Monthly Archives: November 2003

Menyimak Berbagai Analisa Dan Penelitian “Batak” Artinya Penunggang Kuda = Keberanian?

Sudah sejak lama sebutan (perkataan) Batak sebagai nama salah satu etnis di Indonesia diteliti dan diperbincangkan banyak orang asal kata atau pengertiannya. Bahkan melalui beberapa penerbitan suratkabar pada awal abad 20 atau juga masa sebelumnya, pernah terjadi polemik antara sejumlah penulis yang intinya memperdebatkan apa sebenarnya pengertian kata (nama) Batak, dan dari mana asal muasal nama itu. Di suratkabar Pewarta Deli no. 82 tahun 1919 misalnya, polemik yang paling terkenal adalah antara seorang penulis yang memakai nama samaran “Batak na so Tarporso” dengan J. Simanjutak. Keduanya saling mempertahankan pendirian dengan argumentasi masing-masing, serta polemik di surat kabar tersebut sempat berkepanjangan. Demikian pula di suratkabar keliling mingguan yang di terbitkan HKBP pada edisi tahun 1919 dan 1920, perbincangan mengenai arti sebutan Batak itu cukup ramai dimunculkan.

Iklan

WAKTU dalam Bahasa Batak

Dalam Bahasa Batak, ada istilah yang menyatakan waktu (jam) dalam hari. Dalam bahasa batak di kenal istilah “tikki na lima”:

Gordon Tobing

Dengan “A Sing Sing So” Menjelajah Dunia

Siapakah orang Batak yang tidak pernah mendengar lagu A Sing Sing so. Kalau pun ada, mungkin mereka generasi yang baru lahir, atau mereka yang “buta” sama sekali tentang lagu Batak populer. A Sing Sing So (ASS), adalah sebuah lagu rakyat yang selama puluhan tahun hingga kini, tetap dikumandangkan diantara ribuan lagu Batak, dari yang klasik sampai yang paling pop. Irama lagunya yang mendayu-dayu tapi dan diciptakan dengan notasi sederhana, membuat lagu ini cepat memasyarakat, bukan hanya dilingkungan parmitu, remaja tapi juga anak-anak. “A Sing sing S…A Sing Sing So…Ueeee, Lugahon au parau…ullushon au alogo… tu hutani datulangi…”. Demikian antara lain cuplikan lagu tersebut. Gordon Tobing, pemusik dan penyanyi Batak legendaris, adalah tokoh musisi yang berperan besar mempopulerkan lagu A Sing Sing So dan ratusan lagu rakyat Batak lainnya. Bukan hanya di Indonesia tapi juga di Seantoro mancanegara. Kepiawaian menyanyikan lagu rakyat mengantarkannya mengelilingi dunia. Puluhan negara di lima benua telah disinggahinya. Belasan kepala negara telah mengucapkan “Selamat” menjabat tangannya. Dimanapun Gordon menyanyi selalu meninggalkan kesan mendalam, membuat gadis-gadis cantik di Meksiko dan Amerika “Tergila-gila” padanya.

Sastra Batak Haruskah Dibiarkan Punah?

Arus globalisasi – akibat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang demikian pesat – selain berpengaruh positif bagi peningkatan taraf hidup manusia, juga menimbulkan efek negatif pada sendi-sendi sosial kemasyarakatan. Pranata-pranata sosial mengalami pergeseran makna dan melahirkan nilai-nilai baru yang bisa jadi merupakan pengingkaran terhadap nilai-nilai hakiki. Sepanjang masih bersifat positif , proses degradasi makna itu masih bisa diterima. Namun yang sering menjadi bahan persoalan adalah efek negatif berupa lunturnya nilai-nilai ideal, spritual dan religius menjadi bersifat kebendaan (materialisme) semata-mata.

Adrianus Eliasta Sembiring Meliala

Biasanya, orang jatuh cinta dulu, pacaran dulu, baru menikah. Tapi, buat dosen muda yang saat ini tengah menyelesaikan studi S3 pada Departement of Antropology & Sociology, Queensland University, Australia ini, rumus itu tak berlaku. Dosen Kriminologi UI yang wajahnya kerap muncul di media cetak dan televisi ini, menjalani kehidupan cintanya seperti layaknya anak muda kebanyakan. ”Adalah beberapa. Bukan pacar, teman dekat. Hunting (proses pencarian) jalan terus,” ujarnya mengawali perjalanan cintanya. Kedekatannya dengan yang disebutnya beberapa teman dekat itu, ternyata harus ditinjau ulang. Dia harus mempertimbangkan beberapa persyaratan yang diajukan orangtuanya. ”Harus satu suku dan seiman,” paparnya.