Asal/sejarah Simanjuntak

Anak pertama RAJA MARSUNDUNG SIMANJUNTAK (SIMANJUNTAK pertama) lahir dari Boru HASIBUAN, yaitu RAJA PARSURATAN SIMANJUNTAK (parhorbo jolo). SIMANJUNTAK Sitolu Sada Ina adalah 3 bersaudara lahir dari SOBOSIHON Boru HOTANG istri yang berikutnya RAJA MARSUNDUNG SIMANJUNTAK. SIMANJUNTAK Sitolu Sada Ina yaitu:

1. RAJA MARDAUP SIMANJUNTAK
2. RAJA SITOMBUK SIMANJUNTAK
3. RAJA HUTABULU SIMANJUNTAK

Mulanya sebutan ‘parhorbo jolo-pudi’ ini merupakan sindiran masyarakat karena pembagian warisan yang aneh oleh RAJA PARSURATAN terhadap adiknya. Sindiran tersebut karna parhorbo jolo sebagai anak sulung tidak adil membagi harta warisan (sawah dan kerbau) sepeninggal ayahanda di Balige. RAJA MARSUNDUNG menikah dengan SOBOSIHON Boru SIHOTANG setelah istrinya Boru HASIBUAN meninggal. RAJA PARSURATAN pernah hampir membunuh SIMANJUNTAK Sitolu Sada Ina sewaktu SIMANJUNTAK Sitolu Sada Ina masih bayi. Ketika RAJA MARDAUP lahir RAJA PARSURATAN hampir membunuhnya namun gagal berkat antisipasi Ompu-nya SIMANJUNTAK Sitolu Sada Ina yaitu SI GODANG ULU (SIHOTANG) maka RAJA MARDAUP selamat. Kisah itu diketahui SIMANJUNTAK Sitolu Sada Ina setelah mereka dewasa, namun SIMANJUNTAK Sitolu Sada Ina tetap tidak pernah menaruh dendam terhadap kakaknya atas pesan dari ibunda tercinta agar SIMANJUNTAK Sitolu Sada Ina tetap menganggap RAJA PARSURATAN sebagai pengganti ayah. Diceritakan oleh CYRUS JALA SIMANJUNTAK (1902-1975) dan Pdt.Ev. SAITUN ROBERTH HASIHOLAN SIMANJUNTAK (1946-2006)

RAJA MARSUNDUNG SIMANJUNTAK adalah anak kedua dari pasangan TUAN SOMANIMBIL dan istrinya Boru LIMBONG. Mereka mempunyai tiga anak, yitu:

1. SOMBA DEBATA SIAHAAN, menikah dengan Boru LUBIS.
2. RAJA MARSUNDUNG SIMANJUNTAK, menikah dengan Boru HASIBUAN lalu kemudian setelah duda menikah dengan SOBOSIHON Boru SIHOTANG.
3. TUAN MARRUJI HUTAGAOL, menikah dengan Boru PASARIB

RAJA MARSUNDUNG menikah dengan Boru HASIBUAN lalu mereka menetap di Hutabulu (sekarang Parlumbanan). Mereka dikaruniai seorang putera bernama RAJA PARSURATAN dan seorang puteri bernama SIPAREME. Kehidupan mereka diberkati dengan banyak sekali ternak kerbau hingga orang sering menyebut RAJA MARSUNDUNG dengan sebutan ‘SIMANJUNTAK PARHORBO’.

Mautpun memisahkan dan RAJA MARSUNDUNG menjadi duda setengah umur. Suatu saat dia sakit parah bahkan dia tak sanggup mengurus dirinya sendiri. Menurut adat Batak Toba yang layak mengurus dia hanya Boru LUBIS yang adalah istri abangnya (akang boru). Kalau Boru PASARIBU yang adalah istri adiknya (anggi boru) pantang saling bicara dengan dia begitu juga menantunya (parumaen) tidak boleh berbicara dengan dia sebab begitu adatnya. Sementara puterinya sendiri, SIPAREME segan mengurusnya sampai perkara yang sangat sensitif.

Kemudian RAJA MARSUNDUNG pulih lalu SOMBA DEBATA SIAHAAN menganjurkan padanya agar dia menikah lagi supaya ada yang mengurusnya kelak apabila dia sakit. Hal ini tidak disetujui RAJA PARSURATAN dan TUAN MARRUJI HUTAGAOL namun, karena fakta dan pengalaman pahitnya, RAJA MARSUNDUNG setuju untuk menikah lagi.

Pada masa itu ada istilah kalau ingin mencari istri pengganti maka sebaiknya pergi menyeberangi danau Toba (versi asli: molo mangalului panoroni ba borhatma tu bariba ni tao Toba). SOMBA DEBATA SIAHAAN dan RAJA MARSUNDUNG pun berangkat ke daerah Si Raja Oloan. Di sana ada seorang lelaki yang agak asing rupa fisiknya. Bentuk kepalanya besar dan dia dinamai RAJA SI GODANG ULU SIHOTANG. Keanehan ini juga tampak pada anak – anaknya sehingga terkadang mereka sering dikucilkan banyak orang sampai – sampai walaupun puterinya sendiri SOBOSIHON berumur banyak belum ada laki – laki yang mau melamarnya hingga RAJA MARSUNDUNG melamarnya.

Kedatangan RAJA MARSUNDUNG melamar SOBOSIHON sangat menggembirakan hati RAJA SI GODANG ULU walaupun yang melamar puterinya adalah seorang duda yang sudah memiliki anak. Namun itu bukan persoalan baginya dan pernikahan secara adat sepenuh (adat na gok) dilakukan. Wali pengantin prianya adalah SOMBA DEBATA SIAHAAN. SOBOSIHON pun menjadi istri RAJA MARSUNDUNG. Mereka bermukim di Parlumbanan (saat narator berkunjung ke daerah Parlumbanan lokasi daerah ini merupakan persawahan).

Setelah tiba waktunya bagi SOBOSIHON untuk melahirkan, beberapa hari sebelumnya dia telah memberi kabar kepada ayahnya tentang keadaannya itu. Namun, perasaan sang calon ibu ini gelisah setelah mendapat mimpi; ketika SOBOSIHON akan mandi di Aek Na Bolon, setelah dia membuka bajunya tiba – tiba petir menyambar buah dadanya sebelah. Mimpi ini juga diberitahukan kepada RAJA SI GODANG ULU. Setelah mendengar kabar dan mimpi puterinya itu dia menyuruh menantu perempuannya (parumaen) berangkat menemui puterinya di Parlumbanan Balige. Padahal menantunya ini baru lima hari selesai melahirkan bayi perempuan namun, karena taat kepada mertuanya dia tetap bersedia pergi disertai tugas dan pesan khusus dari RAJA SI GODANG ULU. Adapun tugas dan pesan itu;

- Memberitahu SOBOSIHON bahwa akan ada bahaya yang mengancam bayinya setelah dia bersalin.
- Apabila bayi yang lahir laki – laki maka bayi itu harus ditukarkan dengan bayi perempuan menantunya ini dan bayi laki – laki itu harus dipangku dan disusui oleh menantu RAJA SI GODANG ULU ini sampai bahaya berlalu.
- Kelak apabila kedua bayi itu sudah dewasa maka mereka sebagai berpariban telah dipertunangkan sejak lahir (dipaorohon).

Sesampainya di Parlumbanan, menantu RAJA SI GODANG ULU atau yang disebut ‘Nantulang Na Burju’ oleh Parhorbo pudi ini, dia mendapati SOBOSIHON sedang bergumul dibantu dukun beranak (sibaso) untuk bersalin. Lalu kemudian lahirlah bayi laki – laki dan setelah dimandikan sang bayi langsung ditukarkan sesuai pesan tadi.

Diadakanlah acara makan bersama (pangharoanion) untuk syukuran kelahiran bayi itu. Seluruh penduduk kampung diundang. Mendengar kabar bahwa adik tirinya adalah laki – laki maka RAJA PARSURATAN menjadi benci dan ingin membunuh adiknya itu sebab menurutnya kelak akan ada pewaris harta ayahnya selain dia.

RAJA PARSURATAN pun datang ke acara itu dan dia membawa pisau penyadap pohon enau di dalam sarung yang terselip di pinggangnya. Kehadirannya membuat semua orang terharu sebab selama ini dia memusihi ibu tirinya, namun di saat kegembiraan dirasakan dan dirayakan ibu tirinya dia turut hadir di sana. itulah penilaian orang kebanyakan. Padahal RAJA PARSURATAN hendak memanfaatkan momen ini untuk membunuh adik tirinya. Lalu dia meminta supaya dia boleh memangku adiknya yang baru lahir itu. Dan bayi yang telah bertukar tadi pun dipangkunya sampai bayi itu basah atau kencing. RAJA PARSURATAN ingin mengganti kain popok adiknya.

Inilah kesempatan bagi RAJA PARSURATAN. Ketika mengganti kain popok adiknya maka dia berencana untuk menyelipkan pisau ketika kain itu dipakaikan. Dia pun meminta kain pengganti itu pada SOBOSIHON. Namun SOBOSIHON takut kalau – kalau RAJA PARSURATAN tahu bahwa bayi yang dipangkunya bukanlah adiknya. Dia mengatakan pada RAJA PARSURATAN supaya biarlah ibu yang mengganti kainnya. Akan tetapi karena RAJA PARSURATAN tetap berkeras untuk mengganti kain adiknya maka orang banyak pun menyuruh SOBOSIHON agar menurutinya.

Saat membuka kain basah bayi yang dipangkunya RAJA PARSURATAN terperanjat karena bayi yang dilihatnya bukanlah bayi laki – laki. Merasa niatnya sudah terbaca maka geramlah hatinya dan dia berdiri lalu melangkahi bayi itu dan berjalan menghampiri SOBOSIHON dan berkata; “Orang mengatakan bahwa yang lahir adalah adikku laki – laki tetapi engkau telah menipuku dengan memberi anak perempuan orang lain untuk aku pangku, inilah bagianmu” RAJA PARSURATAN menghujamkan pisau tepat di dada dan memotong buah dada SOBOSIHON lalu setelah itu lari meninggalkan acara yang dalam keadaan kacau.

RAJA PARSURATAN tidak berhasil menemukan dan membunuh adiknya tetapi buah dada SOBOSIHON ibu tirinya telah menjadi tumbalnya (daupna) maka bayi laki – laki itu diberi nama RAJA MARDAUP. Demikianlah RAJA MARDAUP diselamatkan ‘Nantulang Na Burju’ yang rela menyeberangi danau Toba demi menyampaikan pesan RAJA SI GODANG ULU. Itulah sebabnya sampai sekarang semua keturunan SIMANJUNTAK dari SOBOSIHON sangat menghormati keturunan dari SI GODANG ULU yaitu marga SIHOTANG.

SOBOSIHON melahirkan bayi perempuan. Kabar ini terdengar ke seluruh penduduk daerah Si Bagot Ni Pohan. Namun hal ini tidak meresahkan hati RAJA PARSURATAN sebab dalam tradisi Batak anak perempuan tidak berhak dalam pembagian warisan. Jadi kelahiran adik tiri yang perempuan ini turut menggembirakan RAJA PARSURATAN. Sang bayi diberi nama SI BORU HAGOHAN NAINDO.

Selang beberapa tahun kemudian SOBOSIHON melahirkan lagi. Begini ceritanya sehingga sang bayi diberi nama RAJA SITOMBUK.

Tak henti – hentinya RAJA PARSURATAN mengamati kehidupan ibu tirinya yang dia anggap bisa mengurangi jatah harta warisan untuknya kelak. Dia bertanya kepada orang pintar apa jenis kelamin bayi yang akan dilahirkan ibunya. Setelah mengetahui bahwa bayi laki – laki jawabannya, dia berusaha merancang kecelakaan agar bayi itu tidak bernyawa saat dilahirkan.

Saat ayah dan ibunya tidak berada di rumah, dia bekerja keras untuk memotong kayu penghalang papan yang ada tepat di sekeliling tiang tengah rumah (tiang siraraisan) dimana setiap ibu rumah tangga yang hendak bersalin akan menyandarkan badannya di tiang itu dan kain pegangan yang dipakai untuk bersalin juga digantungkan di situ.

Adapun maksud RAJA PARSURATAN supaya ketika ibunya bersalin kayu penghalang papan itu rubuh ketika diduduki setelah itu sang bayi akan celaka terhimpit. Apa yang terjadi? Ternyata kayu itu patah sebelum sang bayi lahir dan tembuslah lantai rumah itu.Karena kaget setelah tergeletak di kolong rumah, seketika itu melahirkanlah SOBOSIHON dan bayinya selamat. Bayi itu diberi nama RAJA SITOMBUK. Tombus dalam bahasa Indonesia ‘tembus’. Papan lantai rumah telah tembus dan kejadian itu pulalah yang membuat bayi dilahirkan selamat walau tanpa bantuan dukun beranak.

Dengan bantuan dukun beranak lahirlah bayi perempuan yang kedua bagi SOBOSIHON lalu oleh RAJA MARSUNDUNG bayi itu diberi nama SI BORU NAOMPON. Sebelum proses persalinan RAJA PARSURATAN telah mengetahui dari orang pintar bahwa adiknya adalah perempuan. Hal ini tidak menjadi masalah baginya walau ketamakan akan harta warisan masih memenuhi hati dan pikirannya saat itu.

Rupanya kali ini RAJA PARSURATAN pergi lagi bertanya kepada orang pintar perihal jenis kelamin adik tirinya yang akan lahir. Jawaban dan pemberitahuan yang diterimanya bahwa adiknya adalah laki – laki. Dia teringat akan permintaan orang Batak perihal rumah; “Jabu sibaganding tua ima hatubuan ni anak dohot boru si boan tua”. Artinya “Rumah tempat berbagai macam tuah adalah tempat lahirnya putera dan puteri pembawa tuah”.

Kali ini RAJA PARSURATAN ingin memusnahkan rumah tempat tinggal ayahnya dan ibu tirinya. Dia sendiri telah mempunyai rumah setelah menikah dan pisah rumah dari orang tuanya (manjae). Dia hanya mempunyai seorang anak laki – laki dan dia merasa posisinya kelak terancam jika semakin banyak anak laki – laki yang dilahirkan ibu tirinya. Inilah yang membuat dirinya selalu ingin berbuat sesuatu untuk melenyapkan setiap bayi laki – laki dari ibu tirinya.

Waktunya tiba dan SOBOSIHON akan melahirkan bayinya. Para ibu bersama dukun beranak telah berkumpul dan memasuki rumah RAJA MARSUNDUNG. Dari kejauhan RAJA PARSURATAN mengamat – amati mereka. Setelah melihat mereka telah masuk ke rumah maka RAJA PARSURATAN membawa sulutan api. Dia membakar atap rumah dari bagian dapur. Api menyala dan semua ornag berhamburan keluar rumah termasuk SOBOSIHON. Dia panik sambil berteriak api..api..api..api.. Dia pun berpegangan pada batang bambu yang berada di pinggir pekarangan rumahnya.

Tidak lama kemudian, orang – orang berdatangan ke sana dan berusaha bergotong – royong memadamkan api. Perhatian orang teruju pada rumah yang mulai terbakar dan pada saat itu pula di bawah pohon bambu lahirlah anak kelima dari SOBOSIHON yang kemudian diberi nama RAJA HUTABULU karena bayi itu dilahirkan di bawah pohon bambu di kampungnya.

Walaupun selalu mendapat rintangan namun SOBOSIHON tetap tabah dalam setiap proses persalinannya karena RAJA MARSUNDUNG dan keluarga SOMBA DEBATA SIAHAAN terutama Boru LUBIS sangat memperhatikan dan mengasihinya.

Usia RAJA MARSUNDUNG kira – kira telah lebih delapan puluh tahun lalu dia meninggal dunia. Kepergian suaminya sangat membuat hati SOBOSIHON sedih sementara anak bungsu mereka masih menyusui dan keempat anaknya yang lain masih belum cukup dewasa.

Bagi suku Batak Toba anak tertua adalah pengganti ayah bagi adik – adiknya. Yang paling kehilangan sosok ayah hanya anak tertua. RAJA PARSURATAN menggantikan kedudukan ayahnya dalam segala hal penting dia menjadi kepala keluarga. Situasi ini dimanfaatkan RAJA PARSURATAN untuk menguasai semua aspek kehidupan ibu tiri dan adik – adiknya sehari – hari. Dia selalu bersikap diktator terhadap adiknya terutama yang laki – laki. Namun SOBOSIHON selalu mengingatkan anak – anaknya agar mereka selalu menghormati abang tirinya yang adalah pengganti ayah.

Setelah beberapa tahun ayahnya meninggal RAJA PARSURATAN memanfaatkan tenaga keenam orang adiknya dengan anak tunggal serta istrinya untuk mengusahakan semua kebun dan sawah peninggalan mendiang ayahnya dan dikelola seefektif mungkin. Perekonomian RAJA PARSURATAN pun meningkat. Dia kemudian membangun rumah ukir (ruma gorga).

Setelah bangunan induk selesai maka proses berikutnya dalam pembangunan rumah ukir tersebut adalah pembuatan ukiran. Untuk mengukir relif rumah pada masa itu lazim digunakan darah manusia sebagai campuran pewarna relif. Hal tersebut agar rumah itu mempunyai semangat atau ada keangkerannya. Mengingat RAJA PARSURATAN bukanlah seorang yang kuat dalam berperang maka tidak mungkin baginya mendapatkan darah manusia dengan cara berperang melawan negeri lain.

Timbullah niat jahat RAJA PARSURATAN terhadap saudara tirinya. Pada suatu sore dia meliahat kedua adik perempuannya tampak akrab sebab memang SIPAREME sudah gadis dan HAGOHAN NAINDO mulai remaja. RAJA PARSURATAN ingin membunuh adik tirinya untuk diambil darahnya sebagai campuran pewarna rumah ukirnya. Kedua adik perempuannnya ini sering sama – sama tidur dengan SOBOSIHON ibu mereka. Hampir setiap malam keduanya menganyam tikar (mangaletek) dan bila sudah larut mereka tidur tanpa menyalakan lampu. Sedangkan untuk menghindari gigitan nyamuk mereka menutup badannya dengan tikar (marbulusan). kebiasaan tidur marbulusan ini sampai sekarang masih dapat kita jumpai di beberapa daerah di Tapanuli Utara. Demikianlah tiap malam cara kedua gadis ini menghabiskan waktu.

Tentang rencana jahat RAJA PARSURATAN, untuk membedakan yang mana yang harus dibunuh maka kepada SIPAREME diberikan sebuah gelang yang terbuat dari gading. Konon gelang itu merupakan pusaka pemberian dari mendiang Boru HASIBUAN, ibu kandungnya RAJA PARSURATAN. Lalu SIPAREME pun memakai gelang itu. Melihat gelang yang sangat putih dan menyala dalam gelap, HAGOHAN NAINDO tertarik akan gelang itu. Dia meminjam dan kemudian memakainya. Seperti biasanya mereka menganyam tikar setelah malam tiba mereka tidur marbulusan dan gelang tadi masih di tangan HAGOHAN NAINDO.

Malam itu menjelang subuh datanglah pembunuh bayaran ke rumah RAJA PARSURATAN dengan membawa pisau. RAJA PARSURATAN berpesan pada pembunuh itu bahwa sekarang ada dua gadis yang tidur di rumah ayahnya dan gadis yang tidak memakai gelanglah yang harus dibunuh. Pembunuh itupun melaksanakan tugasnya kemudian SIPAREME dibunuh lalu darahnya ditampung dan diberikan kepada RAJA PARSURATAN. Sementara mayat SIPAREME dibuang ke lembah yang tak dapat dituruni yaitu yang sekarang terletak di lembah Sipintu Pintu (perbatasan antara Balige dengan Siborong Borong). Matahahari pun terbit dengan air mata dan tangisan HAGOHAN NAINDO karena kakaknya telah hilang.

Demikianlah rencana jahat RAJA PARSURATAN dimana dia hendak membunuh HAGOHAN NAINDO tetapi yang terbunuh adalah SIPAREME yaitu adik kandungnya satu – satunya.

Melihat tindak – tanduk anak tirinya SOBOSIHON selalu bersusah hati, apalagi setelah SIPAREME diketahui dibunuh dan darahnya dijadikan campuran pewarna ukiran rumah RAJA PARSURATAN. Hal ini membuat SOBOSIHON jatuh sakit hingga penyakitnya parah. Saat penyakitnya semakin memburuk, dia dikelilingi kelima anaknya, sedang RAJA PARSURATAN seperti biasanya pergi ke sawah. Saat itu SOBOSIHON berpesan;

- Ingat dan jangan lupakan apa yang telah dilakukan oleh abangmu RAJA PARSURATAN akan tetapi, jangan balaskan perbuatan jahatnya karena hanya MULA JADI NA BOLON (Tuhan) sajalah yang akan membalaskannya.
- RAJA PARSURATAN itu adalah abangmu sebagai ganti ayah bagimu, dimana dia duduk janganlah kamu menghampiri dan jika kamu sedang duduk di suatu tempat kalau dia datang tinggalkanlah dia, karena dia adalah ganti ayah bagimu yang harus kamu hormati.
- Jangan kamu menyusahkan hatinya walaupun dia menyusahkan kamu, bila kamu sedang menyalakan api di dapur rumahmu atau dimana saja lalu asapnya terhembus angin ke rumahnya atau ke arah di mana abangmu berada padamkanlah apimu itu supaya dia tidak mengeluarkan air mata karena asap apimu walaupun kamu harus terlambat menyiapkan masakanmu.
- Jangan bertengkar dengan abangmu, sebab itu apabila tanamanmu ada yang condong tumbuh mengarah ke pekarangan rumahnya seumpama tanaman pisangmu sedang tumbuh dan berjantung maka lebih baik tebang saja itu dari pada setelah buahnya ada lalu diambil oleh anaknya dan kamu tidak bisa menahan emosimu dan bertengkar.

Setelah menyampaikan pesannya SOBOSIHON menghembuskan nafas terkahir. Pesan inilah yang kemudian sampai saat ini terus mewarnai pola hidup dari keturunan RAJA MARDAUP, RAJA SITOMBUK dan RAJA HUTABULU dan pesan – pesan tersebut sangat dihargai dan dituruti oleh seluruh keturunan SIMANJUNTAK SI TOLU SADA INA.

Setelah beberapa tahun SOBOSIHON meninggal, keluarga SIMANJUNTAK tiga bersaudara satu ibu ini dilanda kesedihan karena SI BORU HAGOHAN NAINDO gadis yang rupawan ini meninggal dunia dengan cara yang menyedihkan.

Suatu hari pada musim panen RAJA PARSURATAN telah menyabit sawahnya dan padinya telah dikumpulkan di sawah hanya tinggal menunggu dibersihkan dari batangnya saja. Cara membersihkannya dengan menginjak – injak batang padi yang ada bagian bulirnya (mardege). Untuk mardege biasanya dilakukan secara bergotong – royong bersama para tetangga di waktu subuh supaya ketika matahari terbit dan panas menyengat padi yang sudah dilepas dari jeraminya tinggal dijemur dan pada sore hari padi tinggal dibersihkan dari sekam dengan bantuan angin (mamurpur).

Pada pagi yang naas itu RAJA PARSURATAN beserta beberapa orang berangkat ke sawah untuk mardege. Sebelum berangkat dia berpesan pada SI BORU HAGOHAN NAINDO agar menyiapkan makan siang dan membawanya ke sawah. Makan pagi telah dibawa istri RAJA PARSURATAN. Sebenarnya ini adalah rencana jahatnya terhadap adiknya. sebab sesungguhnya bekal makan pagi tidak jadi dibawa ke sawah.

Menjelang siang semua orang yang bergotong – royong bekerja di sawah sudah bersungut – sungut karena rasa lapar dan mereka berkata; “DImana adikmu yang akan membawakan makanan pagi ini, kenapa dia belum datang juga?”. Sebelumnya RAJA PARSURATAN mengatakan pada mereka bahwa dia sudah berpesan pada adiknya agar makan pagi dipersiapkan, namun sebenarnya tidak demikian.

Sekira pukul sebelas atau menjelang teriknya panas matahari (mareak hos ni ari) datanglah SI BORU HAGOHAN NAINDO dengan membawa makanan tetapi dia disambut dengan caci maku oleh semua orang. Lalu RAJA PARSURATAN mengambil hidangan yang dijunjung di atas kepala SI BORU HAGOHAN NAINDO dan langsung mencampakkan air panas ke wajahnya. SI BORU HAGOHAN NAINDO meraung – raung kesakitan wajahnya melepuh. Saat itu pula RAJA PARSURATAN mengambil jerami dan menutupi badan SI BORU HAGOHAN NAINDO lalu menyulut jerami itu dengan api sehingga SI BORU HAGOHAN NAINDO terbakar hidup – hidup.

Demikianlah SI BORU HAGOHAN NAINDO mati dalam rasa sakitnya yang tak terperikan. Setelah tak bernyawa dia ditanam tanpa sepengetahuan saudara – saudaranya. Namun, bagaimanapun setiap perbuatan busuk akan tercium juga baunya. Salah seorang yang mengetahui pembunuhan itu berpihak kepada keturunan SOBOSIHON dan menceritakannya pada mereka. Hal ini sering membuat puteri (boru) SIMANJUNTAK yang mengetahui kisah ini merasa sakit hati terhadap Parhorbo jolo hingga kini.

Kematian SI BORU HAGOHAN NAINDO membuat SI BORU NAOMPON trauma untuk menjalani hidup tinggal di Balige. Dia sering menangis mengingat tragedi maut yang dialami kedua kakaknya. Dia meminta pada ketiga saudaranya agar dia diantar ke daerah Si Raja Oloan ke rumah RAJA SI GODANG ULU SIHOTANG (Ompungnya). Hal ini membuat ketiga saudaranya terharu.

Muncul persoalan. Siapa yang akan memasak makanan dan mengurus rumah apabila SI BORU NAOMPON pergi? RAJA HUTABULU berkata pada abangnya; “Bukankah dulu abang RAJA MARDAUP telah ditunangkan dengan paribannya sejak lahir? Sekarang abang ambil saja dia menjadi pendamping abang secepatnya agar ada yang mengurus rumah dan memasak makanan untuk kita”.

Perkataan ini membuka jalan pikiran ketiga saudaranya dan sekaligus membuka jalan bagi SI BORU NAOMPON untuk dapat tinggal di kampung Ompugnya. Lalu mereka berangkat ke sana. Setelah SI BORU NAOMPON diantar kemudian ketiga bersaudara ini kembali ke Balige bersama pariban yang telah menjadi istri RAJA MARDAUP, yaitu Boru SIHOTANG cucu SI GODANG ULU yang kemudian melahirkan tiga orang anak laki – laki:
1. NA MORA TANO, kemudian menikah dengan Boru SIHOTANG.
2. NA MORA SENDE, kemudian menikah dengan Boru SIHOTANG.
3. TUAN SI BADOGIL, kemudian menikah dengan Boru SIAGIAN PARDOSI.

Demikianlah kisah pertunangan antara RAJA MARDAUP dengan paribannya yang sudah dipertunangkan dari lahir dan kemudian berakhir dengan pernikahan setelah mereka dewasa.
Suatu saat terdengar kabar bahwa di Laguboti ada seorang gadis cantik puteri dari RAJA ARUAN dan cucu dari PANGULU PONGGOK. Gadis ini sangat pintar menyanyi dan merdu suaranya. Mendengar kabar itu RAJA SITOMBUK yang pintar bermain seruling bambu dan menguasai hampir semua lagu yang populer pada zamannya, datang bertandang ke Laguboti.

Setibanya di sana dia kemudian meniup serulingnya. tanpa diketuk pintu rumah para gadis di Laguboti telah terbuka untuknya bahkan kadang – kadang mereka datang melihat permainan suling itu dari dekat. Pilihan si pemuda ganteng ini jatuh pada gadis tercantik dan yang pintar pula menyanyi. Setiap RAJA SITOMBUK bertandang ke Laguboti, kehadirannya ini selalu menjadi acara hiburan bagi muda – mudi setempat.

RAJA SITOMBUK menyampaikan maksudnya ingin mempersunting Boru ARUAN pada amang tuanya yaitu SOMBA DEBATA SIAHAAN dan juga RAJA MARDAUP abangnya. Sepeninggal mendiang SOBOSIHON, RAJA PARSURATAN sudah tidak perduli lagi terhadap keturunan SOBOSIHON.

Akhirnya pesta adat sepenuh pun (adat na gok) diadakan untuk memperistri Boru ARUAN. Dari pernikahan ini RAJA SITOMBUK memperoleh seorang anak laki – laki bernama RAJA MANGAMBIT TUA.
Puteri dari RAJA MARSUNDUNG yang hidup hanya SI BORU NAOMPON. Dia tinggal bersama ompungnya di Si Raja Oloan. Suatu kali pada musim panen RAJA MARDAUP dan RAJA SITOMBUK sepakat untuk mengutus RAJA HUTABULU berangkat ke rumah ompung mereka menjemput SI BORU NAOMPON menggunakan sampan kecil (solu pardengke).

Kemudian RAJA HUTABULU tiba di rumah ompungnya dengan selamat. Dia memberitahukan bahwa maksud dan tujuannya untuk menjemput SI BORU NAOMPON. Lalu SI BORU NAOMPON diberangkatkan oleh Tulang dan ompungnya dengan acara makan khusus disertai doa agar kiranya SI BORU NAOMPON segera menemukan jodoh (sirongkap ni tondi). Setelah itu berangkatlah mereka berdua menuju Balige.

Dalam perjalanan menggunakan sampan di danau Toba yang luas angin berhembus kencang. RAJA HUTABULU berusaha mengayuh dayungnya agar sampan bergerak menuju arah yang dikehendaki. Tiba – tiba dayungnya patah dan hanyut terbawa ombak. Dalam keadaan terombang – ambing sampan itu mengikuti arah angin dan untuk menenangkan keadaan SI BORU NAOMPON bernyanyi; “Ue..luahon ahu da parau, ulushon ahu da alogo manang tudiape taho, asalma tu topi tao”.

Mendengar ada suara wanita bernyanyi, seorang pemuda yang sedang berada di tengah danau Toba dekat bagian pantai Marom langsung mengayuh sampannya menuju sumber suara itu. Setelah mendekatkan sampannya dia melihat ada dua orang dalam sebuah sampan dan mereka tidak mempunyai dayung. Setelah mengetahui bahwa keduanya bersaudara maka pemuda itu (NA MORA JOBI SIRAIT) membawa mereka ke Marom dan beristirahat satu malam di sana.

Keesokan harinya dengan dayung baru serta dipandu NA MORA JOBI SIRAIT, mereka bertolak dari Marom menuju Balige. Inilah pertemuan antara SI BORU NAOMPON dengan NA MORA JOBI SIRAIT dan dengan senang NA MORA JOBI SIRAIT mengantar sampai ke Balige. Beberapa hari kemudian mereka berdua sepakat untuk menikah. NA MORA JOBI SIRAIT pun pulang dan memberitahukan hal itu pada orangtuanya yang sudah melihat kecantikan SI BORU NAOMPON. Dengan senang mereka setuju dan mendukung permintaan puteranya lalu berangkat melamar SI BORU NAOMPON.

RAJA PARSURATAN sudah semakin tua dan jika hendak pergi kemana – mana dia enggan pergi sendirian. Kadang – kadang dia membawa anak tunggalnya kalau bepergian tetapi sering juga bersama adik tirinya yang masih lajang yaitu RAJA HUTABULU. Suatu saat RAJA PARSURATAN pergi dan RAJA HUTABULU ikut serta sebagai pembawa kantongan (sitiop hajutna). Mereka berjalan mengikuti jalan setapak naik turun lembah. Ketika mereka berjalan di dataran tinggi Silangit tiba – tiba RAJA HUTABULU melihat segumpal benda jatuh dari atas dan dikerjarnya ke depan lalu ditangkap menggunakan ulos hande handenya kemudian dibungkusnya.

RAJA PARSURATAN melihat adiknya berlari dan berkata; “Adikku, benda apa yang tadi kamu tangkap?”. Sahut adiknya; “Abang yang kuhormati, aku belum tahu apa yang kutangkap dan bungkus ini, tetapi aku akan membukanya dan memberitahukan apa isi ulosku ini pada abang apabila kita sudah kembali ke kampung kita, asalkan abang berjanji akan membagikan harta peninggalan mendiang ayah kita”. Tanpa pikir panjang RAJA PARSURATAN pun setuju. Sebenanrnya RAJA MARDAUP dan RAJA SITOMBUK tidak pernah berani meminta bagian harta warisan pada abang mereka.

Setelah kembali ke kampung RAJA HUTABULU menceritakan pada kedua abangnya tentang apa yang dia katakan pada abangnya dalam perjalanan dan juga tentang janji abangnya yang akan membagi harta warisan.

Tibalah waktunya, tua – tua kampung diundang datang berkumpul menyaksikan pertemuan itu. RAJA HUTABULU menyatakan maksudnya pada kumpulan tua – tua itu (ria raja). “Karena ada sesuatu yang jatuh dari atas dan kutampung lalu kubungkus dengan ulos hande handeku dan ini terjadi dalam perjalanan aku dan abang yang kuhormati sewaktu di Silangit. Abang kami ini ingin mengetahui apa isi dari bungkusan ini yang aku sendiri juga belum tahu. Namun abang yang kuhormati ini telah berjanji akan memberikan bagian warisan peninggalan mendiang ayah kami apabila aku menunjukkan dan membagi benda yang akan kita lihat ini”. Perkataan tersebut dibenarkan oleh RAJA PARSURATAN dan disaksikan oleh semua orang yang berkumpul di halaman rumah RAJA MARSUNDUNG ayah mereka.

Maka dihadapan para tua – tua RAJA HUTABULU membuka bungkusan hande handenya itu dan tampaklah abu bekas sarang burung yang terbakar di dalamnya. Setelah RAJA PARSURATAN melihat dia mengatakan bahwa bukannya dia tidak mau membagi warisan dan kemudian dia berkata; “Tunggu kalianlah dapat dulu dua bulan”. Lalu kumpulan pun bubar dengan kesimpulan bahwa setelah dapat waktunya dua bulan baru akan ada pembagian warisan.

Dua bulan kemudian RAJA HUTABULU mengumpulkan tua – tua kampung untuk melakukan ria raja. Di hadapan ria raja RAJA PARSURATAN berkata pada adiknya; “Mana bulan yang sudah kamu dapat, sudahkah ada dua?”. Semua yang mendengarnya heran ternyata maksud dari ucapan RAJA PARSURATAN pada ria raja sebelumnya bukanlah mengenai tenggang waktu dua bulan, tetapi tentang mendapatkan dua buah bulan. Maka ria raja berakhir dengan mengecewakan pihak tiga bersaudara seibu.

Dua minggu kemudian malam harinya ketika posisi bulan persis berada di atas di langit, pergilah RAJA HUTABULU ke sumur tempat dimana dulu mendiang ayahnya biasa mandi. Dia menatap ke permukaan air dalam sumur dan melihat bayangan bulan di situ. Segera dia bergegas menjumpai kedua abangnya dan mengatakan bahwa dia baru saja menemukan dua buah bulan.

Dengan rasa was – was kedua abangnya dan RAJA HUTABULU kembali mengundang tua – tua kampung. Setelah semuanya hadir termasuk RAJA PARSURATAN lalu RAJA HUTABULU berdiri dan berkata; “Amang raja na liat na lalo, lumobi di ho angkang raja na malo, didokhon ho dung dapot dua bulan asa lehononmu parbagianan sian na pinungka ni amanta na hinan. On pe saonari ba nunga dapothu be alus ni hatami raja bolon. Betama hita tu parmualan paridian ni amnta an”. Artinya; “Bapak – bapak sekalian kumpulan yang terhormat, amat terlebih abang yang kuhormati, kamu berkata setelah dapat dua buah bulan barulah kamu memberikan warisan dari mendiang ayah kita dan kini aku sudah menemukannya. Marilah kita bersama – sama pergi ke sumur tempat madi ayah.

Seluruh yang hadir di situ berjalan menuju sumur. Setibanya di sana RAJA HUTABULU menunjuk ke permukaan air di dalam sumur dan terlihat ada bayangan bulan di situ, kemudian dia menunjuk ke arah atas dimana juga terlihat ada bulan. Akhirnya RAJA PARSURATAN tidak dapat lagi mengelak dan dilakukanlah pembagian warisan setelah mereka kembali ke halaman rumah.

Lalu kemudian RAJA PARSURATAN berkata; “Sekarang di hadapan tua – tua aku akan membagi warisan peninggalan orang tua kita”. Beginilah pembagiannya:
1. Mengenai sawah, karena aku adalah anak dari istri pertama ayah, maka tanah persawahan yang pertama dialiri air adalah milikku dan karena ibu kita dua orang, maka tanah akan dibagi dua luasnya.
2. Mengenai semua kerbau milik mendiang ayah kita, karena aku adalah anak dari istri pertama ayah, maka paha depan (parjolo) setiap kerbau merupakan bagianku, sedangkan paha belakang adalah bagian kamu bertiga anak istri ayah yang kemudian (parpudi).

Pembagian warisan itu ditetapkan di hadapan tua – tua kampung dan tidak ada seorang pun yang berbicara menentang pembagian itu.

Narator sendiri yang adalah keturunan SIMANJUNTAK SI TOLU SADA INA sudah melihat langsung lokasi sawah warisan dari RAJA MARSUNDUNG yang dibagi dua itu. Kenyataannya setelah diamati; sawah di kampung Parsuratan terletak di hulu Aek Bolon yang mengairi persawahan di daerah itu, sedangkan sawah di kampung HUTABULU berada di hilir. Sekiranya musim kemarau melanda, maka kampung Parsuratanlah yang terlebih dahulu menikmati air setelah air dipakai baru kemudian dialirkan ke hilir.

Mengenai pembagian warisan ternak, di kalangan masyarakat Batak Toba bila hendak membagi ternak berkaki empat, maka ternak itu dibagi dua dan selalu dibagi menjadi sebelah – sebelah (sambariba). Namun RAJA PARSURATAN membagi dengan cara lembu dibagi berdasarkan paha depan (parjolo) dan paha belakang (parpudi). Hal ini sangat aneh dan dibalik keanehan itu sebenarnya RAJA PARSURATAN telah mengantisipasi ke depan supaya hanya dia yang selalu memanfaatkan tenaga kerbau untuk membajak sawah dan menarik pedati makanya dia membagi dengan cara yang demikian. Jadi karna hanya satu – satunya peristiwa pembagian kerbau yang demikian anehnya, maka orang kebanyakan sejak saat itu mengejek dengan sebutan ‘Parhorbo jolo’ terhadap RAJA PARSURATAN dan keturunannya. Sedangkan kepada ketiga bersaudara seibu orang menyebut mereka dengan ‘Parhorbo pudi’.

Bagi para pembaca yang bermarga atau boru SIMANJUNTAK narator mengajak dan berpesan bila kita ditanya; “SIMANJUNTAK mana kamu?” sebaiknya kita jawab “SIMANJUNTAK PARSURATAN” atau “SIMANJUNTAK SI TOLU SADA INA” sebab istilah ‘Parhorbo jolo’ dan ‘Parhorbo pudi’ merupakan ejekan orang Batak Toba tempo dulu terhadap pembagian warisan ternak kerbau kita. Ejekan itu berkembang dan kini dianggap sebagai suatu istilah di kalangan orang Batak Toba padahal bagi kita keturunan SIMANJUNTAK RAJA MARSUNDUNG sudah tidak ada lagi kerbau kita, kan?
Sebelumnya telah diceritakan bahwa RAJA HUTABULU sejak remaja sampai menjadi seorang pemuda sering berkunjung ke daerah Si Raja Oloan ke rumah Ompungnya (SI GODANG ULU SIHOTANG) baik itu karna mengantar jemput itonya (SI BORU NAOMPON) maupun hanya sekedar bertandang ke sana.

Suatu ketika dia melihat seorang Boru Tulang yang sangat cantik dan boleh dikatakan gadis tercantik di seluruh daerah Si Raja Oloan. Kemudian karena RAJA HUTABULU memang seorang pemuda pintar (simak kisah bagaimana ketika dia menghadapi abang tirinya, dia selalu tampil piawai dalam pemikiran dan pembicaraan) dan hal ini terdengar sampai ke daerah Si Raja Oloan. Boru Tulangnya tadi sudah pernah berkunjung ke Balige, yaitu ke tempat amang borunya (ayahnya RAJA HUTABULU). Jadi merupakan pilihan yang tepat jika RAJA HUTABULU mempersunting paribannya itu menjadi istrinya.
Suatu saat sewaktu suami istri RAJA HUTABULU dan Boru SIHOTANG duduk – duduk di depan rumahnya, melintaslah seorang yang buruk rupa dan Boru SIHOTANG menyeletuk; “Jelek sekali orang ini seperti beruk aku lihat” (versi Toba; “Roa nai jolma on songon bodat huida”). Perkataan itu kedengaran oleh orang tadi dan dia membalas; “Aku kamu bilang seperti beruk? Biarlah lahir anakmu yang seperti beruk!” (versi Toba; “Ahu didok ho songon bodat? Ba sai tubuma anakmu na songon bodat!”). Pada saat itu Boru SIHOTANG sedang mengandung anak pertamanya dan perkataan orang tadi selalu mengiangiang di telinganya.

Pada waktu akan melahirkan Boru SIHOTANG Na Uli pernah bermimpi ada seorang tua datang padanya dan mengatakan bahwa yang akan lahir darinya adalah bayi laki – laki yang memiliki kesaktian sebab itu tidak perlu kuatir atau kecewa apabila nantinya ada yang agak berbeda pada tubuhnya. Mimpinya ini diberitahukan pada suaminya dan mereka berdua merasa was – was menantikan kelahiran anak pertama mereka.

Tibalah harinya, setelah bersalin diketahui bahwa sang bayi memiliki bentuk tulang punggung lebih panjang sekitar satu jari telunjuk dari bokongnya tampak seperti ekor yang pendek. Dan saat itu RAJA HUTABULU melirik keluar jendela rumahnya, tampak ada seorang tua berdiri di halaman rumahnya dan berkata; “Hei bapak, jangan bersusah hati karena anakmu itu adalah seorang anak sakti” (versi Toba; “He amang, unang ho marsak alana anakmi nahasaktian”). Setelah berkata demikian orang itu berubah menjadi londok dan langsung memanjat pohon enau kemudian hilang di antara pelepah enau. RAJA HUTABULU spontan berteriak; “Raja Hodong..Raja Hodong..Raja Odong..” (versi Toba; “Raja Pelepah..Raja Pelepah..Raja Pelepah..”). Setelah peristia itu bayi pertama itu pun diberi nama SI RAJA ODONG. Secara fisik SI RAJA ODONG sangat tampan rupanya sebab ibunya cantik dan ayahnya tampan dan gagah.

SI RAJA ODONG makin bertambah besar dan pada waktu dia belajar duduk ayahnya membuatkan bangku pendek yang ditengahnya dilubangi tempat tulang SI RAJA ODONG yang seperti ekor itu. Tidak banyak orang yang mengetahui keanehan ini karena masa itu belum ada celana. Pakaian orang Batak adalah ulos yang dililitkan menutupi badan yang disebut heba heba.

Menurut penyelidikan antropologi budaya Batak Toba, maka sejak keberadaannya orang Batak tidak pernah bertelanjang karena ulos Batak sama usianya sejak adanya SI RAJA BATAK (orang Batak pertama). Sebelum Belanda datang ke tanah Batak, maka ulos Batak dipakai sehari – hari sebagai berikut:
- Ulos yang menutupi badan disebut heba heba.
- Ulos yang menutupi bahu ke bawah disebut hande hande yang juga sering disandangkan di bahu.
- Ulos penutup kepala disebut saong saong dan bila diikatkan di kepala maka disebut bulang bulang atau tali tali.

Tingkat budaya berpakaian pada masa itu membuat SI RAJA ODONG tidak merasa asing atau minder jika bersosialisasi dengan orang lain. Hanya keluarga dekat saja yang mengetahui kelebihan SI RAJA ODONG ini.

Setelah beberapa tahun kemudian istri RAJA HUTABULU kembali mengandung dan selama mengandung dia selalu memohon tuah agar MULA JADI NA BOLON (Tuhan) memberikan seorang anak laki – laki lagi tetapi yang tidak mempunyai keanehan. Doanya pun terkabul dan lahirlah seorang anak laki – laki yang rupanya sama persis seperti abangnya. Bahkan setelah dewasa kedua anak RAJA HUTABULU ini sama besarnya dan banyak orang menyangka keduanya adalah saudara kembar. Begitu lahir dan ternyata bayinya laki – laki maka dia diberi nama TUMONGGO TUA yang bila diartikan ke dalam bahasa Indonesia artinya ‘memohon tuah melalui doa’.

Setelah kedua anak ini semakin dewasa mereka kelihatan tampan dan gagah melebihi ayah mereka. Banyak gadis yang tertarik dan jatuh cinta pada mereka. Tetapi apabila berkenalan lebih jauh dengan keduanya maka akan diketahui bahwa SI RAJA ODONG memiliki perbedaan dengan adiknya.
Setelah sekian lama saling mencinta dengan Boru SIHOTANG paribannya, TUMONGGO TUA ingin segera menikah. Namun orang tuanya menganjurkan kalau dia boleh menikah setelah abangnya menikah. Satu – satunya cara agar TUMONGGO TUA dapat segera menikah adalah dengan mencarikan seorang calon istri bagi abangnya. Lalu berangkatlah TUMONGGO TUA dengan sampan ke pulau Samosir. Di sana konon banyak gadis yang sampai berumur tua belum menikah karena ketatnya hukum bersaudara. Bagi kesatuan marga keturunan NAIAMBATON yang banyak bermukim di Samosir sampai sekarang masih tetap mempertahankan tradisi tidak boleh saling menikah antar sesama keturunan marga – marga NAIAMBATON.

Selama di atas sampan dalam perjalanannya TUMONGGO TUA selalu memohon kepada MULA JADI NA BOLON supaya dia bertemu dengan seorang gadis cantik untuk dilamar menjadi kakak ipar (angkang boru). Ketika berada di tengah danau Toba tiba – tiba angin bertiup kencang sekali (alogo lubis) dan menghantam sampannya hingga sampannya hancur. Dia mencoba sekuat tenaga berenang mencapai daratan dan berhasil. Setelah berada di tepi danau Toba dia tak sadarkan diri dan pingsan.

Ombak berdebur laksana irama musik yang menyambut kedatangan TUMONGGO TUA di situ di daerah Lontung, yaitu di Muara (sekarang persis di tempat pemandian Puteri RAJA SIANTURI). Dia terbaring hingga sore hari dia ditemukan oleh SI BORU ULI BASA Boru SIANTURI yang hendak mengambil kain cucian yang dijemur di tepi danau. Setelah melihat pemuda tampan itu BORU ULI BASA berkata; “Kalau kamu memang manusia, siapakah namamu? Kalau kamu seorang yang memiliki kesaktian maafkan aku tidak bermaksud menggangumu, tetapi kalau kamu manusia aku mau mendampingimu seandainya kamu membawaku pergi bersamamu dan aku menjadi istrimu” (versi Toba; “Molo na jolma do ho paboa ise goarmu. Molo na martua – tua do ho unangma muruk ho tu ahu ala ndang na manggugai ho ahu, alai molo jolma do ho olo do ahu mandongani ho aut tung olo ho mamboan ahu tu hutam gabe inantam”).

Samar – samar perkataan itu didengar oleh TUMONGGO TUA yang mulai siuman. Lalu dia mulai membuka matanya perlahan dan melihat ada seorang gadis cantik jelita di sebelahnya. Dia langsung mengucek matanya seakan tidak percaya akan apa yang dilihatnya kemudian dengan suara pelan dia berkata; “Apakah ini mimpi aku berada di sebelah puteri yang cantik. Sekiranya bukan mimpi apa gadis ini mau kalau aku membawanya menjadi menantu orang tuaku? (versi Toba; “Na marnipi do ahu nuaeng di lambung ni si boru na uli basa? Aut sura na so marnipi do ahu oloma nian boanonhu gabe parumaen ni damang dohot dainang”).

Mendengar ucapan itu BORU ULI BASA langsung memegang tangan TUMONGGO TUA lalu membangunkannya dan menuntun dia berjalan menuju rumah orang tua BORU ULI BASA sebab hari sudah sore. Sesampainya di rumah, keluarga BORU ULI BASA bergembira kedatangan tamu seorang pemuda yang tampan dan gagah. Dalam percakapan dengan orang tua BORU ULI BASA, TUMONGGO TUA memperkenalkan diri dan menjelaskan bahwa dia adalah cucu RAJA MARSUNDUNG SIMANJUNTAK dan anak RAJA HUTABULU dari Balige. Dia juga menjelaskan bagaimana dia bisa ada di sana dan apa maksud dari perjalanan jauhnya itu. Mendengar penjelasan itu BORU ULI BASA merasa gembira dalam hatinya dia terpikat akan ketampanan TUMONGGO TUA.

Setelah beberapa hari tinggal di daerah Lontung tejadi pembicaraan antara TUMONGGO TUA dan BORU ULI BASA yang intinya tentang kesediaan BORU ULI BASA agar menjadi menantu bagi orang tua TUMONGGO TUA. Jawaban dari BORU ULI BASA sangat jelas, yaitu dia mau dan bersedia. Akan tetapi sebaliknya apabila TUMONGGO TUA mendapat pertanyaan yang sama dia tidak menjawab secara jelas bersedia namun dia menjawab pertanyaan itu dengan perkataan; “Tatap wajahku dan perhatikanlah langkahku serta ketahuilah maksud kedatanganku” (versi Toba; “Berengma bohiku jala parateatehonma pardalanhu huhut antusima sangkap ni haroroku”).

BORU ULI BASA memang calon menantu RAJA HUTABULU tetapi bukan untuk menjadi istri bagi TUMONGGO TUA. Memang RAJA ODONG dan TUMONGGO TUA sangat mirip seperti saudara kembar disegala – galanya baik dilihat dari rupa, cara berjalan bahkan juga cara berbicara dan dari suara semuanya sama. Sangat sulit membedakan keduanya kecuali ini; RAJA ODONG memiliki kelebihan tulang belakang sepanjang jari telunjuk. Perbedaan mereka ini dirahasiakan TUMONGGO TUA demi harapan dia bisa direstui menikah setelah abangnya menikah.

Setelah berjanji bahwa mereka akan kembali bertemu, TUMONGGO TUA pamit dengan keluarga BORU ULI BASA untuk pulang ke Balige dan nanti dia akan kembali datang bersama orang tuanya melamar BORU ULI BASA.

Setibanya di Balige TUMONGGO TUA menceritakan perjalanannya kepada abang dan orang tuanya. Kemudian mereka menyusun rencana:

- TUMONGGO TUA dan orang tuanya segera melamar puteri RAJA SILALA LASIAK yaitu BORU ULI BASA dan selama mereka di sana sepanjang pembicaraan tidak boleh memanggil TUMONGGO TUA dengan namanya tetapi dengan nama SIMANJUNTAK.

- Pesta pernikahan diadakan di rumah pihak pengantin wanita (dialap jual) dan yang mendampingi BORU ULI BASA dalam acara adat sepenuh itu (ulaon na gok) adalah TUMONGGO TUA hingga dalam perjalanan di danau Toba sampai Balige. Bila sudah tiba di dermaga maka TUMONGGO TUA turun dari perahu besar (solu bolon) dan mengikatkan tali perahu di dermaga. Bersamaan dengan itu RAJA ODONG sudah siap dan sesuai tanda RAJA ODONG langsung menggantikan posisi adiknya naik ke perahu untuk menuntun BORU ULI BASA dan seterusnya mendampinginya menjadi suami bagi BORU ULI BASA.

- Pakaian yang dikenakan kedua abang beradik ini harus dibuat sama persis. Setelah mengikatkan tali perahu di dermaga maka TUMONGGO TUA harus menghilang untuk sementara waktu dan pergi ke daerah Si Raja Oloan dan tinggal di sana di rumah Tulangnya sampai BORU ULI BASA melahirkan anak pertamanya bagi RAJA ODONG.

Setelah rencana itu disepakati maka ditentukanlah kapan mereka akan berangkat. Rencana pun dilaksanakan dan pesta pernikahan meriah di daerah Muara berlangsung mulus sesuai rencana. Setelah itu mereka bertolak pulang menuju Balige melalui danau Toba. Sesampainya di dermaga di Balige yaitu tepatnya di Lumban Bul Bul sekira jam tujuh malam dan keadaan seperti ini dalam bahasa Batak Toba disebut urngum (jarak pandang mata tidak lagi memungkinkan melihat orang di kejauhan).

Di dermaga RAJA ODONG telah menunggu kedatangan rombongan keluarganya bersama BORU ULI BASA. Setelah perahu besar itu tiba dan merapat ke dermaga, turunlah TUMONGGO TUA untuk mengikatkan tali perahu lalu langsung pergi menghilang di kegelapan dan kemudian RAJA ODONG langsung naik ke perahu menjemput BORU ULI BASA serta berjalan berdampingan sampai ke rumah RAJA HUTABULU. Malam itu diadakan acara penyambutan (pangharoanion). Mulai saat itu RAJA ODONG yang mendampingi BORU ULI BASA, sedangkan adiknya sudah pergi sesuai rencana ke rumah Tulangnya.

Begitulah kisah pernikahan RAJA ODONG dengan BORU ULI BASA Boru SIANTURI sehingga ada sindiran seperti ini:

“Si RAJA ODONG papiu piu tali, tali ijuk sian bagot. Anggina manandangi, alai ibana diharoani jala mandapot”

Pekerjaan sehari – hari RAJA ODONG adalah memintal tali yang dibuat dari ijuk pohon enau. Konon pada masa itu, tali buatan RAJA ODONG ini paling baik kualitasnya dan harga jualnya tinggi di pasar Balige dan Laguboti bahkan sampai ke Porsea dan Siborong Borong. RAJA ODONG selalu duduk di bangku khusus yang berlubang di tengahnya dan kemanapun dia pergi bangku itu selalu dibawanya.

Sejak menikah dengan RAJA ODONG, BORU ULI BASA tidak pernah bekerja di sawah. Pekerjaannya adalah menggembalakan kambing. Ternak kambingnya gemuk – gemuk dan jika beranak sering sampai tiga atau empat sehingga keluarga RAJA ODONG memiliki banyak sekali ternak kambing.

Kemudian bayi pertama lahir bagi keluarga RAJA ODONG dan anak pertama mereka ini diberi nama RAJA BOLAK HAMBING atau RAJA PARHAMBING. Demikianlah seterusnya mereka dikaruniai tujuh orang anak laki – laki:
1. RAJA BOLAK HAMBING (RAJA PARHAMBING)
2. TUAN NAHODA RAJA
3. MAHARIA RAJA (MANGORONG BAHUT)
4. RAJA MARLEANG (MARLEANG BOSI)
5. RAJA MANORHAP (RAJA SITUNGGAL)
6. RAJA MAEGA gelar Ompu TOGA OLOAN
7, DINGKIR ULUBALANG gelar PARTAHI OLOAN (DATU MAEGA)

Namun sampai sekarang baru keturunan RAJA PARHAMBING dan TUAN NAHODA RAJA saja yang sudah mengetahui bahwa mereka adalah keturunan dari RAJA ODONG.

Tentang TUMONGGO TUA, setelah berita kelahiran anak pertama RAJA ODONG abangnya sampai kepadanya, betapa bahagianya dia dan paribannya. Lalu setelah mendengar kabar baik itu mereka berdua datang berkunjung ke Balige dan memastikan bahwa rombongan RAJA HUTABULU akan pergi melamar Boru SIHOTANG (pariban TUMONGGO TUA tersebut).

SUmber: Dari berbagai sumber

About these ads

93 Comments

  1. Posted Mei 11, 2008 at 2:03 am | Permalink

    makasih sudah menceritakan kembali tentang tarombo simanjuntak di web ini

    Horas

  2. Posted Agustus 7, 2008 at 12:19 pm | Permalink

    Cobalah menelusuri sejarah simanjuntakdari dua sisi simandjuntak, soalnya dikatakan kelakuakan raja parsuratan yang buruk.Namun menurut vrsi lain yang pernah saya baca dikatakan kelilicikan ketiga saudara tirinya.
    Btw maybe kau dari sitolu sada ini so cerita berpihak sebelah, anyway kalau saat ini aku menekankan kalau ditanya simandjuntak mana?

    Dengan mantap kujawab : SIMANDJUNTAK MODERN yang tak mau seperti katak dalam tempurung,

  3. Ninna Hita
    Posted Agustus 30, 2008 at 10:01 am | Permalink

    ribet nee, blm jelas aku.
    Aniwei, Thanks yahh atas infonya
    n aku mau print dulu….
    GBU All 8-)

  4. nova rianti
    Posted Januari 13, 2009 at 3:16 pm | Permalink

    pusing..terharu..

  5. nova rianti
    Posted Januari 13, 2009 at 3:22 pm | Permalink

    tx’s a lot ya..aku baru tau silsilah simanjuntak…soalnya bapa ga cerita detailnya,cuma setengah2 ceritanya.hehe…
    wowww…kayanya bisa dibuat film soalnya ceritanya bagus,tegang,ada hikmahnya..
    btw cuma sampai disitu aja ceritanya??…

  6. Posted Januari 13, 2009 at 6:47 pm | Permalink

    pro: nova rianti

    aku dukung ito untuk membuat film ini khususnya dan film film turi turian batak umumnya

  7. jenni R. P.
    Posted Januari 27, 2009 at 4:57 pm | Permalink

    Asyik juga baca kisah Simanjuntak, baru tau sekarang, kenapa simanjuntak sangat dekat dengan Sihotang sigodang ulu, dan sebaliknya.

    Aku pernah nanya ama mamaku (kebetulan mamaku br Sihotang sigodang ulu), kenapa Simanjuntak dan Sihotang akrab, jawabnya kurang detail seperti di atas.

  8. Simanjuntak 13 P
    Posted Februari 25, 2009 at 10:49 am | Permalink

    ceritanya bagus…, tapi ingat semua berasal dari satu daging…lihat semua dari segi positifnya saja…

    setuju bos

  9. n. simanjuntak
    Posted Maret 7, 2009 at 10:45 am | Permalink

    gila saya pernah ngalamin hal yang gak enak, gila kali ya dendam mereka dulunya, sampai saya kena batunya

  10. n. simanjuntak
    Posted Maret 7, 2009 at 11:16 am | Permalink

    dulu waktu kelas 1 sma, pernah ketemu s. parsuratan, stelah knalan dia bilang ah.. na jolo do i, nuaeng ndang adong be i. tapi sumpah petir sambut menyambut disertai hujan yang sangat deras, saya jadi merinding ketakutan setengah mati,

  11. frengki simanjuntak
    Posted Maret 12, 2009 at 4:54 pm | Permalink

    saya jd tau cerita sejarah simanjuntak ini scara lengkap,apa lg kalo dibuat filmnya pasti seru..

  12. frengki simanjuntak
    Posted Maret 12, 2009 at 5:01 pm | Permalink

    horass…
    ternyata marga simanjuntak bnyk komunitas yaa..
    seneng bgt deh klo bs ikutan..
    coz slama ini saya kpingin tau bnyk hal ttg simanjuntak

    saya simanjuntak mardaup no.16

  13. herwist simanjuntak
    Posted Maret 12, 2009 at 9:11 pm | Permalink

    kalau boleh, tolong di tampilkan struktur pengurus PSSSI, atau bolehkan saya dikirim lewat email? terima kasih

  14. Posted Maret 20, 2009 at 12:59 am | Permalink

    Hari ini eli sama mama baru baca situs ni sneng deh,bangga
    HIDUP SIMANJUNTAK SITOLU SADA INA
    mama titip salam buat Simanjuntak Hutabulu yg mo Pesta tgl 29 ni moga sukses ya

  15. rio.stak
    Posted April 12, 2009 at 3:07 am | Permalink

    horas……mardaup no15 nee.mauliate dihamu taringot sejarah ni simanjuntak on.horas dihamu tulang nami sihotang, horas psssi. btw ada ga komunitas muda/i psssi di jabodetabek.tolong dikirim dong.salam buat mereka.horas.mauliate.

  16. franky simanjuntak
    Posted April 12, 2009 at 11:37 am | Permalink

    kalo bisa dilampirkan tarombo simanjuntak sitolu sada ina . mardaub no 15

  17. Erpesim
    Posted Mei 4, 2009 at 5:10 pm | Permalink

    Terimakasih untuk cerita ini.Saya kira semua kita sdh dapat memetik nilai luhur yang dikandung darinya.Sebagai Mardaup 15,saya seperti mendapat kilas balik eksistensi diriku sapa sebenarnya.Tanpa adanya pretensi negatif,Saya bersyukur kepada Tuhan kalo bisa mengetahui versi keberadaan leluhurku Simanjuntak.Suka duka dan derita yang tersurat maupun tersirat dalam cerita ini adalah pesan2 yg harus kita sikapi secara dewasa dan berdasarkan Kasih Kristus.Sekali lagi Terimakasih buat penulis atas jerih payahnya.Mohon ijin untuk mengunduh cerita iniuntuk bahan cerita di punguan dan keluarga.Horas & Syaloom.

  18. Posted Mei 5, 2009 at 9:45 am | Permalink

    salam kenal dari simanjuntak par medan, maju terus, GBU

  19. Posted Mei 22, 2009 at 2:11 pm | Permalink

    Thx utk infonya ini, aku Simanjuntak Hutabulu No. 17. Memang kisah ini sudah turun-temurun kudengar dari kecil. Aku pernah mangalami hal yg tidak masuk akal ini, aku dalam perjalanan dari Jkt-Mdn dengan Bus, dimana seharusnya tiba 2 mlm – 3hari… eh malah jadi 7hr – 7mlm. dikarenakan terjadi bbrp kerusakan terhadap bus yg kami naiki, akhirnya Kondektur Bis berteriak apakah ada Simanjuntak Pudi dan Jolo diantara penumpang, sungguh tak disangka seorang ibu-ibu berdiri dan mengaku dari Parsuratan, dan spontan saya berdiri pula mengaku dari Hutabulu. Kami sepakat turun bersama di Sibolga, pada dasarnya kami tidak bermasalah dan kami sempat makan bersama dan bercanda, kami menganggap ini cerita masa lalu, tetapi mengapa hal ini berakibat terhadap org lain pula. Akhirnya kami bersalaman dan menaiki Bis yg berbeda ke Medan.

    Setelah kejadian itu, saya pernah bbrp kali bertemu dengan Pihak Parsuratan, aku cukup menyampaikan : “yg pasti itu cerita dulu, hanya jangan sampai kejadian buruk menimpa org lain karena kita, begitulah Bang/Ito (Parsuratan)” dan saya tidak pernah mengalami hal seperti itu lagi.

    Jangan hal ini dijadikan suatu alat untuk saling menghina, tetapi cerita ini merupakan sebuah peringatan dari Nenek Moyang kita untuk lebih saling menghargai.

    GBU

  20. Tunggal Sijabat
    Posted Juni 30, 2009 at 11:25 pm | Permalink

    Sebagian Tangiang Hatopan yang mengatakan :”….. sesa ma dosangku songon panesangku di dosa ni dongan na mardosa tu ahu”.Tentu sepanjang sesama Simanjuntak Parsuratan (Anak Op. Marsundung dari isterinya br. Hasibuan) dan Simanjuntak Sitolu Sada Ina (Anak Op.Marsundung dari isterinya br. Sihotang)tidak saling memaafkan dan tidak bersatu, apakah Tuhan menghapus dosa mereka dan akan masuk Sorga? Apakah tidak ada lagi upaya membuat Tugu Op. Marsundung di dampingi bersama dalam tambak yang sama dengan ke dua isterinya. Apakah Simanjuntak selamanya akan seperti sekarang ini, sehingga ada Simanjuntak Parsuratan bilang ia bukan lagi Simanjuntak, tapi Hutagaol.

  21. cornelius simanjunta
    Posted Agustus 27, 2009 at 8:21 am | Permalink

    mantaps….tapi tentang mardaup sama sitombuk kurang lengkap..ga sampai ke anak2nya….kaya hutabulu…..:-)

  22. ANGGIAT SIMANJUNTAK
    Posted Oktober 4, 2009 at 3:08 pm | Permalink

    Terima Kasih atas Informasi ttg marga Simanjuntak,tapi klo bisa bentul lagi PUNGUAN TUAN SOMANIMBIL,
    AKU DARI ALUMNI HUKUM UNIVERSITAS HKBP NOMENSEN,SIMANJUNTAK SITOMBUK,ALAMAT JALAN KEMIRI N0 23A PEMATANG SIANTAR (HP 081264230128),AKU MEMOHON PADA OPPUNG SIHOTANG APARA,ITO,NAMBORU,BAPA TUA,BAPA UDA DAN SEGENAP MARGA SIMANJUNTAK,AGAR MEMBANTU PARA APARA SIAHAAN DAN HUTAGAOL MEMBENTUK PUNGUAN TUAN SOMANIMBIL,JUJUR AKU SUDAH BENTUK DI NOMENSEN DGN IKATAN MAHASISWA NYA,AKU AKUI SEMUA BERJALAN DGN LANCAR SEHIUNGGA KAMI BS MERAYAKAN HARI KELAHIRAN TUHAN YESUS(NATAL) JD AKU BERHARAP PUNGUAN TUAN SOMANIMBIL DAPAT TERBENTUK DGHN PESAT DAN KEMBANG,AGAR DAPAT MEMBANTU APARA KITA SATU MARGA DAPAT MEMBERIKAN LOWONGAN KERJA,TOLONG BANTU KAMI APARA DAN SEGENAP PUNGUAN MARGA SIMANJUNTAK DAPAT MEMBERIKAN INFORMASI KPADA SAYA AGAR MENDAPATKAN PEKERJAAN,SAYA UCAPKAN TERIMA KASIH,HANYA PADA KELUARGALAH AKU MENGADUKAN KELUH KESAH KU.
    HIDUP SIMANJUNTAK PASTI TETAP JAYA??????

  23. leo jtk
    Posted Oktober 22, 2009 at 8:14 am | Permalink

    Mauliate ma, jadi tambah ilmu dan pengetahuan kami yang muda-muda ini tentang sejarah margaku…
    aku bangga lahir dari suku batak dan bermarga simanjuntak HUTABULU 16, apalagi sejarahnya setelah kubaca khususnya tentang Hutabulu…ternyata adalah anak yang tampan,baik,bijaksana,sangat pintar dan bijaksana…senang juga bacanya….tapi kalo sempat Hutabulu sejarahnya orang yang jahat hancurrrrr….hatiku.
    Salam…..horas

  24. santo simanjuntak
    Posted Oktober 24, 2009 at 5:23 pm | Permalink

    mauliate ma, di hita angka pinompar ni si Raja Marsundung Simanjuntak

  25. RBP Simanjuntak
    Posted November 1, 2009 at 8:09 pm | Permalink

    Terimakasih atas informasi ini.. Sebuah history yang tidak bisa kita lupakan sebagai generasi muda Simanjuntak Sitolu Sada Ina..

  26. fernando simanjuntak
    Posted Desember 17, 2009 at 2:59 pm | Permalink

    saya fernando simajuntak horbo jolo no 15 parsuratan, saya berharap kepada horbo pudi yang masih primitif dan jaga jarak dengan parsuratan kiranya bertobat. atau saya siap dibarisan terdepan untuk hal yang terburuk pun

  27. Posted Maret 7, 2010 at 5:30 pm | Permalink

    Horas di hita sudena. Parjolo hian mansai las do roha ai nunga diparade hamu sijahaon di hita aha na ringkot taringot tu paradatan tarlumobi Simanjuntak sapomparan Raja Marsundung.

    Jadi sada do na naeng hupatingkos, unang lupa hita di sejarah suang songon ima unang nian gabe ndang jelas sumber sejarah na diparade sian ‘Sejarah Simanjuntak’ on alana sudena i ingkon tiur do songon tiur ni sejarah bangsonta asa unang didok halak hita holan hata-hata. Molo adong sejarah, ingkon suraton do nara sumber na manang bahen hamu sian dia dapot muna teks on. Molo ro sungkun-sungkun:

    “Sian dia diboto hamu cerita/sejarah on?”, “Ise do na mandok jala ise pihak na mangojakhon sejarah Simanjuntak on?”, “Ai godangdo saonari sejarah na holan nina tu nina hape saluhut portibi boi mangakses situs on”

    Jadi, sahali nai ndang na mangajari hita ahu di son alai asa jelasna sebagai pahompu sian nara sumber jala na pertama mambahen posting Hikayat marga Simanjuntak di friendster.com (Simanjuntak Raja Marsundung) ia ima na disurathon hamu gabe ‘sejarah Simanjuntak’ dison mandok asa pature hamuma teks on jala bahen tu na dengganna di hita. Tuat si puti tu nadeak, aha na denggan na uli ia ima tapareak. Botima. Mauliate. Horas!

  28. Parsuratan15
    Posted April 16, 2010 at 1:26 am | Permalink

    Koreksi: Tulisan ini tidak dapat dikategorikan sebagai tulisan sejarah (historiografi). Saudara-saudara yang saya kasihi banyak sekali kesalahan tulisan ini apabila ditinjau dari METODE DAN METODOLOGI SEJARAH.
    Dari aspek metode sejarah kesalahan pertama, sumber sejarah tidak disebutkan. Apabila sumber sejarah tidak disebutkan maka tulisan ini hanya sebuah fiksi (mengarang)dan tidak menghargai nara sumber. Ciri khas Ilmu sejarah adalah spatsial (waktu),karangan di atas tidak menyebutkan urutan peristiwa.Tahap metode sejarah yang berikutnya adalah kritik ektern dan intern, saya kritik sebagian tentang teksnya yang sebagian besar salah besar, besar sekalipun… sampai saya jadi malu. Contoh: “Raja Mardaup,Raja Sitombuk,Raja Hutabulu”. Penggunaan kata raja dirangkai dengan nama seseorang berarti orang tersebut berkedudukan atau menjabat sebagai Raja. Apakah anak kedua,tiga dan keempat menurut hukum adat Batak dapat disebut Raja? Raja Bius,Raja Horja, Raja Huta? Rajani Hula-hula atau Raja Bondar barangkali yang dimaksud penulis?
    Apakah benar Parsuratan membunuh adik SIPAREME, gelang milik Sipareme yang sudah gadis dewasa apa tidak copot dari tangan Hagohan Naindo yang selisih umur sangat jauh? Sesuai dengan karangan di atas bahwa gelang itu terbuat dari gading. Apa bisa terbakar jerami yang masih baru 2 atau 3 hari dipotong dari batangnya, tidak mungkin si boru yang “cantik jelita” itu bisa terbakar pada jerami yang batangnya masih mengandung air. Kambing lagi beranak tiga sampai empat. Dimana ada anak kambing sekali beranak empat? Kambing yang ditonggohon kepada sombaon mungkin bisa beranak tujuhbelas? Apakah benar Parsuratan memotong payudara Sobosihon? Siapa narasumber yang mengatakan itu dari mana dia dapat cerita itu? Dapatkah dipercaya kebenaran semua cerita orang-orang yang masih hidup dalam kegelapan dan keberhalaan itu. Ah sudahlah perbaiki dulu tulisan ini jika mau membuat sejarah, jangan pamerkan kebodohan malu sama tetangga.
    Poda atau nasehat penyembah berhala itulah yang harus engkau ikuti dan lestarikan dan engkau sebarkan lewat teknologi informasi ini. Celakalah engkau jika engkau mengyebarkan permusuhan terhadap saudara kandungmu. Ingatlah Firman Yesus Kristus: “Kembalilah dan berdamai dulu dengan saudaramu baru engkau layak datang padaKu”. Amin

  29. tio ririssimanjuntak
    Posted Mei 15, 2010 at 7:19 pm | Permalink

    cacat!

  30. Syafruddin Pohan
    Posted Mei 16, 2010 at 5:14 pm | Permalink

    Syafruddin Pohan (Hutabulu 15)
    Horas amang, sy terharu membacanya. Kami dari Selatan (Sipirok Angkola). Waktu kecil ayah sy (Haji Abd. Muthalib Pohan)juga cerita yg seperti ini. Tapi ayah bilang, ambil yang bagus, simpan yang buruk. Sekarang sy punya 2 anak yang sy beri marga simanjuntak (bukan Pohan lagi), jg sy ajarkan spt ayah sy ajarkan. Horas ma hita sasudena.

  31. todo
    Posted Juni 27, 2010 at 11:22 am | Permalink

    bah hape na adongdo cerita nasongonon najolo terjadiba dohononma songon nidokni natua tua “gala gala sitelluk ma telluk mardagul dagul pambahenan na geduk nangetmai ta apul apul “

  32. edward simanjuntak
    Posted Juli 6, 2010 at 9:33 pm | Permalink

    Saya rasa ini haya dongeng saja, reka rekaan manusia
    Mirip dgn cerita dongeng Jaka Tarub. Karena yang menulis
    atau yang mengarang adalah dari Parhrbo Pudi ya masuk
    akal saja kalau pihaknya dicitrakan yang baik dan yang
    lain “jahat”. Data pendukungnya gak jelas.

  33. Henry AP Simanjuntak
    Posted Juli 24, 2010 at 5:53 pm | Permalink

    Mauliate ma, gabe tamba do informasi taringot tu hostori pomparan ni Raja Simanjuntak, tarlobi ma di PSSSI. Sai tong ma marsada pomparan ni Ompu i, Raja i, atik pe marserahan panomparna di sandok portibion. Horas ma!

  34. Henry AP Simanjuntak
    Posted Juli 24, 2010 at 6:29 pm | Permalink

    Mauliate ma, gabe tamba do informasi taringot tu histori pomparan ni Raja Simanjuntak, tarlobi ma di PSSSI. Sai tong ma marsada pomparan ni Ompu i, Raja i, atik pe marserahan panomparna di sandok portibion. Horas ma!

  35. harison siahaan
    Posted Agustus 20, 2010 at 3:03 pm | Permalink

    apakah sumpah itu menang dari yesus kristus dapat menghapus segala dendam, dan sumpah serapah.

  36. Togi Simanjuntak
    Posted Agustus 24, 2010 at 12:04 pm | Permalink

    makasih lah….

    GBU

  37. Juliansen Simanjuntak
    Posted September 10, 2010 at 4:56 pm | Permalink

    good, sumber naskah on ma na so adong dibaen, jadi asa lam kuat asal-usul simanjuntak on sebaik na ikkon baenon do referensi ni penulis mambaen on, asa unang gabe cerita dongeng semata. alana mungkin adong do penulis na asing yang beda versi na, jala asing muse keterangan na. asa unang bingung generasi

  38. Rapot Pardomuan
    Posted September 16, 2010 at 10:15 am | Permalink

    Masih ada yang kurang kayaknya. Saya tidak melihat uraian tentang sumpah. Apakah memang tidak ada atau hanya disunting sedemikian rupa agar tidak ada dendam bagi keturunan Ompungta Raja Marsudung ?Sumpah juga mestinya dituliskan agar kita tidak kehilangan cerita ini kedepan. Mauliate tu hita sude

  39. ernesto simanjuntak
    Posted Oktober 2, 2010 at 11:49 pm | Permalink

    trims critanya,, sy mardaup 18,,,,,,,,
    Benar/tdak crita trgantung masing2,
    yang yg penting tetap DAMAi smuaaaaaaaaa,,, (“_”)

  40. ernesto simanjuntak
    Posted Oktober 3, 2010 at 12:36 am | Permalink

    abg/ito parsuratan: ni crta trgantung keprcyaan masing2,, anda punya crita versi yg berbeda silahkan,,,,,,
    Yang jelas kami(sitolu sada ina) diPESAN : Agar jgn bertengkar dan slalu MENGHORMATI anda,,, PEACEEEEEEE ,,,, (“_”)

    Salam Hormat

  41. masef sinurat
    Posted Oktober 5, 2010 at 2:15 am | Permalink

    HORAS,,, HORAS ma di hamu na sude pomparan ni RAJA MARSUDDUNG SIMANJUNTAK..

    dang na anak/boru manang bere ni simanjuntak nian au. Au marga SINURAT. alai gabe appara do hu jou manggora SIMANJUNTAK SITOLU SADA INA. Alana hea tarbege au saotik cerita on alana tulang hu pe marga sihotang. tepatna SIHOTANG PARDABUAN ido umbaen na tertantang hian au naeng mamboto sejarah on. alana nga sude marga na asing(marga tetangga) muna naung mambege i. nata majolo dang detail..

    Tapatuduhan hita pomparan ni umputta na lambok marroha, jolma na bisuk marhita postingan ta be,,,

    forum diskkusi do baenon on. dang na gabe terminal inganan gaor..

    sai mamora ma hita jala gabe molo denggan hita marsipaoloan.

    mauliate..

  42. Gets.
    Posted Oktober 11, 2010 at 2:41 pm | Permalink

    Ahu Simanjuntak H-15,
    Molo boi nian ate, asa marsada ma hita dohot abangta Parsuratan i, (Simanjuntak Raja Marsundung), Nian nungnga tarjaha ahu di majalah Dalihan Na Tolu, adong do kumpulan Raja Marsundung di Jakartaon. Mudah2an ma tu joloanon gabe sada sude simanjuntak. Horas

  43. octa
    Posted Oktober 31, 2010 at 9:38 pm | Permalink

    halllo aku pengen banget mengenal tentang simanjuntak boleh kan tapi aku sendiri bukan asli batak tapi aku kuliah di uki semua mayoritas batak dan aku sangat inggin mengenal tentang sisilah simanjuntak kebetulan ada yang inggin aku suka dengan simanjuntak ini boleh bantu aku terima kasih banyak… sollum

  44. melda magda simanjun
    Posted Desember 6, 2010 at 12:33 pm | Permalink

    mksih atas info tarombonya ,tp klu ad y tny ak simanjuntak ap,ya ak jwb aj simanjuntak tonga biar slh slh 1 dr pihak tidak ad y sakit hati, git loh,hehehhehehhe

  45. Posted Desember 7, 2010 at 4:18 pm | Permalink

    Tuhita naungmambaca songon sejara naadong diatas”benar/salah Debata do napasti umbotosa
    jala unangbe taboan2″ asa di jalo Debata hita dijolona,alana rapor merado simanjuntak di jolo ni Debata

  46. mangasi simanjuntak
    Posted Desember 16, 2010 at 5:17 pm | Permalink

    horas..
    mansai las roha boi berbagi cerita asal usul di forum ta on.
    anggiat carita on memperluas pemahamanta mengenai marga ta on, jala tong ingkon mardame ma hita simanjuntak si tolu sada ina dohot simanjuntak parsuratan, alana saudara do hita.

  47. Posted Januari 16, 2011 at 2:48 am | Permalink

    Terimakasih saudaraku.sudah kubaca semua tulisanmu.coba aku mautanya kepadamu .apakah anda beragama?tentu tdk.mungkin kamu dilahirkan untuk menghasut orang seperti silusiper.hati hati kawan bertobat lah.jaga anak keturunanmu.lihat betapa jeleknya simanjuntak itu kamu buat.betapa hinanya raja marsundung itu kamu buat..apakah kamu tau siapa penciptanya dongengmuini?pada thn 1963 lah di terbitkan si sm simanjuntak dan yusup simanjuntak.kamu tau dulu kedudukan sm, sama yusup?nah pelajaridulu.nah kalau mau komentar ada kata orangtua.jilat dulu kamu punya bibir baru kamu ngomong.disitulah sm dan yusup tdk menjilat bibirnya.akhirnya sampai saat inilahir seperti dia itulah kamu.ingat kawan kalau saya bangga simanjuntak parsuratan.karna dari kami tdk pernah mengatakan sedemikian.ingat saudaraku RAJAMARSUNDUNG itu besar dan keturunannya.banyak dimana mana.ingat kalau kita bersatu gampang mencari kerajaan tanpa promosi atau mangelek elek jolma mandok pilitauda!jadi tau kawan dihita simanjuntak banyak tinggi hati.sesudah bisa makan sudah lupa akan lapar.holandirinadipalua.hapegellengna dangdipikkirhon dipudianni ari.jadi bertoctlah kawan sebelumengkau di tobatkan.kalalau saya bilang nol itu semua.

  48. Posted Januari 16, 2011 at 3:48 am | Permalink

    TAROBBONI PARSURATAN/BR HASIBUAN..
    YA ANAKNI PARSURATAN 5.
    1.TUAN SIHURING
    2.BOLTOK HORBO./BR.TAMBUNAN PAGARAJI.
    3.SISURAT ULU BALANG/BR.SINAGA..
    4.NAMORA ITANO./BR.SINAGA.
    5.SULEAN./BR TAMBUNAN PAGARAJI.
    YA ANAKNI TUANSIHURING4.
    1.PANGARISAN.
    2.PARTUPPOAN.
    3.TUANNAGANI.
    4.OP.SALEAN.
    YA ANAKNI BOLTOKHORBO IMA NATINGGAL DI ONANJOI.MANANG SAONNARI DIPANDUMAN.5.
    1.NAMORA SINALENGGAM.
    2.NAMORA NAESEK.
    3.DATUMIRA.
    4.NAMORA SORITAON.
    5.NAMORA MERHAM.
    YA SISURAT ULU BALANG MARINGANAN NASIDA DI PANGURUN.
    NAMORA ITANO GODANG DOPINOPPAR NION DI SIDEMPUA.
    YA RAJA SULEAN DOHOTDO NASIDA TU SIDEMPUAN.
    YA ANAKNI BOLTOK HORBO
    IMA NAMORA SINALENGGAM TADING DONASIDA DI ONANJOI/PANDUMAN.
    ANAKNI NAMORA SINALENGGAM SADA IMA RAJA NATAKKANG.
    ANAKNI RAJA NATAKKANG 2.
    1.PARNANGON.IMA NATINGGAL DI ONANJOI/PANDUMAN.
    2.OP.GULUAN..IMA NATADING DI SILAPPIANG.DANG ADONGBE NASIDA DI SI. NUNGNGA DI TANO PARSERAKAN NASIDA.DISIPIROK, DI TARUTUNG,DIPAHAE.DI PANAMBEAN SIMALUNGUN.DI PEMATANG BANDAR.DOHOT DI MEDAN.DI RATAU PARAPAT DIBILAH GOARNI HUTANI NASIDA.MASSAI BAHATDO PINOPPARNI OPPU GULUAN.YA NAMORA NAESEK GODANG DOON DI PARSOBURAN.DOHOT ANAKNI HAHANA NASIAN TUANNAGANI.IMA OPPU TIANG DI PARSOBURAN DONASIDA MARINGANAN DOHOT TU DAERAH SIBOLGA BANDU AMAS.YA DATU MIRA TADING DOON DI SIPAHUTAR.RAP DOHOT ANGGI DOLI.JAI DISAN MASSAI KOMPAKDO NASIDA.NAMORA SORI TAON GUMODANG DI TAPSEL DOON.NAMORA MERHAM GODANG DI TAPSELDOON.JALA DI RAO.

  49. Posted Januari 16, 2011 at 4:14 am | Permalink

    kalau dipikir pikirya. Menurut cerita dari saudaraku psssi!dari mana tau kamu kawan ada cerita begitu.lihat kalau memang ada sejak dahulu pertengkaran atau perselisihan yg berat antara parsuratan dan kamu adiknya3,tdk mungkin bisa sama satu kampung atau satu daerah.contoh di lumbangala gala.sama onan joi.sitappurung sipitara.cuma yg itunya orangnya.marsidoppakandojabuna.sudah rumahtua bahkan mungkin sudah ribuan tahun.sama mereka disana.pernah aku aku bertanya sama duabelah pihak.op nungngaleleng,hamu tingal dison nikku jawapnya ,mulai oppung ni oppung danghuingotbei kata duabela pihak.begitupula di sipahutar,sama samnya tuanya.jadi saudarakusemuanya.itu nihil semua.cuma cari kekuasaan ya mereka itu.

  50. Posted Januari 24, 2011 at 10:06 pm | Permalink

    horas di sudena pomparanni RAJAI!IMA;RAJA MARSUNDUNG NASIAN TOBAHOLBUNG BALIGE.dihamu sudena pomparanna,anak boru nang bere dohot ibebere.unang ma sai marsisarbutan hamu,lului hamuma ngolu ngolu.asaboi hamu ias dimatani jolma tarlumobi di matani TUHAN.ALANA gokdo huida simanjuntak onNa susa.asa boi hamu tolong menolong.unang sai palea hamu RAJAI.unang alap hamu leatuhamu.alana sudenai daktohoi.buktina holan siparsuratando didokhamu nanakkal.alai gabedo nasida.jala mamorado nasida.jai unangbe saisongonida!asa songon hatani RAJA PARSURATAN NAMANDOK..HOTANGMA HOTANGHOTARI,HOTANG PULUGUS..GOGOMAHO MACCARI ASA DAOSIANHOPOGOS..HOTANG UMBAHEN HIRANG,HIRANG MANDURUNG PORA PORA.MOLO ADONG DIHITA PARSALIHAN SOTUNG ADONG MANDOKSIRANG TUTAMBANAMADIHITA HOLONGNI ROHA..IMA PODA NATUR SIAN RAJA PARSURATAN..JAI PATIKKOSMA PARNGOLUONMU.AEK NATIO SAHAT TUPARSURATAN,BAENMA SITIO TIO HUHUT HASAHATAN..HORAS,HORAS,HORAS..

  51. joy
    Posted Januari 28, 2011 at 12:27 pm | Permalink

    ya..! Ya.ya! Lam kenal smua, saya bngga jdi simanjuntak. Buat saya marga apasih yang tak ada masalah? Tapi ingatlah aha didok Tuhanta taringot tu Patik nasampului, ro di sundut patoluhon sundut paopathon pinomparni akkana sogoroha diAhu, ninnado disi, ido batasna, hape akka hitaon nungnga sundut papigahon! Alani pangidoan tu sude hita, marilah hidup dalam Kasih Kristus Yesus. Amin dan Syalom.

  52. mpm .juntak
    Posted Januari 30, 2011 at 10:39 pm | Permalink

    sejarah merupakan gambaran jd mari kita lihat sisi positipnya saja, jgn membuat provokasi lg dlm mengomentari sejarah ini terlebih buat GUNTUR SIMANJUNTAK

  53. mpm .juntak
    Posted Januari 30, 2011 at 10:45 pm | Permalink

    tiada yang lebih indah selain perdamaian dalam kristus jd marilah kita mengajak generasi yang masih mudah untuk lebih memahami sejarah ini dalam kasih kristus sehingga nantinya kelak perbedaan selama ini cepat selesai dan pomparan raja marsundung bersatu dengan menghilangkan istilah horbo depan dan pudi! mauliate horas Tuhan Yesus memberkati kita semua

  54. sitombuk 15
    Posted Februari 18, 2011 at 9:36 pm | Permalink

    thks bwt penulis. aku suka bacana.bagus bangat..

    bwt saudara guntur jgn nampakkan sifat asli..

    klo mw kritik, yg bersifat membangun ajah.

    dan cerita ini mmg sama dgn cerita yg diceritakan oleh tua tua dulu.

    sukses buat pomparan simanjuntak semua.

    hidup simanjuntak!!

    God Bless…

  55. yLs sitombuk 15
    Posted Februari 18, 2011 at 9:45 pm | Permalink

    komentar temand2 smwa baeg2..

    kecuali sdr Guntur,,jangan guntur pikiran ya amang..
    ga baek untuk kesehatan…

    haaahhh…..

    jangan gitu lag ya mang…benar na crita tu baahh…opg q j crita na gitu,,

    ya walaupun kita agak da perselisihan,,simanjuntak ttp satu ayah tercinta RAJA MARSUNDUNG

    luph simanjuntak..
    pissss..
    :-)

  56. wister simanjuntak
    Posted Maret 18, 2011 at 11:48 pm | Permalink

    horas..
    ma dihita poparan ni aka oppung ta…
    trimakasih atas pembritahuan akan kisah2 dari oppung ta na parjolo…
    mudah2an dengan pemritahuan ni kta poparan simanjuntak semakin membangun ikatan yang erat dan bsa mmbangun hubungan yg baik antara simanjuntak horbo pudi dengan horbo jolo…

  57. Saya simanjuntak
    Posted Maret 22, 2011 at 11:28 pm | Permalink

    Terlepas dari benar atau tidaknya persis sejarah atau cerita yang diuraikan,biarlah sejarah maupun cerita turun-temurun tersebut tetap dilestarikan,paling tidak kita sebagai keturunannya tetap punya bayangan bagaimana situasi dan kondisi pada jaman nenek moyang kita dulu.Kita sebagai generasi yang sudah mencapai nomor terhitung belasan sampai saat ini yang menjadi pihak teraniaya pada saat itu,tidak perlu memiliki pandangan yang ekstrim terhadap pihak yang menganiaya dan bagi pihak yang menganiaya didalam sejarah atau cerita tersebut tidak perlu berkeras ataupun merasa malu.Biarlah itu menjadi sejarah atau cerita masa lalu yang bisa kita ambil hikmahnya.Yang paling penting adalah saat ini dan untuk generasi-generasi kita selanjutnya,buktikan saja bahwa keturunan dari kedua belah pihak,memiliki pandangan yang baik dan ketulusan didalam perbuatan.

    Kita tidak perlu berambisi untuk mempersatukan yang memang sejak mulanya sudah memang harus terpisah.kita bisa melihat keadaan sekarang ini,dengan memiliki kumpulan masing-masing juga kita dapat berjalan masing-masing dengan baik tanpa pernah terjadi benturan.apakah dengan mempersatukan akan menjadi jaminan untuk menjadi lebih baik?…
    Kita cukup ingat pesan dari Sobosihon boru Sihotang dan saya pun yakin dari Raja Parsuratan pun tidak ada meninggalkan pesa-pesan yang buruk terhadap keturunannya.

    Selama kita masih menjunjung tinggi dan mengakui bahwa kita orang batak bermarga simanjuntak,tidak ada istilah Simanjuntak modern,simanjuntak nasional atau apapun namanya itu.Yang ada : Simanjuntak Parsuratan,Simanjuntak Mardaup,Simanjuntak Sitombuk,Simanjuntak Hutabulu ( yang manakah anda?…jangan pernah menambah atau mengurangi…karena simanjuntak cuma itu yang ada didunia ini )

    Biarlah semua berjalan apa adanya,setiap keturunan akhirnya memiliki agama sebagai panutan tertinggi namun tidak terlepas dari adat istiadat yang diturunkan oleh nenek moyangnya masing-masing.Baik buruknya kehidupan bukan dinilai dari sejarah masa lalu,tetapi apa hal-hal yang terbaik bisa kita lakukan dikehidupan nyata saat ini.Namun nilai-nilai luhur yang telah diwariskan kepada kita,itu yang patut kita pertahankan dan wariskan kegenerasi selanjunya.

    Biarlah kita tetap tidak bisa duduk bersatu didalam pelaksanaan adat istiadat marga,tapi tidak ada hukum tertinggi apapun yang bisa menghalangi kita untuk duduk bersama dirumah ibadah untuk memuliakan ALLLAH.biaralah seperti itu dan biarkan waktu yang merubahnya.

  58. Mardaup 18
    Posted Maret 30, 2011 at 10:32 am | Permalink

    saya mau tanya nie ? pertanyaan saya berbeda dari kalian semua loo, pokoknya ga ada sangkut pautnya.

    kenapa simanjuntak depan/belakang istri, pacar, mantannya sekalipun pasti cantik jelita ? apakah sudah suratan takdir juga…hehehehehehe GBU

  59. tony14
    Posted April 23, 2011 at 2:13 pm | Permalink

    ini adalah history yang sudah saya dapat sejak keci, jadi tidak perlu repot mikirin siapa yang nulis metodenya lah salah..dll…tapi 1 point : ada yang mau berbagi dan menuliskannya,,kalau ada yang kurang di tambahkan..kalau ada yang tidak berkenan ..ya ..abaikan

  60. Renhard Simanjuntak
    Posted Juni 11, 2011 at 1:20 am | Permalink

    Horas !!
    Kepada semua keturunan Oppung Marsundung Simanjuntak.

    kepada Simanjuntak Parsuratan, bukan kami membuat suatu perbedaan, tapi inilah yang dikatakan Br Hotang kepada kami Simanjuntak Sitolu Sada Ina :

    - Ingat dan jangan lupakan apa yang telah dilakukan oleh abangmu RAJA PARSURATAN akan tetapi, jangan balaskan perbuatan jahatnya karena hanya MULA JADI NA BOLON (Tuhan) sajalah yang akan membalaskannya.

    - RAJA PARSURATAN itu adalah abangmu sebagai ganti ayah bagimu, dimana dia duduk janganlah kamu menghampiri dan jika kamu sedang duduk di suatu tempat kalau dia datang tinggalkanlah dia, karena dia adalah ganti ayah bagimu yang harus kamu hormati.

    - Jangan kamu menyusahkan hatinya walaupun dia menyusahkan kamu, bila kamu sedang menyalakan api di dapur rumahmu atau dimana saja lalu asapnya terhembus angin ke rumahnya atau ke arah di mana abangmu berada padamkanlah apimu itu supaya dia tidak mengeluarkan air mata karena asap apimu walaupun kamu harus terlambat menyiapkan masakanmu.

    - Jangan bertengkar dengan abangmu, sebab itu apabila tanamanmu ada yang condong tumbuh mengarah ke pekarangan rumahnya seumpama tanaman pisangmu sedang tumbuh dan berjantung maka lebih baik tebang saja itu dari pada setelah buahnya ada lalu diambil oleh anaknya dan kamu tidak bisa menahan emosimu dan bertengkar.

    bukan kami Simanjuntak Sitolu Sada Ina tidak memaafkan aatu dendam kepada Parsuratan, tetapi ima Sumpah ni Oppung na jolo.

    kejadian yang lain pun pernah keluaraga kami alami, dimana ketika Parsuratan dan PSSSI sahundulan kejadian yang diluar nalar kita pun dapat terjadi. keluarga kami pun pernah mengalami, karena bagi kami sendiri pun sebenarnya sudah tidak ingin ada perbedaan.

    tapi itulah Sumpah ni oppung na jolo, itu benar2 terjadi.

    kami yang selalu mengalah kepada kalian, tetapi kalian selalu mencari2 kesalahan kami.

    kalau memang ini salah, saya minta versi dari kalian.

    saya tunggu di forum ini, thanks !!!!!

  61. leonard
    Posted Juli 29, 2011 at 1:31 pm | Permalink

    Cerita Tentang Konflik Turunan Raja Marsundung Simanjuntak
    Raja Marsundung Simanjuntak adalah salah satu cucu dari Sibagot Ni Pohan, Sibagot Ni Pohan ini mempunyai empat orang anak:
    1. Tuan Sihubil.
    2. Tuan Somanimbil.
    3. Tuan Dibangarna.
    4. Raja Sonakmalela.

    Tuan Somanimbil mempunyai tiga orang anak, yaitu:
    1. Somba Debata (Siahaan).
    2. Raja Marsundung (Simanjuntak).
    3. Tuan Maruji (Hutagaol).

    Raja Marsundung mempunyai istri pertama yang bernama Taripar Laut boru Hasibuan. Dari isteri pertama ini Raja Marsundung mendapatkan satu orang anak yaitu Raja Parsuratan.
    Beberapa tahun setelah Taripar Laut boru Hasibuan meninggal, Raja Marsundung mengambil isteri dari negeri Sihotang (dekat Pangururan Samosir) yang bernama Sobosihon boru Sihotang. Dengan demikian sejak itu Si Raja Parsuratan memiliki ibu tiri (panoroni). Dari isteri yang kedua ini lahirlah Raja Mardaup, Raja Sitombuk, Raja Hutabulu dan dua orang anak perempuan. Salah satu dari dua anak perempuan Raja Marsundung kemudian kawin dengan marga Sirait.
    Rupanya hubungan antara Raja Parsuratan dan ibu tirinya Sobosihon boru Sihotang kurang harmonis. Hal ini dapat dimaklumi karena di orang Batak, antara anak tiri dengan ibu tirinya sering tidak ada kecocokan/kerukunan, juga karena si Bapak selalu lebih memihak kepada isteri keduanya. Karena kondisi yang tidak menyenangkan ini, Raja Parsuratan meninggalkan kampung halamannya dan pergi ke kampung Tulangnya di Sigaol, desa Marga Hasibuan.
    Menurut cerita orang-orang tua, Raja Parsuratan cukup lama tinggal di Sigaol, bahkan sampai-sampai orang di sana mengira dia bermarga Hasibuan. Kemudian Raja Parsuratan mengawini boru tulangnya yakni Boru Hasibuan. Beberapa lama kemudian Raja Parsuratan mendengar berita bahwa bapaknya, Raja Marsundung telah meninggal dunia. Raja Parsuratan kemudian kembali pulang ke kampung halamannya di Parsuratan, Paindoan Balige. Di Balige inilah kemudian Raja Parsuratan menetap dan hidup berdekatan dengan ibu tirinya, Sobosihon boru Sihotang dan anak-anaknya yaitu Raja Mardaup, Raja Sitombuk dan Raja Hutabulu serta dua orang anak perempuan.
    Salah satu keturunan Raja Marsundung dari isterinya Sobosihon boru Sihotang, yaitu anak yang tertua (anak perempuan) sangat dekat dengan ibunya. Sebagai anak yang tertua, maka dialah yang selalu gigih membantu ibunya sementara adik-adiknya masih kecil-kecil.
    Karena Raja Parsuratan magodang (artinya besar) di kampung tulangnya, maka dia tidak memiliki hubungan yang dekat dengan bapaknya, sehingga setelah meninggal, tidak ada pesan dari Raja Marsundung kepada Raja Parsuratan terutama mengenai harta yang ditinggalkan. Raja Parsuratan menganggap bahwa harta yang berupa satu ekor kerbau merupakan anak dari kerbau-kerbau yang dipungka Raja Marsundung dengan Taripar Laut boru Hasibuan. Disinilah malapetaka itu berawal (bonsir ni parbadaan i), yang disebabkan hanya karena memperebutkan seekor kerbau saja.
    Tidak ada bukti maupun petunjuk (keterangan), yang dapat menjelaskan bahwa persengketaan disebabkan oleh harta¬ harta yang lain seperti sawah atau benda tidak bergerak lainnya. Sekali lagi sumber perselisihan hanya karena seekor kerbau.
    Selanjutnya karena kedua belah pihak yaitu Raja Parsuratan di satu pihak dan Sobosihon boru Sihotang dan anak-anaknya di lain pihak, memiliki sawah masing-¬masing, kepemilikan kerbau menjadi sangat penting (untuk membajak sawah). Sulit bagi kedua belah pihak untuk memanfaatkan tenaga kerbau yang hanya seekor itu secara bergiliran. Sampai saat ini tidak jelas ceritanya apakah kerbau yang satu ekor itu secara de facto berada dalam penguasaan Raja Parsuratan atau dalam penguasaan Sobosihon boru Sihotang dan anak-anaknya.
    Akhirnya timbullah emosi (hona mara) Raja Parsuratan (konon kabarnya) yang berakibat meninggalnya putri sulung dari Sobosihon boru Sihotang. Tidak jelas kapan dan apa yang mengakibatkan putri sulung tersebut meninggal. Namun meninggalnya putri tercinta inilah yang menjadi sebab dari pertikaian/perselisihan antara Raja Parsuratan (yang kemudian dikenal dengan Parhorbo Jolo) dengan Raja Mardaup-Raja Sitombuk-Raja Hutabulu (yang kemudian dikenal dengan Parhorbo Pudi) yang berlangsung hingga saat ini. Perselisihan ini sebenamya sudah pernah dicoba untuk diselesaikan oleh saudara-saudara Raja Marsundung yaitu Siahaan dan Hutagaol, bahkan oleh keturunan Si Bagot Ni Pohan. Namun sampai saat ini belum terjadi penyelesaian.
    Menurut pendapat Penulis, peristiwa meninggalnya putri sulung itu sengaja didramatisir oleh orang-orang tertentu yang ingin membuat perpecahan di antara turunan Raja Marsundung Simanjuntak hingga dewasa ini. Bahkan cerita tersebut sudah meluas karena dengan sengaja, cerita mengenai kematian putri sulung tersebut disebarkan ke marga-marga lain yaitu kepada marga-marga yang mempunyai kaitan perkawinan dengan marga Simanjuntak, terutama pihak boru.
    Demikianlah salah satu contoh yang menunjukkan betapa tingginya kadar konflik pada orang Batak. Konflik yang disebabkan oleh faktor kultur yaitu konflik hubungan sosial (social conflict), ditambah lagi dengan ketidakcocokan diantara para pemimpin non-formal, diantara kedua belah pihak.
    Konflik diantara marga Simanjuntak semakin memanas setelah adanya perbedaan kepentingan pada masa Orde Lama, yaitu pada tahun 1963. Pada waktu itu dilakukan pembuatan tugu Sobosihon boru Sihotang di Balige yang tujuannya adalah untuk kepentingan golongan tertentu yang ingin mengumpulkan massa. Pihak ini menggalang solidaritas di antara turunan dari nenek moyang Sobosihon boru Sihotang yang jumlahnya cukup banyak. Marga Simanjuntak adalah salah satu marga terbesar dikalangan suku batak hingga terkenal istilah Simanjuntak na solot di ri (Simanjuntak Ri) yang artinya dimana ada rumput (ri), disitu ada Simanjuntak. Pendirian tugu ini dilaksanakan oleh tokoh-tokoh dari turunan Raja Mardaup, Raja Sitombuk, dan Raja Hutabulu di bawah pimpinan Alm. Drs. Parlagutan Simanjuntak, yang pada waktu itu menjabat sebagai Bupati Tapanuli Utara. Pendirian tunggu ini tidak mengikutsertakan atau mengundang turunan Raja Parsuratan. Tidak lama sesudah peresmian tugu, terjadi pemilihan Bupati Kepala daerah Tk II Tapanuli Utara dan pada saat itu Drs. Parlagutan Simanjuntak yang juga menjadi calon bupati secara tiba-tiba meninggal dunia. Oleh karena Drs. Parlagutan Parlagutan Simanjuntak meninggal dunia maka calon Bupati lainnya yaitu Kolonel Sinaga terpilih menjadi Bupati. Setelah tugu Sobo Sihon boru Sihotang didirikan, maka sejak itulah terbentuk perkumpulan Simanjuntak Sitolu Sada Ina.
    Pada tahun 1968 telah dibentuk pula perkumpulan persatuan Raja Marsundung Simanjuntak yang anggotanya terdiri dari turunan dari Raja Marsundung Simanjuntak yang lengkap, yaitu Parsuratan, Mardaup, Sitombuk, dan Hutabulu. Perkumpulan persatuan Raja Marsundung Simanjuntak merupakan suatu perkumpulan yang menyatukan seluruh keturunan dari Raja Marsundung Simanjuntak baik keturunan dari istri pertamanya, Taripar Laut boru Hasibuan, maupun dari istri keduanya, Sobosihon boru Sihotang.
    Banyak lagi perselisihan-perselisihan di antara orang Batak yang membuat pergaulan sehari-hari menjadi tidak harmonis, antara lain marga Silalahi dengan marga Sihaloho, marga Panggabean dengan Marga Hutabarat, juga perselisihan di antara turunan Si Raja Lontung. Tetapi perselisihan tersebut tidak separah perselisihan diantara keturunan Raja Marsundung Simanjuntak.
    Sebenarnya, jika teliti lebih jauh, semua masalah yang menjadi penyebab timbulnya konflik tersebut relative sepele (tidaklah prinsipil), namun akibatnya jelas terasa di dalam upacara-upacara adat Batak. Persoalan marga-marga ini sepertinya susah/sulit diselesaikan. Kurang harmonisnya pergaulan di kalangan orang Batak dapat mengakibatkan tidak optimalnya Dalihan Na Tolu. Oleh karena itu, pada jaman reformasi dan era globalisasi ini, perlu disosialisasikan paradigma baru Dalihan Na Tolu dengan melaksanakan prinsip sinergi dan prinsip win-win solution untuk mengefektifkan Dalihan Na Tolu membawa orang Batak menuju kesatuan dan persatuan.
    Untuk menyelesaikan konflik/perselisihan perlu diaktifkan peranan Dalihan Na Tolu seperti misalnya musyawarah mufakat, runggun partukkoan (dialog, kompromi, rekonsiliasi) atau membuat Padan atau Janji, dengan berpegang pada prinsip win-win solution. Peranan Gereja juga penting untuk memfasilitasi usaha rekonsiliasi diantara marga-marga yang masih ada perselisihan diantara sesamanya.

    Ini lah versi Dari Humala Simanjuntak…
    http//marsundung-simanjunt​ak.blogspot.com

  62. leonard Simanjuntak
    Posted Juli 29, 2011 at 1:52 pm | Permalink

    Saya Mardaub 14.
    kalau saya bandingkan 2 versi ini. yg mendekati pembuktian lebih baik adalah yang PSSSI keluarkan.
    Karena ada latarbelakang yg lebih jelas..
    Misalnya: Jarak Umur antara Parsuratan dengan adik nya sudah jauh.. Wajar bisa melakukan tekanan. Boru Hotang dengan Parsuratan ibarat wanita dewasa dengan Laki2 dewasa pasti bisa menekan. Raja Marsundung sudah tua, tak mungkin bisa melawan dengan kekuatannya.. Logika lagi.. Biasa anak tidak suka dengan ibu tirinya dan sebaliknya.. nah hal ini sangat erat hubungan nya dengan umur.. jika anak tersebut masih kecil kemungkinan ibu tiri yang keras.. tetapi jika anak sudah dewasa biasa anak yang akan keras…
    Karena Zaman tersebut masih primitif maka salah satu akurasi pembuktian adalah dari latar belakang dan situasi yang umum berkembang.. contoh.. Kenapa Sihotang sangat dekat dengan Sitolu sada ina??? Kenapa hampir semua (mayoritas) PSSSI mengikutinya??? tentunya sewaktu masa masih hidup Mardaub, sitombuk, Hutabulu pastinya mereka akan berbeda pendapat jika itu tdk benar.. Kemudian lanjut ke anaknya.. pastinya mereka sudah ada klarifikasi.. Mengingat Zaman dulu Orang batak sering berperang antar marga (manggulut tano).. Logikanya jika tidak ada situasi tersebut maka mereka akan memanggil Parsuratan untuk menemani atau sebaliknya… saya ingat cerita Nommensen diSigumpar memenangkan Pertarungan antara Simanjuntak – na70 dan Siregar.. dan bayak lagi kejadiannya.
    Tapi itulah sejarah.. selalu dipertanyakan dimasa yang akan datang.. Tinggal masing-masing kita memahami dan mengekspresikannya.. Salam Damai.

  63. Posted September 2, 2011 at 7:30 pm | Permalink

    mantaf lae, …boleh kusadur ulang di blog kami ya, kami sedang membangun pengetahuan di rantau orang nih….blog kami : situsrame.wordpress.com
    makasih lae ya…

  64. Alpriadi Simanjuntak
    Posted November 16, 2011 at 9:35 am | Permalink

    Sedih juga gan :D

  65. daniel fg lubis
    Posted November 28, 2011 at 9:29 pm | Permalink

    Seorang Ibu berpesan kepada anak-anaknya :
    Wariskanlah “dendam” kepada Abang tirimu sampai turunan keberapapun.

    Waktu itu sang ibu memang belum kenal Yesus Kristus.
    Sekarang keturunannya sudah “mengenal” Yesus, masih belum mau berdampingan dengan abangnya.

    Ada 2 Orang Pendeta di Bandung bernama Saur dan Lundu didamprat oleh “Parsadaan”
    karena coba dekat dengan Abangnya, kasihan juga ya, naluri kependetaannya tidak
    sanggup meluluhlak “wasiat dendam” tersebut.

    Bisa/nggak mereka disebut anak Tuhan ?

  66. Io Simanjuntak
    Posted Januari 11, 2012 at 3:03 pm | Permalink

    mengenai benar tidaknya cerita hanya Tuhanlah yang tahu. Dan setelah membaca semua komentar, saya bingung melihat anak Batak (Simanjuntak)zaman sekarang. Berdasarkan cerita diatas, nama Parhorbo Jolo / Pudi adalah nama ejekan dari marga lain karena kesalahan/kehilafan nenek moyang. Tapi kita malah bangga dengan nama itu sampai sekarang…BODOHNYA ! Bangsa Jepang/Belanda yg jelas2 (FAKTA) lebih kejam bisa kita maafkan…BODOHNYA ! Bahkan secara tidak langsung kita mengajarkan permusuhan kepada anak kita. Parhorbo Jolo/Pudi berkata kpd anaknya, ” Itu hanyalah kisah masa lalu, Parhorbo Pudi/Pudi tetap saudaramu “….BOHONG 1000x ! Buktinya kita TIDAK PERNAH ada niat untuk bersatu, kita tetap membentuk persekutuan : Simanjuntak Parsuratan Vs PSSSI.
    Sejarah kelam ini harusnya kita kubur dalam-dalam, dan di atasnya kita dirikan ” TUGU MARSUDUNG SIMANJUNTAK ” dan ini adalah cita-sita saya.

    Its time for us to prove that we’re ONE, that we’re SIMANJUNTAK.
    If u dream it, too?

    Buktikan bahwa kita bukan orang munafik,,,alias – NATO (No Action Talk Only)

    GBU all…

  67. GomGom Simanjuntak
    Posted Januari 11, 2012 at 10:40 pm | Permalink

    Terima kasih banyak atas informasi yg telah disajikan(MAULIATE GODANG).

    Saya berpesan kepada semua keturunan simanjuntak(Raja Marsuddung)supaya kita sebaiknya Satu Hati(Marsada ni roha) dan selalu menatap ke depan.Semua permasalahan yang terjadi pada nenek moyang kita jangan kita bawa lagi ke masa depan ni,biarlah Tuhan yang tahu.

    ..SIMANJUNTAK SUKSES TERUS..

  68. Posted Februari 15, 2012 at 4:33 pm | Permalink

    dari semua cerita dan komentar yang saya baca dapat dibagi dalam 3 kelompok.(menurut asumsi saya).
    1.yang setuju dengan sejarah yang ditulis tersebut padahal kita gak tau apakah itu benar atau salah…(andaikan pada saat itu sudah ada computer.. mungkin kita vbisa ligat file nya.
    2. yang tidak setuju dan menolak mentah mentah sejarah tersebut,alasan nay sama denga yan g diatas.
    yang ke 3.Abstain atau gak peduli (masa bodoh)

    kalau aku berpendapat : katakanlah sejarah itu benar atau katakanlah sejarah yang di tulis tanpa dasar tersebut salah…Apakah keuntungan dan kerugian kita membahas hal yang sudah lebih dari 4 abad yang lalu.

    Bukankah Lebih baik Kita saling mengasihi dan mengampuni…? INGAT SAUDARAKU TANPA MENGAM,PUNI … JANGAN HARAP MASUK SURGA DAN BERTEMU DENGAN YESUS.TUHAN … BAHWAN BAYANGAN NYA PUN TIIIIDDDAAAK…KASIHAN DEH… CAPEK DENGAN HAL HAL YANG GAK JELAS PUN MATI MASUK NEEERRRAAAKKAAA (SULFER OF FIRE..).. TANPA TERKECUALI

  69. Posted Februari 15, 2012 at 4:36 pm | Permalink

    dari semua cerita dan komentar yang saya baca dapat dibagi dalam 3 kelompok.(menurut asumsi saya).
    1.yang setuju dengan sejarah yang ditulis tersebut padahal kita gak tau apakah itu benar atau salah…(andaikan pada saat itu sudah ada computer.. mungkin kita vbisa ligat file nya.
    2. yang tidak setuju dan menolak mentah mentah sejarah tersebut,alasanya sama denga yang diatas.
    yang ke 3.Abstain atau gak peduli (masa bodoh)

    kalau aku berpendapat : katakanlah sejarah itu benar atau katakanlah sejarah yang di tulis tanpa dasar tersebut salah…Apakah keuntungan dan kerugian kita membahas hal yang sudah lebih dari 4 abad yang lalu.

    Bukankah Lebih baik Kita saling mengasihi dan mengampuni…? INGAT SAUDARAKU TANPA MENGAM,PUNI … JANGAN HARAP MASUK SURGA DAN BERTEMU DENGAN YESUS.TUHAN … BAHKAN BAYANGAN NYA PUN TIIIIDDDAAAK…KASIHAN DEH… CAPEK DENGAN HAL HAL YANG GAK JELAS PUN MATI MASUK NEEERRRAAAKKAAA (SULFER OF FIRE..).. TANPA TERKECUALI

  70. Fadhly Sembiring
    Posted Maret 19, 2012 at 9:29 pm | Permalink

    Bagaimana peran anak laki-laki sebagai penerus marga dalam suku batak??
    Please coment , , ,

  71. Posted Maret 28, 2012 at 11:59 am | Permalink

    Bagaimana peran anak laki-laki sebagai penerus marga dalam suku batak??
    Please coment , , ,
    jawab:
    menurut ilmu sosiologi, adat batak menganut sistem “PATRILINEALIS”. jadi anak laki-laki merupakan penerus dari marga ayahnya..
    saya pernah mendengar; anak laki-laki dalam adat batak mendapat keistimewaan murni dari orang tuanya.. ini berlaku jika adat batak “patrilinealis”.. bisa dilihat koq dari perilaku leluhur sebelumnya.. pendapat ini belum sepenuhnya benar yah.. tapi bisa jadi perhatian buat kita semua…
    terima kasih…

  72. Satahi Martua Simanj
    Posted April 2, 2012 at 2:44 pm | Permalink

    buat saudaraku2 simanjuntak, saya mau sampaikan beberapa hal terkait dengan perbedaan pemahaman diantara kita:
    1. Biarlah apa yg terjadi di masa lampau ibarat sebuah cerita yg dapat memperkaya kita tentang awal musabab dan efek dari sebuah pertikaian
    2. Bagaimanapun kita sebagai manusia dengan segala kita tidak bisa lg menemukan titik kebenaran daripada sebuah masalah yg diperdebatkan, karena itu sdh terjadi jauh beberapa tahun yg lalu, jauh jauh tahun sebelum ompung ompung kitapun lahir, bagaimanapun itu telah mengalami plus minus, deviasi,(degradasi) dan bias dari cerita aslinya. yg patut kita ambil dari situasi itu adalah bahwa kita masih satu darah. jadi tidak ada alasan untuk saling menghujat.
    3. janganlah kita saling menghakimi satu samalain dengan dalil dalil agama karena tidak satupun dari kita yg bisa memvonis masuk surga atau tidak, baik saya, kamu, karena itu sudah menjadi otoritas daripada Tuhan.
    4. Mari kita berkompetisi untuk menjadi orang yang sempurna disenangi orang lain dan dicintai Sang Pencipta.
    3. Sebagai penutup setelah saya semua komentar saudaraku, ada satu komentar yg sangat positif dan asik untuk dibahas yaitu marga simanjuntak pada umumnya punya istri atau pacar ataupun mantan yg cantik cantik. betulkah? kalau itu betul berarti marga simanjuntak sangat punya peluang besar disebut sebagai playboy atau doyan selingkuh. tapi saya pikir teori inipun kurang teruji karena pd umumnya simanjuntak punya posisi tawar yg lemah ketika sudah memiliki (istrinya) atau bisa disebut ISTI……..sorry guyonan belaka…….

  73. frengki simanjuntak
    Posted Mei 10, 2012 at 4:24 pm | Permalink

    salam buat semua psssi…. klu crita masalah yg kubaca diatas antara kisah horbo jolo dan horbo pudi tadi msh kurang lengkap menurut yang sy ketahui slama ini msh ada yg ditutupi dan belum sempurna akan tetapi baguslah bagi para penggagas yg telah membuat cerita kisah ini,dan dgn crita kisah ini muadah2an keluarga besar psssi dpt mengambil hikmahnya.mauliate by frengki simanjuntak sitombuk 13….

  74. Posted Mei 18, 2012 at 9:17 am | Permalink

    Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarah, oleh karena itu terlepas dari benar tidaknya sejarah simanjuntak, marilah kita menghargainya sebagai sejarah dimasa lalu, dari sejarah tersebut mari kita mengambil hikmatnya. Barangkali hanya Simanjuntak yang memiliki sejarah yang sangat menarik seperti ini hingga diperdebatkan sepanjang masa. Sebagai orang kristen, saya menyarankan sedangkan orang yang tidak punya hubungan darah dengan kita, dapat kita jadikan dan perlakukan dan menganggap dia sebagai saudara, apalagi kita-kita ini yang jelas-jelas (tidak perlu dibuktikan lagi) satu darah satu (darah kita sama yaitu darah Simanjuntak) tapi tidak dapat kita perlakukan sebagai saudara. Mauliate saya Sitombuk no. 15

  75. nelwan simanjuntak
    Posted Mei 25, 2012 at 10:05 am | Permalink

    thanksy..
    dh member info tentang simanjuntak 3 1 ina
    kini dh jelas q tau..
    so..
    stu saat nanti..
    dtany am anak2 q..
    q dh dapat menjelaskan
    mri kita lanksanakan podah atu pesan dr O.p qt sihotang…
    wlpun gmna..
    parsuratan tetap abang qt
    thanks..
    Dr,
    tanah jawa..sitapulak
    pematang siantar

  76. Posted Agustus 28, 2012 at 4:43 pm | Permalink

    Kolo kita tidak pernah liat jalan bengkok, mana tau jalan lurus ??? Maksud sy mari kita lihat sisi positifnya, “Bila permasalahan ini dahulu tdk terjadi, mungkin tdk tercipta simanjuntak sitolu sada ini seperti sekarang ini”. Gimana kira2 seandainya Nabi Adam nda makan buah yg ditengan taman Eden? Yang jelas itu semua sdh harus terjadi. Sy mohon tdk ada alasan membenci apalagi Dendam dengan sdr/i kita parsuratan. GBU All n Horas Simanjuntak

  77. Posted November 20, 2012 at 1:25 pm | Permalink

    Horas ma dihita sude,

    Oppung, Bapa uda, Anggi doli, namboru, ito, nunggnga tung godang angka pendapat sian hita naung manjaha, mambege cerita manang turi-turian on……. Angka na positip na i ma tabuat ate. Apalah marga na asing pe mansai godang do na so mardomu namarhaha anggi. hape zaman ninna nungnga maju, toho do songon angka na nidok angka panjaha nadibagas on ‘ Tergantung Roha i do ‘. Sipata gabe umburju do hita tu halak ‘Koling manang halak negro hape ndang pola adong hubungan budaya tu nasida, ai ido sipata didok, gabe uttajom do balati halak hita i tu halak hita, hape majal molo tu luar ni Batak.
    Mari intropeksi, jala marsadama…… Horas

  78. Posted Januari 20, 2013 at 11:48 pm | Permalink

    mauliate ma parjolo di hamu natua-tua nami na mambaen pra sejarah simanjuntak on

    bangga do au gabe halak batak,tarlubomi di marga simanjuntak on
    sada gabe tabba parbinotoan hita simanjuntak i
    sae anggiat ma hita gabe marga na hasea di jolo ni pamarenta tarlubomi di jolo ni TUHAN tai

    HORAS…..

    sanga simanjuntak hutabuluh bursok patih 16

  79. leonard simanjuntak
    Posted Februari 9, 2013 at 8:54 pm | Permalink

    terlalu banyak manusia munafik di dunia ini, molo paruntungan sarupa do jolo dohot pudi, konsisten dong.kemarin saya menghadiri pernikahan boru juntak jolo dengan sitorus,tulangnya sitorus ini juntak pudi, aneh tapi lucu, tulangnya sitorus tidak mau nerima ting ting marakkup dari tangannya simanjuntak jolo tapi mau kalau sitorus yang kasih,walaupun itu amplop dari simanjuntak jolo, kasarnya mau amplopnya aja.tidak konsisten kan? buat saya tidak ada gunanya marsaor dengan simanjuntak pudi yang masih katro toh masih banyak manusia didunia ini di cina aja ada 1 milyar orang, belum lagi di india.hari gini,,,,,,,,, terlalu picik kalau mempermasalahkan jolo dengan pudi, hidup raja Marsundung Simanjuntak.

  80. marihot
    Posted Februari 9, 2013 at 9:44 pm | Permalink

    tahun 95 an saya mau naik helikopter dari timika ke tempat pengeboran minyak. waktu daftar saya di tanya simanjuntak depan atau belakang. saya bingung kok orang bukan batak dan sudah paling ujung Indonesia tau depan belakang. akhirnya saya tanya kok bisa tau, katanya dia pernah bekerja sama belakang dan dia bilang depan dan belakang tidak bisa satu helikopter. untung cuma saya yang simanjuntak, kalau tidak salah satu harus ditunda. begitulah simanjuntak kamiinisemua bangsa dan negara tau,bagus juga sih kalau tau karena prestasi, tapi malu kalau karena ke konyolan.

  81. Posted Februari 28, 2013 at 7:21 pm | Permalink

    After I initially commented I clicked the -Notify me when new comments are added-

    checkbox and now each time a comment is added I get four emails with the identical comment.

    Is there any way you may take away me

    from that service? Thanks!

  82. Posted Maret 26, 2013 at 6:26 am | Permalink

    Hi, I think your blog might be having browser compatibility issues.
    When I look at

    your blog in Firefox, it looks fine but when opening in
    Internet Explorer, it

    has some overlapping. I just wanted to give you a quick
    heads up! Other then that, amazing blog!

  83. Posted April 10, 2013 at 5:15 pm | Permalink

    klo nyari daftar keturunan dari simanjuntak pertama sampe yg sekarang dimana yah?pengen tau lebih dalam lagi tentang silsilah simanjuntak nih

  84. Posted Juni 26, 2013 at 3:38 am | Permalink

    aku simanjuntak hutabulu no 16,aku jg kurang yakin dngn cerita diatas.bnyk kejanggalan.
    Tp apapun itu,yg namanya manusia pasti punya kesalahan.
    Orang tua aku cukup bijak tidak prnh bercerita ttng perselihan pudi dan jolo.
    Kita semua pasti jg prnh buat salah,kami simanjunta pudi dan jolo sudah berdamai dngn masa lalu.
    Gk ada lg cerita permusuhan !
    Bukan hny simanjuntak,marga2 lain pun pastinya jg ada perselisihan,yg bukan orang batak jg pasti punya perselisihan.
    Tulisan diatas jelas provokasi,kami simanjuntak cinta damai !
    Gk ada lg dendam yg ada kasih karunia.
    Amin.

  85. Antonius
    Posted Juli 4, 2013 at 1:53 pm | Permalink

    aihyooo,… selisih itu sudah biasa.
    dalam cerita kok gak ada banditnya atau lawannya pasti gak seru.

    jadi nikmati dengan positif aja, ini kan adat.. ya gpp toh menceritakan sejarah sehingga kita mengenal dan memperkenalkan kepada keturunan kita.
    Siapa yang tau PKi partai komunis yg membahayakan Indonesia, ada yang bilang itu rekayasa politik untuk menghancurkan Ir.Soekarn* karena PKi pro ke soekarno.
    (sorry bawa sejarah lain)

    Intinya, hidup untuk menjadi berkat dan merubah hal tidak baik menjadi baik.
    Soal kedekatan Parsuratan dengan PSSSI itu sudah sumpah nenek moyang, dan sumpah itu adalah ikrar/janji yang akan terjadi diluar dari nalar kita. Makanya jangan sembarang mengucap kata sumpah.(apalagi yang sudah menikah,tiba2 cerai… akan ada ganjaran dari sumpahnya)

    Hanya Kasih Bapa yang menyelamatkan kita dari segala kutuk-kutuk keturunan, ketika kita memberi diri kita untuk diselamatkan.

    Yang jelas saya tau, kenapa saya simanjuntak Hutabulu, karena moyang saya lahir di bawah pohon bambu, saya tau kenapa ada simanjuntak mardaup dan sitombuk, karena kejadian yang dialami pada saat dilahirkan.
    Sama dengan saya lahir kenapa di kasih nama Doant Antonius Simanjuntak, karena pas mama saya mengandung saya, papa saya pergi ke tugu pangidoan dan sepulang dari situ waktu mama saya lahirkan saya dikasih la saya nama Doant dengan pelengkapnya antonius.

    itu kan perlu dan penting untuk di beri tau sama generasi…
    contoh : kenapa ada nama guntur, mungkin pas lahirin ada guntur.. (hehehehe….) LOL :)

    Salam Simanjuntak Hutabulu No.17

  86. Roberto
    Posted September 25, 2013 at 9:10 am | Permalink

    artikel………. diatas cocok untuk orang yang tidak berpendidikan dan tidak memakai logika…hanya manut dengan cerita orang tua yang hukumnya HARUS BENAR dan “PANTANG” di bantah….

    artikel itu cuma cerita fiktif…. sama dengan kecap no 1…. ditambahin dan di bumbui… dari dua versi cerita yang pernah saya dapat dan baca… semunya gk masuk logika….

    cuma pepesan kosong orang tua kita dahulu karena rasa sirik , akan keberhasilan …………. sederhana….pepesan cerita gk jelas ini dulu pernah dipakai pemerintah ORBA untuk memecah kekuatan MARGA SIMANDJUNTAK keturunan RAJA MARSUNDUNG…. karena ……dapat membahayak pemerintahan ORBA….mau tidak mau orang harus mengakui..MARGA SIMANDJUNTAK keturunan RAJA MARSUNDUNG…merupakan Marga TERBESAR DI INDONESIA…. sampai saat ini belum ada klan/marga yang Setara dengan jumlah MArga SIMNADJUNTAK………

  87. Humala Simanjuntak
    Posted November 25, 2013 at 11:23 am | Permalink

    Semua cerita tentang br Sihotang dan raja Parsuratan direkayasa seta di manipulasi dan. cerita Parhobo jolo dan par hobo pudi, sengaja di ciptakan MSH dan marga2 lain demikian juga peristiwa/ konfik Br sihotang dan raja Paruratan sengaja diciptakan dan di-dramatisir. sudah berratus tahun berlalu, terus pihak Mardaup Sitombuk hutabulu, tengelam dan asjik dan terus menerus didalam, menceritakan tentang “parsorion ni Br Sihotang” serta konflik Parhobojolo dan parhobopudi, cerita bohong itu diceritakan turun temurun, secara sistemik. Sebenarnya cerita itu diatur sedemikian rupa, tujuannya untuk, melenyapkan. atau merendahka atau melecehkan kedudukan/ posis/ wibawa Raja Marsundung,. yang pada waktu hidupnya adalah raja Toba/ Raja Balige, untauk, melanjutkan kerajaan Toba yang sebelum nya kerajaan dibawah pimpinan Sibagot ni Pohan, yang turun juga dari TUAN Sorba di Banua. Tuan Sorba di Banua mempunyai hubungan erat dengan kerajaan Mojopahit. bukti hubungan dekat / erat itu adalah : Bahwa istri kedua Tuan sorbadibanua adalah putri/ srikandi dari Kerajaan Mojopahit yang kemudian di kenal dengan nama Boru Sibasopaet, [ Baca Prasasti Dolok Tolong oleh Humala Simanjuntak] Pada waktu itu kerajaan, Mojopahit di pimpin oleh seorang Ratu namanya : Tribuwana Wijaya Tungudewi. dan pada waktu itu Gajah Mada sebagai Maha Patih kira2 abad ke 15 . .
    Konflik antara Br Sihotang dan Raja Parsuratan di satu Pihak dan antara Raja Parsuratan dengan Adik2 nya Mardaup Sitombuk dan Hutabulu di pihak lain sengaja di hidupkan terus, dan sudah jelas ditunggangi pihak2 lain, meciptakan cerita2 serta mendramatiser, peristiwa kecil yangter jadi antara Raja Parsuratan dan Br Sihotang, dan beratusratus tahun secara sistemik, Sebenarnya “TONA” br Sihotang yang terdiri dari 3 butir sangat baik biarpun demikian br Sihotang ingin agar kerajaan turun kpd Raja Parsuratan, tona itu intinya Agar Mardaup Sitombuk da Hutabulu menghormati abang nya raja Parsuratan. Namun adu domba pun, terjadi kala itu . Tujuanya sudah, jelas, agar tahta kerajaan tidak turun Kpd Raja Parsuratan. atau tidak turun kpd Simanjuntak. Situasi yang demikian[perseteruan antara anak dan ibu tiri, serta orang kakak beradik] mengakibatkan/ menimbulkan ke kakecewaan/ kesedihan dan kemarahan bagiRaja Marsundung. sehinga Raja Marsundung pergi ke Bakkara dan mem beritahukan ke Raja Mahuntal {Raja sisingamangaraja I] kerajaan di Toba tidak dapat berlanjut. Sejak itulah kekuasan Kerajaan Pindah ke Bakkara, sampai kpd Raja SISINGAMANGARAJA XII. Setelah Raja Sisingamangaraja XII gugur, tamatlah Kerajaan Batak Khususnya Batak Toba terahir raja nya adalah Raja Marsundung …

  88. Posted Januari 7, 2014 at 7:44 pm | Permalink

    Hidup simANjuntak

    G00D bLEss

  89. Posted Januari 14, 2014 at 12:41 am | Permalink

    Jadi inilah yg kita sebut kerjaan sibolis. Benar atau tidak kejadian itu belum tentu. Adapun kejadian2 yg terjadi kalau simanjuntak yg berbeda bisa karena faktor alam. Saya parsuratan mempunyai teman akrab sampai sekarang dgn sitombuk, sering pergi bersama, menyeberangi danau toba, camping, jalan2 1 mobil, tetapi satu kejadian anehpun blom pernah kami alami. Sebab kami tidak percaya akan hal itu. Miris dengarnya kalau ada orang tua kita yg menceritakan hal2 yg buruk, apalagi sejarah permusuhan kepada anak2nya. Dan lebih miris lagi kalau ada pendeta yg notabenenya pembawa firman Tuhan yg bermarga simanjuntak bisa dikalahkan oleh kekuatan cerita2 yg belum tentu benar adanya. Dan kalaupun, kalaupun itu benar, apakah harus menjadikan kita memusuhi saudara sendiri? Benar kata appara diatas, umat islam saja kita temani, jepang dan belanda saja kita maafkan, tp kenapa saudara sendiri tdk bisa berdamai? Orang2 tua kita dulu sipelebegu, tidak kenal kristus, apakah kita harus kehilangan keselamatan dengan mengikuti pesan2 yg tidak baik walaupun ceritanya benar? Sy sendiri dan keluarga tidak pernah diajarkan ttg permasalahan itu, tp kenapa org tua dari adik2 s3si masih mengajarkan ketidak baikan itu. Mari kita keturunan sekarang dan selanjutnya berhenti mengajarkan permusuhan itu diantara kita. Di medan dan jakarta sudah ada punguan marsundung si opat sada ama. Dengan mulai meninggalkan hal2 yg lama dan kembali bersatu adalah cara kita mengalahkan pekerjaan sibolis yg tidak senang kita selamat. Kristus sudah lahir dan disalibkan buat kita, jgn kita salibkan lagi. Semoga keselamatan yg sudah kita dapatkan, hilang karena ketidakbijaksanaan kita. Salam damai dalam kasih Kristus. Don stak 15 parsuratan bandung.

  90. Posted Februari 1, 2014 at 12:28 pm | Permalink

    hm,,,
    awal² cerita agak gimna gitu, pas baca hutabulu jadi rame rasanya, jadi ngebayangin kaya di pelem² =))

    juntak mardaup 16

  91. Hartlan SimanjuntakM14
    Posted Februari 16, 2014 at 10:36 am | Permalink

    Horas…mauliate dihamu namanusun kisah on. Nang pe timbul akka komentar pro kontra hal nabiasa doi. Binuat ma nadenggan sian kisah I jala na hombar tu parugamoanta dht jaman saonarion. Dang porlu hita gaor di forum on.
    Botima

  92. Charly simanjuntak
    Posted April 26, 2014 at 5:17 pm | Permalink

    Horas simanjuntak M15
    saya suka baca cerita simanjuntak yg ada di web.
    Jika saya bandingkan smua tak ada yg sama. Dan komennya jga smua bnyak bertentangan. Apa lagi forum ini. Di forum yg laen jga pasti komen2nya aneh2. Tpi menurut smua komentar yg ada di web yg paling bkin onar pasti PARSUTAN… “Jgan sama kyak yg dulu lah bang!!!!!!!”. Santai aja gk ada yg dendam kok. Kalau kmi dendam kalian sudah pasti musnah dari dulu. Tpi hanya sekedar menghargai/mengenang derita ibu br.sihotang yg telah memperjuangkan kmi..
    Sama kyak indosia yg mengenang para pahlawan dulu….

  93. bresman simanjuntak
    Posted Juni 21, 2014 at 12:24 pm | Permalink

    sude do hamu mendramatisir serita on, Humala mandok, prasasti dolok tolong, sahat tu nuaeng dang hea adong prasasti on, didok muse TRIBUANA TUNGGU DEWI, secara logika, hitung2an, zaman ni Tribuana Tunggu Dewi pe di abad XIII do (sekitar 1200 – 1300 an) sementara Raja Batak diperkirakan ABAD XIV-XV (sekitar th 1400 – 1500) hape Raja Marsundung generasi 7 do sian raja Batak berarti sekitar 1550 – 1650 an) Nga Marambalangan bei. unang dipaksahon boru BASOPAET gabe boru ni MAJA PAHIT antong, Ai molo BASO manang SIBASO lapatanna Dukun Beranak do, Molo PAET lapatanna PAHIt, Jadi BASO PAET ima DUKUN PAHIT = olo do ala dukun beranak gabe disegani jolma on. UNANG DIPAKSA CERITA I, dipatudu BUKTI…..


Tulis sebuah Komentar

Required fields are marked *
*
*

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 36 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: