Ulos/ Uis Gara

Secara harafiah, ulos/ uis gara berarti selimut, pemberi kehangatan badaniah dari terpaan udara dingin. Menurut pemikiran leluhur Batak, ada 3 (tiga) sumber kehangatan:

– Matahari.

– Api.

-Ulos/ Uis Gara.

Dari ketiga sumber kehangatan tersebut, ulos/ uis gara dianggap paling nyaman dan akrab dengan kehidupan sehari-hari. Matahari sebagai sumber utama kehangatan tidak kita peroleh malam hari, dan api dapat menjadi bencana jika lalai menggunakannya. Dalam pengertian adat Batak “mangulosi” (memberikan ulos) melambangkan pemberian kehangatan dan kasih sayang kepada penerima ulos. Biasanya pemberi ulos adalah orangtua kepada anak-anaknya, hula-hula kepada boru. Ulos terdiri dari berbagai jenis dan motif yang masing-masing memiliki makna tersendiri, kapan digunakan, disampaikan kepada siapa, dalam upacara adat yang bagaimana.

Dalam perkembangannya, ulos juga diberikan kepada orang “non Batak” bisa diartikan penghormatan dan kasih sayang kepada penerima ulos. Misalnya pemberian ulos kepada Presiden atau Pejabat diiringi ucapan semoga dalam menjalankan tugas tugas ia selalu dalam kehangatan dan penuh kasih sayang kepada rakyat dan orang-orang yang dipimpinnya. Ulos juga digunakan sebagai busana, misalnya untuk busana pengantin yang menggambarkan kekerabatan Dalihan Natolu, terdiri dari tutup kepala (ikat kepala), tutup dada (pakaian) dan tutup bagian bawah (sarung).

dikutip dari berbagai sumber

Iklan

3 Comments

  1. veronique
    Posted September 13, 2008 at 7:09 pm | Permalink

    kenapa ya rata2 orang batak nggak boleh menikah dengan orang di luar sukunya? apa emang ada aturan2 adat yg mengharuskan orang batak harus menikah dgn orang batak? dan sebenernya apa sih alasannya? bukankah dg demikian justru nggak menjunjung kebinekaan di negara kita??
    bukankah dalam PPKn pun diajarkan bahwa walo berbeda-beda tapi tetep satu. So whats the problem?

  2. Posted Desember 5, 2008 at 11:28 am | Permalink

    Mohon dimuat juga umpasa-umpama dari Batak Karo he.he.

  3. suku karo
    Posted Desember 18, 2010 at 11:38 pm | Permalink

    aku tanya satu hal kepada yg menulis sejarah batak ini , anda harus dewasa sedikit membuat sejarah ,karo adalah suku asli sumatra utara ,dulu suku karo sangat sedikit di banding dengan suku suku yg ada di setempat .di penjajahan belanda ,terjadinya batak karo .karena belanda sangat pintar untuk memasuki wilayah sumatra ,terhadap kerajaan aceh . jadi alasan untuk menjadi wilayah kekuasaan belanda .kalou membuat sejarah tanya dulu msuku karo atau orang tua karo .baru anda membuat sejarah .kalou memang karo itu batak .seharusnya bahasa karo dan batak tidak jauh berbeda ,dilihat dari segi tempat tinggal sangat dekat ,pastinya bahasa nya sangat kental
    merga suku karo SEMBIRING,TARIGAN ,GINTING, KARO KARO dan PERANGIN ANGIN .itu tidak ada di suku batak .dilihat dari nama taneh karo jikalau dikaji pastinya di situ orang karo asli .tidak ada tanah batak karo yang ada tanah karo .contoh tanah toraja pastinya disitu orang toraja ,bali ,lombok,banjar palembang dan banyak lagi.karo tidak ada dalam kamus karo seperti lae,horas .marnortor ,dll.95% suku karo tidak sudi dibilang batak ,karena mereka tidak ada hubungan dengan batak ,kalau tidak percaya jalan-jalan ke taneh karo pal ,mejuah juah ,biar anda tau ,dulu didaerah tiga binanga tempat pembantian suku karo dengan batak alasanya tidak saling mengrti bahasa,anda seharusnya mempelajari suku anda sendiri baru mempelajari suku orang lain.enggo anka du pal ,mejuah juah ,itu karo asli


Tulis sebuah Komentar

Required fields are marked *
*
*

%d blogger menyukai ini: