Artinya setelah kita pilah dan urai satu persatu acara adat pernikahan misalnya maka prosesi tortor dan ulos bisa diadopsi namun catatan kata2 nasihat harus selalu menggunakan istilah Tuhan atau Debata. Sedangkan prosesi sinamot diharapkan bisa lebih keformalitas saja. Artinya biaya sinamot juga akan diperuntukkan untuk keperluan pesta pernikahan. Ini untuk menutup kemungkinan sinamot menjadi pemujaan materi. Sementa tujuan dari sinamot itu bukan berarti jaminan bila kemudian terjadi perceraian maka sinamot akan dikembalikan.
    GOD BLESS BATAKS……..

  40. Moneristo
    Posted April 22, 2011 at 8:36 pm | Permalink

    Semua etnis di dunia sebagai makhluk sosial ada adatnya, aturannya.Semua ada kelemahan dan kekuatannya dalam membangun manusia yang berkwalitas.Sayangnya banyak orang yang salah memahami atau tak acuh.Akibatnya,yang disalahkan adalah adat,bukan orangnya

  41. Jane
    Posted Desember 29, 2011 at 2:21 pm | Permalink

    :-) Sejujurnya saat saya masih berada di dalam Suatu gereja tradisi..justru saya sangat membenci segala hal yang berbau suku BATAK, sebab saat itu yang saya lihat pada orang batak hanyalah kekerasan, hampir tidak ada kedamaian didalam keluarga2 batak yang saya lihat,termasuk pada keluarga saya sendiri…namun setelah saya merasakan kepuasan dalam suatu gereja yang lebih menjunjung Firman Tuhan lebih dari segalanya, justru mulai saat itu saya menjadi cinta akan suku saya sendiri… sehingga membuat saya rindu untuk mempelajari bahasa batak dan adt2nya..
    saya jadi lebih mencintai suku saya sendiri yaitu batak,namun untuk segala hal yang bertentangan dengan Firman Tuhan dalam adat batak yang melakukan penyembahan berhala, dan lebih menuruti ajaran2 nenek moyang dari pada mengutamakan Firman Tuhan, saya TIDAK akan melakukannya.. :-)
    mungkin saudara/i sekalian bisa membaca ayat Firman Tuhan dalam Markus 7:7-9
    dan lihatlah apakah saudara/i masih tetap pada kekerasan hati untuk mempertahankan kebanggaan saudara/i lebih daripada Firman Tuhan dengan segala kebenarannya..

    For Ir.Toba saya setuju dengan komentar anda diatas..
    Tuhan Memberkati

  42. Posted Januari 8, 2012 at 1:04 pm | Permalink

    horas….horas…horas…di hita sude parna.GBU.Amen.

  43. Dr.Hendra Sihite
    Posted Maret 23, 2012 at 11:05 am | Permalink

    salam damai dan salam sejahtera,,,

    – hormatilah adat mu, hidup tanpa adat syapa ya ?????
    jawab sendiri ya,,,,, semua manusia hidup pake adat
    jangan sombong lah, atau mempengaruhi orang untuk tidak beradat,,,
    adat itu jangan di identik kan sama uang,,,,, kalo gag punya uang untuk mgadakan adat jangan menyalahkan adat nya, adat juga ada yang kecil atau sederhana koqqqq, kalo gag sanggup juga pake tikar dan gag perlu gedung juga bisa koq, jangan salah sasaran lah menyalahkan adat karna gag punya uang,,,, gag nyambungggggggg, paling bisa lempar batu sembunyi tangan,,,,,

    – hormatilah dan imani agama mu, jangan jadi sombong rohani dan meNuhankan diri, mengatakan adat salah,,,, apa dasar mu, jangan jadikan firman Tuhan sebagai alasan,,,, hati2x bawa firman Tuhan,,,, Firman adalah Kabar SukaCita,,, bukan senjata untuk menyalahkan dan menghakimi,,,
    kasih hukum utama,,,,, lemparilah batu pada perempuan ini kalo km orang suci,,,, ada yang berani lempar gag,,,, banyak adat batak itu mengajrkan ulaon HOLONG ( kasih ), menjadi dekat dalam berkerabat, peduli apalagi di parsahutaon di tanah perantauan,,, jangan mudah terhasut lah,,,,
    jangan fitnah adat batak, ulos dan budaya lainnya,,,

    kau yang bilang ulos sama dengan berhala,,,, dan kalo pake adat batak itu dosa,,,,,,, INGAT KAU BUKAN TUHAN,,,,,,,,,,, JANGAN TUHANKAN DIRIMU,,,,,,

    MACAMMMMMMM TOHOOOOOOOOO saja kau ini bahhhhhhhhhhh, itu kata akhir saya buat yang suka menghakimi dan menyalahkan,,,

    HORAS.

  44. Posted April 19, 2012 at 2:54 pm | Permalink

    pusing saya membaca perdebatan2 tsb
    padahal saya sedang cari referensi bagaimana menagadati setelah sudah menikah (berhutang istilah or. batak ya?)
    Saya suku jawa mendpt suami or Batak. dl tidak lgs pk adat, karena ada abang dr suami yg belum menikah. makanya sekarang mau mengadati. saya jg baru tau, kalau hal tsb tidak wajib. krn entah kenapa orang2 kelg. dr suami di kampung tiap tahun ribut mengingatkan agar kami segera mengadati. padahal buth uang sekitar 50 jutaan (yg bagi saya sangat muahal), karena saya tinggal sangant jauh dari kp halaman suami. adakah yg bisa bantu??

  45. Posted April 23, 2013 at 10:44 am | Permalink

    I have really noticed that credit restoration activity really needs to be conducted with tactics.

    If not, it’s possible you’ll find yourself damaging your standing.
    In order to succeed in fixing your credit score
    you have to ascertain that from this instant you pay all your monthly expenses promptly in advance of their scheduled date.
    It’s really significant for the reason that by not necessarily accomplishing that area, all other activities that you will decide on to improve your credit rank will not be efficient. Thanks for revealing your concepts.

  46. Posted April 24, 2013 at 6:20 pm | Permalink

    It’s enormous that you are getting thoughts from this article as well as from our discussion made at this place.


Tulis sebuah Komentar

Required fields are marked *
*
*

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 36 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: