Batak dalam musik dunia

Demi menggugah masyarakat terhadap pelestarian Danau Toba melalui seni dan sekaligus juga menggali potensi seni Batak, Viky Sianipar, hadir dengan kreasi terbarunya dengan memadukan musik tradisonal Batak dengan musik modern. Album pria ini dirilis dengan tajuk Toba Dream dan didukung featuring artist, diantaranya Tetty Manurung, Victor Hutabarat, Johnson Hutagalung, MSA Band, Megawati Sihombing, dan Maylaffayza.

Dalam album ini, Viky bertindak sebagai arranger dan music director. Dalam menggarap musik etnis yang dipadukan dengan warna pop, ternyata banyak menemui kendala. “Saya sempat pulang kampung untuk berpikir mengawinkan musik Batak dengan modern,” ujar Vicky.

Usaha Viky memang bukan hal baru yang dilakukan para seniman musik. Rinto Harahap sebelumnya pernah pula membentuk grup band Grenek, yang memadukan musik tradisonal Batak dengan musik pop. Namun bagi Viky, kreativitasnya ini bertujuan mengangkat musik Batak menjadi world music. Artinya, tidak hanya dapat didengar masyarakat dalam negeri, tapi juga bisa dinikmati konsumen luar negeri.

Bakat untuk menjadi arranger bagi Viky, sebenarnya sudah terlihat sejak berusia 6 tahun. Ketika itu, ia dimasukkan dalam kursus musik klasik piano. Lalu, masa SMP dan SMA sering manggung bersama teman-teman sekolahnya. Pernah pula menjadi music arranger untuk grup teater di sekolahnya tersebut. Selepas SMA, putra bungsu Monang Sianipar dan Elly Rosalina ini, mulai serius menggeluti musik

Dalam Toba Dream, rekaman perdana Viky Sianipar, satu-satunya yang dapat dipertanyakan adalah penggunaan nama Toba sebagai maujud (entity) salah satu subetnik Batak. Soalnya, rekaman yang terdiri dari 12 nomor itu berasal dari khazanah musik yang sudah dikenal sebagai inventaris empat subetnik Batak: Karo (Kacang Koro dan Piso Surit), Pakpak-Dairi (Cikala Pongpong), Simalungun (Serma Dengan-Dengan dan Tortor Simalungun), dan Toba (Ansideng Ansidoding, Palti Raja, O, Tano Batak, Tano Toba, dan Tao Toba). Dua lagi adalah karya baru, karyanya sendiri, Toba Smile Part 1 dan Toba Smile Part 2. “Dua Toba” yang terakhir ini bisa ditafsirkan sebagai Danau Toba yang kebetulan tepiannya menyentuh wilayah keempat (dari lima) subetnik tadi.

Kesepuluh lagu ciptaan Daulat Padang, Djaga Depari, Lamser Girsang, Nahum Situmorang, Raynold Surbakti, Sidik Sitompul, dan Tilhang Gultom-seperti yang disebutkan-sudah dikenal lama sebagai lagu dari keempat subetnik. Yang dilakukan Viky Sianipar adalah mengolah bahanbahan ini, terutama membombardir beat-nya dari ragam musik semacam R&B, fusi, dan kontemporer lainnya dengan tingkah beberapa instrumen musik Batak seperti gondang dan seruling. Di sini pertanyaan minor dapat diajukan. Kecuali karya Tilhang Gultom, nomor nomor yang menjadi properti Toba dari Nahum Situmorang dan Sidik Sitompul dapatkah dianggap mencirikan warisan Toba?

Dengan menampilkan penyanyi yang sudah dikenal-Johnson Hutagalung, Tetty br Manurung, dan Viktor Hutabarat-serta penyanyi yang relatif baru seperti Mega br Sihombing, album perdana ini sebagai usaha menggali kekayaan musikal Batak dalam musik dunia termasuk yang kaya penggarapannya. Ia terhindar dari kemonotonan meski akhirnya lagu-lagu yang dihasilkan budaya pop yang tampaknya membungkus proses kreatif dalam penggarapan album ini, ketika melewati threshold, berujung juga kepada sejenis kebosanan.

ANAK muda Batak kelahiran Jakarta, 26 Juli 1976 masih ditunggu dengan garapan-garapan yang benar-benar baru dalam konteks musik dunia. Ada harapan. Baru dalam hitungan bulan mengedarkan rekaman perdananya, Viky bersama grupnya Minggu (20/7) di tengah promosinya pada sebuah kafe di bilangan Kemang, Jakarta Selatan menyisipkan dua lagu baru karya Tongam Sirait (36), Come to Lake Toba dan Taringot Ahu, yang dinyanyikan langsung sang pencipta malam itu. Yang menarik, Taringot Ahu dalam bahasa Batak Toba itu digubah seperti tanpa preseden dalam arti, hampir sulit dicari jejak musikalnya dalam lagu-lagu Batak modern yang dikenal baik dari genre-nya Nahum Situmorang maupun Lasidos.

“Lagunya memang keren habis,” kata Viky tentang ciptaan Tongam yang kelahiran Parapat di tepi Danau Toba itu.

Berterimakah telinga-telinga Batak dengan Batak dalam musik dunia ini?

Entahlah. Yang pasti, Sabam Sirait, Panda Nababan, Luhut Panjaitan, Cosmas Batubara, sampai Togar Sianipar yang tersua di kafe itu seperti menikmati.

Sumber: Dari Berbagai Sumber

Iklan

Tulis sebuah Komentar

Required fields are marked *
*
*

%d blogger menyukai ini: