Sebenarnya tulisan ini ada komentar dari appara Rivai Sihombing (sebagai penghargaan saya terhadap komentar ini sengaja linknya saya set rel=”friend”) mengenai Pernikahan adat batak yang di posting di artikel Orang Batak yang Menikah Tanpa Adat Batak
berikut lengkapnya
Ketika saya hendak menikahpun, sebagai orang pria Batak – saya langsung dihadapkan dengan segala bentuk adat istiadat Batak. Saya sempat dibuat pusing tujuh keliling. Yang terbayang di hadapan saya adalah biaya pesta yang membengkak, di luar dugaan!. Saya sempat menolak mentah-mentah segala bentuk aturan adat istiadat Batak, yang saya rasa tidak perlu karena saya merasa tidak penting!. Kalau boleh jujur, alasan yang saya buat-buat adalah tidak sesuai dengan keyakinan / prinsip saya. Saya keras sekali menentang semua prosesi adapt Batak. Alasan yang saya buat-buat ketika itu sangat bertentangan dengan ajaran Injil (tidak sesuai dengan ajaran Kristus/Kristen). Padahal, alasan sebenarnya adalah soal biaya dan biaya. Setelah berkunsultasi kesana-kemari dengan orang tua dari kalangan orang Batak atau tidak. Dan saya tidak lupa berdoa untuk diturunkan pencerahan pikiran.
Entah kenapa waktu itu saya hanya pasrah saja. Saya serahkan pada TUHAN saja mana yang terbaik. Akhirnya saya setuju saja menyerahkan semua prosesi pernikahan saya dilakukan melalui prosesi adat Batat (Mangadati) secara penuh (adat na gok). Yang penting adalah niat saya yang tulus, kalau itu adalah jalan yang terbaik diberikan TUHAN. Dan tampa disangka-sangka, rejeki / order saya ada saja untuyk menutupi semua biaya pesta adat itu. Dan saya akhirnya menyadari apa makna adat Batak tersebut bagi pernikahan saya. Itu yang terpenting akan saya bagi bagi banyak orang.
Persoalannya sekarang, ada banyak pria di luar suku Batak atau pria Batak sekalipun kurang memahami adat tersebut. Atau banyak mereka tidak mau tahu atau peduli. Atau tidak mau direpotkan dengan semua prosesi adat Batak yang dianggap merepotkan/berbeli-belit! Yang terjadi sebenarnya adalah mereka tidak menerima semua prosesi adat Batak dalam pernikahan, bukan karena alasan pertentangan keyakinan!!!! Sekali lagi bukan!!!! Tetapi karena mereka tidak mau repot dan tidak mau banyak keluar biaya dalam pernikahan mereka. Mereka ketakutan keluar biaya banyak!!! Itu adalah alasan sebenarnya!!! Bukan karena keyakinan!!!! Apakah semua adat istiadat Batak sesuai dengan firman TUHAN. Saya katakana ya….ya…dan ya…
Tuhan akan memberkati pernikahan tersebut selamanya. Jika hubungan komunitas sosial dengan keluarga terdekat juga ikut merestui dan mendoakannya! Banyangkan jika pernikahan seorang wanita atau pria Batak TIDAK dihadiri salah satu orang tuanya atau familinya. Bayangkan betapa sakit hatinya orang tua si mempelai perempuan/laki-laki tersebut! Seperti pernah kasus di keluarga saya.
“Ito saya (saudara perempuan anak adik ayah saya) akan menikah dengan seorang pria di luar suku Batak, seorang pendeta dari golongan Kristen Kharismatik dari suku Indonesia timur. Kedua orang tuanya, dan famili tidak setuju atau menghadiri pernikahannya karena tidak disetujui orang tuanya karena pernikahan mereka tidak dilakukan secara prosesi adat Batak. Ditambah, pengaturan tanggal pernikahan mereka sendiri yang sudah mereka atur tampa pemberitahuan / persetujuan dari kedua orang tuanya. Saya sedih melihat adik ayah saya. Dia semakin trus stess memikirkan anak perempuannya yang sangat dicintainya. Bahkan nyaris adik ayah sayta terkena stroke. Tetapi pernikahan mereka tetap saja dilakukan tampa dihadiri keluarga adik bapak saya. Sangat tragis dan menyedihkan…!!! Apakah ini pernikahan yang diberkati TUHAN!
Jelas ini sangat bertentangan TUHAN! Saya tidak mengerti, mereka sangat dekat dengan TUHAN dan mengaku – ngaku sebagai hamba TUHAN yang kudus bertekun dalam doa, berani melakukan seperti ini. Tetapi justru sangat menyakitkan hati kedua hati orang tuanya! Apakah seperti ini pernikahan yang diberkati TUHAN???? Mana penghormatan terhadap orang tua!?
Sebenarnya, setelah saya alami semua prosesi pernikahan adat Batak pada pernikahan saya. Yang saya rasakan sekarang ini dan seterusnya adalah semua prosesi adapt batak tujuannya adalah bentuk dari penghormatan dan cinta kasih dari kedua orang tua, saudara sekandung, dan keluarga dekat, dan masyarakat sekitarnya. Semua prosesi adat istiadat BatakBatak tidaklah bertentangan dengan ajaran Kristen!!! Justru tujuannya adalah dalam rangka mempererat hubungan cinta kasih dan kepedulian kedua orang tua/keluarga, saudara, kerabat dekat dan masyarakats sekitarnya kepada anaknya yang sangat dicintai. Simbol ini diwakli dengan prosesi pemberian ulos. Dan itulah yang saya alami! Apakah hal itu benar-benar bertentangan dengan firman TUHAN seperti yang dikatakan banyak aliran Kristen kharismatik, yang mengatakan semua prosesi adat adalah bentuk “upacara berhala”. Sangat aneh…Bagi saya itu hanya alasan yang dibuat-buat mereka, karena tidak mau peduli atau tidak mau pusing atau direpotkan dengan semua prosesi adat Batak, dan tidak mau bersosialisi dengan kedua kerabat keluarga dan masyarakat sekitarnya. Ya.Mungkin juga karena ketakutan keluar biaya besar! Silahkan anda pikirkan. Terima kasih. (Rivai Sihombing) pembawaide@yahoo.com.










20 Komentar
saya sdh baca artikel anda,bagus… namun saya kurang setuju pendapat ito,begini:dlm hal ini ito bilang bahwa ada bbrp org tdk mau pake adat karena:
!.pembengkakan dana
2.tdk mau rept
3.krn alasan kebenaran Firman Tuhan
Tdk secara kebetulan saya adalah boru batak yg menikah dgn tdk pake adat,dlm hal ini saya mau memberi pengalaman pernikahan kami,sama seperti adik saudara dapat suami orang timor(Ambon)& gereja karismatik…tp bedanya pernikahan kami dihadiri orang orangtua kami masing” plus saudara saparadatan kami.Dan dlm firman Tuhanpun adat tidak pernah dilarang karna Tuhan Yesus sendiri juga punya adat yaitu adat Yahudi,bacalah diPB.klo masalah dana bengkak???kami menikah menghabiskan uang 50 jt sangat lbh tinggi jika dibanding klo pake adat,krn 40 jtpun bisa kok pake adat udah adat penuh lagi ya nggakk??.Jadi dlm hal menikah pake adat ato tidak itu adalah pilihan…dan melakukannya harus dalam konteks yang benar,jgn sekali” menyalahkan gereja dalam hal ini seolah” kitalah yg paling benar…Tapi orangnya yang perlu kita tanya apa motivasinya melakukan pilihan itu.Masalah ulos gak ada yg salah dgn ulos yg jadi masalah adalah sering sekali dalam penyampaian ulos kpd ke2 mempelai kata”nya itu seperti ini”sai diramoti ulos on ma tondimu na gabe sari matua mahamu…”nah menurut anda apakah ulos dpt mangaramoti tondi(roh)manusia??yg dapat mangaramoti tondi manusia hanyalah Tuhan…Masalah cinta kasih kpd orgtua dan handaitolan…apakah anda jamin bahwa anda jauh lebih mencintai orangtua anda dibanding adik anda itu?itu cuma mslh mengekspresikan saja,anda bs mengespresikan cinta anda kpd orgtua anda lwt pesta adat dan mgkn adik anda mengekspresikan lwt berdoa setiap hari untk orgtua anda bahkan berdoa untuk anda juga…jadi kita tidak boleh menghakimi orang dengan seolah” kita merasa paling benar…Jd apapun yg kita lakukan dlm pernikahan asal sesuai norma” agama smua itu baik dihadapan Tuhan.Jd klo mau tulis artikel survei dulu dgn org” batak lainnya,sbab bs aja mereka tdk sepaham dgn anda..supaya lebih berbobot gituuu..GOD Bless,jgn marah yahh
Saya jg salah satu dr boru batak yg menikah tanpa adat batak krn saya menikah dgn pria suku lain, tapi ortu dan sdr2 kami hadir semua. Adat batak tdk dilakukan selain krn kami merasa pemberkatan sdh sangat sah,itu jg dilakukan utk menghormati pihak pria yg dr sukunya sendiri sdh punya marga krn kalau pakai adat itu pria non batak harus diberi marga batak dulu paling tdk marga paribannya. Pasti sdr.ito itu jg punya alasan sendiri kenapa mereka tdk pakai adat batak N bkn melulu krn biaya. Tapi mrk memang hrs melakukan pendekatan terhadap ortu setelah menikah walaupun ortunya tdk hadir. 1 hal yg perlu diingat,adat dlm pernikahan tdk menjamin diberkati tdknya pernikahan krn ada 2 sdr sy yg nikah dgn adat gok tp sursar Rumah tangganya jd pernikahan itu Tuhan yg memberkati N kita menjalani sesuai dgn firman-Nya..jd tdk melulu org menikah tdk pakai adat krn berat di ongkos dll, tentu ada banyak alasan..tp kalaupun ada yg krn biaya mrk nikah tanpa adat ya ga dosa jg kok, malah kalau mrk sampai ngutang krn mau buat adat itu yg jd pertanyaan, setelah nikah ada beban, ada PR yg hrs diselesaikan. Untuk membahagiakan ortu ada bnyk cara salah satunya kita jalani pernikahan sesuai dgn janji nikah, krn ortu kita akan bahagia jika rumah tangga anaknya langgeng, bahagia, Mohon maaf kalau ada kata yg salah, Tuhan Yesus memberkati rumah tanggamu.
mantap komentar diatas…
Sebagai orang batak kita harus bangga, adat yang dibuat oleh orang tua kita dulu tujuannya sangat mulia, jangan karena kita sudah kristen adat batak diplintir hanya karena segi bahasa yang tidak sesuai dengan agama. Kita harus jujur adat batak merupakan adat yang menjungjung penghormatan kepada Tuhan dan sesama manusia, kalau ada orang batak yang mengatakan adat batak bertentangan dengan agama kristen, brarti orangnya yang tidak mengerti akan nilai luhur adat batak, yesus sendiri menghormati adat istiadat, jangan karena bahasa yang kurang kita pahami kita anggap tidak relevan dengan agama kristen, kita mengatakan menghormatu orang tua bukan dengan adat batak kita juga bisa berdoa, sama saja berdoa tapi ipmlementasinya tidak ada, bagaimana kita menghormati kerabat dengan berdoa tanpa dengan perbuatan? Dalamilah adat batak baru dengan sepenuh hati maka, ajaran kristen dan batak hampir sama bagaimana ajaran kristus kepada kita, Horas lestarikan adat batak.
Kenapa orang batak harus nggak setuju sama orang yang beda suku/bukan orang batak yang menjadi pasangan hidup anaknya? apakah hanya orang batak harus mendapatkan jodoh orang batak pula?apakah itu tidak melarang ajaran Tuhan juga namanya karena membeda – bedakan suku.
Sebagai org percaya pd-Nya seluruh aspek kehidupan kita diatur oleh Tuhan, termasuk suku apa jodoh yg akan Tuhan berikan.Sebagai ortu jg tentunya hrs berbesar hati menerima menantu yg tdk sesuku dgn anaknya..apalagi cerita di atas yg bukan suku Batak yg pria jadi gak salah jg kalau hanya pemberkatan ( netral )karna yg wanita akan ikut suami malah kalau yg pria non Batak tetapi memiliki fam ( marga )maka yg wanitalah menjadi bagian dr marga suaminya, sama seperti pasangan yg sama-sama orang Batak menikah pd akhirnya yg wanita menjadi hak marga suami. Pada akhirnya jg Firman Tuhan katakan “Hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, sebagaimana seharusnya didlm Tuhan “( kolose 3:18 ) Masalah cerita yg ada di atas hendaknya tdk menjadi perpecahan kel.besar tsb, KASIH yg dr Tuhan pasti sanggup mendamaikan ibu & anak jg mantu krn satu sama lain akan saling menerima, sebab KASIH YESUS universal, tdk memandang suku N Tuhan cinta semua bangsa, semua bangsa di dunia inggris Prancis Afrika India dan Indonesia..Tuhan cinta semua bangsa di dunia ( lagu sejak sekolah Minggu )1 hal saya yakin wanita di ats menikah tanpa adat pasti penuh pertimbangan & itu pilihan yg berat antara adat & iman yg dipegang & dia melakukan sesuai suara hati yg dibawa dlm doanya tetapi bukan berarti dia tdk menghormati ibunya apalagi harus mengalami penolakan dr kel.besar. GOD bless all…
sy cman mo ngomentarin soal adat istiadat batak. namun, sya mo nanya. apakah adat batak it ada sesudah atw sblum kedatgan kristen ke tnah batak?
barangkali saya masih dangkal mengenai adat batak, tetapi di dalam darah saya mengalir darah batak yang kental, menjadi kebanggaan saya, yang harus dilestarikan. sesungguhnya, suku batak menarik garis dari keturunan bapak, sama seperti orang Israel, sehingga pewaris secara adat adalah anak laki-laki,tetapi sekarang perempuan (boru) batak juga tidaklah diabaikan begitu saja di dalam adat. perkawinan secara agama tentu berbeda secara adat, tetapi ephorus Silaban, mengemukakan supaya tidak ada pertentangan antara agama dan adat yaitu akarnya agama dan pohonnya adat. artinya keduanya sama penting dan saling membutuhkan. sehingga saya menyimpulkan sebaiknya laki – laki batak menikah dengan perempuan batak yang Kristen sehingga tradisi Batak tidak hilang, apalagi perempuan Batak menikahlah dengan Laki – laki Batak (Kristen)sehingga keturunan boru batak tidak kehilangan indentitasnya sebagai orang batak . Mengenai adat Batak ketika dilakukan mau besar atau kecilnya secara agama pada akhirnya akan membuahkan berkat yang tidak bisa dibeli. Agama hubungan kita pribadi kepada yang kuasa, didalamnya ada hubungan dengan sesama, itulah adat batak.
pusingggggggg _
aq gak ngerti sama sekali ,
pernikahan tidak pake adat batak, Kalo memang alasannya untuk menghemat biaya, apakah salah?
apakah org harus memaksakan pinjam kiri-kanan untuk menutupi biaya pesta adat yg mahal itu? saya rasa tidak.
horas tano batak …
HANYA 2 SUKU DI DUNIA INI, yaitu SUKU BATAK DAN tidak suku BATAK.
BATAK IS THE BEST…
GA HARUS KELUAR BANYAK BIAYA KOK KALO MANGADATI, 5 JUTA CUKUP, JD ITU PARA KARISMATIK YG MAU BAKAR ULOS KTANYA ADALAH ORANG2 BODOH….
Saudaraku masyarakat Batak sungguh berbangga dirilah kita dipanggil sebagai orang batak saya jauh diperantawan, orang asing bilang culture batak ini adalah unik dan saudaraku terutama generasi muda marilah kita lestarikan adat kebanggaan kita ini saya akui mempertahankan culture kita ini bukanlah pekerjaan yang murah terutama hal perkawinan sungguh kita berterimakasih kepada Tuhan bilamana kita mampu melakukan gereja/adat batak dalam pernikahan,kita sangat berbangga diri bukan? Apa halnya motivasi menuju perkawinan itu sendiri klak kita punya keturunan dan panjang umur patogu togu pahompu, saya sangat sedih saudar sekalian melihat percerayan benar- benar cerai -berai suami istri dan anak dinegri berkembang juga di negara super power,karena tidak menilai arti perkawinan itu maka perkawinan yang diikat Sumpah digereja/dan adat batak ulos itu membawa nilai yang tak ternilai menguatkan sumpah/ikatan perkawinan yang telah dilakukan disitulah pihak tulang hulahula memberikan petuah petuah membri ucapan selamat/bahagia kepada pengantin jadi ada dua bagian terpisah yang saling mendukung dalam melaksanakan perkawinan itu.trms
Dear Teman-teman,
saya hendak mengomentari bbrp komentar teman-teman:
@ Ester Aritonang
Sebagai org percaya pd-Nya seluruh aspek kehidupan kita diatur oleh Tuhan, termasuk suku apa jodoh yg akan Tuhan berikan.
Dalam Kristen yg diatur oleh Tuhan itu berupa siapa saja manusia yg akan masuk surga but not take it for granted & waktu kematian seseorang. Sedangkan kehidupan manusia mulai dari lahir sampai manusia ada ditangan manusia itu sendiri tanpa kecuali pasangan hidup, dan pekerjaan.
Dalam Kristen pasangan hidup itu merupakan suatu pilihan bukan suatu nasib (dikasih ‘turun begitu saja’ dari Tuhan.
Pekerjaan saja dalam Kristen yang dimana adalah suatu panggilan (latinnya vocere) Tuhan kepada manusia, manusia bisa saja.
Apa yang diatur Tuhan itu bersifat absolut, jadi kalau begitu apabila ada manusia menyangkal Dia maka sudah diatur Tuhan bukan????tidak bukan.
Sebagai ortu jg tentunya hrs berbesar hati menerima menantu yg tdk sesuku dgn anaknya..
pernahkah berpikir seperti ini ???
Pada waktu kita jadi orang tua nanti tentunya harus berbesar hati menerima menantu jangankan yang sesuku dari saya/suami saya namun bukan pengikut Kristus.
“Hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, sebagaimana seharusnya didlm Tuhan “( kolose 3:18 )
hendaknya ayat ini haruslah ada padanannya yang sama sekali tidak dapat dipisahkan yaitu ayat sebelumnya/sesudah.
kalau kita hanya membaca Kolose 3:18 seolah laki-laki itu superior padahal Tuhan tidak menghendaki demikian bukan makanya ada ayat padanannya.
Kalau Ayah,Ibu, Kakek & Nenek cerita yang melatar belakangi kenapa pesta pernikaha dalam adat batak itu banyak yang harus dilalui hanya untuk satu tujuan:
pernikahan itu bukanlah suatu permainan kalau sudah lelah maka berhenti, tapi harus sampai kematian menjemput.
Muliate,
@ Ester Aritonang
Fam bukanlah marga, karena fam = familiy itu adalah Suku.
dengan bahasa sederhana Suku (fam) merupakan kumpulan dari marga-marga..
pohon silsilah nya spt ini:
Suku batak terdapat jenisnya lagi yakni Batak Toba, Simalungun, PakPak, Karo, Mandailing.
Batak Toba terdiri dari berbagai macam marga, begitupun dengan batak lainnya.
teringat dengan pelajaran biologi pd saat SMP & SMA…
logikanya kalau ada laki2/ perempuan yang memiliki fam menikah dgn perempuan/laki2 yang memiliki marga gak ada bedanya dengan kakek menikah dengan cucu atau tulang menikah dengan anak.
Horas
@ Ina
pusingggggggg atau gak mau tahu..cuek bebek..
janganlah kacang lupa kulit
supaya dpt nggerti belajarlah krn belajar itu proses dari tidak tahu sesuatu mjd tahu sesuatu entah itu sedikit/banyak.
Semangat !
Adat penting,tp AGAMA lebih PENTING & YG T’PENTING
ya begitu lah adat kita adat batak karna itu kita harus bangga menjadi orang batak bangga dengan adat yang kita miliki jangan kaya orang yang menberikan komentar yang diatas karna mereka tidak menikah secara adat jadi merka tidak akan mengerti adat orang batak
Terima kasih atas artikelnya…..
Artikelnya Bagus….tp terlalu menyalahkan pihak lain…
thankzzzz….