Parmalim: Kami Bukan Penganut Ajaran Sesat

“Marpangkirimon do na mangoloi jala na mangulahon patik ni Debata, jala dapotna do sogot hangoluan ni tondi asing ni ngolu ni diri on.”

-Pantun ni Ugamo Malim

Manusia yang mematuhi dan mengikuti ajaran Tuhan dan melakukannya dalam kehidupannya, memiliki pengharapan kelak ia akan mendapat kehidupan roh suci nan kekal.
-Kata bijak Ugamo Malim

Secara implisit, inilah yang menjadi ajaran suci keyakinan Ugamo Malim atau lebih dikenal dengan Parmalim di Tanah Batak sejak turun temurun, seperti yang dikatakan Raja Marnakkok Naipospos selaku Ulu Punguan (pemimpin spiritual) Parmalim terbesar di Desa Hutatinggi Kecamatan Laguboti, Kabupaten Toba Samosir.

Menurut beberapa pandangan ilmuwan sosial, sebenarnya Ugamo Malim layak menjadi sebuah agama resmi. Alasannya ialah dalam ajaran aliran ini juga terdapat nilai-nilai religius yang bertujuan menata pola kehidupan manusia menuju keharmonisan, baik sesama maupun kepada Pencipta. Dan secara ilmu sosial tujuan ini mengandung nilai luhur.

Hanya saja, peraturan pemerintah membantah advokasi tersebut dengan alasan masih adanya berbagai kejanggalan. Misalnya, ketidakadaan dokumen sejarah yang jelas mengenai kapan Parmalim pertama kali diyakini sebagai sebuah kepercayaan di Tanah Batak. Alasan lain, yang tentu saja mengacu pada persepsi umum adalah ketidakadaan kitab suci dan nabi yang jelas berdasarkan kitab suci, yang apabila ada. Di samping itu masih saja ada persepsi masyarakat yang mengatakan bahwa ajaran Parmalim adalah ajaran sesat.

“Kami bukan penganut ajaran sesat,” kata Naipospos kepada Global ketika dijumpai di kediamannya, Selasa (2/1/07). “Bahkan, ajaran Parmalim menuntut manusia agar hidup dalam kesucian,” jelasnya kemudian menerangkan secara detail asal-muasal kata Parmalim yang berasal dari kata “malim”. Malim berarti suci dan hidup untuk mengayomi sesama dan meluhurkan Oppu Mulajadi Nabolon atau Debata (Tuhan pencipta langit dan bumi). “Maka, Parmalim dengan demikian merupakan orang-orang mengutamakan kesucian dalam hidupnya,” jelas Marnangkok.

Lantas, apa pasal sehingga aliran ini tidak layak dijadikan sebagai agama resmi? Bahkan, aliran ini dianggap sesat dengan tuduhan sebagai pengikut “sipele begu” (penyembah roh jahat atau setan). “Alasannya jelas,” kata Marnangkok. “Mereka (masyarakat awam dan pemerintah) tidak mengerti siapa sebenarnya yang kami sembah dan luhurkan. Yang kami puja tak lain adalah Oppu Mula Jadi Na Bolon bukan”begu” (roh jahat),” katanya. “Dan inilah yang menjadi bias negatif dari masyarakat terhadap Parmalim.”

Marnangkok kemudian menjelaskan, Oppu Mula Jadi Nabolon adalah Tuhan pencipta alam semesta yang tak berwujud, sehingga Ia mengutus sewujud manusia sebagai perantaraannya (parhiteon), yakni Raja Sisingamangaraja yang juga dikenal dengan Raja Nasiak Bagi. Raja Nasiak Bagi merupakan julukan terhadap kesucian (hamalimon) serta jasa-jasanya yang hingga akhir hidupnya tetap setia mengayomi Bangsa Batak. Nasiak Bagi sendiri berarti ditakdirkan untuk hidup menderita. Ia bukan raja yang kaya raya tetapi hidup sama miskin seperti rakyatnya.

Dengan demikian, Parmalim meyakini bahwa Raja Sisingamangaraja dan utusan-utusannya mampu mengantarkan mereka (Bangsa Batak) kepada Debata.

Hanya saja, hingga kini persepsi umum mengatakan bahwa Parmalim memuja Raja-raja Batak terdahulu dan utusan-utusannya. Tentu saja ini dipandang dari tata cara pelaksanaan setiap ritualnya sangat berbeda dengan ritual agama-agama samawi dan agama lainnya. Mereka menggunakan dupa dan air suci (pagurason) di samping daun sirih untuk ritual khusus.

Namun, dalam menyoal status Parmalim muncul lagi sebuah pertanyaan mengenai sampai kapan keterkungkungan mereka itu akan lepas? Kenyataan menjelaskan bahwa Parmalim selalu diperlakukan secara diskriminatif dalam banyak perolehan akses hidup sebagai warga negara. Contohnya, dalam memperoleh pekerjaan di dinas pemerintahan, izin-izin resmi serta bias sosial yang negatif. Di samping itu tak jarang pula media mengadvokasi eksistensi mereka demi hak-hak dan kebebasan mereka, namun hasilnya tetap nihil.

Di sisi lain, bunyi pasal 29 ayat 1 dan 2 UUD 1945, yang menyatakan bahwa setiap WNI diberi kebebasan meyakini agama dan kepercayaan nyata-nyatanya belum memberi mereka kebebasan dan hak mereka sebagai WNI.

Anjing menggonggong kafilah berlalu. Demikianlah adanya. Pengalaman mereka menunjukkan, hingga kini mereka merupakan komunitas marginal “original” di Tanah Batak. Aliran Ugamo Malim diyakini sebagian orang sudah ada sebelum ajaran Kristen dan Islam masuk ke daerah itu. Namun, mereka kian terpinggirkan kini.

“Pemerintah menganggap Ugamo Malim bukan sebagai agama, melainkan hanya sebuah budaya yang bersifat religius,” kata Marnangkok.

Alasan ini jugalah yang menjadikan Ugamo Malim belum mendapat pengakuan dari pemerintah. Seperti kata Marnakkok, akibat keterkungkungan ini banyak pengikutnya yang secara diam-diam mengakui agama lain secara formalitas demi mematuhi birokrasi yang berlaku di pemerintahan, dalam pengurusan KTP dan pekerjaan misalnya. Namun ada juga yang secara formalitas mencatatkan agama lain pada KTP-nya tapi kenyataannya ia tetap mengikuti ajaran Parmalim. Yang terakhir, ada yang samasekali tidak mau keduanya, yaitu tidak mau mengikuti formalitas dan tetap menjalani hidup diskriminatif sebagai Parmalim, seperti Marnagkok sendiri.

Hidup dalam kepasrahan
Perjuangan akan kebebasan dan hak, nyatanya bukanlah tanpa kendala. Demikianlah yang terjadi. Bukan hanya tidak adanya pengakuan dari pemerintah maupun masyarakat. Kendala utamanya tak lain adalah ketidakberdayaan mereka.

Marginalisasi komunitas kecil ini (yang hanya 1.400 kepala keluarga, termasuk di seluruh dunia), sudah mengakar dalamnya. Sejak dulu ketidakberdayaan ini diakibatkan sedikitnya pengikut Parmalim yang berkecimpung di lingkungan pemerintahan dan dunia politik.

Hidup dalam kepasrahan. Barangkali itu jugalah intisari dari pernyataan kata bijak Parmalim yang mengatakan: “Baen aha diakkui sude bangso on hita, ia anggo so diakkui Debata pangalahon ta.” (Tidakklah begitu berarti pengakuan semua bangsa terhadap kita, dibandingkan pengakuan Tuhan terhadap perilaku kita).

Seperti apa yang kemudian dijelaskan Marnangkok, “ Untuk apa pengakuan dari setiap bangsa jika Tuhan sendiri tidak mengakui perbuatan kita di dunia ini?” Nampaknya, perjuangan Ugamo Parmalim sudah berujung pada kepasrahan. “Seorang rekan pernah mengusulkan agar mengajukan petisi kepada pemerintah mengenai hal pengakuan ini,” kenangnya menyebut Dr Ibrahim Gultom (kini Pembantu Rektor UNIMED) yang selama 2 tahun pernah meneliti gejala sosial dalam eksistensi mereka dalam tesis doktoralnya “ Ugamo Malim di Tano Batak.” Tapi, saat itu ia menolak.

Dalam kepasrahan ini tentu saja masih ada harapan. Tapi, harapan itu bukanlah berasal dari dunia, melainkan dari Oppu Mula Jadi Nabolon. Dalam harapan itu, ada pula ketaatan untuk selalu mempertahankan hidup suci.

“Kami tidak diakui bukan karena kami telah melakukan kejahatan, melainkan hanya prasangka buruk tentang kami,” katanya. Selanjutnya ia mengucapkan kalimat dalam bahasa Batak, ”Berilah kepada kami penghiburan yang menangis ini, bawalah kami dari kegelapan dunia ini dan berilah kejernihan dalam pikiran kami.”

Mereka yakin Debata hanya akan memberkati orang yang menangis. Nah, dalam kepasrahan yang berpengharapan inilah mereka hidup. Dalam keterasingan itu juga mereka menyerahkan hidupnya pada “kemaliman” (kesucian). “Parmalim adalah mereka yang menangis dan meratap,” katanya.

Dalam ritual Ugamo Parmalim sendiri, terdapat beberapa aturan dan larangan. Selain mengikuti 5 butir Patik ni Ugamo Malim (5 Titah Ugamo Malim), juga terdapat berbagai kewajiban lainnya seperti Marari Sabtu atau ibadah rutin yang diadakan setiap Sabtu. Kewajiban lain di antaranya adalah Martutu Aek, yakni pemandian bayi yang diadakan sebulan setelah kelahiran, Pasahat Tondi yaitu ritual sebulan setelah kematian, Pardebataan, Mangan na Paet dan Pangkaroan Hatutubu ni Tuhan.

Ada pun larangan yang hingga kini masih tetap dipertahankan di antaranya adalah larangan untuk memakan daging babi dan darah hewan seperti yang lazim bagi umat Kristen. Memakan daging babi atau darah dianggap tidak malim (suci) di hadapan Debata. Padahal dalam ajaran Parmalim sendiri dikatakan, jika ingin menghaturkan pujian kepada Debata, manusia terlebih dahulu harus suci. Ketika menghaturkan pelean (persembahan) kesucian juga dituntut agar Debata dan manusia dapat bersatu.

Selain itu, Parmalim juga tidak diperbolehkan secara sembarangan menebang pohon. Larangan ini diyakini akan mendatangkan bala apabila tidak diacuhkan. Pasalnya, hutan sebagai bagian dari alam yang sekaligus merupakan ciptaan Tuhan harus dilestarikan. Secara tradisi, apabila seseorang ingin menebang pohon di hutan, haruslah menanam kembali gantinya. Konon, ajaran Parmalim meyakini bahwa terdapat seorang raja yang berkuasa di hutan (harangan) yang lalu dikenal dengan Boru Tindolok (raja harangan).

***

Jika melihat fisik bangunan rumah ibadah Parmalim, maka pada atap bangunan terdapat lambang tiga ekor ayam. Lambang ini, menurut Marnangkok, merupakan lambang ”partondion” (keimanan). Konon, menurut ajaran Parmalim, ada tiga partondian yang pertama kali diturunkan Debata ke Tanah Batak, yaitu Batara Guru, Debata Sori dan Bala Bulan. Sementara ayam merupakan salah satu hewan persembahan (kurban) kepada Debata.

Ketiga ekor ayam itu berbeda warna. Yang pertama, berwarna hitam (manuk jarum bosi) merujuk kepada Batara Guru, putih untuk Debata Sori dan merah untuk Bala Bulan. Sedang masing-masing warna juga memiliki arti tersendiri. Hitam melambangkan kebenaran, putih melambangkan kesucian dan merah adalah kekuatan atau kekuasaan (hagogoon). Kekuatan adalah berkah yang diberikan kepada manusia melalui Bala Bulan yang tujuannya untuk mendirikan “panurirang” (ajaran dan larangan).

Hanya saja, diyakini bahwa Raja Sisingamangaraja adalah utusan Debata yang lahir melalui perantaraan roh Debata kepada Boru Pasaribu. Diyakini pula, pada waktu di Harangan Sulu-sulu sebuah cahaya, yang kemudian diyakini sebagai roh Debata datang kepadanya dan mengatakan, “baen pe naung salpu i roma na tonggi, tarilu-ilu ho sonari, roma silas ni roha.” yang menyatakan bahwa: “Walaupun hari ini engkau menangis namun engkau juga akan merasakan kebahagiaan kelak.”

Boru Pasaribu kemudian mengandung dan dianggap berselingkuh dengan marga asing tetapi kemudian disangkal, sebab pada saat roh Debata hadir dan mengucapkan hal itu kepadanya, ia tak sendirian melainkan turut disaksikan putrinya. Maka kemudian, putra yang terlahir itu (yang kemudian dikenal dengan Raja Sisingamangaraja I), diakui sebagai utusan Debata.

Selanjutnya, Raja Sisingamangaraja memiliki keturunan hingga 12 keturunan. Itu pun secara roh. Hanya saja, hingga kini banyak yang tidak mengakui Raja Sisingamangaraja sebagai nabi bagi Ugamo Malim, melainkan hanya sebagai manusia biasa. Raja Sisingamangaja XII sendiri dikenal sebagai pahlawan Nasional. “Itulah yang menjadi anggapan ganjil terhadap Ugamo Parmalim selama ini,” kata Marnangkok.

Hingga akhir hayat Raja Sisingamaraja XII, keyakinan Ugamo Malim kemudian diturunkan melalui Raja Mulia Naipospos, yang merupakan kakek kandung Marnangkok Naipospos sendiri.

Inilah yang kemudian menjadi acuan pada acara atau ritual-ritual besar Ugamo Parmalim yang diadakan rutin setiap Sabtu dan setiap tahunnya. Ritual-ritual besar Parmalim itu seperti Parningotan Hatutubu ni Tuhan (Sipaha Sada) dan Pameleon Bolon (Sipaha Lima), yang diadakan pertama pada bulan Maret dan yang kedua bulan Juli. Yang kedua diadakan secara besar-besaran pada acara ini para Parmalim menyembelih kurban kerbau atau lembu. “Ini merupakan tanda syukur kami kepada Debata yang telah memberikan kehidupan,” kata Marnangkok.

Begitulah Ugamo Malim dalam ritual dan eksistensinya. Persoalan marginalisasi, kesucian, kontradiksi opini publik hingga harapan mereka, barangkali masih menunjukkan banyak pertanyaan. Namun, setidaknya dalam kepasrahan mereka dapat menikmati sedikit kebebasan di desa mereka sendiri, Hutatinggi. Tapi, hanya sedikit.

Sumber : (Toggo Simangunsong) Harian Global

Iklan

7 Comments

  1. Posted Maret 6, 2008 at 2:57 pm | Permalink

    numpang berita ya ………!!

    Wakil Kepala Staf Angkatan Darat (Wakasad) Letjen Cornel Simbolon menyatakan keprihatinan yang mendalam, karena ratusan meter hutan perawan di Tele, Kabupaten Samosir, Sumatera Utara, telah ditebas habis baru-baru ini. Selain mencemaskan resiko bencana longsor, apabila areal hutan seluas 2.250 hektar di daerah itu habis dibabat, Cornel juga mensinyalir bahwa investor cuma ingin menyikat kayu disana.

    Hal itu dikemukakan jenderal kelahiran Pangururan, Samosir ini dalam acara diskusi TobaDream Dialogue, Sabtu sore 91/3) di TobaDream Cafe, Jakarta. Cornel hadir di sana sebagai peserta, sedangkangkan pembicara diskusi dengan tema “Penyelamatan Danau Toba : Difficuit but Possible“‘ itu adalah Cosmas Batubara dan Bungaran Saragih. Keduanya bekas menteri.

    Pernyataan keprihatinan itu dilontarkan Cornel Simbolon pada sesi tanya-jawab. Sebenarnya yang jadi sorotan saat itu adalah upaya penyelamatan Danau Toba, terutama dari aspek pariwisata dan lingkungan. Tapi Cornel tidak mengajukan pertanyaan, malah langsung meminta perhatian dan kepedulian hadirin terhadap pembabatan hutan ynag sedang berlangsung di Tele.

    “Memang benar seperti dikatakan Lae (Suhunan) Situmorang tadi, hutan di Tele sedang terancam sekarang ini.Tidak tanggung-tanggung, hutan yang akan ditebang di kawasan tangkapan air itu mencapai 2.260 hektar. Katanya mau dibuat kebun bunga. Katanya bunganya untuk diskspor,”papar jenderal yang cinta lingkungan itu.

    “Kita sangat prihatin karena ratusan meter hutan perawan di sana sudah dibabat habis, katanya buat jalan ke areal yang akan diubah jadi kebun bunga,’tambahnya.

    “Tele itu adalah daerah tangkapan air, dan seperti tadi dijelaskan Pak Bungaran, daerah itu sangat ringkih dan rawan longsor,”tutur Cornel sambil menegaskan,”Saya setuju dengan apa yang dikatakan Lae Situmorang, saya mengerti apa yang dikuatirkannya, bahwa besar kemungkinan rencana membuat kebun bunga di bekas areal hutan seluas 2.250 hektar itu hanya kedok. “

    Yang disitir Cornel adalah ucapan Suhunan Situmorang di awal acara, saat menyampaikan kata sambutan selaku Ketua Steering Commitee TobaDream Dialogue. Suhunan membeberkan kepada hadirin mengenai pembabatan hutan di Tele, termasuk sinyalemennya bahwa target utama investor PT EJS dari Korse adalah menyikat kayu di hutan alam itu.

    “Memang sudah banyak kejadian seperti itu, “ujar Wakasad Cornel Simbolon. “Hutan dibabat, katanya mau buat kebun kelapa sawit atau kebun bunga. Tapi, setelah hutan dibabat dan kayunya dijual, investornya kabur. Makanya kita harus cermati terus perkembangan di Tele ini. Itu adalah daerah tangkapan air, sebagian masih hutan perawan. Kenapa itu harus dibabat ?”

    “Makanya kita harus selamatkan hutan Tele. Kalau perlu kita panggil Bupati Samosir Mangindar Simbolon ke Jakarta, untuk menjelaskan kebijakannya membabat hutan perawan di sana, “tegas putra Samosir yang kenal liku-liku kawasan Tele itu.

    Hutan lindung

    Letjen Cornel Simbolon, yang bicara berdasarkan hasil pengecekan terbaru di lapangan, dengan blak-blakan menyatakan kurang yakin mengenai kelayakan investasi kebun bunga di Tele. “Mau diangkut pakai apa bunga-bunga itu ke Medan ? Dan kalaupun bisa, biaya transportasinya pasti sangat mahal. Pokoknya sangat meragukan, sehingga lebih masuk akal kalau investor hanya mengincar kayunya,”ujarnya.

    Menurut Cornel, selain penyelamatan hutan Tele, agenda sangat penting yang harus segera dilakukan adalah menentukan peta hutan di Samosir. “Perlu segera dilakukan maping untuk menetapkan yang mana hutan lindung, yang mana hutan ulayat. Di Samosir belum jelas maping seperti itu.”tandasnya.

    Dalam kesempatan itu Cornel Simbolon menyatakan sangat menghargai dan mendukung program konservasi yang akan dikerjakan Komunitas TobaDream. Besok pagi (9/2) rombongan Komunitas TobaDream akan terbang ke Medan, untuk selanjutnya pada Senin 3 Maret 2008, tepat pukul 3, akan menanam pohon pada areal seluas 2 hektar di desa Martoba , Kecamatan Sidihoni, Kabupaten Samosir.

    “Sangat saya hargai dan dukung program penanaman pohon yang akan dilaksanakan Komunitas TobaDream. Tapi perlu saya pesankan, kalian harus pentingkan untuk menjalin kerjasama dengan penduduk setempat. Jangan asal nanam pohon, tapi penduduk di sana hanya jadi penonton, akan sia-sia,”kata Cornel.

  2. Posted April 6, 2008 at 2:35 am | Permalink

    Dewasa ini banyak berkembang aliran kepercayaan yang menjurus kepada kebathinan. Apabila kita perhatikan di adat Jawa seperti misalnya aliran Kejawen. Hal ini tentu sah-sah saja, yang penting bahwa ajaran aliran kepercayaan itu tetap menrujuk kepada sebuah kitab suci agama yang dianut. Di Kantor kami (Bank Yudha Bhakti, Jakarta) beberapa pejabat ada yang memeluk suatu kepercayaan yang diyakini dapat membawa berkat (keberuntungan). Apalagi aliran kepercayaan tersebut tidak bertentangan dengan adat kebuadayaan. Demikian, mauliate godang.
    <>.

  3. Posted Mei 24, 2008 at 8:14 pm | Permalink

    Tulisan ini pertama sekali saya baca di Silaban.net (Persis Sama). Sumber : (Toggo Simangunsong) Harian Global, Artikel/Minggu,7 Jan’07, dan saya menanggapinya sebagai penanggap ke-5,:

    Tanggapan Maridup Hutauruk:
    Pada tanggal 26 Juni 2007 jam 9:11 pm

    …….. Saya memang bukan penganut parmalim tapi sangat setuju anjuran bpk utk memberi ruang kpd parmalim. Saya melihat dari sudut pandang budaya dan terimakasih masih ada komunitas yang melestarikannya. Soalnya saya khawatir pak..kami ini akan punah digilas yang disebut ‘mono-culture’. Mauliate tu hamu Parmalim, Mulajadi Nabolon do mulajadi saluhut portibi on. Horas.

    Tanggapan Maridup Hutauruk:
    Pada tanggal 14 Oktober 2007 jam 3:28 pm

    Mungkin ini hanya sebagai wacana penambah wawasan masyarakat bangsa batak bahwa agama parmalim mulai populer pada masa pemerintahan Sisingamangaraja X (sepuluh), yang sudah menjalin hubungan erat dengan kerajaan Aceh (islam). Agama ini berlanjut sampai kepada penyerahan kedaulatan keagamaan diserahkan oleh Sisingamangaraja XII (duabelas) kepada Raja Mulia Naipospos, sebelum Sisingamangaraja-XII menghembuskan nafas terakhir. Perlu pemahaman bahwa agama parmali bukanlah agama batak, tetapi sekelompok batak menganut agama ini semasa tanah batak mulai dimasuki oleh pengaruh asing (Paderi, Evangelisasi Kriten, penjajahan Belanda/Inggeris).Agama Bangsa Batak adalah agama yang dianut oleh Bangsa Batak yang sama tuanya dengan legenda Siboru Deangparujar, yang meriwayatkan panompaan banua-banua dan mula ni jolma, yang kemudian berlanjut kepada penataan tatanan kemasyarakatan dengan Dalihan Natolu. Intinya agama Bangsa Batak yang monotheis berorientsi kepada Mulajadi Nabolon sebagai ’supreme god’, sementara datu (konotasi positip) adalah sebagai perantara kepada Mulajadi Nabolon (pengejawantahannya sama dengan nabi-nabi pada sejarah Perjanjian Lama di Alkitab Kristen)

    Kajian pribadi tentang batak sudah menunjuk kepada penemuan-penemuan purba di lembah indus (bronze-age)yg sdh terjalin perdagangan dgn sumer/akhadia (sekarang Iraq) untuk perdagangan jenis logam yang berasal dari Meluhha yaitu P.Sumatra yang harus ditempuh dengan marluga; malluga = meluhha (suatu pulau). Bahwa kata Batak berasal dari (bat.a)yang mempunyai berbagai arti, tetapi yang mendekati kepada konteks ‘Habatahon’ diartikan sebagai bat.a = jalan, bat.a = sej.burung, d.e.bat.a = sej. burung besar, bat.ara/ batara = burung berwarna abu, batak= sej. itik terbang; inilah terjemahan glyph yg ditemukan pada kapal karam di daerah Haifa yang diperkirakan ada pada peradaban ‘bronze-age’ sekitar abad 20-an sebelum masehi; korelasinya dengan legenda Debata Asiasi dalam wujud Manuk Patiaraja sebagai jalan manusia penyampai pesan kpd Mulajadi Nabolon. Bat.a dikatakan juga sebagai ‘pengelana’; Sementara dalam bahasa batak, kata ‘batak’ berarti ‘memecut kuda untuk berlari kencang’.

    Banyak lagi misteri habatahon yang perlu diungkap agar insan-insan yg masih berasal dari keturunan Bangsa Batak mengetahui identitasnya, yang dalam konteks kebangsaan Indonesia menjadi manusia paling berhak menyebut dirinya asli pemilik Indonesia oleh karena dapat merunut identitasnya sampai 20 generasi kebelakang. Siapa lagi yg bisa klaim keasliannya di Indonesia ini selain manusia Bangsa Batak. Jadi Batak harus menyadari kesulitan2 administratip yg dialaminya dikeasliannya sbg satu unsur bernegara.
    Horas!

    Tanggapan Maridup Hutauruk:
    Pada tanggal 14 Oktober 2007 jam 3:46 pm

    Pada masa pemerintahan Sisingamangaraja-X berkembang penganut agama parmalim yang sudah berhubungan baik dengan kerajaan Aceh (islam). Kata parmalim sendiri berasal dari kata malim=orang suci. Sisingamangaraja adalah sebutan suatu gelar yang berkuasa berazaskan keagamaan (Priest King).Sisingamangaraja bukanlah berkonotasi singa-mangaraja sebagaimana legenda spinx di mesir yang melambangkan kekuatan menguasai. Kata ’singa’ tidaklah dikenal di batak kuno, karena binatang singa sebagai simbolisari kekuatan dan kekuasaan bukanlah dari kata Singa = binatang singa, melainkan berdasarkan dari kata ’sanga = priest’; kata ini terungkap dari penelitian bahasa yang dipakai pada masa (bronze-age), kemudian beradaptasi ke bahasa yang dipakai di kawasan India, termasuk bahasa yang dipakai dalam carita mahabharata

  4. Posted September 7, 2008 at 1:17 am | Permalink

    HORAS !! Perkenalkan saya, Drs. Jongker Simatupang,Ak.,MM, Sarjana Akuntansi Universitas Indonesia Lulusan Tahun 1989, dan lulus Program S2 / Magister Akuntasi Universitas Indonesia Tahun 1993. Saya pernah bekerja di Bank Duta. Saya cicit kandung dari Pahlawan Nasional Jenderal (Purn) TB Simatupang. Sekarang saya bekerja di Kantor Pusat Bank Yudha Bhakti dan jabatan yang saya pangku sekarang sebagai Direktur Operasional. Saat ini saya sedang ambil Program Magister S3 / Doktor di Universitas Indonesia. Mauliate godang…

  5. Indonesia
    Posted Oktober 4, 2009 at 7:52 am | Permalink

    Kebetulan saya buka di http://www.kaskus.us ada salah satu orang ingin agama Paramalim memperlihatkan bahwa agama Paramalim ini tidak ada yang buruk. Lalu, saya baca juga agama Parmalim ini diledek-ledek oleh banyak pemukau agama-agama dari luar Indonesia seperti Islam dll. Saya sangat sedih agama buatan Indonesia diperlakukan seperti itu oleh agama asing. Apalagi ditambah oleh pemerintah Indonesia tidak mengakui dan tidak merestui agama buatan Indonesia. Saya berpikir hal ini sama saja dengan orang tua tidak mengakui anaknya sendiri sekaligus tidak merestui keberadaan anak tsb. Makanya, dari itu semua saya berniat untuk bersatu dengan orang-orang Indonesia yang masih menganut agama buatan Indonesia. Jadi saya ingin seperti NKRI, tapi yang satu ini adalah AKRI (Agama Kesatuan Republik Indonesia). Alasan pemerintah tidak merestui agama-agama buatan Indonesia karena tidak mempunyai Buku Sucinya dan pemimpinnya. Jadi saya sekarang buat Buku Sucinya untuk bangsa Indonesia. Jadi, saya ingin kita semua bersatu dengan agama-agama buatan Indonesia seperti Sunda Wiwitan, Parmalim, Tollotang dll. Saya tidak akan mengubah ritual Parmalim atau sebagainya. Hanya saja saya ingin kita semua bersatu dengan Buku Sucinya juga. Ya, saya tidak tahu apa pemerintah Indonesia masih tidak mengakui atau mengakui. Juga sesungguhnya saya ingin yang menulis di Buku Suci bukan hanya saya saja. Jadi orang beragama Parmalim menulis ttg sejarah Parmalim dll, sebaliknya orang-orang beragama lain juga seperti itu. Itu hanya untuk lebih sah saja daripada tidak sah. Jadi ada saksi juga atas Buku Suci Agama Kesatuan Republik Indonesia. Oh ya, saya sudah kirim E-mail kepada Anda, tapi tidak ada jawaban dari Anda, apa Anda mengganti alamatnya ?. Terima kasih.

  6. Indonesia
    Posted Oktober 4, 2009 at 7:53 am | Permalink

    Tuhan

    Pesan 1: Tuhan – Terbagi : 25

    1. Berawal dengan sesuatu gumpalan dengan material-material yang ajaib dan menakjubkan.
    2. Saat itu, Tuhan muncul dengan secara sempurna tanpa sesuatu dari apa pun.
    3. Dengan kesempurnaanNya itu, maka Ia membagi diriNya sendiri menjadi pecahan yang sangat sempurna.
    4. Akhirnya, Tuhan membelah diriNya sendiri agar ada banyak bermacam-macam materi-materi yang sulit untuk diketahui oleh siapa pun.
    5. Tuhan membelah diriNya sendiri lagi agar menjadi gumpalan roh-roh.
    6. Saat itu, Ia mempunyai pecahan sangat sempurna yang tidak usah memakai perintah berlebihan.
    7. Akhirnya, jadilah sebuah lapangan besar serta ruangan yang tidak tahu sampai di mana batasnya dan dengan pecahan-pecahanNya itu, Ia jadikan roh-roh yang akan menjadi mahkluk-mahklukNya.
    8. Dari pecahanNya itu, Ia mempunyai dua roh yang akan menemaniNya di rumahNya.
    9. Saat itu, kedua roh-roh pecahanNya berkeliling di sekitar halaman rumah Tuhan.
    10. Akhirnya, kedua roh-rohNya itu bertemu dengan dua pecahanNya yang agak aneh.
    11. Kedua roh-roh dari pecahanNya itu berbicara dengan dua pecahanNya yang agak aneh itu.
    12. Lalu, mereka berdua berkata : Lihatlah itu, kita ada teman yang akan menjadi teman kita. Lalu, mereka berdua menjumpai kedua roh-roh pecahanNya itu.
    13. Hey mahkluk baru, apa yang kalian berdua lakukan di sekitar ini ?.
    14. Lalu, kedua roh itu menjawab : Kami berdua dari pecahanNya, lalu Ia menawarkan untuk menjelajahi lapanganNya serta lainnya agar kami tahu.
    15. Saat itu, kedua pecahanNya yang aneh itu mengajak kedua roh-roh dari pecahanNya itu untuk berjalan bersama mereka.
    16. Lalu mereka menyuruh kedua roh-roh itu untuk merasakan hal indah yang belum mereka berdua merasakan.
    17. Lalu kedua pecahanNya itu berkata : Sudahkah kalian berdua merasakan hal indah seperti kami berdua ?.
    18. Kedua roh-rohNya itu menjawab : Kami berdua belum tahu apa maksud merasakan hal indah itu.
    19. Mereka berdua akhirnya menunjukkan hal indah yang kedua roh-roh pecahanNya itu lakukan.
    20. Ketika mereka berdua menunjukkan kepada kedua roh-roh pecahanNya itu, seketika itu ada gempa yang sangat kuat.
    21. Akhirnya mereka berdua kaget dan berlari dengan cepat, sebaliknya juga kedua roh-roh pecahanNya itu berlari ke arah yang sama.
    22. Lalu, kedua pecahanNya itu yang aneh mengajak lagi untuk melihat keindahan yang belum mereka sempat lihat.
    23. Saat itu, akhirnya mereka berdua melihat keindahan itu dengan jelas sampai mereka tidak lupa akan hal itu.
    24. Setelah selesai untuk memperlihatkan keindahan kedua pecahanNya itu, mereka sangat ingin melakukan seperti yang sudah mereka lihat.
    25. Tidak lama kemudian, kedua roh-roh pecahanNya itu diambil oleh Tuhan untuk menghuni tempat baru dari pecahanNya yaitu alam semesta.

    Alam Semesta

    Pesan 2 : Alam Semesta – Terbagi : 20

    1. Saat setelah Tuhan memasukkan kedua roh-roh pecahanNya itu ke alam semesta, mereka ditempatkan oleh Tuhan di bumi ini.
    2. Saat itu, bumi ini masih terbentuk tidak sempurna, sambil kedua roh-roh pecahanNya itu sambil berjalan-jalan di dalam alam semesta, akhirnya bumi ini jadilah tempat yang sangat sempurna untuk mereka berdua.
    3. Setelah bumi terbentuk, Tuhan mengirim mereka berdua ke dalam pusat tanah bumi yang berlahar merah, dan akhirnya Tuhan mengubah pecahanNya itu menjadi manusia yang belum sempurna dengan gumpalan tanah merah yang sudah kering.
    4. Lalu, Tuhan menyempurnakan kedua pecahanNya itu dengan keajaibanNya.
    5. Akhirnya, jadilah kedua roh-roh pecahanNya itu menjadi sepasang manusia yaitu laki dan perempuan.
    6. Saat itu, keduanya diberi nama olehNya Laki dan Perempuan.
    7. Mereka berdua sangat kaget setelah berada di permukaan bumi yang belum mereka ketahui dan sangat berbeda dengan rumah Tuhan.
    8. Tapi, mereka berdua tidak mempedulikan bahwa mereka telanjang.
    9. Lalu, yang mereka ingat terakhir mereka berdua bertemu dengan dua mahklukNya di luar lingkungan rumah Tuhan, dan mempertunjukkan keindahan kedua mahklukNya itu, dan ketika itu ada gempa dahsyat, dan mereka berdua berlari dengan jalan yang sama kedua mahklukNya itu.
    10. Setelah itu, mereka ingat terakhir kedua mahkluk itu memperlihatkan keindahan mereka, dan akhirnya Tuhan membawa mereka ke bumi saat mereka belum sadar.
    11. Lalu, Tuhan berkata kepada kedua laki dan perempuan itu, hey kedua mahklukKu yang sempurna, Aku sudah beri kalian berdua tempat untuk hidup dan Aku sudah beri nama kepada kalian berdua.
    12. Nama itu, kalian berdua harus ingat, hey mahklukKu (Laki), namamu adalah Laki dan temanmu (Perempuan) itu adalah Perempuan.
    13. Lalu, kedua manusia itu mengingat nama mereka terus-menerus sambil mereka berkeliling di sekitar tanah luas di bumi.
    14. Saat itu, mereka berdua mengingat lagi kedua mahklukNya itu memperlihatkan keindahan mereka.
    15. Akhirnya, mereka berdua pun melakukan hal yang sama seperti kedua mahklukNya yang aneh itu.
    16. Setelah itu, mereka berdua merasakan hal yang sama dengan kedua mahklukNya yang aneh itu.
    17. Mereka sangat puas dengan keindahan yang dilakukan oleh mereka berdua.
    18. Setelah itu, Tuhan memberikan mereka berdua buah-buahan dan tumbuh-tumbuhan yang berwarna-warni di atas permukaan bumi.
    19. Akhirnya, mereka berdua menikmati hidangan yang sudah disiapkan oleh Tuhan sejak bumi terbentuk dan sebelum mereka berdua ada, sudah ada binatang-binatang raksaksa yaitu penghuni kedua setelah tanaman-tanaman dan buah-buahan.
    20. Lalu, mereka berdua akhirnya mempunyai keturunan yang akan meneruskan menghuni bumi ini sampai punah.

    Keturunan

    Pesan 3 : Keturunan – Terbagi : 5

    1. Akhirnya, mereka berdua mempunyai keturunan untuk memperbanyak keturunan agar menghuni bumi ini lebih banyak.
    2. Setelah mereka mempunyai keturunan, maka beberapa keturunan mereka berdua mempunyai keturunan sampai berlipatganda.
    3. Setalah itu, mereka berdua akhirnya kembali lagi ke rumah Tuhan setelah mereka sudah merasakan hal indah bersama pasangan dan keturunan yang berlipatganda itu.
    4. Tapi, mereka sangat khawatir dengan keturunan mereka yang banyak itu, karena mereka berdua takut terjadi sesuatu hal yang tidak dinginkan oleh mereka.
    5. Lalu Tuhan berkata : Janganlah khawatir dengan keturunan-keturunan kalian berdua, karena mereka akan menyempurnakan sejarah di bumi.

    Terpecah Belah Tanah Di Bumi

    Pesan 4 : Terpecah Belah Tanah Di Bumi – Terbagi : 7

    1. Lalu, keturunan-keturunan Laki dan Perempuan itu mempunyai akal sangat baik, tapi, dari banyak keturunan-keturunan mereka berdua itu ada yang baik dan buruk.
    2. Saat itu, keturunan-keturunan mereka berdua, sedikit demi sedikit agak lebih sempurna daripada mereka berdua.
    3. Mereka merantau dan saling bertarung demi apa saja dan sebagainya.
    4. Lalu, seketika itu juga saat mereka merantau, terjadilah gempa dahsyat yang sampai mereka berlari-lari tanpa tujuan.
    5. Akhirnya, tanah di bumi terpecah belah menjadi beberapa pecahan.
    6. Setelah gempa usai, masing-masing keturunan Laki dan Perempuan tidak tahu berada di mana setelah gempa itu.
    7. Lalu, mereka mencari-cari pasangan mereka sampai akhirnya mereka menemukan masing-masing pasangan mereka.

    Muncullah Indonesia

    Pesan 5 : Muncullah Indonesia – Terbagi : 3

    1. Setelah terpisah dari saudara-saudara mereka, mereka berusaha mengembangkan sesuatu di atas tanah air ini.
    2. Masing-masing keturunan Laki dan Perempuan, mereka menghuni masing-masing pulau di Indonesia.
    3. Setelah menghuni bertahun-tahun, akhirnya banyaklah keturunan-keturunan di Indonesia sampai masing-masing tidak mengenal lagi saudara-saudara mereka.

    Dinamisme

    Pesan 6 : Dinamisme – Terbagi :

    1.

    Animisme

    Pesan 7 : Animisme – Terbagi :

    1.

    Sunda Wiwitan

    Pesan 8 : Sunda Wiwitan – Terbagi :

    1.

    Agama Djawa Sunda

    Pesan 9 : Agama Djawa Sunda – Terbagi :

    1.

    Buhun

    Pesan 10 : Buhun – Terbagi :

    1.

    Kejawen

    Pesan 11 : Kejawen – Terbagi :

    1.

    Parmalim

    Pesan 12 : Parmalim – Terbagi :

    1.

    Kaharingan

    Pesan 13 : Kaharingan – Terbagi :

    1.

    Tonaas Walian

    Pesan 14 : Tonaas Walian – Terbagi :

    1.

    Tolottang

    Pesan 15 : Tolottang – Terbagi :

    1.

    Wetu Telu

    Pesan 16 : Wetu Telu – Terbagi :

    1.

    Naurus

    Pesan 17 : Naurus – Terbagi :

    1.

    Aliran Mulajadi Nabolon

    Pesan 18 : Aliran Mulajadi Nabolon – Terbagi :

    1.

    Marapu

    Pesan 19 : Marapu – Terbagi :

    1.

    Purwoduksino

    Pesan 20 : Purwoduksino – Terbagi :

    1.

    Budi Luhur

    Pesan 21 : Budi Luhur – Terbagi :

    1.

    Pahkampetan

    Pesan 22 : Pahkampetan – Terbagi :

    1.

    Bolim

    Pesan 23 : Bolim – Terbagi :

    1.

    Basora

    Pesan 24 : Basora – Terbagi :

    1.

    Samawi

    Pesan 25 : Samawi – Terbagi :

    1.

    Sirnagalih

    Pesan 26 : Sirnagalih – Terbagi :

    1.

    Sejarah

    Pesan 27 : Sejarah – Terbagi :

    1.

    Pangeran Madrais

    Pesan 28 : Pangeran Madrais – Terbagi :

    1.

  7. Indonesia
    Posted Oktober 4, 2009 at 7:53 am | Permalink

    Agama Asli Nusantara
    Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
    Langsung ke: navigasi, cari
    Agama Asli Nusantara adalah agama-agama tradisional yang telah ada sebelum agama Islam, Kristen Katolik, Kristen Protestan, Hindu, Buddha, Konghucu masuk ke Indonesia.
    Mungkin banyak di kalangan masyarakat Indonesia sudah tidak lagi mengetahui bahwa sebelum agama-agama “resmi” (agama yang diakui); Islam, Kristen Katolik, Kristen Protestan, Hindu dan Buddha, kemudian kini Konghucu, masuk ke Nusantara atau Indonesia, di setiap daerah telah ada agama-agama atau kepercayaan asli, seperti Sunda Wiwitan yang dipeluk oleh masyarakat Sunda di Kanekes, Lebak, Banten; Sunda Wiwitan aliran Madrais, juga dikenal sebagai agama Cigugur (dan ada beberapa penamaan lain) di Cigugur, Kuningan, Jawa Barat; agama Buhun di Jawa Barat; Kejawen di Jawa Tengah dan Jawa Timur; agama Parmalim, agama asli Batak; agama Kaharingan di Kalimantan; kepercayaan Tonaas Walian di Minahasa, Sulawesi Utara; Tolottang di Sulawesi Selatan; Wetu Telu di Lombok; Naurus di Pulau Seram di Propinsi Maluku, dll. Didalam Negara Republik Indonesia, agama-agama asli Nusantara tersebut didegradasi sebagai ajaran animisme, penyembah berhala / batu atau hanya sebagai aliran kepercayaan.
    Hingga kini, tak satu pun agama-agama dan kepercayaan asli Nusantara yang diakui di Republik Indonesia sebagai agama dengan hak-hak untuk dicantumkan di KTP, Akta Kelahiran, pencatatan perkawinan di Kantor Catatan Sipil ,dsb. Seiring dengan berjalannya waktu dan zaman, Agama Asli Nusantara semakin punah dan menghilang, kalaupun ada yang menganutnya, biasanya berada didaerah pedalaman seperti contohnya pedalaman Sumatera dan pedalaman Irian Jaya.
    Di Indonesia, aliran kepercayaan yang paling banyak penganutnya adalah Agama Buhun. Data yang terekam oleh peneliti Abdul Rozak, penulis Teologi Kebatinan Sunda, menunjukkan jumlah pemeluk agama ini 100 ribu orang. Jika angka ini benar, Agama Buhun jelas salah satu aliran kepercayaan terbesar di Indonesia, yaitu 25 persen dari seluruh penghayat aliran kepercayaan. Data Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata tahun 2003 mengungkapkan, dari 245 aliran kepercayaan yang terdaftar, sementara keseluruhan penghayat mencapai 400 ribu jiwa lebih.
    Sunda Wiwitan merupakan sebutan untuk agama/kepercayaan yang dianut oleh masyarakat di Kanekes, Lebak, Banten. Menurut penganutnya, Sunda Wiwitan merupakan kepercayaan yang dianut sejak lama oleh orang Sunda sebelum datangnya Islam.
    Sunda Wiwitan adalah agama yang sudah sejak lama dipeluk oleh masyarakat Sunda, jauh sebelum penjajah kolonial datang ke Indonesia. Bahkan, meskipun sudah terjadi inkulturasi dan banyak orang Sunda yang memeluk agama-agama di luar Sunda Wiwitan, paham dan adat yang telah diajarkan oleh agama ini masih tetap dijadikan penuntun di dalam kehidupan orang-orang Sunda. “Secara budaya, mereka belum meninggalkan agama Sunda ini,” kata Rama Jati. Dalam perjalanan waktu, Sunda Wiwitan juga pernah mengalami masa-masa penuh tekanan dari berbagai pihak. Rama Jati sendiri pernah ditangkap dan dipenjara karena dituduh menyebarkan ajaran yang dianggap meresahkan masyarakat. Namun, pernyataan bahwa masyarakat Sunda masih belum meninggalkan agama ini memang bukan isapan jempol. Selain dari budaya penyampaian doa melalui gerak tarian seperti itu, bukti itu juga dapat dilihat dari perayaan pergantian tahun yang berdasarkan pada penanggalan Sunda, atau yang dikenal dengan nama Perayaan Seren Taun. Di berbagai tempat di Jawa Barat, Seren Taun selalu berlangsung meriah dan dihadiri oleh ribuan orang. Di Cigugur, Kuningan sendiri, satu daerah yang masih memegang teguh budaya Sunda, mereka yang ikut merayakan Seren Taun ini datang dari berbagai penjuru negeri.
    Ajaran “Cara Ciri” Paham atau ajaran dari suatu agama senantiasa mengandung unsur-unsur yang tersurat dan yang tersirat. Unsur yang tersurat adalah apa yang secara jelas dinyatakan sebagai pola hidup yang harus dijalani, sedangkan yang tersirat adalah pemahaman yang komprehensif atas ajaran tersebut. Demikian pula yang berlaku di dalam agama Sunda Wiwitan. Menurut Rama Jati, ajaran Sunda Wiwitan pada dasarnya berangkat dari dua prinsip, yaitu Cara Ciri Manusia dan Cara Ciri Bangsa. Cara Ciri Manusia adalah unsur-unsur dasar yang ada di dalam kehidupan manusia. “Ada lima unsur yang termasuk di dalamnya, yaitu cinta kasih atau welas asih, undak usuk atau sebutan tatanan dalam kekeluargaan, tata krama, budi bahasa dan budaya, serta wiwaha yudha naradha,” kata Rama Jati. Untuk unsur yang kelima, wiwaha yudha naradha, maksudnya adalah sifat dasar manusia yang selalu memerangi segala sesuatu sebelum melakukannya. Kalau satu saja cara ciri manusia yang lain tidak sesuai dengan hal tersebut maka manusia pasti tidak akan melakukannya. Prinsip yang kedua adalah Cara Ciri Bangsa, yang terdiri dari rupa, adat, bahasa, aksara, dan budaya. Secara universal, semua manusia memang mempunyai kesamaan di dalam hal Cara Ciri Manusia. Namun, ada hal-hal tertentu yang membedakan antara manusia satu dengan yang lainnya. Dalam ajaran Sunda Wiwitan, perbedaan-perbedaan antarmanusia tersebut didasarkan pada Cara Ciri Bangsa ini. Kedua prinsip ini tidak secara pasti tersurat di dalam Kitab Sunda Wiwitan, yang bernama Siksa Kanda Resihan. “Namun secara mendasar, manusia sebenarnya justru menjalani hidupnya dari apa yang tersirat,” kata Rama Jati. Menurut Rama Jati, apa yang tersurat akan selalu dapat dibaca dan dihafalkan. Hal tersebut tidak memberi jaminan bahwa manusia akan menjalani hidupnya dari apa yang tersurat itu. Justru, apa yang tersiratlah yang bisa menjadi penuntun manusia di dalam kehidupan. Dalam penerapannya, Sunda Wiwitan juga tidak mengajarkan banyak tabu kepada para pemeluknya. Menurut Rama Jati, tabu yang diajarkan di dalam agama Sunda ini hanya ada dua. “Yang tidak disenangi dan membahayakan orang lain, itu tabu. Selain itu, yang bisa membahayakan diri sendiri dan menjadi kebiasaan, juga merupakan tabu,” kata Rama Jati. Sebagai contoh, papar Rama Jati, makan nasi saja bisa menjadi tabu di dalam Sunda Wiwitan ini. Dengan catatan, tentu saja, kalau makan nasinya terlalu banyak dapat membuat orang sakit perut.
    Agama Djawa Sunda
    Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
    Langsung ke: navigasi, cari
    Agama Djawa Sunda (sering disingkat menjadi ADS) adalah nama yang diberikan oleh pihak antropolog Belanda terhadap kepercayaan sejumlah masyarakat yang tersebar di daerah Kecamatan Cigugur, Kuningan, Jawa Barat. Agama ini juga dikenal sebagai Cara Karuhun Urang (tradisi nenek moyang), agama Sunda Wiwitan, ajaran Madrais atau agama Cigugur. Abdul Rozak, seorang peneliti kepercayaan Sunda, menyebutkan bahwa agama ini adalah bagian dari agama Buhun, yaitu kepercayaan tradisional masyarakat Sunda yang tidak hanya terbatas pada masyarakat Cigugur di Kabupaten Kuningan, tetapi juga masyarakat Baduy di Kabupaten Lebak, para pemeluk “Agama Kuring” di daerah Kecamatan Ciparay, Kabupaten Bandung, dll. Jumlah pemeluknya di daerah Cigugur sekitar 3.000 orang. Bila para pemeluk di daerah-daerah lain ikut dihitung, maka jumlah pemeluk agama Buhun ini, menurut Abdul Rozak, mencapai 100.000 orang, sehingga agama Buhun termasuk salah satu kelompok yang terbesar di kalangan Kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
    Agama Djawa Sunda atau agama Sunda Wiwitan ini dikembangkan oleh Pangeran Madrais dari Cigugur, Kuningan. Oleh pemerintah Belanda, Madrais belakangan ditangkap dan dibuang ke Ternate, dan baru kembali sekitar tahun 1920 untuk melanjutkan ajarannya.
    Madrais — yang biasa juga dipanggil Kiai Madrais — adalah keturunan dari Kesultanan Gebang, sebuah kesultanan di wilayah Cirebon Timur. Ketika pemerintah Hindia Belanda menyerang kesultanan ini, Madrais diungsikan ke daerah Cigugur. Sang pangeran yang juga dikenal sebagai Pangeran Sadewa Alibasa, dibesarkan dalam tradisi Islam dan tumbuh sebagai seorang spiritualis. Ia mendirikan pesantren sebagai pusat pengajaran agama Islam, namun kemudian mengembangkan pemahaman yang digalinya dari tradisi pra-Islam masyarakat Sunda yang agraris. Ia mengajarkan pentingnya menghargai cara dan ciri kebangsaan sendiri, yaitu Jawa-Sunda.
    Ajaran dan ritual dalam ADS
    Madrais menetapkan tanggal 22 Rayagung menurut kalender Sunda sebagai hari raya Seren Taun yang diperingati secara besar-besaran. Upacara ini dipusatkan di Paseban Tri Panca Tunggal, rumah peninggalan Kiai Madrais yang didirikan pada 1860, dan yang kini dihuni oleh Pangeran Djatikusuma.
    Dalam upacara ini, berbagai rombongan dari masyarakat datang membawa bermacam-macam hasil bumi. Padi-padian yang dibawa, kemudian ditumbuk beramai-ramai dalam lesung sambil bernyanyi (ngagondang). Upacara ini dirayakan sebagai ungkapan syukur untuk hasil bumi yang telah dikaruniakan oleh Tuhan kepada manusia. Upacara “Seren Taun” yang biasanya berlangsung hingga tiga hari dan diwarnai oleh berbagai kesenian daerah ini, pernah dilarang oleh pemerintah Orde Baru selama 17 tahun, namun kini upacara ini dihidupkan kembali. Salah satu upacara “Seren Taun” pernah dihadiri oleh Menteri Perindustrian, Andung A. Nitimiharja, mantan Presiden RI, Abdurahman Wahid, dan istri, serta sejumlah pejabat pemerintah lainnya.
    Madrais juga mengajarkan penghormatan terhadap Dewi Sri (Sanghyang Sri) melalui upacara-upacara keagamaan penanaman padi. Ia memuliakan Maulid Nabi Muhammad, namun menolak Al Qur’an karena menurutnya Al Qur’an yang sekarang tidak sah. Al Qur’an sejati, katanya, akan diturunkan menjelang kiamat.
    Selain itu, Agama Djawa Sunda atau ajaran Madrais ini tidak mewajibkan khitanan. Jenazah orang yang meninggal harus dikuburkan dalam sebuah peti mati.
    Masa depan ADS
    Di masa pemerintahan Orde Baru, para pemeluk agama ini mengalami kesulitan karena pemerintah hanya mengakui keberadaan lima agama, yaitu Islam, Kristen (Protestan), Katolik, Hindu dan Buddha. Pada akhir 1960-an, ketika pemerintah Orde Baru menolak mengakui keberadaan ajaran Madrais, banyak pengikutnya yang kemudian memilih untuk memeluk Islam atau Katolik.
    Kiai Madrais wafat pada tahun 1939, dan kepemimpinannya dilanjutkan oleh anaknya, Pangeran Tedjabuana, dan kemudian oleh cucunya, Pangeran Djatikusuma yang 11 Juli 1981 mendirikan Paguyuban Adat Cara Karuhun Urang (PACKU).
    Pangeran Djatikusuma telah mempersiapkan anak laki-laki satu-satunya, yaitu Gumirat Barna Alam, untuk meneruskan ajaran ini. Menurut ajaran Kiai Madrais, anak lelaki harus bersikap netral, dan dapat mengerti semua agama. Sementara anak-anak Djatikusuma lainnya, bebas memilih agama ataupun kepercayaan lain.
    Kejawen
    Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
    Langsung ke: navigasi, cari

    Penganut salah satu aliran kejawen tengah beribadah di Candi Ceto.
    Kejawen (bahasa Jawa Kejawèn) adalah sebuah kepercayaan atau mungkin boleh dikatakan agama yang terutama dianut di pulau Jawa oleh suku Jawa dan sukubangsa lainnya yang menetap di Jawa. Penamaan “kejawen” bersifat umum, biasanya karena bahasa pengantar ibadahnya menggunakan bahasa Jawa. Dalam konteks umum, kejawen merupakan bagian dari agama lokal Indonesia. Seorang ahli antropologi Amerika Serikat, Clifford Geertz pernah menulis tentang agama ini dalam bukunya yang ternama The Religion of Java. Olehnya Kejawen disebut “Agami Jawi”.
    Penganut ajaran kejawen biasanya tidak menganggap ajarannya sebagai agama dalam pengertian seperti agama monoteistik, seperti Islam atau Kristen, tetapi lebih melihatnya sebagai seperangkat cara pandang dan nilai-nilai yang dibarengi dengan sejumlah laku (mirip dengan “ibadah”). Ajaran kejawen biasanya tidak terpaku pada aturan yang ketat, dan menekankan pada konsep “keseimbangan”. Dalam pandangan demikian, kejawen memiliki kemiripan dengan Konfusianisme atau Taoisme, namun tidak sama pada ajaran-ajarannya. Hampir tidak ada kegiatan perluasan ajaran (misi) namun pembinaan dilakukan secara rutin.
    Simbol-simbol “laku” biasanya melibatkan benda-benda yang diambil dari tradisi yang dianggap asli Jawa, seperti keris, wayang, pembacaan mantera, penggunaan bunga-bunga tertentu yang memiliki arti simbolik, dan sebagainya. Akibatnya banyak orang (termasuk penghayat kejawen sendiri) yang dengan mudah mengasosiasikan kejawen dengan praktek klenik dan perdukunan.
    Ajaran-ajaran kejawen bervariasi, dan sejumlah aliran dapat mengadopsi ajaran agama pendatang, baik Hindu, Buddha, Islam, maupun Kristen. Gejala sinkretisme ini sendiri dipandang bukan sesuatu yang aneh karena dianggap memperkaya cara pandang terhadap tantangan perubahan zaman.
    Beberapa aliran kejawen
    Terdapat ratusan aliran kejawen dengan penekanan ajaran yang berbeda-beda. Beberapa jelas-jelas sinkretik, yang lainnya bersifat reaktif terhadap ajaran agama tertentu. Namun biasanya ajaran yang banyak anggotanya lebih menekankan pada cara mencapai keseimbangan hidup dan tidak melarang anggotanya mempraktekkan ajaran agama (lain) tertentu.
    Beberapa aliran dengan anggota besar
    Sumarah
    Budi Dharma
    Paguyuban Ngesti Tunggal
    Sapta Dharma
    Aliran yang bersifat reaktif misalnya aliran yang mengikuti ajaran Sabdopalon, atau penghayat ajaran Syekh Siti Jenar.
    Parmalim
    Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
    Langsung ke: navigasi, cari
    Parmalim, adalah nama sebuah kepercayaan atau mungkin boleh dibilang agama yang terutama dianut di provinsi Sumatra Utara. Agama Parmalim adalah agama asli suku Batak.
    Pimpinan Parmalim saat ini adalah Raja Marnangkok Naipospos
    Agama ini bisa dikatakan merupakan sebuah kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang tumbuh dan berkembang di Tanah Air Indonesia sejak Dahulu Kala. “Tuhan Debata Mulajadi Nabolon” adalah pencipta Manusia, Langit, Bumi dan segala isi alam semesta yang disembah oleh “Umat Ugamo Malim” (“Parmalim”).
    Kaharingan
    Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
    Langsung ke: navigasi, cari
    Kaharingan/Hindu Kaharingan adalah religi suku atau kepercayaan tradisional suku Dayak di Kalimantan. Istilah kaharingan artinya tumbuh atau hidup, seperti dalam istilah danum kaharingan belum (air kehidupan), maksudnya agama suku atau kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa (Ranying), yang hidup dan tumbuh secara turun temurun dalam masyarakat Dayak di Kalimantan. Pemerintah Indonesia mewajibkan penduduk dan warganegara untuk menganut salah satu agama yang diakui oleh pemerintah Republik Indonesia. Oleh sebab itu kepercayaan Kaharingan dan religi suku yang lainnya seperti Tollotang (Hindu Tollotang) pada suku Bugis, dimasukkan dalam kategori agama Hindu, mengingat adanya persamaan dalam penggunaan sarana kehidupan dalam melaksanakan ritual untuk korban (sesaji) yang dalam agama Hindu disebut Yadnya. Jadi mempunyai tujuan yang sama untuk mencapai Tuhan Yang Maha Esa, hanya berbeda kemasannya. Tuhan Yang Maha Esa dalam istilah agama Kaharingan disebut Ranying. Dewasa ini, suku Dayak sudah diperbolehkan mencantumkan agama Kaharingan dalam Kartu Tanda Penduduk, dengan demikian suku Dayak yang melakukan upacara perkawinan menurut adat Kaharingan, diakui pula pencatatan perkawinan tersebut oleh negara.
    Tetapi di Malaysia Timur (Sarawak, Sabah), nampaknya kepercayaan ini tidak diakui sebagai bagian umat beragama Hindu, jadi dianggap sebagai masyarakat yang belum menganut suatu agama apapun. Organisasi alim ulama Hindu Kaharingan adalah Majelis Besar Agama Hindu Kaharingan (MBAHK) pusatnya di Palangkaraya, Kalimantan Tengah.
    Wetu Telu
    Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
    Langsung ke: navigasi, cari
    Wetu Telu (bahasa Indonesia:Waktu Tiga) adalah praktik unik sebagian masyarakat suku Sasak yang mendiami pulau Lombok dalam menjalankan agama Islam. Ditengarai bahwa praktik unik ini terjadi karena para penyebar Islam di masa lampau, yang berusaha mengenalkan Islam ke masyarakat Sasak pada waktu itu secara bertahap, meninggalkan pulau Lombok sebelum mengajarkan ajaran Islam dengan lengkap[1]. Saat ini para penganut Wetu Telu sudah sangat berkurang, dan hanya terbatas pada generasi-generasi tua di daerah tertentu, sebagai akibat gencarnya para pendakwah Islam dalam usahanya meluruskan praktik tersebut.
    Sejarah
    Sebelum masuknya Islam, masyarakat yang mendiami pulau Lombok berturut-turut menganut kepercayaan animisme, dinamisme kemudian Hindu. Islam pertama kali masuk melalui para wali dari pulau Jawa yakni sunan Prapen pada sekitar abad XVI, setelah runtuhnya kerajaan Majapahit. Bahasa pengantar yang digunakan para penyebar tersebut adalah bahasa Jawa Kuno. Dalam menyampaikan ajaran Islam, para wali tersebut tidak serta merta menghilangkan kebiasaan lama masyarakat yang masih menganut kepercayaan lamanya. Bahkan terjadi akulturasi antara Islam dengan budaya masyarakat setempat, karena para penyebar tersebut memanfaatkan adat-istiadat setempat untuk mempermudah penyampaian Islam. Kitab-kitab ajaran agama pada masa itu ditulis ulang dalam bahasa Jawa Kuno. Bahkan syahadat bagi para penganut Wetu Telu dilengkapi dengan kalimat dalam bahasa Jawa Kuno. Pada masa itu, yang diwajibkan untuk melakukan peribadatan adalah para pemangku adat atau kiai saja.
    Dalam[1] disampaikan dugaan bahwa praktik tersebut bertahan karena para wali yang menyebarkan Islam pertama kali tersebut, tidak sempat menyelesaikan ajarannya, sehingga masyarakat waktu itu terjebak pada masa peralihan. Para murid yang ditinggalkan tidak memiliki keberanian untuk mengubah praktik pada masa peralihan tersebut ke arah praktik Islam yang lengkap. Hal itulah salah satu penyebab masih dapat ditemukannya penganut Wetu Telu di masa modern.
    Dalam masyarakat lombok yang awam menyebut kepercayaan ini dengan sebutan “Waktu Telu” sebagai akulturasi dari ajaran islam dan sisa kepercayaan lama yakni animisme,dinamisme,dan kerpercayaan Hindu.Selain itu karena penganut kepercayaan ini tidak menjalankan peribadatan seperti agama Islam pada umumnya (dikenal dengan sebutan “Waktu Lima” karena menjalankan kewajiban sholat Lima Waktu).Yang wajib menjalankan ibadah-ibadah tersebut hanyalah orang-orang tertentu seperti kiai atau pemangku adat (Sebutan untuk pewaris adat istiadat nenek moyang). Kegiatan apapun yang berhubungan dengan daur hidup (kematian,kelahiran,penyembelihan hewan,selamatan dsb) harus diketahui oleh kiai atau pemangku adat dan mereka harus mendapat bagian dari upacara-upacara tersebut sebagai ucapan terima kasih dari tuan rumah.
    Lokasi
    Lokasi yang terkenal dengan praktik Wetu Telu di Lombok adalah daerah Bayan, yang terletak di Kabupaten Lombok Barat. Pada lokasi ini masih dapat ditemukan masjid yang digunakan oleh para penganut Wetu Telu. Ada juga sebuah tempat yang digunakan oleh umat berbagai agama untuk berdoa.Namanya “Kemaliq” yang artinya tabu,suci dan sakral.terletak di desa Lingsar Kabupaten Lombok Barat yang setiap tahun mengadakan sebuah upacara adat yang bernama “Upacara Pujawali Dan Perang Topat” sebagai wujud rasa syukur atas hujan yang diberikan Tuhan YME pada umat manusia
    Marapu
    Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
    Langsung ke: navigasi, cari

    Artikel ini perlu dirapikan agar memenuhi standar Wikipedia
    Merapikan artikel bisa berupa membagi artikel ke dalam paragraf atau wikifikasi artikel. Setelah dirapikan, tolong hapus pesan ini.

    Marapu adalah sebuah agama lokal yang dianut oleh masyarakat di Pulau Sumba. Agama ini merupakan kepercayaan yang memuja nenek moyang dan leluhur. Lebih dari setengah penduduk Sumba memeluk agama ini.
    Pemeluk agama ini percaya bahwa kehidupan di dunia ini hanya sementara dan bahwa setelah akhir zaman mereka akan hidup kekal, di dunia roh, di surga Marapu, yang dikenal sebagai Prai Marapu.
    Website :
    http://id.wikipedia.org/wiki/Agama_Asli_Nusantara
    • Sunda Wiwitan (Kanekes, Banten)
    • Agama Djawa Sunda (Kuningan, Jawa Barat)
    • Buhun (Jawa Barat)
    • Kejawen (Jawa Tengah dan Jawa Timur)
    • Parmalim (Sumatera Utara)
    • Kaharingan (Kalimantan)
    • Tonaas Walian (Minahasa, Sulawesi Utara)
    • Tolottang (Sulawesi Selatan)
    • Wetu Telu (Lombok)
    • Naurus (pulau Seram, Maluku)
    • Aliran Mulajadi Nabolon
    • Marapu (Sumba)
    • Purwoduksino
    • Budi Luhur
    • Pahkampetan
    • Bolim
    • Basora
    • Samawi
    • Sirnagalih


Tulis sebuah Komentar

Required fields are marked *
*
*

%d blogger menyukai ini: