DR. Ir. GM Tampubolon

Insinyur yang Tak Henti Mencipta

Dia sangat terkenal sebagai mantan Ketua Persatuan Insinyur Indonesia (PII) dan Komisi V DPR RI. Teknokrat kaliber dunia ini 15 tahun memimpin PII dan berbagai organisasi insinyur tingkat dunia, serta 24 tahun sebagai politisi kawakan di DPR Senayan. Pria kelahiran Padang, tanggal 14 Mei 1933 yang sangat dekat Habibie itu adalah cucu seorang pendeta, sukses berbisnis lewat bendera GMT Group yang menjalin kerjasama dengan mitra Jepang.

Teknokrat bernama lengkap DR. Ir. Godefridus Mangaradja Tampubolon ini menjabat Ketua Umum PII tergolong lama, 15 tahun, antara 1969-1984. Sebagai tokoh organisasi insinyur kaliber dunia dia juga berkiprah sebagai Ketua Umum Federasi Organisasi Insinyur ASEAN (AFEO) pada tahun 1981-1982, Ketua Umum Federasi Organisasi Insinyur Asia Pasifik (FEISEAP) tahun 1982-1984, hingga ke tingkat dunia sebagai Anggota Perngurus/ Wakil Ketua Umum Federasi Organisasi Insinyur Se Dunia (WFEO) tahun 1975-1993. Di legislatif dia kawakan berkiprah 24 tahun sejak tahun 1968 hingga 1992. Dia juga pendiri dan Ketua Umum Perhimpunan Ahli Teknik Indonesia (PATI) sejak tahun 1985 hingga sekarang. Sejak tahun 1999 hingga 2004 dia kembali ke legislatif sebagai Anggota MPR RI Utusan Golongan Insinyur dan Ahli Teknik Indonesia.

Di awal republik ini berdiri hingga dicetuskannya PII pada 23 Mei 1952 di Kota Bandung, oleh Ir. Djuanda Kartawidjaja dan kawan-kawan, jumlah insinyur masih mudah dihitung sebab tak lebih dari 52 orang. Padahal, kemerdekaan harus segera diisi dengan berbagai pembangunan fisik dan non fisik untuk mewujudkan cita-cita kemerdekaan yaitu memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia. Ketika itu semua merasa bangga sebagai insinyur dan karenanya sifat keanggotaan stelsel passive artinya siapa saja kalau insinyur dia dapat langsung menjadi anggota PII.

“Gemar mencipta” adalah pesan penting Presiden R.I. pertama Bung Karno kepada PII saat beraudiensi di Istana Negara, Jakarta. Pesan tersebut masih segar dalam ingatan G.M. Tampubolon. Dan menurutnya, tetap sangat aktual dikedepankan terutama untuk membantu bangsa keluar dari krisis multidimensional yang berkepanjangan. Bung Karno termasuk orang yang sangat bangga akan kehadiran PII, maklum, presiden flamboyan ini adalah juga insinyur lulusan dari ITB Bandung. ”Saya pikir relevansi pernyataan Bung Karno itu masih berlaku segar sampai hari ini,” tegas Tampubolon. Dia masih ingat betul bahwa tugas pertama yang Bung Karno berikan kepada mereka adalah memperbaiki jalan Thamrin, Jakarta, yang berlubang-lubang. Memperoleh tugas seperti itu membingungkan. Sekolah tinggi-tinggi hingga insinyur tapi hanya disuruh menambal lubang jalan, oleh seorang Presiden pula. Apalagi jika yang disuruh itu adalah insinyur mesin, seperti dirinya. “Tapi, Bung Karno punya pikiran lain: Tanamkan dulu suatu suasana perekat diantara insinyur untuk dapat dimobilisasi,” kenang dia. Mereka lalu belajar menutup lubang. Insinyur sekelas Sutami pun harus dikursus cara menutup lubang.

Cara kerja mereka sangat serius bahkan hingga tiga shift sehari.Bung Karno sangat antusias dengan pendirian PII. Tampubolon menyebutkan, setelah Pengurus PII dipanggil empat diantaranya dijadikan Menteri. Yaitu Ir. Slamet Bratanata sebagai Menteri Urusan Jalan Raya Sumatera, Ir. Sutami Menteri Pekerjaan Umum, Ir. Harjo Sudarjo Menteri Pengairan, dan Ir. Soehadi sebagai Menteri LIPI. “Yang lucu, waktu dipanggil Presiden semua tidak siap. Ir. Slamet Bratanata itu datang menemui Presiden memakai jas yang saya pinjamkan,” ungkap Tampubolon. Ketika itu GM Tampubolon adalah insinyur lulusan ITB Bandung, Jurusan Mesin, tahun 1958. Bersama kawan-kawan dia disuruh membangun sekaligus menentukan cetak biru organisasi para insinyur tersebut. Pada sekitar tahun 1960 itu, G.M. Tampubolon dan beberapa insinyur muda lainnya, dia adalah yang termuda, dipanggil oleh Ukat untuk diminta menyusun PII. Mereka lalu membentuk pengurus pusat dan mulai meletakkan dasar-dasar administrasi.

Tidak lama kemudian, pada tahun 1963 Tampubolon mulai diangkat menjadi Sekretaris Jenderal (Sekjen). “Pikiran kita waktu itu hanya satu, bagaimana menyertakan insinyur dalam pembangunan. Itu saja,” kenangnya. PII lalu menyelenggarakan kongres berkali-kali, tahun 1963, 1967. Pada kongres yang kesekian di tahun 1969, di Parapat, Sumatera Utara, Tampubolon terpilih menjadi ketua umum yang kelima setelah Ir. H. Djuanda Kartawidjaja (1952-1954), Ir. Kaslan Tohir (1954-1959), Ir. Umar Bratakusuma (1959-1961), dan Ir. Suratman Dharmaperwira (1965-1969).Untuk mensejajarkan diri dengan organisasi profesi insinyur lain di luar negeri, yang peran dan fungsinya sama-sama sangat strategis dalam membangun setiap bangsa, sejak tahun 1975 PII menjadi anggota Federasi Organisasi Insinyur Se Dunia, organisasi yang selanjutnya menempatkan Tampubolon sebagai Anggota Pengurus/Wakil Ketua Umum Federasi Organisasi Insinyur Se Dunia tahun 1975-1993. Tepat dua tahun kemudian, di tahun 1979 PII menjadi tuan rumah Kongres Insinyur Se Dunia yang mengangkat tema pangan, energi, dan transportasi yaitu sektor yang sangat relevan untuk segera dibangun di Indonesia ketika itu.

Di bawah kepemimpinan Tampubolon yang selalu titik perhatian PII adalah bagaimana agar para insinyur bisa berperan aktif dalam setiap proses pembangunan. Sehingga, meski kata “evaluasi” tidak begitu disukai oleh Presiden Suharto, namun setiap tahun PII selalu mengadakan evaluasi terhadap pelaksanaan pembangunan. Sebuah langkah maju pernah dilakukan PII, ketika di tahun 1977 mereka mengajukan sebuah konsep GBHN yang sudah lengkap dan matang untuk diperdebatkan di forum sidang umum majelis MPR. Tentang naskah GBHN itu, ungkap Tampubolon, “Jadi, hanya ada dua naskah, satu pemerintah, satunya lagi PII.” PII adalah salah satu organisasi profesi yang cukup disegani di era pembangunan. Bukan hanya tampil mengajukan konsep pemikiran membangun bangsa melalui sebuah naskah GBHN tadi, namun, berani pula bersikap berbeda terhadap pimpinan nasional. Di tahun 1977 itu, kata Tampubolon, kepada Presiden Soeharto yang menerima mereka berdiskusi sejak pukul 10.00 pagi hingga 14.00 sore di Istana Negara, PII mengusulkan bahwa pembangunan itu haruslah seimbang.

Antara pembangunan sosial, ekonomi, budaya, dan politik serta pertahanan harus seimbang. “Boleh salah satu menonjol, tapi kalau sektor itu naik, semuanya juga harus naik. Tidak boleh timpang,” kata Tampubolon tanpa bermaksud mendikte Pak Harto, ketika itu. Cucu PendetaWalau sebagai putra Batak, namun dia lahir di Padang, pada tanggal 14 Mei 1933 sebagai anak ketiga dari tujuh bersaudara. Ayahnya, Calvijn Bismarck (CB) Tampubolon gelar Ompu Boksa II (meninggal tahun 1989 dalam usia 91 tahun) dan ibunya, Agustina br. Pardede (meninggal setahun kemudian, tahun 1990 dalam usia 89 tahun), sudah lama merantau ke Padang menggeluti usaha perbengkelan mobil dan jual-beli kendaraan angkutan. Keluarga CB Tampubolon oleh pemuka masyarakat setempat pernah diangkat menjadi Warga Kehormatan Kota Padang. Mereka sekeluarga pandai sekali berbahasa Padang dan menjadikannya bahasa ibu, jauh lebih mahir dibanding berbahasa Batak.

Tampubolon meninggalkan kota Padang saat mulai kuliah di ITB Bandung, dan dalam masa perkuliahan itulah dia bertemu dan menikah dengan gadis muda nan cantik jelita yang sangat diidamkannya bernama Tiara br. Siregar, yang kini memberinya dua orang putra dan tiga putri serta sembilan orang cucu.Kakeknya adalah pendeta, namanya Pendeta Mangaradja Enos Tampubolon. Jika ditarik ke atas lagi kakek buyutnya bernama Hiskia. Ayah Hiskia adalah Ompu Boksa, titisan nama inilah yang lalu dipakai ulang sebagai gelar kehormatan Ompu Boksa II bagi C.B. Tampubolon, ayahnya Hiskia pernah berjasa besar menyelamatkan seorang misionaris asing bernama Tuan Pilgramm.

Pilgramm, yang karena tugas panggilan penginjilan dia memberitakan kabar baik keselamatan dari Yesus Kristus Tuhan ke Tanah Batak, yang saat itu dominan masih menganut paham animisme. Pilgramm lalu dicari-cari dan hendak dibunuh oleh Panglima Raja Sisingamangaradja XII, bernama Sarbut Tampubolon. Tuan Pilgramm melarikan diri dan terdampar di sebuah tepian Danau Toba dekat desa Sibolahotang, sebuah desa kecil yang menjadi asal muasal marga Tampubolon. Mengetahui misionaris Jerman itu dalam keadaan bahaya Hiskia yang menemukan Pilgramm terdampar lemah lalu menawarkan jasa untuk menyembunyikan Tuan itu ke loteng rumah adat Batak tempat kediaman mereka sehari-hari. Sang panglima, yang dalam setiap pertempuran selalu melakukan praktek bumi hangus yaitu setiap daerah yang ditaklukkan harus dibakar habis hingga hancur, mengetahui buruannya ada di daerah kampung asal dia sendiri yaitu desa Lumban Julu, Sibolahotang. Akhirnya dia mengurungkan niat mencari Tuan Pilgramm. Jadilah Tuan Pilgramm selamat untuk selanjutnya meneruskan kembali misi penginjilan di Tanah Batak hingga wafat dan dimakamkan di Balige, Toba Samosir, Sumatera Utara.Ingat pesan Bung Karno bahwa insinyur harus gemar mencipta, demikian pula Tampubolon dalam setiap langkah pengabdian terhadap bangsa dan negara yang sangat dicintainya.

Dia, yang dalam usia muda 30-an tahun telah pernah dipercaya menjadi direksi PN Gaya Motor, sebuah perusahaan otomotif patungan antara pemerintah dan swasta, memang bukan menciptakan barang atau komoditi perdagangan sebagai hasil penelitian dan inovasi. Melainkan, sebagai teknokrat atau pemikir tidak pernah berhenti menggagas ide, pemikiran, dan jasa pengabdian sebagai wujud pelayanan kepada masyarakat. Karena itu, untuk tetap menjaga kiprahnya mengisi pembangunan selepas ketua umum dari PII di tahun 1985 Tampubolon bersama kawan-kawannya kembali membentuk sebuah organisasi profesi baru yang cakupannya lebih luas, yaitu Perhimpunan Ahli Teknik Indonesia (PATI). Organisasi inilah yang di tahun 1999 menghantarkannya ke keanggotaan MPR RI mewakili utusan golongan para ahli teknik dari segala strata pendidikan dan keahlian yang jumlahnya sekitar 15,3 juta orang. Sebagai salah seorang pendiri dia terpilih pula sebagai Ketua Umum PATI, tahun 1985 hingga sekarang. Hampir bersamaan waktunya di tahun 1985, masih bersama kawan-kawan diantaranya Prof. B.J. Habibie, Ir. Hartarto, Ir. Erna Witoelar, Ir. Humuntar Lumbangaol dan lain-lain dia mendirikan Yayasan Pengembangan Teknologi Indonesia (YPTI), sekaligus sebagai ketuanya hingga sekarang. YPTI adalah pemilik dan pengasuh Institut Teknologi Indoneisa (ITI), berlokasi di Serpong, Tangerang, Banten. ITI adalah sebuah perguruan tinggi keteknikan swasta terkemuka dan modern di tanah air. Perjuangan Tampubolon tergolong luar biasa saat mendirikan YPTI, bahkan, sebuah rumahnya di Jalan Sutan Syahrir, Menteng, Jakarta Pusat harus dia agunkan ke bank untuk menambah dana pendirian YPTI dan kampus ITI. Padahal dalam setiap berusaha, dia, adalah “haram” hukumnya meminjam dana ke bank sebab khawatir hidup tidak tenang sebab setiap bangun pagi yang pertama kali terpikir adalah hutang yang terus bertambah.

Dia percaya bunyi firman Tuhan, “Dimana hartamu berada, di situ hatimu berada”.Di kampus tersebut, peraih gelar doktor kehormatan honoris causa dari Perguruan Tinggi Heidelberg di tahun 1985 ini pernah diangkat sebagai Wakil Rektor/Dekan Institut Teknologi Indonesia, tahun 1985. Pelayanan membangun dunia pendidikan sebelumnya telah dia lakukan ketika menjadi Anggota Pengurus Yayasan Pendidikan dan Universitas Pancasila, Jakarta, sejak tahun 1972 hingga sekarang.Orang Dekat HabibieDia tidak pernah berhenti berkarya dan mencipta khususnya melahirkan ide-ide baru yang segar agar para insinyur dan ahli teknik tetap dapat berperan dalam arus perjalanan bangsa. Gagasan-gagasannya sebagai teknokrat keteknikan semakin memperoleh pembenaran sekaligus pengakuan dari semua pihak tatkala Ketetapan MPR menggariskan teknologi sebagai elemen kunci pembangunan nasional.

Demikian pula yang tertuang dalam Undang-undang Nomor 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian, Pengembangan, dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.Sejak tahun 1998 hingga sekarang Tampubolon adalah pendiri sekaligus Ketua Dewan Direksi Center for Technology and Industry Development (CTID), sebuah institusi nirlaba yang secara khusus bekerja mengkaji dan mendalami pengembangan teknologi dan industri di tanah air. Bersama kawan-kawan dia aktif menggelorakan betapa pentingnya peranan teknologi sebagai elemen kunci pembangunan agar semua pihak bisa memanfaatkan kapabilitas teknologi untuk membantu menyelesaikan sebagian persoalan bangsa.Seperti, meningkatkan produktivitas, menciptakan lapangan kerja baru untuk mengurangi pengangguran, dan memberi nilai tambah yang sangat signifikan dalam setiap proses produksi barang dan jasa supaya bernilai ekonomis. Dia kampanye menemui pimpinan lembaga tertinggi dan tinggi negara, pimpinan partai-partai politik berpengaruh, LSM dan organisasi profesi, termasuk institusi pers dan berbagai institusi lain untuk diseminasi informasi.Keanggotaannya di MPR RI Periode 1999-2003 yang mewakili Utusan Golongan Ahli Teknik, dia manfaatkan pula untuk menggalang kekuatan para anggota majelis yang berprofesi insinyur dan ahli teknik dari lintas partai. Mereka lalu dimobilisasi untuk menunjukkan kepedulian dan keprihatinan atas semakin lemahnya kapabilitas teknologi di Indonesia. Mereka sepakat membentuk Komite Kerja Kaukus Teknologi sejak 2003, hingga sekarang. G.M. Tamnpubolon adalah Penasehat Fraksi Utusan Golongan MPR RI 1999-2004.Organisasi profesi keteknikan dan lembaga legislatif adalah dua ladang pengabdian dia sebagai teknokrat.

Dan itu sudah berlangsung lama sejak tahun 1968 saat masih bernama DPR-GR dan MPRS. Keanggotaannya di DPR/MPR tidak pernah kosong hingga berakhir di tahun 1992. Di dua periode terakhir pengabdiannya itu dia dipercaya sebagai Ketua Komisi V DPR yang membidangi pembangunan sarana dan prasarana pembangunan seperti transportasi, pelabuhan, telekomunikasi, energi, perumahan rakyat, pariwisata, pos, pekerjaan umum, dan lain-lain. Ketika itu nama dia cukup populer di kalangan masyarakat sebab sebagai Ketua Komisi V DPR kebijakan yang dia tetaskan sangat berpengaruh strategis terhadap kehidupan masyarakat. Misalnya, ketika dia harus menolak atau menyetujui kenaikan tarif tol yang diajukan oleh Siti Hardiyanti Rukmana atau Mbak Tutut, putri sulung Presiden Soeharto yang mengelola jalan tol Cawang-Grogol, lewat bendera usaha PT Citra Marga Nusaphala Persada di awal dekade 1990-an. Rakyat dan lembaga swadaya masyarakat tentu saja menolak usul kenaikan tarif sehingga muncul polemik luas dan berkepanjangan di media massa.Tampubolon baru masuk kembali ke gelanggang Senayan sebagai Utusan Golongan di MPR sejak tahun 1999 hingga 2004.

Setelah tidak terpilih kembali menjadi anggota DPR RI di tahun 1993, oleh Pemerintah dia diangkat menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA) RI di bawah kepemimpinan Laksamana (Purn) Sudomo, mantan Pangkopkamtib dan Menko Polkam. Namun justru di masa keanggotaan DPA itulah segala kiprah, jasa dan pengabdiannya sebagai teknokrat di bidang keteknikan secara resmi diakui pantas untuk dihargai.Penghargaan itu pertama kali dia rasakan tahun 1995 saat memperoleh Tanda Kehormatan Bintang Jasa Utama, berdasarkan Keppres R.I. Nomor 063/TK/Tahun 1985 dari Pemerintah RI, yang ditandatangani oleh Presiden Soeharto.

Selempang penghargaan itu disematkan langsung oleh sahabatnya Menristek Prof. B.J. Habibie, dalam sebuah upacara peringatan Hari Kemerdekaan R.I di halaman upacara Kantor Menristek, Jakarta.Antara B.J. Habibie dan G.M. Tampubolon terdapat sebuah hubungan persahabatan yang sangat dalam, sebagai sesama anak bangsa yang menggeluti bidang keteknikan. Bukan hanya keduanya terlibat di berbagai institusi yang dibangun bersama-sama, seperti di Yayasan Pengembangan Teknologi Indonesia (YPTI) yang mendirikan kampus Institut Teknologi Indonesia (ITI), sebuah perguruan tinggi keteknikan terlengkap dan termodern di Indonesia yang dibangun persis berdekatan dengan Puspiptek Serpong.

Keduanya sudah saling menopang sejak dari institusi PII hingga ke PATI. Terlebih di awal-awal kedatangan Habibie dari Jerman dan mulai dipercaya sebagai Menteri Negara Ristek di tahun 1978, Habibie banyak memperoleh dukungan dari kalangan insinyur yang bergabung di PII. PII menjadi basis dukungan massa yang dimobilisasi untuk menjalankan program-program Habibie membangun industri-industri strategis di Indonesia. Dan G.M. Tampubolon ada di belakang layar itu semua.Bahkan ketika tampil sebagai Ketua Umum ICMI sekalipun, seperti pengakuan Ir. Tadjudin Noor Said, seorang politisi kawakan sekaligus vokalis dari Golkar asal Sulawesi Selatan, kini menjadi Anggota KPPU (Komisi Pengawas Persaingan Usaha), menyebutkan, praktis hanya G.M. Tampubolon satu-satunya warga bangsa non ICMI yang masih tetap bisa berdekatan dengan B.J. Habibie ketika itu.

Bukti lain kedekatan mereka adalah, ketika tampil sebagai Presiden R.I ketiga menggantikan Pak Harto, Habibie membentuk sebuah institusi baru di lingkungan kepresidenan yaitu Penasehat Presiden R.I Bidang Keteknikan. Dan sudah pasti adalah G.M. Tampubolon satu-satunya nama yang dipercaya menduduki jabatan tersebut. Hubungan keduanya tidak putus kendati Habibie sudah bukan lagi presiden, lalu memilih tinggal menetap di Jerman. Sebab, jika setiap kali menginjakkan kaki di Indonesia keduanya pasti akan berkangen-kangenan. Menjelang Pemilu 2004 saat Habibie mulai lebih sering bermukim di Indonesia dan menemui tokoh-tokoh partai politik dan calon-calon pemimpin bangsa, pertemanan dan pertemuan mereka juga semakin erat dan intens.

Habibie, yang menyatakan diri kembali bersedia memimpin Republik Indonesia jika diminta oleh rakyat dan istrinya yang masih terbaring sakit di Jerman bisa sembuh total, barangkali, patut menjagokan tokoh pemikir kawakan G.M. Tampubolon sebagai tim sukses kampanye kepresidenan agar kejadian di tahun 1999 tidak terulang dimana Habibie memperoleh resistensi tinggi dari kalangan masyarakat. Berselang dua tahun setelah menerima selempang Bintang Jasa Utama, di tahun 1997 G.M. Tampubolon akhirnya memperoleh penghargaan tertinggi sebagai putra terbaik bangsa, yaitu Tanda Kehormatan Bintang Mahaputra Utama berdasarkan Keppres R.I. Nomor 073/TK/Tahun 1987.

Kali itu disematkan oleh Presiden Soeharto di Istana Negara, Jakarta.Apakah Tampubolon berhenti menggagas ide setelah menjadi mahaputra terbaik bangsa dan usianya sudah memasuki masa awal anugerah 70 tahun lebih, jawabannya tidak. Energinya tetap terjaga selalu meningkat dan semakin membara. Tantangan yang dia hadapi masih banyak. Misalnya, bagaimana mengamankan kelanjutan kerjasama bisnisnya dengan mitra asing yang telah puluhan tahun dibangun dengan baik. Dengan bendera GMT Group di tangan, dia bekerjasama dengan Shimizu Corp. sebuah kontraktor multinasional asal Jepang untuk membentuk PT Dextam Contractor. Dextam adalah perusahaan kontraktor yang sudah menorehkan banyak catatan emas membangun gedung-gedung bertingkat di Jakarta.

Demikian pula dengan Kinden Corp. dari Jepang, sejak 12 September 1974 dia membentuk PT Rakintam sebagai perusahaan kontraktor mekanikal dan elektrikal. Di perusahaan penangkapan ikan PT Toyo Fishing Corp. (Tofico) berbasis di Indonesia Bagian Timur dia bermitra dengan Seven Ocean Corp. dari Jepang. Karena kerjasama itu rata-rata dibangun di tahun 1974 dan berjangka 30 tahun, maka, tahun 2004 adalah masa-masa penting bagi Tampubolon untuk meyakinkan mitra asingnya bahwa melanjutkan usaha patungan di Indonesia masih tetap sangat prospektif.Dari sebuah gedung GMT Building miliknya di Jalan Wijaya I, Jakarta Selatan, dia sehari-hari mengendalikan grup usahanya bernama GMT Group.

Perusahaan yang masuk dalam grup itu, selain yang sudah disebut di atas antara lain adalah PT Inti Karya Persada Tehnik (IKPT), PT Godi Maran Tiara, PT Gofri Megah Tiara, PT Kujang Tiara Lapi, PT Inti Era Cipta, PT Dharma Yasamas Teknindo, PT Rakintam Nusa, PT Asianenco Consult, dan lain-lain.Di kantor GMT Building itu pula dia setiap hari Jumat berkumpul bersama puluhan karyawannya yang kristiani, berikut istri anak dan anggota keluarga dekat lainnya.

Mereka melakukan ibadah kebaktian rutin Jumat siang untuk menghimpun kekuatan energi mengucap puji syukur kepada Tuhan Allah Yang Maha Kuasa yang selalu memberinya pertolongan, perlindungan, dan penghiburan sekaligus berkat-berkat berlimpah yang tiada tara. Kekuatan Tuhan itulah yang mampu menopang dia tetap bertahan di tengah gelombang arus perubahan zaman. Baik sebagai teknokrat, politisi, pengusaha, dan pelayan masyarakat luas. Tampubolon tetap berkarya di semua zaman kepresidenan. Mulai dari Bung Karno, Pak Harto, Habibie, Gus Dur sahabatnya sebagai sesama anggota Fraksi Utusan Golongan MPR sebelum terpilih menjadi presiden. Dan kini Megawati.

Pada masanya Tampubolon malah dijuluki sebagai king maker di kalangan insinyur dan ahli teknik. Sebutan itu malah menjurus ke arah sebagai master mind dalam setiap mutasi dan promosi seseorang untuk menempati posisi dan jabatan tertentu di pemerintahan atau direksi di BUMN yang dia bidangi. Connection yang dia bangun di antara sesama kolega memang solid

Menyimak Berbagai Analisa Dan Penelitian “Batak” Artinya Penunggang Kuda = Keberanian?

Sudah sejak lama sebutan (perkataan) Batak sebagai nama salah satu etnis di Indonesia diteliti dan diperbincangkan banyak orang asal kata atau pengertiannya. Bahkan melalui beberapa penerbitan suratkabar pada awal abad 20 atau juga masa sebelumnya, pernah terjadi polemik antara sejumlah penulis yang intinya memperdebatkan apa sebenarnya pengertian kata (nama) Batak, dan dari mana asal muasal nama itu. Di suratkabar Pewarta Deli no. 82 tahun 1919 misalnya, polemik yang paling terkenal adalah antara seorang penulis yang memakai nama samaran “Batak na so Tarporso” dengan J. Simanjutak. Keduanya saling mempertahankan pendirian dengan argumentasi masing-masing, serta polemik di surat kabar tersebut sempat berkepanjangan. Demikian pula di suratkabar keliling mingguan yang di terbitkan HKBP pada edisi tahun 1919 dan 1920, perbincangan mengenai arti sebutan Batak itu cukup ramai dimunculkan.

Seorang penulis memakai inisial “JS” dalam tulisan pendeknya di suratkabar Imanuel edisi 17 Agustus 1919, akhirnya menyatakan diri tampil sebagai penengah diantara silang pendapat tersebut. JS dalam tulisannya antara lain mengutip buku berjudul “Riwayat Poelaoe Soematra” karangan Dja Endar Moeda (alm) yang diterbitkan tahun 1903, yang pada halaman 64 cuplikannya sebagai berikut : “Adapoen bangsa yang mendoedoeki residetie Tapanoeli itoe, ialah bangsa Batak namanya. Adapoen kata “Batak” itoe pengertiannya : orang pandai berkuda. Masih ada kata Batak yang terpakai, jaitoe “mamatak“, yang ertinya menaiki koeda. Kemoedian hari orang perboeatlah kata itoe djadi kata pemaki (plesetan/red BONA) kepada bangsa itoe…”

keterangan serupa juga dikemukakan Dr. J. Warneck (Ephorus HKBP) dalam bukunya berjudul “Tobabataksch-Deutsche Woterbuch” seperti tertulis di halaman 26.

Menurut JS yang beralamat di Pangaribuan seperti tertulis di suratkabar Imanuel, tuan L.Th. Meyer juga menulis dalam bukunya berjudul “Maleisch Hollandsch Wordenboek”, pada halaman 37 : “Batak, Naam van een volksstamin in Sumatra…” (Batak adalah nama satu Bangsa di pulau Sumatra).

Keterangan itu dituturkan JS dalam tulisan pendeknya sebagai meluruskan adanya anggapan ketika itu seolah-olah perkataan Batak memberi pengertian terhadap suatu aliran/kepercayaan tentang agama tertentu yang dikembangkan pihak tertentu mendiskreditkan citra orang Batak.

Citra Keperkasaan

Menyimak beragam catatan tentang topik yang sama, ternyata pada umumnya kata Batak meyiratkan defenisi-defenisi tentang keberanian atau keperkasaan. Sebab menurut Amborsius Hutabarat dalam sebuah catatannya di suratkabar Bintang Batak tahun 1938 menyimpulkan, pengertian Batak sebagai orang yang mahir menaiki kuda memberi gambaran pula bahwa suku itu dikenal sebagai suku yang memiliki jiwa keras, berani, perkasa. Kuda merupakan perlambang kejantanan, keberanian di medan perang, atau kegagahan dalam menghadapi bahaya/rintangan.

Drs DJ Gultom Raja Marpodang menulis adanya teori mengatakan bahwa suku Batak adalah Si-Batak Hoda yang artinya suku pemacu kuda. Asal usul suku Batak berdasarkan teori adalah pendatang dari Hindia Belanda sekitar Asia Tenggara sekarang memasuki pulau Sumatera pada masa perpindahan bangsa-bangsa di Asia. (Buku Dalihan Natolu, Nilai Budaya Suku Batak, hal 32 cetakan 1992).

Drs DJ Gultom dengan bersusah payah telah melakukan serangkaian penyelidikan intensif seputar arti kata Batak, dengan membaca sejarah, legende, methologi, termasuk wawancara dengan orang-orang tua, budayawan dan tokoh adat.

Beberapa perkataan “batak” antara lain dalam bahasa Batak Pakpak Dairi berbunyi : “Mmas Batakn mahan gmgmmn laho mahan tabungn, biat ni kata mahan sungkunn mndahi kalak sipantas singg ddang radumn“. Maksudnya adalah bahwa mmas batak dijadikan warisan (homitan) dibuat menjadi tapak sirih, sudah sepantasnya tempat untuk bertanya itu adalah orang yang mengetahui. Penggertian kata mmas batak dalam umpasa itu disimpulkan sebagai serbuk emas dulangan menjadi emas murni atau logam mulia. Dengan demikian pengertian batakn pada masyarakat Dairi adalah asli, sejati, murni, atau mulia. Sebutan kata Batak pada masyarakat Dairi konon sangat bermakna, tak bisa sembarangan disebut, sehingga kata batak itu seperti disucikan.

Temuan perkataan “batak” pada Batak Karo antara lain adalah : Mbatak-mbatakken jenujung si Tongat kari berngi“. Maksudnya, nanti malam akan diadakan mbatak-mbatakken jenujung si Tongat. Masyarakat Karo berpandangan bahwa seorang manusia ada jenujungnya (junjungan) yang selalu mendampingi. Jenujung adalah roh yang mengikuti seseorang, dan sering membantu seseorang itu disaat dia terancam bahaya. Apabila jenujung seseorang meninggalkan atau tidak lagi mengikutinya alamat yang bersangkutan akan mendapatkan bahaya atau sakit-sakitan. Usaha agar jenujung seseorang kembali mengikutinya harus dengan melaksanakan upacara spritual. Itulah yang disebut orang Karo mbatak-mbataken. Dengan pengertian ringkas sebutan tersebut adalah suatu usaha suci agar seseorang tetap sehat kuat selamat sentausa. Masih ada ungkapan pada bahasa Karo berbunyi “Ibatakkenmin adah nda”, artinya bentuklah tempat itu. maksudnya apabila seseorang hendak mendirikan rumah, langkah pertama adalah meratakan tanah pertapakan didahului suatu kegiatan ritual agar rumah yang dibangun menjadi tempat yang sehat sejahtera bagi penghuninya. Itu dimaksud pula untuk pembuatan pundasi yang kuat agar rumah yang dibangun kokoh. Jadi pengertian ibatakken atau batak pada masyarakat Karo adalah usaha yang suci agar sehat dan kuat.

Adapun temuan perkataan “batak” pada bahasa Batak Simalungun, antara lain ” Patinggi ma batohon i, ase dear sabahtaon“. Artinya, tinggikanlah batohan agar bagus sawah kita ini. Sawah yang terletak di pinggir sungai atau di lereng gunung sering rusak karena banjir. Untuk mencegahnya, maka di pinggir sawah dibuat benteng yang kuat penahan serangan banjir. Itu sebabnya, ada ungkapan “patinggi ma batohan i, ase dear sabahtaon“. Jadi pengertian Batahon pada masyarakat Simalungun adalah tumpuan kekuatan untuk menahan bahaya serangan.

Di Pilipina konon ada satu pulau yang bernama Batac (huruf “c” dibelakang). Di pulau itulah terdapat masyarakat yang banyak memiliki persamaan budaya dan bahasa dengan orang Batak Toba di Sumatera Utara. Konon pengertian kata “batac” di sana juga mencerminkan makna sesuatu yang kokoh, kuat, tegar, berani, perkasa? Seperti pernah diturunkan dalam satu tulisan di media Liputan Bona Pasogit beberapa waktu lalu, orang Pilipina terutama yang berasal dari kawasan daerah Batac di sana, merasa berada di negaranya saat berkunjung ke Sumatera Utara. Mereka menemukan pula sejumlah perkataan yang sebutan dan artinya sama dengan yang ada di negaranya. Misalnya kata “mangan” (makan), “inong” (inang), “ulu” (kepala), “sangsang” (daging babi cincang dimasak pakai darahnya) dan banyak lagi.

Apakah ada pula hubungan kata Batak dengan “batu bata” atau batako (batu yang dibuat persegi empat memakai semen) yang digunakan untuk bangun-bangunan? Belum diketahui persis. Tapi arti kata “batu bata” dari “batako” juga dilukiskan sebagai bermaknaa kuat, kokoh, tahan lama. Sehingga bisa juga mendekati pengertian Batohan pada bahasa Simalungun.

Catatan yang penulis uraikan ini mungkin belum tentu sudah menjadi pengertian final tentang arti sebutan /kata Batak. Tapi berdasarkan berbagai catatan yang dikemukakan diatas, barangkali satu sama lain cukup mendekati untuk dirumuskan menjadi suatu kesimpulan. Apabila sebutan Batak itu berasal dari perkataan “mamatak” (penunggang kuda) kita mungkin bisa membayangkan kedekatan sejarah nama itu dengan karakter dan gaya hidup para leluhur di masa lampau yang diwarnai perjuangan, pertarungan, pertempuran, keberanian menghadapi berbagai tantangan demi mempertahankan eksistensinya.

Kuda selalu di ilustrasikan menjadi simbol keberanian, keperkasaan, keuletan dan jiwa kejuangan. Di jaman dulu, siapa tahu, orang Batak menggunakan kuda dalam merintis perkampungan ke daerah-daerah pedalaman, atau saat bertarung dengan musuh-musuhnya. Mungkin karena itu pula, lukisan Sinsingamagaraja XII oleh Agustin Sibarani dibuat menunggang kuda sehingga nampak lebih menekankan keperkasaan seorang tokoh pejuang. Sementara hingga saat ini di berbagai pelosok daerah terpencil di Tanah Batak, masih banyak penduduk yang menggunakan jasa kuda meskipun hanya sebatas pengangkutan barang.

Mungkin diantara pembaca masih ada yang memiliki catatan atau dokumen yang masih bisa memperkaya wacana seputar asal kata atau pengertian sebutan Batak, tentu akan sangat bermanfaat untuk melengkapi tulisan yang sifatnya masih terbatas ini.

WAKTU dalam Bahasa Batak

Dalam Bahasa Batak, ada istilah yang menyatakan waktu (jam) dalam hari. Dalam bahasa batak di kenal istilah “tikki na lima“:

Sogot” adalah antara pukul 05.00 s/d pukul 07.00 pagi

Pangului” adalah antara pukul 07.00 s/d pukul 11.00 pagi

Hos” adalah antara pukul 11.00 s/d pukul 13.00 siang

Guling” adalah antara pukul 13.00 s/d pukul 17.00 sore

Bot” adalah antara pukul 17.00 s/d pukul 18.00 petang

Kalau istilah diatas menyatakan waktu dalam range, maka ada lagi istilah yang spesifik menunjuk jam berapa. Contoh:

Jam 01 : Haroro NI Panakko

Jam 02 : Tahuak Manuk Sahali

Jam 03 : Tahuak Manuk Dua Hali

Jam 04 : Buha-Buha Ijuk

Jam 05 : Torang Ari

Jam 06 : Binsar Mata Ni Ari

Jam 07 : Pangului

Jam 08 : Turba

Jam 09 : Pangguit Raja

Jam 10 : Sagang Ari

Jam 11 : Huma Na Hos

Jam 12 : Hos / Tonga Ari

Jam 13 : Guling

Jam 14 : Guling Dao

Jam 15 : Tolu Gala

Jam 16 : Dua Gala

Jam 17 : Sagala

Jam 18 : Mate Mata Ni Ari

Jam 19 : Samon

Jam 20 : Hatiha Mangan

Jam 21 : Tungkap Hudon

Jam 22 : Sampe Modom

Jam 23 : Sampe Modom Na Bagas

Jam 24 : Tonga Borngin

ISTILAH HARI DALAM BULAN

Dalam bahasa batak dikenal juga istilah hari dalam bulan. Jika dalam bulan ada 30 hari maka setiap hari tersebut ada istilahnya / bahasa bataknya, sbb:

Hari ke-1 : Artia

Hari ke-2 : Suma

Hari ke-3 : Anggara

Hari ke-4 : Muda

Hari ke-5 : Boraspati

Hari ke-6 : Singkora

Hari ke-7 : Samisara

Hari ke-8 : Antian ni aek

Hari ke-9 : Suma ni mangadap

Hari ke-10 : Anggara Sampulu

Hari ke-11 : Muda ni mangadap

Hari ke-12 : Boraspati na tanggok

Hari ke-13 : Singkora Purnama

Hari ke-14 : Samisara Purnama

Hari ke-15 : Tula

Hari ke-16 : Suma ni Holon

Hari ke-17 : Anggara ni holon

Hari ke-18 : Muda ni holon

Hari ke-19 : Boraspati ni holon

Hari ke-20 : Singkora mora turun

Hari ke-21 : Samisara mora turun

Hari ke-22 : Antian ni anggora

Hari ke-23 : Suma ni mate

Hari ke-24 : Anggara ni begu

Hari ke-25 : Muda ni mate

Hari ke-26 : Boraspati na gok

Hari ke-27 : Singkora duduk

Hari ke-28 : Samisara bulan mate

Hari ke-29 : Hurung

Hari ke-30 : Ringkar

Sumber: berbagai sumber

Gordon Tobing

Dengan “A Sing Sing So” Menjelajah Dunia

Siapakah orang Batak yang tidak pernah mendengar lagu A Sing Sing so. Kalau pun ada, mungkin mereka generasi yang baru lahir, atau mereka yang “buta” sama sekali tentang lagu Batak populer. A Sing Sing So (ASS), adalah sebuah lagu rakyat yang selama puluhan tahun hingga kini, tetap dikumandangkan diantara ribuan lagu Batak, dari yang klasik sampai yang paling pop. Irama lagunya yang mendayu-dayu tapi dan diciptakan dengan notasi sederhana, membuat lagu ini cepat memasyarakat, bukan hanya dilingkungan parmitu, remaja tapi juga anak-anak. “A Sing sing S…A Sing Sing So…Ueeee, Lugahon au parau…ullushon au alogo… tu hutani datulangi…”. Demikian antara lain cuplikan lagu tersebut. Gordon Tobing, pemusik dan penyanyi Batak legendaris, adalah tokoh musisi yang berperan besar mempopulerkan lagu A Sing Sing So dan ratusan lagu rakyat Batak lainnya. Bukan hanya di Indonesia tapi juga di Seantoro mancanegara. Kepiawaian menyanyikan lagu rakyat mengantarkannya mengelilingi dunia. Puluhan negara di lima benua telah disinggahinya. Belasan kepala negara telah mengucapkan “Selamat” menjabat tangannya. Dimanapun Gordon menyanyi selalu meninggalkan kesan mendalam, membuat gadis-gadis cantik di Meksiko dan Amerika “Tergila-gila” padanya.

Siapakah Gordon Tobing? Sebuah catatan menyebutkan, Gordon adalah anak kelahiran Medan tanggal 25 Agustus 1925. Ayahnya Romulus Lumbantobing juga dikenal pemusik/komposer terkenal pada jamannya, dan pencipta lagu Arga Do Bona Ni Pinasa (Lihat Liputan Bona Pasogit edisi 13/Juli 200, tulisan tetang S.Dis Sitompul). Romulus Tobing marpariban dengan komponis S.Dis Sitompul dari istrinya boru Hutabarat. Bakat musik yang mengalir dalam diri Romulus ternyata diwarisi Gordon yang sejak kecil telah digembleng bermain musik dan olah vokal oleh ayahnya. Gordon tidak pernah memperoleh pelajaran musik secara formal, tetapi merupakan bakat alam. Tahun 1950, Gordon berangkat ke Jakarta. Disana ia sempat berpindah-pindah pekerjaan, bahkan pernah bekerja sebagai karyawan perusahaan Film Negara. Tapi di sana ia merasa tidak cocok, karena bakat musiknya tak tersalurkan. Kemudian ia pindah ke RRI (Radio Republik Indonesia). Disinilah ia jumpa dengan seniman- seniman musik terkenal seperti Iskandar dan Sudharnoto. Bakat musiknya mulai berkembang. Saat itu Gordon membentuk Kelompok Padua Suara, antara lain kelompok VG “Sinondang”. Setelah VG “Sinondang” bubar, Gordon membentuk kelompok yang dinamakan VG “Impola” (dalam bahasa Batak artinya : inti yang terbaik dari yang terbaik). Vokal grup Impola inilah yang membuat Gordon sangat terkenal sejak tahun 1960 an. Gordon bersama istrinya Theresia Hutabarat menjelajah banyak negara. Bahkan beberapa MC (Master of Ceremony) terkenal seperti Koes Hendratmo dan Hakim Tobing sempat ikut bergabung dalam kelompok itu.

Totalitas Gordon di dunia musik rakyat memang pantas dikagumi. Ia tidak pernah berniat untuk pindah jalur, seperti pemusik lain yang pindah jalur ke blantika musik pop. Gordon juga tidak pernah terpengaruh untuk meninggalkan dunianya, meskipun banyak alternatif pekerjaan lain yang bisa dimasukinya.

MARIO LANZA

Sebagai penyanyi lagu rakyat (folk song), salah satu lagu yang sangat disenangi Gordon dan selalu dinyanyikannya diluar negeri adalah lagu A Sing Sing So, ciptaan Boni Siahaan. Lagu itu di tahun 60 an menjadi lagu Batak terkenal di Amerika. Bahkan karena warna suaranya yang bagus dan sanggup melengking tinggi pindah oktaf, Gordon pernah dijuluki Maria Lanza Indonesia (Maria Lanza adalah penyanyi Italia bersuara emas yang menguasai ratusan lagu rakyat dari banyak negara di dunia/pen). Gordon Tobing pernah berkata: “Saya bisa menyanyikan banyak lagu rakyat dari mancanegara, hanya lagu dari Nigeria dan Arab yang tidak bisa saya nyanyikan”. Tiga tahun setelah menginjakkan kakinya di Jakarta, Gordon mulai bertualang ke berbagai negara. Tahun 1953 ia tiba di Moskow, disusul tahun 1960 mendarat di RRC, mendahului kunjungan Presiden Soekarno ke negara tersebut. Takkala mendarat di bandar udara, Bung Karno terkesima saat mendengar Gordon Tobing menyanyikan lagu Batak (termasuk A Sing Sing So) di bandara. Presiden pertama RI itu heran, dan bertanya pada ajudannya: “Siapa yang menyanyikan Lagu Batak disini?”. Setelah ajudan mengecek siapa yang menyanyi itu dan melaporkannya kepada Bung Karno, spontan Presiden berkomentar:”Luar biasa dia dengan lagu rakyat Gordon bisa sampai disini”. Sejak itu Bung Karno “Jatuh Hati” kepada Gordon dengan grup Impolanya. Tapi kini Gordon sipenyanyi “A Sing Sing so” itu hanya tinggal kenangan bagi pencintanya. Hari Rabu tanggal 13 Nanuari 1993 sang pengembara seni musik ini telah pergi jauh ke haribab Tuhan Sang Pencipta. Ia pergi secara mendadak, tanpa meninggalkan pesan apa-apa. Hari Selasa tengah malam ia masih duduk santai menyaksikan acara televisi , film Another World, kesukaannya. Tiba-tiba ia berkata mengeluh kepada istrinya, bahwa dadanya terasa sesak. Tidak berapa lagi kemudian Gordon telah menghembuskan nafasnya yang terakhir dalam pelukan istrinya tercinta Theresia Br.Hutabarat.

“Papa yang tak pernah mengeluh sakit sebelumnya, selama ini kondisi kesehatannya baik-baik saja. Papa juga tak pernah memeriksakan diri ke Dokter, sehingga tak pernah ketahuan kalau ia mengidap suatu penyakit” Ujar Enrico, putra sulung Gordon ketika itu, 9 tahun lalu. Gordon Tobing semasa hidupnya telah berjasa besar sebagai duta bangsa memperkenalkan lagu-lagu rakyat Indonesia ke seluruh penjuru dunia. Almarhum juga memiliki kemampuan yang prima membawakan lagu rakyat setiap negara yang dikunjunginya, yang membuat semakin dikagumi kemanapun ia pergi. Sejumlah penghargaan bergengsi telah diterimanya dari negara yang pernah dikunjunginya. Antara lain dari Vietnam, Australia, Kuba, Jerman, dan Kamboja. Malah Presiden Mesir Gamal Abdul Nasser dan Presiden Fidel Castro dari Kuba pernah memberi hadiah gitar untuk Gordon. Terakhir, Kaisar Jepang menganugerahkan bintang tanda jasa The Order Of The Sacred Treasure, Goland Silver Rays kepadanya, karena dia dinilai berjasa meningkatkan hubungan kerjasama Indonesia-Jepang. Setelah Gordon Tobing telah tiada, masikah akan ada muncul tokoh seni musik Batak sekaliber Gordon? Banyak musisi dan penyanyi Batak bermunculan saat ini, tapi umumnya berkiprah di jalur pop. Kini dunia musik lagu rakyat terasa semakin sepi, menantikan kehadiran Gordon Tobing-Gordon Tobing yang baru, yang mampu menerobos jalur permusikan lagu rakyat di mancanegara.

Sastra Batak Haruskah Dibiarkan Punah?

Arus globalisasi – akibat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang demikian pesat – selain berpengaruh positif bagi peningkatan taraf hidup manusia, juga menimbulkan efek negatif pada sendi-sendi sosial kemasyarakatan. Pranata-pranata sosial mengalami pergeseran makna dan melahirkan nilai-nilai baru yang bisa jadi merupakan pengingkaran terhadap nilai-nilai hakiki. Sepanjang masih bersifat positif , proses degradasi makna itu masih bisa diterima. Namun yang sering menjadi bahan persoalan adalah efek negatif berupa lunturnya nilai-nilai ideal, spritual dan religius menjadi bersifat kebendaan (materialisme) semata-mata.

Kebudayaan Batak pun tidak jauh berbeda dengan kebudayaan daerah lainnya di muka bumi ini, akibat pengaruh negatif dari terpaan gelombang globalisasi tersebut. Sastra Batak yang merupakan bagian dari bahasa sekaligus bagian seutuhnya dari budaya Batak , menurut penilaian berbagai pihak yang menaruh perhatian terhadap keberadaan bahasa daerah nusantara yang penting dan terkemuka ini dirasakan semakin terpinggirkan. Salah satu contoh dalam upacara-upacara adat yang digelar di Bona Pasogit, unsur sastra Batak mengalami pergeseran kualitas mengarah ke kuantitas, disamping adanya kekeliruan semisal menuturkan umpasa atau umpama dari sipenutur yang didukung penuh para orangtua dalam pesta adat itu.

” Pat ni gaja do hamu tu pat ni hora, anak ni raja do hamu jala pinompar ni na bisuk marroha “, ima tutu…, sambutan hadirin sambil tertawa, seolah-olah penerima berkat yang menjadi alamat yang diberkati adalah bagian dari kaki gajah. Seharusnya dalam sampiran itu tidak mempergunakan kata “hamu” . “Pat ni gaja tu pat ni hora, anak ni raja do hamu jala pinompar ni nabisuk marroha”, namun ada kalanya hal tersebut tidak disadari sipenutur umpasa atau umpama yang tergelincir kalau tidak tepat disebut kekeliruan, sehingga kalangan muda yang mendengar dikuatirkan akan mengulangi ucapan yang sama kepada pihak lain ketika menyampaikan berkat (Batak: hata pasu-pasu) Dalam upacara adat misalnya di tempat yang lain.

“Amang pargonsi, bahen damang ma jolo gondang na hombar tu hami akibat kurangnya pemahaman tentang tata cara “maminta gondang” (baca : mamitta goddang) atau sering juga diminta lagu “Poco-poco” dan atau lapa loma yang menjadi trend di kalangan tua muda. Lagu Lapa loma yang pernah penulis wawancarai teman yang sudah melanglang buana ke luar negeri, lagu ini tidak boleh dinyanyikan disembarang tempat sekalipun di luar negeri. Pertanyaannya adalah “Apakah hal itu sudah termasuk adat Batak?” Jika jawaban atas pertanyaan ini “Ya”, kapan mulai operasional ?,dan jika jawaban “tidak” dimanakah peran yang menyatakan dirinya raja adat siboto adat dohot uhum ?.

Agan pe holan pasi-pasina asa unang laos mago ambolong, ditoru on pinatedek do manang na piga na marpardomuan tu hamoraon ni hata Batak di halak Batak na mandok na mora hata Batak, jala tontu sahali ndang na mora hata Batak di angka dongan na manghalanggushonsa.

IBU HAMIL DAN MELAHIRKAN BAYI

Seseorang ibu yang sedang hamil dalam hata pantun (baca: satra lisan) dinamai : manggora pamuro; na di hiringan manuk; mangae dongan (na di bortian). Menjelang kelahiran bayi, sebutan diatas berubah menjadi: martahi hundul (baca : martahi huddul) atau tumagam haroan. Lahir dalam bahasa Batak dinamai “sorang” tali pusar bayi disebut “anggi-anggi ni dakdanak” atau dalam bahasa sehari-hari (hata na somal) dikenal dengan istilah “pusokna”. Bayi laki-laki yang dilahirkan dinamai “Si unsok” (baca : si ussok), sedangkan bayi perempuan adalah ‘si butet”.

Dewasa ini akibat pengaruh bahasa Indonesia, ucapan si ussok di sebagian daerah masih di lingkungan Tano Batak (Tapanuli Utara dan Toba Samosir) berubah menjadi si uccok. Sebenarnya tidak ada huruf “C” dalam bahasa Batak Toba. Sebagai tambahan, misalnya dalam kehidupan sehari-hari mengucapkan Camat sering terdengar “Samat” atau kassang menjadi kaccang, sementara dialek Samosir pengucapan kata kassang adalah hassang. Bandingkan dengan lagu yang berjudul “Pulo Samosir” penulis mengutip sepenggal syair lagu tersebut berbunyi : …..gok disi hassang nang eme nang baoang……

Kembali ke ibu yang melahirkan. Ibu yang melahirkan itu dalam sastra lisan dikenal dengan istilah “di tataring”. Ibu yang menolong bayi dalam kandungan hingga persalinan (melahirkan) dalam bahasa sastra lama dinamai “sibaso”. Sibaso jika dibandingkan dengan dunia kesehatan masa kini setara dengan “Bidan Bersalin”.

Maklum di zaman dulu belum dikenal di Tano Batak mungkin juga daerah lain, pengobatan modern layaknya masa kini seperti rumah sakit persalinan dengan tenaga dokter spesialis kandungan. Bayi yang dilahirkan lebih dari satu orang dengan jenis kelamin yang sama dinamakan “Silinduat” (baca: silidduat), sedang bayi kembar yang dilahirkan dengan jenis kelamin yang berbeda disebut “marporhas”.

Mari kita teliti dulu istilah pangintubu (baca: pangittubu) dan painundun (baca:painuddun). Biasanya ibu yang melahirkan itu dan bayi yang dipangkunya akan mendapat panas atau kehangatan melalui api. Sudah barang tentu sang ayah jauh sebelumnya telah mempersiapkan kayu bakar yang dibutuhkan. Ada kalanya ibu tadi yang masih lemah tidak tahan terus menerus mainundun membelakangi api karena butuh untuk berbaring. Dalam keadaan demikian, ada saja ibu yang lain, biasanya keluarga dekat untuk menggantikannya mainundun (baca : mainuddun). Ibu yang disebut terakhir dalam istilah Batak dinamai “painundun” (baca:painuddun). Painundun pokok kata ialah tundun yang memiliki arti punggung. Pokok kata tundun dibentuk kata mainundun yang berarti “duduk dengan punggung membelakangi sesuatu”. Yang dibelakangi tentu saja adalah api, jadi arti lengkap perkataan mainundun ialah duduk membelakangi api dengan tujuan mengalihkan kehangatan tubuh dari si ibu terhadap si bayi yang dipangkunya.

Ibu yang berperan untuk menggantikan mainundun itu dinamai painundun, sedang ibu yang melahirkan bayi itu dinamakan “inang pangintubu” (baca : inang pangittubu). Lama kelamanaan istilah painundun berkembang, misalnya seseorang ibu yang berjasa dalam membesarkan si bayi dalam bahasa Batak dikenal dengan istilah “pagodang-godanghon” ( baca : pagodang-godakkon).

Istilah “orang tua asuh” yang dikenal luas dalam masyarakat kita dewasa ini dengan apa yang dinamai GNOTA (Gerakan Nasional Orang Tua Asuh) bukan hal yang baru lagi dalam masyarakat adat Batak, bahkan anak yatim piatu (na so marama so marina) tidak akan terlantar hidupnya, mereka akan dipelihara keluarga. Dalam hal ini prinsip yang masih dipegang teguh ialah “mardangka ni salohot, marnata na sumolhot”. Artinya, keluarga dekat lebih berhak dan memiliki tanggungjawab yang pertama dan utama dalam mengasuh, memelihara, membesarkan si anak hingga dewasa, bahkan segala sesuatu yang berhubungan nantinya dengan urusan perkawinan mereka.

Perbedaannya dengan GNOTA adalah seseorang menjadi orang tua asuh tergantung atas kesediaan dan rela berkorban untuk mengasuh si anak tanpa mempersoalkan asal muasal atau latar belakang keluarga si anak, sedang dalam masyarakat adat Batak adalah wajib hukumnya, akan tetapi tanggungjawab sebagai pengasuh adalah berdasarkan prinsip mardangka ni salohot, marnata na sumolhot sebagaimana dipaparkan di atas.

Salah satu petuah dari orang tua ketika memberangkatkan si anak pergi merantau adalah “carilah orang tuamu yang bisa menggantikan sekaligus tempat memperoleh perlindungan dan kasih sayang. Sebab orang tua yang demikian, sesungguhnya adalah painundun bagi kalian dan mereka harus kalian hormati sebagaimana menghormati kedua orang tuamu”. Bahkan dalam ulaon unjuk (upacara adat perkawinan kedua mempelai). Istilah painundun juga sering dipergunakan di kalangan masyarakat adat Batak terutama di daerah perantauan (parserakan).

BUHA BAJU/ANAK SIHAHAAN

Pengertian buha baju dalam masyarakat adat Batak adalah anak yang pertama dilahirkan, baik laki-laki maupun perempuan. Anak dalam pengertian Bahasa Indonesia adalah laki-laki dan perempuan. Pengertian anak dalam suku Batak hanya anak lelaki disebut anak, sedang perempuan dengan sebutan boru. Lelaki langsung memakai marganya sesudah nama kecilnya, tetapi perempuan dengan sebutan boru. Misalkan lelaki itu bernama Pardamean Simamora. Misalkan pula perempuan itu bernama Duma boru Simamora atau Duma br.Simamora. Mengapakah sebabnya demikian?. Jawabnya ialah setiap marga ayah hanya diwariskan kepada anaknya laki-laki atau dengan kata lain dalam masyarakat adat Batak menganut garis “patrilinial”, sedang perempuan ketika masih anak-anak dan saat ia gadis adalah bagian dari kerabat ayahnya, jika kelak menikah otomatis akan pindah dari klan ayahnya menjadi klan suaminya.

Kembali ke buha baju. Keluarga A bisa saja anak Sihahaan sekaligus buha bajunya adalah laki-laki, sedang keluarga B buha bajunya adalah perempuan, dan anak Sihahaan adalah laki-laki. Dalam masyarakat adat Batak, khususnya hubungan kekerabatan mengenal prinsip “anak sihahaan” sebagai pemegang kedaulatan dalam intern dan extern keluarga terutama jika sudah berumah tangga. Selain itu ada nilai plus yang diberi kewenangan sebagai “pemimpin” bagi semua saudara laki-lakinya dan juga saudara perempuannya. Jika seseorang pemuda lain hendak berbuat nakal terhadap saudaranya perempuan, maka ia harus membela atas tindakan yang kurang terpuji itu demi menegakkan martabat keluarga sebagai salah satu fungsi perlindungan terhadap semua saudaranya. Pertanyaannya adalah siapakah yang disebut anak sihahaan?.

Anak Sihahaan atau anak tertua dalam sistem kekerabatan Batak Toba bisa saja anak pertama, artinya ia anak pertama (buha baju) sekaligus anak tertua laki-laki, tetapi dapat juga ia laki-laki tertua dalam urutan yang kesekian, misalnya bisa saja anak pertama adalah perempuan urutan kedua adalah laki-laki, maka yang disebut terakhirlah anak sihahaan.

Kesimpulannya ialah anak sihahaan atau anak tertua laki-laki, mungkin anak pertama tetapi mungkin pula bukan, melainkan ia anak tertua atau pertama sebagai anak lelaki menurut jenis kelamin. Kapan seseorang dianggap dewasa menurut adat Batak?. Seseorang dianggap dewasa menurut adat Batak adalah jika seseorang sudah berumah tangga (keluarga) atau dalam bahasa sastra lisan disebut “Nunga ditutung hudonna”.

*) Oleh : Waldemar Simamora. Penulis adalah Pengasuh Rubrik Budaya Batak pada MM Liputan Bona Pasogit, tinggal di Simarangkir Julu Tarutung.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 36 pengikut lainnya.