Orang Batak yang Menikah Tanpa Adat Batak

Demi agamanya.

Artikel ini ditulis oleh Portunatas Tamba, seorang lelaki Batak yang bekerja dan tinggal di Kota Tobelo, Pulau Halmahera, Propinsi Maluku Utara.

Saya punya seorang teman, RS. Saya sudah sangat mengenal watak RS, orang batak yang ”keras kepala”, sama seperti saya, karena sejak kuliah kami sudah berteman. Sering menjadi teman diskusi bahkan beradu argument sampai “marsisonggakan”. Saat pertama berteman dengan RS, dia masih menganut keyakinan seperti pada umumnya orang Batak. Dan selalu rajin gereja. Demikian persahabatan kami berjalan dengan baik.

Suatu hari dia mengajak saya diskusi. “Lae, sepertinya saya mau pindah keyakinan, tetapi tetap sama-sama Kristen kok,” katanya memulai pembicaraan.“

Maksudmu bagaimana?” tanyaku.

Lalu dia menjelaskan bahwa dia sepertinya lebih bisa menerima cara pandang keyakinannya yang baru. Dia mengatakan lebih focus seluruh kehidupan untuk Tuhan. Tanpa dibebani oleh adat istiadat, yang menurut dia bahwa adat itu sebagai satu factor yang bisa menjauhkan dia dari Tuhan.

Lantas saya Cuma bilang, “Terserah Lae, Lae sudah dewasa memutuskan apa yang terbaik bagi masa depan Lae. Tuhan tidak melihat label agama kok tapi bagaimana kau menerapkan kasih kepadaNya dan kepada sesama.”

Saya yakin tidak ada gunanya menanyakan dia, 5W+H tentang jalan pikirannya. Yang terjadi malah debat kusir yang tak berujung.

Tiga tahun lalu, RS memberitahu saya, dia mau menikah dengan boru batak. Dia beritahu bahwa kekasihnya dan pihak keluarga si perempuan, ingin pesta dengan adat batak, tetapi hal tersebut bertentangan dengan cara pandang RS, sesuai agama yang diyakininya. Dia bercerita sudah agak lama diskusi tentang hal ini tetapi belum ada kesepakatan. Dia mengatakan bahwa calon istrinya sebenarnya sudah bisa memahami cara pandangnya tetapi pihak keluarga belum.

Sebenarnya orang tua RS juga sangat berkeinginan anaknya ”mangadati”, tetapi RS sudah sejak jauh hari memberitahukan dan menjelaskan kepada orang tuanya bahwa dia tidak akan pernah menikah secara adat, cukup menikah gereja. Pendekatan yang RS dan calon istrinya ke pihak keluarga akhirnya membuahkan hasil. Mereka menikah di gereja dan tanpa setitikpun tersentuh adat Batak. Pihak keluarga juga tidak mau memaksakan adat harus dilakukan karena keyakinan anak.

Sampai saat ini mereka hidup bahagia, memiliki seorang putri. Tetapi di kampungnya, keluarganya sering diomongin tetangga dengan kata ”hurang maradat”. Saya sendiri masih bingung sebenarnya dengan cara pandang temanku RS yang melihat adat sebagai sesuatu yang ”kurang baik”. Tetapi saya sangat menghargai sikap dan pola pikirnya.

Beberapa bulan lalu RS pernah berkunjung ke rumahku. Dia melihat ada Ulos aku buat jadi hiasan dinding dan photo. Ada juga Ulos kubuat hiasan salib. Dia mengatakan itu salah, tidak boleh.

Saya cuma tersenyum menanggapi semua alasan dia mengatakan pemakaian ulos itu salah. Bagi saya tetap yang terpenting saling menghargai dan tidak menghakimi, karena kita tidak punya hak menghakimi siapa pun. Horas…

sumber: dari berbagai sumber

7 Komentar

  1. santos
    Dituliskan Juli 19, 2008 pada 10:17 pm | Tautan Permanen

    setiap suku mempunyai tradisi, selama tradisi itu tidak mengurangi keyakinan yang kita anut tidak ada masalah. Lihat saja tradisi orang yahudi yang suka pakaian jubah atau orang orab suka pakai sorban dan mukenah.orang batak justru menonjolkan ulos bataknya.menurut saya adat batak sangat mendukung setiap kepercayaan.jangan pernah menyalahkan ulos batak tapi kita perbaharui cara pandang kita terhadap ulos.

  2. putra medan
    Dituliskan Desember 12, 2008 pada 12:19 am | Tautan Permanen

    Horaaaaas………….!!!
    Ulos adalah suatu simbol orang Batak. so, Usahakan jgn membuang simbol itu. Gbu.

  3. putra medan
    Dituliskan Desember 12, 2008 pada 12:28 am | Tautan Permanen

    horas…………
    bagi orang batak yang di rantau, khususnya sudah cukup untuk menikah ambil lah pasangan yang cocok untuk kamu, dan yang paling penting dia tau adat. okes

  4. jenni R. P.
    Dituliskan Januari 29, 2009 pada 4:24 pm | Tautan Permanen

    ulos batak hanya sebuah simbol, yang dipakai orang batak
    dalam acara adat. Sepanjang kita tidak menyalahgunakannya,
    ulos tidak bertentangan dengan agama Kristen…..

    setuju ito

  5. Dituliskan Maret 15, 2009 pada 10:20 am | Tautan Permanen

    Ketika saya hendak menikahpun, sebagai orang pria Batak – saya langsung dihadapkan dengan segala bentuk adat istiadat Batak. Saya sempat dibuat pusing tujuh keliling. Yang terbayang di hadapan saya adalah biaya pesta yang membengkak, di luar dugaan!. Saya sempat menolak mentah-mentah segala bentuk aturan adat istiadat Batak, yang saya rasa tidak perlu karena saya merasa tidak penting!. Kalau boleh jujur, alasan yang saya buat-buat adalah tidak sesuai dengan keyakinan / prinsip saya. Saya keras sekali menentang semua prosesi adapt Batak. Alasan yang saya buat-buat ketika itu sangat bertentangan dengan ajaran Injil (tidak sesuai dengan ajaran Kristus/Kristen). Padahal, alasan sebenarnya adalah soal biaya dan biaya. Setelah berkunsultasi kesana-kemari dengan orang tua dari kalangan orang Batak atau tidak. Dan saya tidak lupa berdoa untuk diturunkan pencerahan pikiran.

    Entah kenapa waktu itu saya hanya pasrah saja. Saya serahkan pada TUHAN saja mana yang terbaik. Akhirnya saya setuju saja menyerahkan semua prosesi pernikahan saya dilakukan melalui prosesi adat Batat (Mangadati) secara penuh (adat na gok). Yang penting adalah niat saya yang tulus, kalau itu adalah jalan yang terbaik diberikan TUHAN. Dan tampa disangka-sangka, rejeki / order saya ada saja untuyk menutupi semua biaya pesta adat itu. Dan saya akhirnya menyadari apa makna adat Batak tersebut bagi pernikahan saya. Itu yang terpenting akan saya bagi bagi banyak orang.

    Persoalannya sekarang, ada banyak pria di luar suku Batak atau pria Batak sekalipun kurang memahami adat Batak tersebut. Atau banyak mereka tidak mau tahu atau peduli. Atau tidak mau direpotkan dengan semua prosesi adat Batak yang dianggap merepotkan/berbeli-belit! Yang terjadi sebenarnya adalah mereka tidak menerima semua prosesi adat Batak dalam pernikahan, bukan karena alasan pertentangan keyakinan!!!! Sekali lagi bukan!!!! Tetapi karena mereka tidak mau repot dan tidak mau banyak keluar biaya dalam pernikahan mereka. Mereka ketakutan keluar biaya banyak!!! Itu adalah alasan sebenarnya!!! Bukan karena keyakinan!!!! Apakah semua adat istiadat Batak sesuai dengan firman TUHAN. Saya katakana ya….ya…dan ya…

    Tuhan akan memberkati pernikahan tersebut selamanya. Jika hubungan komunitas sosial dengan keluarga terdekat juga ikut merestui dan mendoakannya! Banyangkan jika pernikahan seorang wanita atau pria Batak TIDAK dihadiri salah satu orang tuanya atau familinya. Bayangkan betapa sakit hatinya orang tua si mempelai perempuan/laki-laki tersebut! Seperti pernah kasus di keluarga saya.
    “Ito saya (saudara perempuan anak adik ayah saya) akan menikah dengan seorang pria di luar suku Batak, seorang pendeta dari golongan Kristen Kharismatik dari suku Indonesia timur. Kedua orang tuanya, dan famili tidak setuju atau menghadiri pernikahannya karena tidak disetujui orang tuanya karena pernikahan mereka tidak dilakukan secara prosesi adat Batak. Ditambah, pengaturan tanggal pernikahan mereka sendiri yang sudah mereka atur tampa pemberitahuan / persetujuan dari kedua orang tuanya. Saya sedih melihat adik ayah saya. Dia semakin trus stess memikirkan anak perempuannya yang sangat dicintainya. Bahkan nyaris adik ayah sayta terkena stroke. Tetapi pernikahan mereka tetap saja dilakukan tampa dihadiri keluarga adik bapak saya. Sangat tragis dan menyedihkan…!!! Apakah ini pernikahan yang diberkati TUHAN!

    Jelas ini sangat bertentangan TUHAN! Saya tidak mengerti, mereka sangat dekat dengan TUHAN dan mengaku – ngaku sebagai hamba TUHAN yang kudus bertekun dalam doa, berani melakukan seperti ini. Tetapi justru sangat menyakitkan hati kedua hati orang tuanya! Apakah seperti ini pernikahan yang diberkati TUHAN????Mana penghormatan terhadap orang tua!?

    Sebenarnya, setelah saya alami semua prosesi pernikahan adat Batak pada pernikahan saya. Yang saya rasakan sekarang ini dan seterusnya adalah semua prosesi adapt batak tujuannya adalah bentuk dari penghormatan dan cinta kasih dari kedua orang tua, saudara sekandung, dan keluarga dekat, dan masyarakat sekitarnya. Semua prosesi adat istiadat Batak tidaklah bertentangan dengan ajaran Kristen!!! Justru tujuannya adalah dalam rangka mempererat hubungan cinta kasih dan kepedulian kedua orang tua/keluarga, saudara, kerabat dekat dan masyarakats sekitarnya kepada anaknya yang sangat dicintai. Simbol ini diwakli dengan prosesi pemberian ulos. Dan itulah yang saya alami! Apakah hal itu benar-benar bertentangan dengan firman TUHAN seperti yang dikatakan banyak aliran Kristen kharismatik, yang mengatakan semua prosesi adat Batak adalah bentuk “upacara berhala”. Sangat aneh…Bagi saya itu hanya alasan yang dibuat-buat mereka, karena tidak mau peduli atau tidak mau pusing atau direpotkan dengan semua prosesi adat Batak, dan tidak mau bersosialisi dengan kedua kerabat keluarga dan masyarakat sekitarnya. Ya.Mungkin juga karena ketakutan keluar biaya besar! Silahkan anda pikirkan. Terima kasih. (Rivai Sihombing) pembawaide@yahoo.com.

  6. Ramos PH
    Dituliskan April 14, 2009 pada 4:17 pm | Tautan Permanen

    Horas…….Natua-tua
    Ulos Batak hanyalah sebuah simbol-simbol.Tapi orang Batak bukanlah sebuah simbol. Jadi kalau menuruk ku, Mari jalankan adat tanpa beban, tanpa paksaan dan tanpa HUTANG PIUTANG.Mungkin Dimata Simula-mula Tubu itu suatu keharusan, tapi di kehidupan sekarang, yang serba paspasan bagai mana? Karena ada Umpasa Batak bilang: HASSIT DO TANGAN MANDANGGURHON NA SO ADA. Jadi Kayaknya adat batak itu sudah saatnya direvisi ulang agar sesuai dengan asas berkwalitas dan ekonomis serta terjangkau. Horas.

  7. hendrawan
    Dituliskan Juli 16, 2009 pada 11:39 pm | Tautan Permanen

    memahami adat batak memerlukan pemikiran yang bisa dibilang rumit akan tetapi setelah didalami ternyata logis. ulos dalam beberapa hal digambarkan sebagai pembungkus untuk menghangatkan, sehangat cinta kasih dari yang mangulosi (orang yang “dihormati”) kepada yang diulosi. janganlah kita buru-buru mengatakan bahwa adat batak tersebut sesat atau melanggar agama (kristen), pikirkanlah secara jernih, selanjutnya nurani kita yang akan menentukan, tentunya dengan berdoa sehingga mendapat pertolongan dari Tuhan. horas…


One Trackback/Pingback

  1. [...] Pernikahan Adat Batak Sebenarnya tulisan ini ada komentar dari appara Rivai Sihombing (sebagai penghargaan saya terhadap komentar ini sengaja linknya saya set rel=”friend”) mengenai Pernikahan adat batak yang di posting di artikel Orang Batak yang Menikah Tanpa Adat Batak [...]

Tulis sebuah Komentar

Alamat email kamu tidak akan pernah dipublikasi ataupun disebarluaskan. Ruas dengan tanda * harus diisi.
*
*