Dewi Lestari Simangunsong

Semakin Terkenal karena Pena

Sebelum dikenal sebagai penulis novel, Dewi Lestari Simangunsong yang akrab dipanggil Dee sudah lebih dulu dikenal sebagai seorang penyanyi yang tergabung dalam Trio RSD (Rida Sita Dewi). Kini, namanya termasuk dalam jajaran penulis hawa yang diperhitungkan di belantara dunia sastra Indonesia setelah ia meluncurkan novel “Supernova Satu”: Ksatria, Puteri dan Bintang Jatuh, 16 Februari 2001 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Novel yang laku 12.000 eksemplar dalam tempo 35 hari dan terjual sampai kurang lebih 75.000 eksemplar ini banyak menggunakan istilah sains dan cerita cinta. Gadis lajang yang sebentar lagi akan menikah dengan pria ganteng bernama Marcell Siahaan ini lahir di Bandung, 20 Januari 1976 sebagai anak ke-4 dari 5 bersaudara dari pasangan Yohan Simangunsong dan Turlan br Siagian (alm). Ayahnya adalah seorang anggota TNI yang belajar piano secara otodidak sedangkan saudara-saudaranya pemain biola, guru piano, yang profesional. Keluarga Dee sama seperti keluarga kebanyakan yang hidup sederhana dan harus pandai-pandai mengatur keuangan.

Sebelum ia bergabung dengan RSD, ia pernah menjadi backing vokal untuk Iwa K, Java Jive dan Chrisye. Sekitar bulan Mei 1994, ia bersama Rida Farida dan Indah Sita Nur Santi bergabung membentuk trio RSD atas prakarsa Ajie Soetama dan Adi Adrian. Mereka kemudian meluncurkan album perdana, Antara Kita (1995) yang kemudian dilanjutkan dengan album Bertiga (1997). RSD kemudian berkibar di bawah bendera Sony Music Indonesia dengan merilis album Satu (1999) dengan nomor andalan, Kepadamu dan Tak Perlu Memiliki. Menjelang akhir tahun 2002, RSD mengemas lagu-lagu terbaiknya ke dalam album The Best of Rida Sita Dewi dengan tambahan dua lagu baru, yakni Ketika Kau Jauh ciptaan Stephan Santoso/Inno Daon dan Terlambat Bertemu, karya pentolan Kahitna, Yovie Widianto. Tak banyak yang tahu bahwa sebelum ia banyak dibicarakan orang karena novelnya Supernova, ternyata cerpen Dee pernah dimuat di beberapa media. Salah satu cerpennya berjudul Sikat Gigi pernah dimuat di buletin seni terbitan Bandung, Jendela Newsletter. Sebuah media berbasis budaya yang independen dan berskala kecil untuk kalangan sendiri. Tahun 1993, ia mengirim tulisan berjudul Ekspresi ke majalah Gadis yang saat itu sedang mengadakan lomba menulis dimana ia berhasil mendapat hadiah juara pertama. Tiga tahun berikutnya, ia menulis cerita bersambung berjudul Rico the Coro yang dimuat di majalah Mode. Bahkan ketika masih menjadi siswa SMU 2 Bandung, ia pernah menulis sendiri 15 karangan untuk buletin sekolah.

Sarjana Hubungan Internasional dari Universitas Katolik Parahyangan Bandung ini mengakui bahwa novel Supernova berawal dari pergumulan dan perenungannya yang dalam tentang spiritualitas. Di akhir 1999, ia merasa ada sesuatu yang salah dengan dirinya tentang pemahaman religi di tengah masyarakat. Dee mulai banyak membaca. Ia ingin tahu lebih banyak ajaran Hindu, Budha, Islam termasuk mengenal lebih jauh tokoh-tokoh dunia seperti Einstein dan Hawking yang dikenal brilian dalam mencari jawaban atas eksistensi manusia di muka bumi ini. Selama menulis Supernova Satu, Dee ngendon di rumah ditemani dua anjingnya. Selama berbulan-bulan ia tidur tidak teratur, tidur jam delapan pagi, bangun jam dua siang lalu kerja sampai pagi di depan komputer. Menurutnya masa-masa itu adalah masa yang paling mendamaikan dan mengasyikkan. Sedangkan kegiatan show bersama RSD, ia lakukan dua kali seminggu.

Dalam memasarkan Supernova Satu ini, Dee merogoh kocek dan tabungannya sendiri lalu membentuk penerbit bernama Truedee Books. Alasan ia memilih merangkap menjadi penerbit selain menjadi penulis karena ia tidak ingin naskahnya diedit oleh penerbit apalagi ia sempat beberapa kali ditolak oleh beberapa percetakan. Maret 2002 lalu, Dee meluncurkan Supernova Satu edisi Inggris untuk menembus pasar internasional dengan menggaet Harry Aveling (60), ahlinya dalam urusan menerjemahkan karya sastra Indonesia ke bahasa Inggris. Belum lama ini, ia juga telah merilis album solo pertamanya – sebuah proyek yang dimulainya sejak 1997 – berjudul Out of The Shell, diambil dari judul salah satu di antara delapan lagu yang semuanya berbahasa Inggris.

Supernova pernah masuk nominasi Katulistiwa Literary Award (KLA) yang digelar QB World Books. Bersaing bersama para sastrawan kenamaan seperti Goenawan Muhammad, Danarto lewat karya Setangkai Melati di Sayap Jibril, Dorothea Rosa Herliany karya Kill The Radio, Sutardji Calzoum Bachri karya Hujan Menulis Ayam dan Hamsad Rangkuti karya Sampah Bulan Desember. Sukses dengan novel Supernova Satu: Ksatria, Puteri dan Bintang Jatuh, bagian pertama Supernova Dua (Supernova 2.1) berjudul Akar sudah lepas ke pasaran pada 16 Oktober 2002 di 20 kota utama Indonesia. Novel Supernova 2.1 sempat mendapat protes keras dari kalangan umat Hindu karena dianggap melecehkan lambang keagamaan Hindu – lewat surat tertanggal Bali, 26 Februari 2003 yang diatasnamakan Ketua Umum DPP FIMHD AA Ngrh Arya Wedakarna MWS dari Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Forum Intelektual Muda (FIMHD) Hindu Dharma yang berkedudukan di Bali.

Mereka menolak dicantumkannya lambang OMKARA/AUM yang merupakan aksara suci BRAHMAN Tuhan yang Maha Esa dalam HINDU sebagai cover dalam bukunya. Akhirnya disepakati bahwa lambang Omkara tidak akan ditampilkan lagi pada cetakan ke 2 dan seterusnya. Dalam memasarkan Supernova 2.1 Akar, Dee memilih tidak lagi memasarkan ‘sendirian’ bukunya dengan menjalin kerjasama dengan BArK Communication, suatu perusahaan penerbitan yang sekaligus perusahaan promosi. Di samping BArK, muncul sebuah wadah baru: Truedee Semesta. Di BArK dan Truedee Semesta, Dewi memiliki sejumlah saham dan mendapatkan royalti sekitar 20%. Namun, sayang, pertengahan tahun 2003, Dee akhirnya berpisah jalan dengan penerbit buku keduanya ini dan kini ia kembali ‘sendirian’ memasarkan bukunya. Menurut rencana, Dee di sela-sela kesibukannya sebagai spoken person sebuah produk kosmetika berharap Supernova 2.2 yang berjudul Petir sudah tuntas akhir 2003 ini.

Dalam hal strategi pemasaran, Dee yang menyukai warna hitam ini, tidak semata bergantung pada jaringan toko buku besar. Prioritas pertama Dee adalah memanfaatkan keunggulan internet dengan membuka sebuah website beralamat www.truedee.net. Lewat situs ini pengunjung bisa membeli Supernova 2.1 Akar. Lewat media ini, ia juga sempat mengundang 50 pembeli untuk menghadiri perayaan ulang tahunnya. Prioritas kedua adalah menggunakan strategi penjualan langsung misalnya mengadakan diskusi buku dan temu pengarang di berbagai perguruan tinggi seperti Universitas Indonesia (UI). Terakhir, lahirlah strategi ketiga berupa penjualan tunai ke toko buku di sejumlah kota besar di luar Jakarta.

Iklan

3 Comments

  1. Sopar
    Posted Agustus 8, 2008 at 4:00 am | Permalink

    maos kawin cerai,
    naso adong be ila ni inanta on,
    hapus ma goar nai.

  2. ronny
    Posted September 29, 2008 at 2:50 pm | Permalink

    Dee adalah orang yang mencari makna hidup dan ingin mengetahui mengapa kita di dunia, untuk apa kita hidup dan kemana kita melangkah.

    Dee yang dulu dan Dee yang sekarang tentu berbeda.
    Dee yang sekarang adalah Dee yang telah mengalami pencerahan hidup dan mempengaruhi diri dan orang sekitarnya.

    Dee yang sekarang telah menemukan diri yang sejati, memahami arti hidup yang mendalam dan menuangkan melalui karya-karyanya.

    salam
    from : ronny
    http://www.ronny-hukum.blogspot.com

  3. meta winanto
    Posted Desember 20, 2009 at 11:59 am | Permalink

    LUAR BIASA…………………………..
    sbuah ilmu fisika yang di transformasikan ke dalam sebuah Novel dengan hasil FANTASTICO…………..
    gag salah dosen Gwe suruh analisis novel ini………

    maju truz DEE ,,, Ciptakan tokoh2 yang jenius………….


Tulis sebuah Komentar

Required fields are marked *
*
*

%d blogger menyukai ini: