Otto Hasibuan SH.MM

Titian Jenjang Anak Tangga

Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Advokat Indonesia (DPP Ikadin) periode 2003-2007 yang juga merangkap Kordinator Komite Kerja Advokat Indonesia (KKAI) yang terdiri dari delapan asosiasi advokat, ini punya prinsip menjalani hidup laksana meniti jenjang anak tangga, bertahap dan menerima apa adanya. Dalam wawancara, ia bilang, mencari kepuasan materi, jabatan dan sebagainya sama seperti meminum air laut, semakin diminum akan semakin haus. Anak Siantar yang lahir di Jalan Sutomo Pematang Siantar, tanggal 5 Mei 1955, ini dari sejak Sekolah Dasar sudah aktif dalam kegiatan organisasi. Kisah sukses hidupnya memang tidak dapat dipisahkan dari kegiatan organisasi. Bahkan boleh diibaratkan, jika ia tidak berorganisasi, sama seperti makan tanpa garam.

Semasa SD, dulu ada namanya PORSEDA (Persatuan Olah Raga Sepeda), ia sudah jadi ketua. Kemudian saat di SMP, di Kabupaten Simalungun, ia sudah mendirikan perkumpulan sepakbola, dalam ukuran dulu suatu klub yang sudah profesional, dalam arti sudah ada tim yang lengkap, ada manajer, kostum lengkap, dan ada yang mendanai. Klub tersebut dinamai Putra Andalas. Dia sendiri sebagai ketua klub dan teman-temannya menjadi anggota. Manejernya seorang polisi dan penasehat adalah Kapolres Simalungun. Jadi kalau mereka bertanding, Polres yang menyediakan mobil atau bis untuk trasportasi. Dulu (kira-kira tahun 1968) suatu klub sepakbola di kota kabupaten itu naik mobil (bis) adalah suatu hal yang luar biasa. Sebab ketika itu di Pematang Siantar (Kabupaten Simalungun) hanya ada satu bis. Bahkan saat itu ia sendiri mengaku belum pernah naik bis (mobil).

Pertandingan (kompetisi) di kabupaten pada waktu itu sudah ada. Pada masa itu mereka merasa sudah tren seperti sekarang ini. Sebab kalau ada pertandingan, mereka diantar dan dijemput naik mobil. Soal pendanaan, ia tidak tahu dari mana. Manajer yang mengurusi. Rupanya manajernya pintar juga. Tanpa sepengetahuan mereka, manajernya justeru meminta dana dari orang tua mereka juga. Sebelumnya, ada cerita yang agak lucu, yang sempat membuat orang tuanya stres karena kaget. Pasalnya, kira-kira jam 10 malam (22.00 WIB), orang tuanya membangunkannya, karena seorang polisi datang ke rumah mencarinya. Orang tuanya kelihatan stres. Barangkali dalam pikiran orang tuanya, ia dipanggil polisi mungkin karena berbuat sesuatu kesalahan atau kejahatan. Rupanya Pak Polisi tadi tidak segera memberitahu maksudnya. Padahal polisi itu hanya ingin memberitahu bahwa besoknya ada perubahan jadual pertandingan, jadi ia disuruh mengumpulkan teman-teman.

Pengalaman dalam klub Putra Andalas yang diketuainya dan dimanejeri seorang polisi ini cukup menyenangkan. Klub ini terbina dengan baik. Sehingga berhasil meraih juara kabupaten, setelah melalui kompetisi yang banyak sejak dari antarklub-klub kecil, kemudian antarkecamatan. Ketika di SMA, dulu ada PPSMA (Pemuda Pemudi Sekolah Menengah Atas) yang kemudian pada tahun 1972 diubah secara nasional oleh Menteri Pendidikan menjadi OSIS. Pada saat perubahan itu, ia terpilih menjadi Ketua OSIS pertama dalam pemilihan yang mirip Pemilu (voting), satu orang murid satu suara.

Setamat dari SMA, masuk ke UGM, ia pun langsung memprakarsai kegiatan organisasi. Awalnya, pada malam inagurasi (acara peresmian atau pelantikan), biasanya tingkat yang lebih tua yang membuat acara tersebut. Tapi waktu itu ia sudah lebih dulu mengorganisir teman-teman yang satu tingkat. Kepada kawan-kawannya dikatakan, “Kita yang punya pesta, kitalah yang bikin.” Setelah melalui perdebatan yang panjang, akhirnya diputuskan, mereka yang bikin malam inagurasi dan ia terpilih menjadi ketuanya. Padahal ia baru masuk (mahasiswa baru). Kemudian ia juga aktif sebagai ketua BKMK. Lalu pada pemilihan senat, ia terpilih menjadi salah satu ketua. Sebenarnya waktu itu ia meraih suara terbanyak.

Selain dalam kegiatan organisasi kemahasiswaan, ia juga aktif di organisasi pemuda gereja N-HKBP. Ia jadi Sekum (sekretaris umum), dulu istilahnya bukan ketua melainkan sekretaria umum. Kegiatannya di organisasi-organisasi itu cukup menggambarkan betapa senang dan menyatunya dia dalam dunia organisasi. Bahkan boleh diibaratkan, jika ia tidak berorganisasi, seperti makan tanpa garam. Kisah hidupnya memang tidak dapat dipisahkan dari kegiatan organisasi.

Setelah jadi advokat pun ia langsung mendaftar menjadi anggota Peradin (Persatuan Advokat Indonesia). Berberapa waktu kemudian, ia menjadi komisaris dan akhirnya menjadi Sekretaris Peradin. Pada tahun 1985, semua organisasi advokat menjadi wadah tunggal, Peradin dan yang lain-lain dilebur menjadi Ikadin (Ikatan Advokat Indonesia). Di Ikadin, ia memulai dari bawah, mulai dari Wakil Sekretaris Cabang Jakarta (1986), waktu itu wilayah Jakarta masih satu, belum dibagi (Timur, Selatan, Barat, Utara, Pusat). Kemudian menjadi Ketua Cabang Jakarta Barat (1990), terus naik lagi jadi Wakil Sekjen DPP Ikadin (1995), lalu menjadi Pejabat Sekjen DPP, sampai menjadi Sekjen DPP (1992-2002). Sampai akhirnya mencapai puncak menjadi Ketua Umum DPP Ikadin periode 2003-2007. Ia juga aktif sebagai anggota International Bar Association (1985) dan anggota Inter Pacific Bar Association.

Dari jenjang itu, tergambar betapa ia betul-betul menjiwai dunia organisasi advokat ini. Ibarat militer, ia jalani lengkap dengan militansi tinggi mulai dari prajurit sampai jenjang jenderal berbintang empat. Bahkan kini jenderal berbintang lima. Sebab, kini dari 8 (delapan) organisasi advokat, sepakat lagi menunjuknya menjadi koordinator KKAI (Komite Kerja Advokad Indonesia). KKAI ini dibentuk sehubungan dengan undang-undang yang mengharuskan adanya suatu wadah tunggal advokat. Maka sebelum wadah tunggal tersebut terbentuk, tugas atau kegiatan wadah yang dimaksud, harus dilakukan bersama-sama oleh kedelapan organisasi yang ada sekarang. Sampai sekarang organisasi-organisasi advokat ini memang belum bisa bersatu. Masih terjadi silang pendapat, antara lain yang satu mengatakan ‘wadah tunggal’, dan yang lain mengatakan ‘penetrasi’. Maka sepakatlah untuk membuat suatu koordinasi dari yang delapan tadi, namun masing-masing organisasi itu tetap independen.

Tapi dalam melaksanakan kegiatannya, dibentuk KKAI dimana ia ditunjuk sebagai koordinator. Salah satu tugas KKAI adalah dalam hal pengangkatan advokat, sertifikasi advokat. Lebih jelasnya, yang menandatangani kartu agar bisa berpraktek di pengadilan adalah tugas dan kewenangan Kordinator KKAI. Jadi yang mengeluarkan kartu agar seseorang bisa berpraktek di pengadilan adalah KKAI bukan organisasi seperti Ikadin, AAI, dan sebagainya.

Dalam komunitas adat pun ia ikut aktif. Ia memang tidak memasuki tata-adatnya karena menganggap itu bukan dunianya. Tapi musyawarah adat itu, menurutnya, adalah bagian dari organisasi. Sehingga sekarang ia dipercaya komunitas adat marganya menjadi Ketua Marga Hasibuan. Jabatan ketua marga ini pun tidak langsung serta merta dipercayakan kepadanya. Tapi dimulai dari ketua salah satu seksi kemudian jadi sekretaris, jadi Sekjen, lalu jadi ketua umum. Ia memang termasuk orang yang tidak suka melompat-lompat dalam meraih sesuatu. Hal ini bahkan sudah merupakan prinsip hidup baginya. Misalnya, kalau ada tangga, dimana ia sedang berdiri di tangga ketiga, dan di tangga ketujuh ada sesuatu rejeki atau kesempatan (kans), hampir jarang ia langsung melompat ke tangga tujuh walaupun ada sesuatu yang menarik di tangga tujuh tersebut.

Jadi ia cenderung selalu meniti anak tangga, dari tangga satu, dua, tiga ke tangga empat dan seterusnya. Setiap tangga itu pun harus diinjak dulu, apa sudah kuat atau tidak. Kalau sudah kuat, baru ia naik ke tangga berikutnya, begitulah seterusnya. Dalam bayangannya, jika melompat ke tangga tujuh, kalau tidak dapat akan jatuh dan pasti sakitnya bukan main. Jadi ia termasuk orang yang hati-hati dan konservatif, karena ia mempunyai prinsip bahwa kalau Tuhan mau, tidak ada yang mustahil. Ia yakin betul hal itu. Kalau Tuhan mau, sesuatu itu pasti diberikan kepadanya.

Makanya ia katakan: Kelihatannya dalam teori, saya sulit melakukan (lompatan) itu. Bukan saya tidak mungkin lompat. Saya tidak pakai istilah itu. Mungkin suatu saat, bisa saja saya disuruh melompat, tapi itu pasti ada sebabnya. Namun kemungkinan itupun rasanya sulit, karena dalam perjalanan karir saya pun tidak begitu. Baik dalam pencapaian materi maupun karier selalu berjenjang anak tangga. Dan hal itu sudah karakter, barangkali, jelas Otto yang punya hoby main golf dan bercakap-cakap (mengundang teman untuk ngobrol).

Dalam hal berorganisasi, ia tidak pernah berpikir bahwa ikut berorganisasi agar menjadi ketua. Melainkan ia masuk untuk berbuat sebaik mungkin. Itu saja! Kendati setelah tiba waktunya orang kemudian menunjuk dan memilihnya sebagai ketua. Jadi, menurutnya, pasti tiba waktunya kalau kita selalu berusaha berbuat baik. Dalam pikirannya, harus ‘everlasting’ (tahan lama). Sesuatu yang didapat itu harus tahan lama, baik dalam berkawan, kalau bisa abadi, dalam arti, ia tidak suka kontroversi atau konflik. Karena memang hal ini sudah merupakan prinsip atau pandangan hidupnya.

Ia juga belajar dari pengalaman. Seringkali beberapa peluang yang ada, yang oleh orang lain bilang itu tidak peluang, tapi ia katakan itu peluang. Tapi sebaliknya, orang mengatakan sesuatu itu peluang tapi ia melihat tidak. Ia mengaku hal ini tidak mudah dijelaskan, entah kenapa. Umpamanya, ada saja orang yang menerka bahwa arah pikiran dan rencananya jadi politisi. Dalam hati ia mengatakan, terkaan orang itu jauh sekali, namun ia tidak mengatakan ‘tidak’. Makanya ia selalu mengatakan, ‘haruslah kita rajin bersyukur kepada Tuhan, kita harus pintar dan rajin menghitung berkat-berkatNya. Bayangkanlah, untuk matahari terbit besok, kita tidak perlu berdoa. Betapa baiknya Tuhan itu. Apalagi kalau kita berdoa!”

Ia memang seorang yang menjalani kehidupan ini apa adanya dengan tidak pernah berpikiran harus jadi begini, harus jadi begitu. Yang selalu ingin ia lakukan adalah berbuat sebaiknya. Karena, menurutnya, ketika kita targetkan suatu cita-cita ke depan kemudian langkah kita arahkan ke sana, dengan begitu kita nanti jadi terikat, dan ketika ada halangan untuk mencapai ke sana terjadilah konflik. Saya hanya berpikiran, setelah kita berbuat yang terbaik, kita lihatlah hari demi hari, tidak perlu terlampau fokus ke sana. Saya seorang advokat, saya berbuat baik sebagai advokat. Setelah itu, advokat saya masih tetap kecil atau menjadi besar, tidak lagi urusan saya. Namun kalau kita memaksakan target hari ini, ketika ada yang menghalangi itu, akan menjadi repot. Jadi semua ada waktunya. Sudah menjadi keyakinan saya dalam hidup ini, bahwa Tuhan itu agung, tapi itupun kita harus melakukannya dengan jujur.”

Ia pun mengemukakan satu pepatah mengenai hidup dan kepuasan yang sudah merupakan suatu filsafat hidup baginya, yaitu: ‘Kalau kita tidak pernah mengatakan cukup, maka kita tidak akan pernah bahagia’. Mengenai cukup, menurutnya, kitalah yang mengaturnya, kita pula yang membuat ukurannya. Masing-masing takaran orang berbeda. Meskipun orang lain mengatakan bahwa hidup seseorang itu sudah hebat, atau sudah enak, belum tentu orang tersebut merasa hidupnya bahagia. Sebab ukuran dia itu tidak pernah mengatakan cukup.

Ia bilang, mencari kepuasan materi, jabatan dan sebagainya sama seperti meminum air laut, semakin diminum semakin haus. Maka, menurut lulusan sarjana hukum FH-UGM ini, agar kita bisa mengatakan atau merasakan cukup, haruslah bisa bersyukur, apapun yang kita alami. Kalau kita merasakan Tuhan belum buka apa yang kita inginkan jangan kecil hati sebab mungkin belum waktunya. Percayalah, bila waktunya tiba, Tuhan pasti beri, sebelum waktu itu tiba, bersyukurlah dan jalanilah hidup dengan baik. Ia sendiri mengaku selalu menghitung betapa banyaknya yang Tuhan berikan padanya. Sungguh ia hitung tiap hari. Misalnya anak sehat, sekolah dengan baik, tidak melawan, semua pembantu setia, sopir menyetir dengan baik, orang di kantor mau datang bekerja, tidak mengomel, rejeki ada, uang dapat. Ia hitung semua.

Bukan hanya menghitung uangnya saja, tapi semuanya. Kalau sopir misalnya, menyetir ugal-uagalan, kita akan pusing juga, ujarnya. Jadi semua harus disyukuri. Orang mungkin berpikir, bahwa ia mengatakan begitu karena hidupnya sudah enak. Padahal sesungguhnya, ia mulai dari nol, datang ke Jakarta tidak punya apa-apa juga, sama seperti yang lain, mahasiswa biasa, bekerja, jadi pegawai, setelah dapat gaji kemudian buka sendiri dengan pegawai satu orang, kemudian menjadi dua-tiga orang pegawai. Jadi sama seperti naik tangga tadi juga, bukan tiba-tiba ia buka kantor yang besar, tidak. Pada mulanya ia bekerja di kantor pengacara, mulai dari asisten kemudian naik terus hingga bisa membuka kantor sendiri. Kesuksesannya dimulai dengan berbuat baik saja. Itu saja yang saya tahu yaitu berbuat baik, sebab dengan berbuat baik pasti ada gunanya. Apapun kata orang, ada yang bilang berbuat baik itu bodoh, bagi saya itu tidak mempengaruhi, prinsip itu yang tetap saya yakini, katanya.

Satu pengalaman yang tak pernah dilupakannya adalah ketika dia pernah menerima imbalan buah pisang dari kliennya, pada awal dirinya terjun sebagai pengacara. Ketika itu, ia mulai aktif sebagai pengacara saat masih duduk di tingkat empat Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (FH UGM), Yogyakarta. Dia bergabung dengan Biro Bantuan Hukum di kampusnya. Biro Bantuan Hukum itu sangat dekat dengan para pencari keadilan yang kebanyakan wong cilik. Dari situ ia sudah mulai menikmati profesi pengacara itu. Padahal, dulu setamat SMA, ia tidak pernah berpikir menjadi sarjana hukum. Pada awalnya bukan itu cita-cita saya,” katanya. Keinginannya, ketika itu, menjadi insinyur, karena dia dari jurusan Paspal (sekarang IPA) semasa di SMA. Namun, ayahnya menasehatinya (tidak memaksanya) agar memilih jurusan hukum. ”Sudah, satu tahun saya kasih kebebasan buat kamu, kalau boleh, katanya, saya yang tahu kamu, rasanya kau tepatnya menjadi hakim Ya kalau boleh, cobalah,” saran ayahnya. Ia pun merenungkan lalu mengikuti tes masuk UGM dan tamat tahun 1981.

Ia pun pernah studi di Australia, mengikuti Comparative Law Course di University Technology of Sidney. Bahkan sampai saat ini, ia masih punya kerinduan lebih mendalami ilmu hukum itu. Di tengah kesibukannya, baik sebagai advokat yang juga menjadi konsultan pasar modal dan menjadi arbiter, maupun kegiatan organisasi, ia masih berupaya meraih gelar S-3 di UGM. Dari kecil dia memang dikenal sebagai seorang ulet dan rendah hati. Kendati ia mengaku dalam perjalanan hidupnya merasa tidak ada yang istimewa. Biasa-biasa saja. Tapi dia juga tidak pernah merasa bahwa hidupnya terlalu tidak istimewa. Namun suatu hal yang boleh dibilang istimewa manakala menelusuri perjalanan hidupnya ke belakang, bahwa memang Tuhan selalu memberikan yang terbaik kepadanya. Walaupun ia mengaku tidak kaya raya.

Jadi, menurutnya, tidak ada yang secara spesifik sekali yang harus diceritakan dalam perjalanan hidupnya. Kalaupun ada, kalau boleh dibilang spesifik, yaitu kesukaannya berorganisasi sudah ada sejak kecil, mulai dari kelompok-kelompok bermain. Kalau ada teman-teman dua tiga orang, ia suka mengorginisir, seperti, kelompok main bola, ia sudah jadi ketuanya.

Asuhan Orang Tua

Jika ditelururi, perjalanan hidupnya tentu tidaklah terlepas dari proses pengasuhan kedua orang tuanya. Mulai dari rahim ibunya, kelahirannya di rumah toko bernama ‘Sinar Matahari’ yang sekaligus rumah tempat tinggal keluarga di Jalan Sutomo Pematang Siantar. Di situ keluarganya bertetangga dengan warga keturunan Tionghoa. Sehingga dulu ia dan keluarganya bisa bahasa Hok Kian. Ia adalah anak paling bungsu dari sepuluh bersaudara, 6 (enam) laki-laki dan 4 (empat) perempuan. Orang tuanya, ayah Hasibuan dan ibu Boru Siahaan, seorang pengusaha (wiraswasta). Dalam proses pengasuhannya, Sang Ibu adalah pengajar baginya, namun ayahnyalah yang menjadi idolanya. Padahal ayahnya tidak suka beroganisasi. Tapi ia menyebut ayahnya sebagai konsultannya orang-orang yang berorganisasi.

Karena ayahnya memang tidak mau tampil di depan, namun selalu siap jadi tempat bertanya. Sebab pada zamannya, ayahnya cukup dihormati di tengah masyarakat setempat dan di lingkungan keluarganya. Hal ini antara lain lantaran ayahnya termasuk salah seorang yang lebih dulu meninggalkan kampungnya (Toba) merantau ke Sumatera Timur. Namun ayahnya tidak pernah mau muncul jadi tokoh dalam satu organisasi, kumpulan marga atau yang lainnya, walaupun selalu aktif jadi konsulernya. Termasuk kepada anak-anak, ayahnya hanya memberikan nasehat agar dalam hidup ini harus selalu berbuat baik, itu saja. Sang Ayah mengatakan bahwa usaha yang cukup keras dibangun itu bukan semata-mata untuk dia tapi untuk anak-anaknya.

Tapi biarpun ayahnya tidak suka aktif berorganisasi, Sang Ayah tidak melarangnya ikut berorganisasi. Karena memang beliau orang demokrat, beliau membiarkan apapun pilihan anaknya, dan beliau hanya memberikan arahan, misalnya kau ini siapa, apa kemauanmu, dan sebagainya, kata Otto mengenang. Ayahnya juga bukan seorang yang rajin ke gereja tapi tiap hari baca Alkitab. Tidak ada hari tanpa baca Alkitab. Maka ketika ia bersama ayahnya pergi ke Israel, biasanya orang harus dituntun dulu oleh pendeta, tapi malah Sang Ayah yang cerita. Jadi Sang Ayah sudah lebih paham, mengingat apa yang dibaca di Alkitab itu.

Dalam hal adat juga ayahnya tidak menjadi pelaku tapi sebagai tempat bertanya. Bukan soal pelaksanaan adatnya tapi bagaimana menyelesaikan persoalan-persoalan. Sifat ini sedikit-banyak terwariskan kepada Otto. Sama seperti ayahnya, ia juga selalu berupaya mendamaikan orang yang bermasalah. “Memang, sama seperti beliau, saya paling tidak suka dengan konflik. Dimana pun, saya ingin suasananya aman dan damai, bila perlu kita mengalah atau berkorban asal jangan terjadi konflik. Hal itulah yang paling saya wariskan dari Bapak saya,” kata Otto.

Ayahnya memang selalu menanamkan damai itu. Jika diantara kami anaknya waktu kecil ada sedikit koflik, beliau selalu menganjurkan agar kami (salah satu atau kedua-duanya) berkorban dan mengalah agar kami damai, kenang Otto. Mengenai sosok ibunya, yang disebutnya sebagai seorang pengajar yang baik. Ia mengaku belajar banyak dari pengorbanan Sang Ibu, yaitu bagaimanapun susah dan sulitnya hidup tetapi ibunya tetap mendidik dengan baik, bahkan hampir tidak pernah menikmati hidupnya demi kami anak-anaknya. Beliau mengorbankan dirinya tidak begitu enjoy asalkan anak-anaknya bisa enjoy, kenang Otto. Mereka 10 bersaudara, semua menikmati bangku sekolah kecuali satu orang yang tidak mau sekolah, sejak SMP saja sudah lari (cabut) melulu kerjanya.

Selain pengaruh ayah dan ibunya, isteri dan anak-anaknya juga turut menopang perjalanan karirnya. Isterinya seorang ibu rumah tangga, yang juga mempunyai latar belakang pendidikan hukum. Tapi tidak sempat lulus karena ketika tingkat 5, sedang memulai menyusun skripsi, ibu saya sudah sakit. Saya dipesan, selagi beliau sehat agar saya menikah, kata Otto menjelaskan kenapa isterinya tidak menyelesaikan studinya. Tadinya, rencananya setelah menikah kuliah akan diteruskan, soalnya tinggal skripsi saja, tetapi rupanya, situasi menghendaki lain, akhirnya kuliah tidak dilanjutkan hanya menjadi ibu rumah tangga.

Istrinya bernama Normawati Damanik, juga berasal dari Siantar, walaupun kenalnya jauh dari Siantar yakni di Yogya. Karena memang mereka sama-sama sekolah di sana. Isterinya kuliah di Atma Jaya sedangkan dia di Universitas Gajah Mada, dan sama-sama jurusan hukum. Sebenarnya mereka bertetangga di Siantar. Tapi waktu di Siantar mereka belum saling kenal. Jadi jodoh itu tidah jauh rupanya, sudah jauh-jauh melanglangbuana kemana-mana cari jodoh ternyata tetangga juga, ya dekatlah, katanya. Pernikahan mereka dikaruniai 4 (empat) anak. Anak pertama sampai ketiga perempuan dan anak paling bungsu laki-laki. Kini, anak pertama Putri Linardo Hasibuan sudah kuliah jurusan ekonomi di Curtin University, Australia. Anak kedua Lionie Petty Hasibuan masih SMP. Anak ketiga Natalia Octavia Hasibuan serta anak paling bungsu Yakub Putra Hasibuan, masih duduk di SD. Jarak kelahiran anak-anaknya memang agak jauh, ada yang empat tahun dan yang paling dekat tiga tahun.

Dan ternyata, isterinya menjadi pengajar yang baik juga bagi anak-anaknya. Terbukti, anak yang pertama mereka diterima di UGM, tetapi sesudah mendaftar dan mengikuti orientasi, kebetulan merasa tidak cocok. Akhirnya kuliah di Australia.

Ia memberi kebebasan kepada anak-anaknya. Praktis ia tidak pernah menganjurkan anaknya agar terjun ke dunia hukum. Baginya ke manapun pilihan anak-anaknya, boleh saja. Tetapi satu hal yang ia tekankan adalah di bidang apapun harus ‘the best’. Malah kalau tidak sarjana pun tidak apa apa. Kalau mereka punya keahlian itu sudah cukup. Jangan sampai menjadi orang yang cenderung sarjana minded atau gelar minded tapi harus ilmu minded. Jadi ilmunya yang harus dikuasai. Sebab ia melihat, dalam kehidupan yang sukses itu, ternyata bukan dari orang yang bergelar, melainkan orang yang bisa menguasai ilmu atau memperaktekkan ilmunya dengan baik. Jadi gelar tidak menjamin kesuksesan orang, walaupun itu salah satu ukurannya. Jadi bukan gelarnya tapi ilmunya harus dapat, syukur kalau berilmu dan bergelar, jangan bergelar tapi tidak berilmu.

Paradigma seperti ini perlu disosialisasikan. Jangan malah seperti di kampung, dimana masih ada orang tua mengatakan kepada anaknya, Anakku, apa lagi gunanya kau sekolah, sedangkan sarjana saja banyak menganggur. Jadi maksudnya, buat apa lagi sekolah sebab yang sekolah banyak yang menganggur. Sebenarnya cara berpikir ini harus dibalik. Si orang tua harusnya berkata, Anakku, rajinlah sekolah, sebab sarjana saja banyak yang menganggur, apalagi kalau tidak sekolah. Kepada anak pertamanya, memang sering dipancing agar mengambil bidang kedokteran atau yang lain. Tetapi anaknya tetap konsisten memilih jurusan ekonomi. Sebelumnya ia tanya anaknya, Kira-kira dalam hidupmu maumu itu seperti apa? Jadi ia tidak tanya langsung mau ke fakultas apa. Kemudian setelah anaknya menjawab, baru ia pikir bahwa pendekatannya lebih tepat dari ekonomi. Karena ia bukan ahli di bidang ekonomi, lalu anaknya dipercayakan kepada temannya seorang doktor ekonomi, salah satu asisten deputi menteri, untuk konsultasi. Setelah bertemu dua jam baru anaknya mengambil pilihan.

Iklan

Tulis sebuah Komentar

Required fields are marked *
*
*

%d blogger menyukai ini: