Geliat Opera Batak

Opera Batak seperti memperoleh tempat unjuk diri di Taman Budaya Sumatera Utara, Sabtu (2/6) malam. Meskipun kursi yang disediakan tidak penuh (terisi sekitar tiga perempatnya), penonton masih duduk hingga pertunjukan usai.

Penonton terlihat cermat mengikuti setiap adegan dalam pertunjukan tersebut. Mereka dengan penuh sukacita memberi apresiasi berupa tepuk tangan dan gelak tawa.

Opera berjudul “Si Purba Goring-Goring”, dramaturgi Thomson HS yang diproduksi Pusat Latihan Opera Batak (Plot), Siantar, itu terbagi dalam tiga babak. Setiap babak diselingi dengan musik, lagu, dan undian berhadiah.

Mungkin ada yang beranggapan bahwa undian berhadiah yang membuat penonton bertahan. Namun, hal itu bisa ditambah jika melihat banyak penonton yang terbahak-bahak karena pasti merasa terhibur dengan adegan di atas panggung.

Ceritanya, “Si Purba Goring-goring” mengajak penonton berefleksi soal kesetiaan. Purba adalah anak yatim piatu yang diasuh pamannya.

Ia hidup bersama Si Bintang, putri paman yang kemudian hari diketahui sebagai marpariban-nya. Purba pun menjalin hubungan cinta dengan Bintang. Namun, Purba harus merantau ke Barus untuk bekerja.

Purba berupaya melupakan pariban-nya setelah dijodohkan dengan putri pengusaha di Barus. Ia mulai lupa pada pariban-nya dan anaknya hasil hubungan dengan Si Bintang.

Teater rakyat

Opera Batak adalah salah satu teater rakyat yang berkembang di Sumatera Utara. Layaknya jenis kesenian tradisional lain di Indonesia, seperti ketoprak tobong di Jawa, opera ini terancam musnah tergusur budaya televisi. Lemahnya manajemen pertunjukan tradisional juga menjadikan seni tradisi ini pelan-pelan hilang.

Opera ini awalnya muncul dari Tilhang Parhasapi, yakni pengamen keliling di desa-desa Batak. “Awalnya pengamen, kami mencoba merevitalisasinya dalam Plot,” kata Thomson. Salah satunya dengan memasukkan unsur pertunjukan modern.

Ceritanya diambil dari cerita tutur yang berkembang di dalam cerita Batak yang ditulis dan diskenariokan kembali.

Pertunjukan opera Batak dilakukan sebagai salah saturangkaian peringatan 100 tahun gugurnya pahlawan nasional Sisingamangaraja XII.

Sayangnya, dukungan pemerintah untuk merevitalisasi opera tradisi ini belum maksimal. Selama ini, Plot bekerja sama dengan Asosiasi Tradisi Lisan di Jakarta, Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara, Yayasan Kelola, Pemerintah Kabupaten Tobasa, dan sejumlah individu pemerhati seni tradisi.

Masih banyak hal yang harus diperbaiki, seperti regenerasi pemain opera. Kebanyakan pemain yang tampil malam itu sudah berusia tua. Sekali waktu, juga bisa dicoba menggunakan dialog berbahasa Indonesia supaya lebih banyak orang yang paham.

Seperti kata antropolog Universitas Negeri Medan, Prof Dr Bungaran Antonius Simanjuntak, saat pembukaan opera, opera tradisi ini memang harus dilestarikan.

Sumber : (wsi) Harian Kompas

Iklan

2 Comments

  1. philemon sijabat
    Posted September 19, 2009 at 8:20 pm | Permalink

    saya mau cari lagu lagu opera batak jaman dulu,,, gimana caranya ya???makasih sebelumnya

  2. Posted Juni 10, 2010 at 1:27 pm | Permalink

    Boleh nggak minta gondang yang biasa digunakan untuk mengiringi Tot-Tor Sigale-Gale ? Terimakasih atas bantuannya.


Tulis sebuah Komentar

Required fields are marked *
*
*

%d blogger menyukai ini: