Semsar Siahaan

Profesi: Perupa dan Pelukis

Nama: Semsar Siahaan
Lahir: Medan, Sumatra Utara, 11 Juni 1952
Meninggal: Tabanan, Bali, 23 Februari 2005
Ayah: Mayjen (Purn) Ricardo Siahaan

Pendidikan:
– Kursus menggambar di Beograd
– Kuliah Seni Rupa di ITB
– Kuliah seni lukis di Prancis
– Kuliah di San Francisco Art Institute

Karya, al:
– A Self Potrait with Black Orchid
– The Blue Scream of an Artist
– Buruh (3): Semsar’ Self Potrait
– Cerita Kami
– Confusion
– Homage to Cristo’s Mother
– Hak Berserikat Kaum Buruh
– Kecelakaan Kerja
– White Collars Workers
– Penghisapan
– Pintunya Harapan
– The Poet Who Disappeared
– Women Workers Between Factory and Prison

Alamat: Dusun Kesambi, Desa Jatiluwih, Kecamatan Penebel, Tabanan, Bali

Perupa Perlawanan Penindasan

Dia perupa yang gigih menyuarakan perlawanan terhadap ketidakadilan, penindasan dan penghisapan manusia atas manusia lain yang termarjinalkan. Sejumlah lukisan pria kelahiran Medan, Sumatra Utara, 11 Juni 1952, itu menggambarkan kondisi sebuah negeri yang menderita akibat ulah dan penindasan tersistem oleh manusia yang berkuasa. Putra Mayjen (Purn) Ricardo Siahaan, ini seorang aktivis murni, yang rela berkorban bagi sesama.

Pelukis yang terakhir menggelar pameran tunggal di Galeri Nasional (2004), itu meninggal di Rumah Sakit Umum Daerah Tabanan, Rabu 23 Februari 2005 pukul 01.00 Wita. Jenazahnya disemayamkan di Galeri Cipta Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Dimakamkan di Taman Pemakaman Umum Menteng Pulo, Kamis 24 Februari 2005, setelah diadakan upacara pelepasan pukul 11.00.

Pria peranakan, ayah Batak dan ibu keturunan India, ini wafat saat berupaya membangun studionya di Dusun Kesambi, Desa Jatiluwih, Kecamatan Penebel, 16 kilometer di utara kota Tabanan, Bali. Saat itu, dia tiba-tiba terlihat lemas ketika mengawasi perataan tanah. Dia mengeluh rasa sakit di bagian dada. Kemudian kejang- kejang. Ahli gambar di atas kertas ini mengalami serangan jantung, yang merenggut nyawanya.

Sejumlah lukisan anak kedua dari enam bersaudara, ini bertema keseharian yang kritis merekam kebobrokan moral masyarakat. Salah satu lukisannya yang pernah dipamerkan di Galeri Nasional berjudul Pizza. Lukisan berbentuk piza yang di dalamnya ada potongan-potongan segitiga seperti piza, cukup menggambarkan berbagai fenomena kehidupan saat ini. Di antaranya, penggambaran tentang penjungkirbalikan fakta yang sering terjadi.

Perupa kondang yang memilih hidup berpihak pada kaum tertindas itu sering menggambarkan kegetiran para kaum buruh dari penindasan majikan. Bahkan kepeduliannya kepada kaum buruh tertindas tidak hanya terpancar dari karya lukis dan patungnya. Dia pun aktif sebagai salah seorang pendiri Serikat Buruh Merdeka bersama H Pongke Princent.

Dia juga sangat peduli terhadap masalah lingkungan. Sejumlah lukisannya bertema keserakahan negara-negara kaya yang membabat hutan di negara-negara miskin. Lukisan itu ikut dipamerkan di Galeri Nasional Indonesia, 17- 31 Agustus 2004. Bahkan pada tahun 1980-an, dia juga aktif di Sekretariat Perlindungan Hutan Indonesia (Skepy) yang menentang pembabatan hutan di berbagai daerah.

Dalam beberapa karyanya, seniman yang tidak mau diatur oleh kurator dan tidak mau didikte dalam berkarya, itu juga memosisikan diri sebagai objek, tidak selalu sebagai subjek yang merekam objek saja. Seperti tergambar dari lukisannya Self Potrait with Black Orchid dan Buruh.

Semsar Siahaan, yang akrab dipanggil Sam, dikenal sebagai perupa yang kritis dan sering melakukan aksi protes. Pada saat kuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB) tahun 1981, dia pernah membakar karya lukisnya sendiri karena dianggap hanya bersifat suvenir. Ia menggali lubang-lubang kubur dan mengisinya dengan patung-patung mayat di dalam Bienalle Seni Rupa Jakarta IX di Taman Ismail Marzuki Jakarta.

Lalu, pelukis yang sering melakukan aksi demonstrasi di era pemerintahan Orde Baru, itu pun dipecat dari ITB karena melakukan aksi membakar patung berjudul Irian Dalam Tarso, karya pelukis Soenaryo, dosennya, yang dianggapnya sebagai seni kemasan yang mengeksploitasi orang Papua dan mendapatkan uang dari situ, sementara orang Papua tidak dapat apa-apa. Saat itu, dia membungkus patung karya Soenaryo, sehingga orang mengira itu patung karyanya sendiri. Patung itu dibakar, akibatnya dia dipecat dari ITB.

Dia pun pergi ke Prancis. Di sana dia mendalami seni lukis. Ia juga menyempatkan diri kuliah di San Francisco Art Institute. Bukan kali ini saja dia belajar seni di luar negeri. Ketika mengikuti ayahnya yang menjadi atase militer di Beograd, Semsar juga sempat kursus menggambar.

Beberapa tahun kemudian, tepatnya 1984, dia kembali ke Tanah Air. Dia pun menunjukkan integritas dan dukungan pada gerakan mahasiswa yang prodemokrasi dengan menggelar pameran lukisan yang disertai diskusi keliling di sejumlah kampus di Pulau Jawa. Ketika itu, lagi-lagi membakar puluhan lukisannya di hadapan para aktivis.

Ketika Tempo, Editor dan Detik dibredel penguasa Orde Baru, dia pun ikut bergabung demonstrasi. Saat itu (27/6/1994), dia bahkan pasang badan melindungi seorang perempuan yang dianiaya aparat. Dia cedera berat, kakinya patah dan harus dirawat berbulan-bulan di rumah sakit. Namun, kakinya yang patah tidak bisa disembuhkan total, dia cacat. Dalam kondisi demikian, dia pun ikut membidani berdirinya Aliansi Jurnalistik Independen (AJI) bersama aktivis pers lainnya di Indonesia.

Dia seperti punya dua nyawa, tak merasa takut mati. Namun, pada 1997, saat situasi politik dalam negeri dalam keadaan galau ditandai dengan penculikan terhadap beberapa aktivis, Semsar meninggalkan tanah air, pergi ke Kanada. Ia dibujuk sahabat ayahnya, sekalian untuk berobat.

Sepulang dari Kanada, dia pun memilih akan lebih baik tinggal menetap di Dusun Kesambi, Desa Jatiluwih, Kecamatan Penebel, 16 kilometer di utara kota Tabanan, Bali. Di sana dia punya tanah yang dibelinya dari seorang petani yang tanahnya tergadaikan karena tidak mampu membayar utang. Di atas tanah seluas lebih 3000 meter itu dia membangun studio.

Sejak 1 Januari 2005, dia telah memutuskan akan menetap di situ. Sebelumnya dia sempat berniat menetap Pematang Siantar, kampung leluhurnya atau di Banda Aceh, kampung putri Aceh yang pernah dinikahi dan memberinya seorang anak, namun meninggal dalam usia sehari. Namun, Semsar boleh berancana untuk hidup dan berkarya menetap di Jatiluwih, tetapi kehendak Tuhan jualah yang jadi. Dia dipanggil, menghadap kehadiratNya.

Iklan

One Comment

  1. Posted Desember 6, 2010 at 8:41 pm | Permalink

    Tahun 90an, saya menonton pameran tunggal Semsar Siahaan di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Lukisannya banyak didominasi warna hitam, merah, putih. Dengan gaya abstrak, lukisannya banyak dipengaruhi oleh ‘motif’ Batak, serba mengejutkan dan mempesona. Saya kagum. Sebelum meninggalkan pameran, saya sempatkan menemuinya dan menyalamnya. Dengan pakaian serba hitam, rambut gondrong, dan raut wajah yang khas, dia pun membalas salam Horas. Hanya itu kesempatan saya bertemu dengan seniman berkelas itu. Kini ia telah pergi untuk selamanya. Selamat jalan, Bung Semsar….

    Naraja


Tulis sebuah Komentar

Required fields are marked *
*
*

%d blogger menyukai ini: