Miranda S. Goeltom

‘Miss Telat’ Nyaris Jadi Korban Bom

Mantan Deputi Gubernur Bank Indonesia ini nyaris jadi korban bom di Hotel JW Marriot Jakarta. Siang itu, ia memang tengah menuju restoran Syailendra di Hotel JW Marriot itu untuk memenuhi janji makan siang di di hotel itu dengan Hans WinkelBolen, Direktur Rabo Bank yang akan mengakhir masa tugasnya di Jakarta. Tapi karena ia telat seperti kebiasaannya — sehingga teman-temannya menjulukinya ‘Miss Telat’ — ia selamat tak terkena bom. Miranda berjanji akan datang pukul 12.00 Wib untuk makan siang itu. Tapi sampi pukul 12.30 Wib ia masih sedang menuju tempat. Alasannya klasik, jalanan seputar lokasi itu macet. Sopirnya Zaenal sudah mencoba potong jalan, tetapi tetap juga telat. Beberapa puluh meter dari hotel itu, ia pun sempat menelepon Hans memberitahu keterlambatannya karena macet.

Tiba-tiba terdengar suara ledakan, lalu nyala api menyembur, asap tebal mengepul dan jerit tangis melengking. Miranda meminta sopirnya putar balik. Ia bersyukur terhindar dari maut itu. Ia pun mencoba menelepon Hans berulangkali, tapi tidak ada jawaban. Belakangan diketahui, Hans WinkelBolen tewas akibat ledakan bom itu. Wanita cerdas ini dilahirkan di Jakarta tanggal 19 Juni 1949. Menyelesaikan pendidikannya sebagai Sarjana Ekonomi di Universitas Indonesia, meraih gelar Master in Political Economy di Boston University , USA dan gelar Ph D dalam Ilmu Ekonomi juga di Boston University, USA. Disertasinya berjudul “Financial Liberalization, Capital Structure, and Investment: An Empirical Analysis of Indonesian Panel Data, 1981-1988”.

Pengalaman kerjanya di samping sebagai staf pengajar di berbagai lembaga juga sebagai anggota kelompok kerja Dewan Moneter, anggota Tim Teknis Pengkajian Proyek Pemerintah, BUMN dan Swasta yang berkaitan dengan Pemerintah/BUMN, serta sebagai Deputi Asisten Menko Ekku Wasbang, Republik Indonesia. Dengan disahkannya UU No 23 tahun 1999 tentang Bank Indonesia, maka berdasarkan Keppres Nomor 150/M Tahun 1999 tanggal 17 Mei 1999, ia diangkat menjadi Deputi Gubernur Bank Indonesia untuk masa jabatan selama 4 (empat) tahun.

Kemudian Presiden Megawati Soekarnoputri mengajukannya salah satu dari tiga calon Gubernur Bank Indonesia (BI), untuk menggantikan Syahril Sabirin yang berakhir masa jabatannya, 17 Mei 2003, yakni Miranda S Goeltom, Burhanuddin Abdullah, dan Cyrillus Harinowo, Jumat 14 Februari 2003. Pada proses pencalonan, terutama proses fit and proper test (uji kelayakan dan kepatutan) yang dilakukan DPR dirasakannya berlangsung tidak fair. banyak hal-hal yang menyimpang dari substansi. mantan suaminya, Siregar, juga mengumbar cerita-cerita kurang baik tentang dia.

DPR pun terbawa, sengaja atau tidak, ke arah cerita Siregar itu. Dalam proses fit and proper test yang dimulai sejak pukul 10.00 pagi, masing-masing calonmenyampaikan misi dan visi. Miranda S Goeltom mendapat kesempatan pertama, Cyrillus Harinowo mendapat giliran kedua dan Burhanuddin mendapat kesempatan paling akhir pada malam hari. Pemungutan suara berlangsung hingga tengah malam, Senin (12/5/03),. Akhirnya Burhanuddin Abdullah terpilih menjadi Gubernur Bank Indonesia (BI) yang baru. Ia meraih 34 suara dari 52 anggota Komisi IX DPR. Miranda S Goeltom hanya meraih 18 suara dan Cyrillus Harinowo tidak meraih satu suara pun.

Iklan

Tulis sebuah Komentar

Required fields are marked *
*
*

%d blogger menyukai ini: