Monthly Archives: November 2005

Parmalim di Huta Tinggi

Pukul 09.00 pertengahan Juli 2005 di Huta Tinggi, Kecamatan Lagu Boti, Kabupaten Toba Samosir, Sumatera Utara. Ribuan pengikut Parmalim dari berbagai belahan Nusantara berkumpul. Mereka sibuk menyiapkan upacara syukur atas panen tahun ini. Tak ada komando, tetapi semuanya tergerak untuk ikut menyiapkan upacara.

Iklan

Tri Satya Putri Naipospos, PhD

Perjuangan Melawan Flu Burung. Begitu judul Rubrik Sosok Harian Kompas 20 September 2005. Tulisan itu mengisahkan betapa sibuk, tekun dan bertanggungjawabnya Drh Tri Satya Putri Naipospos Hutabarat PhD, selaku Direktur Kesehatan Hewan di Direktorat Jenderal Bina Produksi Peternakan, Departemen Pertanian, berjuang melawan flu burung. Namun secara mendadak dan mengejutkan, besoknya (21/9), Menteri Pertanian memberhentikannya karena dinilai gagal.

Tata, panggilan akrab Tri Satya Putri Naipospos, mengaku tidak menduga akan dipecat secara mendadak. Dia menerima pemberitahuan dari Dirjen Peternakan Mathur Riady tanpa ada surat pemberhentian dari Menteri Pertanian (Mentan).

Syamsir Siregar

Kepala Badan Intelijen Negara

Tim Kampanye Nasional SBY-JK yang mantan Kepala Badan Intelijen Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (BIA) Mayjen (Purn) Syamsir Siregar ditetapkan sebagai Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) menggantikan Letjen (Purn) AM Hendropriyono yang mundur bersamaan dengan pelantikan Presiden Yudhoyono.

Keputusan itu dituangkan dalam Keputusan Presiden Nomor 197/M/2004 tanggal 29 November 2004, dan dilantik Presiden Yudhoyono, Rabu 8 Desember 2004.

Sudi Silalahi

Shock Teraphy

Sekretaris Kabinet Sudi Silalahi usai menghadiri sidang Kabinet Indonesia Bersatu pertama di Jakarta, Jum’at (21/10/2004), mengatakan pemerintah baru Indonesia berjanji akan melakukan shock teraphy atau semacam kejutan terutama dalam kasus kasus hukum, dalam 100 hari pertama kerja kabinetnya.

Menurutnya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah meletakkan dasar dasar atau langkah langkah awal yang dapat dijadikan shock therapy dalam 100 hari pertama kabinetnya.

Sitor Situmorang

Pria Batak kelahiran Harianboho, Samosir, Sumatera Utara 2 Oktober 1924 ini sudah menjadi seorang Pemimpin Redaksi harian Suara Nasional terbitan Sibolga, pada saat usianya masih sangat belia 19 tahun, di tahun 1943. Padahal, sebelumnya ia sama sekali belum pernah bersentuhan dengan profesi jurnalistik.

Sastrawan Angkatan ’45, ini kemudian bergabung dengan Kantor Berita Nasional Antara, di Pematang Siantar. Dan sejak tahun 1947, atas permintaan resmi dari Menteri Penerangan Muhammad Natsir, Sitor menjadi koresponden Waspada, sebuah harian lokal terbitan kota Medan, Sumatera Utara. Ia ditugaskan menempati pos di Yogyakarta.