“Marpangkirimon do na mangoloi jala na mangulahon patik ni Debata, jala dapotna do sogot hangoluan ni tondi asing ni ngolu ni diri on.”
-Pantun ni Ugamo Malim
Manusia yang mematuhi dan mengikuti ajaran Tuhan dan melakukannya dalam kehidupannya, memiliki pengharapan kelak ia akan mendapat kehidupan roh suci nan kekal.
-Kata bijak Ugamo Malim
Secara implisit, inilah yang menjadi ajaran suci keyakinan Ugamo Malim atau lebih dikenal dengan Parmalim di Tanah Batak sejak turun temurun, seperti yang dikatakan Raja Marnakkok Naipospos selaku Ulu Punguan (pemimpin spiritual) Parmalim terbesar di Desa Hutatinggi Kecamatan Laguboti, Kabupaten Toba Samosir.
Menurut beberapa pandangan ilmuwan sosial, sebenarnya Ugamo Malim layak menjadi sebuah agama resmi. Alasannya ialah dalam ajaran aliran ini juga terdapat nilai-nilai religius yang bertujuan menata pola kehidupan manusia menuju keharmonisan, baik sesama maupun kepada Pencipta. Dan secara ilmu sosial tujuan ini mengandung nilai luhur.
Hanya saja, peraturan pemerintah membantah advokasi tersebut dengan alasan masih adanya berbagai kejanggalan. Misalnya, ketidakadaan dokumen sejarah yang jelas mengenai kapan Parmalim pertama kali diyakini sebagai sebuah kepercayaan di Tanah Batak. Alasan lain, yang tentu saja mengacu pada persepsi umum adalah ketidakadaan kitab suci dan nabi yang jelas berdasarkan kitab suci, yang apabila ada. Di samping itu masih saja ada persepsi masyarakat yang mengatakan bahwa ajaran Parmalim adalah ajaran sesat.
“Kami bukan penganut ajaran sesat,” kata Naipospos kepada Global ketika dijumpai di kediamannya, Selasa (2/1/07). “Bahkan, ajaran Parmalim menuntut manusia agar hidup dalam kesucian,” jelasnya kemudian menerangkan secara detail asal-muasal kata Parmalim yang berasal dari kata “malim”. Malim berarti suci dan hidup untuk mengayomi sesama dan meluhurkan Oppu Mulajadi Nabolon atau Debata (Tuhan pencipta langit dan bumi). “Maka, Parmalim dengan demikian merupakan orang-orang mengutamakan kesucian dalam hidupnya,” jelas Marnangkok.
Lantas, apa pasal sehingga aliran ini tidak layak dijadikan sebagai agama resmi? Bahkan, aliran ini dianggap sesat dengan tuduhan sebagai pengikut “sipele begu” (penyembah roh jahat atau setan). “Alasannya jelas,” kata Marnangkok. “Mereka (masyarakat awam dan pemerintah) tidak mengerti siapa sebenarnya yang kami sembah dan luhurkan. Yang kami puja tak lain adalah Oppu Mula Jadi Na Bolon bukan”begu” (roh jahat),” katanya. “Dan inilah yang menjadi bias negatif dari masyarakat terhadap Parmalim.”
Marnangkok kemudian menjelaskan, Oppu Mula Jadi Nabolon adalah Tuhan pencipta alam semesta yang tak berwujud, sehingga Ia mengutus sewujud manusia sebagai perantaraannya (parhiteon), yakni Raja Sisingamangaraja yang juga dikenal dengan Raja Nasiak Bagi. Raja Nasiak Bagi merupakan julukan terhadap kesucian (hamalimon) serta jasa-jasanya yang hingga akhir hidupnya tetap setia mengayomi Bangsa Batak. Nasiak Bagi sendiri berarti ditakdirkan untuk hidup menderita. Ia bukan raja yang kaya raya tetapi hidup sama miskin seperti rakyatnya.
Dengan demikian, Parmalim meyakini bahwa Raja Sisingamangaraja dan utusan-utusannya mampu mengantarkan mereka (Bangsa Batak) kepada Debata.
Hanya saja, hingga kini persepsi umum mengatakan bahwa Parmalim memuja Raja-raja Batak terdahulu dan utusan-utusannya. Tentu saja ini dipandang dari tata cara pelaksanaan setiap ritualnya sangat berbeda dengan ritual agama-agama samawi dan agama lainnya. Mereka menggunakan dupa dan air suci (pagurason) di samping daun sirih untuk ritual khusus.
Namun, dalam menyoal status Parmalim muncul lagi sebuah pertanyaan mengenai sampai kapan keterkungkungan mereka itu akan lepas? Kenyataan menjelaskan bahwa Parmalim selalu diperlakukan secara diskriminatif dalam banyak perolehan akses hidup sebagai warga negara. Contohnya, dalam memperoleh pekerjaan di dinas pemerintahan, izin-izin resmi serta bias sosial yang negatif. Di samping itu tak jarang pula media mengadvokasi eksistensi mereka demi hak-hak dan kebebasan mereka, namun hasilnya tetap nihil.
Di sisi lain, bunyi pasal 29 ayat 1 dan 2 UUD 1945, yang menyatakan bahwa setiap WNI diberi kebebasan meyakini agama dan kepercayaan nyata-nyatanya belum memberi mereka kebebasan dan hak mereka sebagai WNI.
Anjing menggonggong kafilah berlalu. Demikianlah adanya. Pengalaman mereka menunjukkan, hingga kini mereka merupakan komunitas marginal “original” di Tanah Batak. Aliran Ugamo Malim diyakini sebagian orang sudah ada sebelum ajaran Kristen dan Islam masuk ke daerah itu. Namun, mereka kian terpinggirkan kini.
“Pemerintah menganggap Ugamo Malim bukan sebagai agama, melainkan hanya sebuah budaya yang bersifat religius,” kata Marnangkok.
Alasan ini jugalah yang menjadikan Ugamo Malim belum mendapat pengakuan dari pemerintah. Seperti kata Marnakkok, akibat keterkungkungan ini banyak pengikutnya yang secara diam-diam mengakui agama lain secara formalitas demi mematuhi birokrasi yang berlaku di pemerintahan, dalam pengurusan KTP dan pekerjaan misalnya. Namun ada juga yang secara formalitas mencatatkan agama lain pada KTP-nya tapi kenyataannya ia tetap mengikuti ajaran Parmalim. Yang terakhir, ada yang samasekali tidak mau keduanya, yaitu tidak mau mengikuti formalitas dan tetap menjalani hidup diskriminatif sebagai Parmalim, seperti Marnagkok sendiri.
Hidup dalam kepasrahan
Perjuangan akan kebebasan dan hak, nyatanya bukanlah tanpa kendala. Demikianlah yang terjadi. Bukan hanya tidak adanya pengakuan dari pemerintah maupun masyarakat. Kendala utamanya tak lain adalah ketidakberdayaan mereka.
Marginalisasi komunitas kecil ini (yang hanya 1.400 kepala keluarga, termasuk di seluruh dunia), sudah mengakar dalamnya. Sejak dulu ketidakberdayaan ini diakibatkan sedikitnya pengikut Parmalim yang berkecimpung di lingkungan pemerintahan dan dunia politik.
Hidup dalam kepasrahan. Barangkali itu jugalah intisari dari pernyataan kata bijak Parmalim yang mengatakan: “Baen aha diakkui sude bangso on hita, ia anggo so diakkui Debata pangalahon ta.” (Tidakklah begitu berarti pengakuan semua bangsa terhadap kita, dibandingkan pengakuan Tuhan terhadap perilaku kita).
Seperti apa yang kemudian dijelaskan Marnangkok, “ Untuk apa pengakuan dari setiap bangsa jika Tuhan sendiri tidak mengakui perbuatan kita di dunia ini?” Nampaknya, perjuangan Ugamo Parmalim sudah berujung pada kepasrahan. “Seorang rekan pernah mengusulkan agar mengajukan petisi kepada pemerintah mengenai hal pengakuan ini,” kenangnya menyebut Dr Ibrahim Gultom (kini Pembantu Rektor UNIMED) yang selama 2 tahun pernah meneliti gejala sosial dalam eksistensi mereka dalam tesis doktoralnya “ Ugamo Malim di Tano Batak.” Tapi, saat itu ia menolak.
Dalam kepasrahan ini tentu saja masih ada harapan. Tapi, harapan itu bukanlah berasal dari dunia, melainkan dari Oppu Mula Jadi Nabolon. Dalam harapan itu, ada pula ketaatan untuk selalu mempertahankan hidup suci.
“Kami tidak diakui bukan karena kami telah melakukan kejahatan, melainkan hanya prasangka buruk tentang kami,” katanya. Selanjutnya ia mengucapkan kalimat dalam bahasa Batak, ”Berilah kepada kami penghiburan yang menangis ini, bawalah kami dari kegelapan dunia ini dan berilah kejernihan dalam pikiran kami.”
Mereka yakin Debata hanya akan memberkati orang yang menangis. Nah, dalam kepasrahan yang berpengharapan inilah mereka hidup. Dalam keterasingan itu juga mereka menyerahkan hidupnya pada “kemaliman” (kesucian). “Parmalim adalah mereka yang menangis dan meratap,” katanya.
Dalam ritual Ugamo Parmalim sendiri, terdapat beberapa aturan dan larangan. Selain mengikuti 5 butir Patik ni Ugamo Malim (5 Titah Ugamo Malim), juga terdapat berbagai kewajiban lainnya seperti Marari Sabtu atau ibadah rutin yang diadakan setiap Sabtu. Kewajiban lain di antaranya adalah Martutu Aek, yakni pemandian bayi yang diadakan sebulan setelah kelahiran, Pasahat Tondi yaitu ritual sebulan setelah kematian, Pardebataan, Mangan na Paet dan Pangkaroan Hatutubu ni Tuhan.
Ada pun larangan yang hingga kini masih tetap dipertahankan di antaranya adalah larangan untuk memakan daging babi dan darah hewan seperti yang lazim bagi umat Kristen. Memakan daging babi atau darah dianggap tidak malim (suci) di hadapan Debata. Padahal dalam ajaran Parmalim sendiri dikatakan, jika ingin menghaturkan pujian kepada Debata, manusia terlebih dahulu harus suci. Ketika menghaturkan pelean (persembahan) kesucian juga dituntut agar Debata dan manusia dapat bersatu.
Selain itu, Parmalim juga tidak diperbolehkan secara sembarangan menebang pohon. Larangan ini diyakini akan mendatangkan bala apabila tidak diacuhkan. Pasalnya, hutan sebagai bagian dari alam yang sekaligus merupakan ciptaan Tuhan harus dilestarikan. Secara tradisi, apabila seseorang ingin menebang pohon di hutan, haruslah menanam kembali gantinya. Konon, ajaran Parmalim meyakini bahwa terdapat seorang raja yang berkuasa di hutan (harangan) yang lalu dikenal dengan Boru Tindolok (raja harangan).
***
Jika melihat fisik bangunan rumah ibadah Parmalim, maka pada atap bangunan terdapat lambang tiga ekor ayam. Lambang ini, menurut Marnangkok, merupakan lambang ”partondion” (keimanan). Konon, menurut ajaran Parmalim, ada tiga partondian yang pertama kali diturunkan Debata ke Tanah Batak, yaitu Batara Guru, Debata Sori dan Bala Bulan. Sementara ayam merupakan salah satu hewan persembahan (kurban) kepada Debata.
Ketiga ekor ayam itu berbeda warna. Yang pertama, berwarna hitam (manuk jarum bosi) merujuk kepada Batara Guru, putih untuk Debata Sori dan merah untuk Bala Bulan. Sedang masing-masing warna juga memiliki arti tersendiri. Hitam melambangkan kebenaran, putih melambangkan kesucian dan merah adalah kekuatan atau kekuasaan (hagogoon). Kekuatan adalah berkah yang diberikan kepada manusia melalui Bala Bulan yang tujuannya untuk mendirikan “panurirang” (ajaran dan larangan).
Hanya saja, diyakini bahwa Raja Sisingamangaraja adalah utusan Debata yang lahir melalui perantaraan roh Debata kepada Boru Pasaribu. Diyakini pula, pada waktu di Harangan Sulu-sulu sebuah cahaya, yang kemudian diyakini sebagai roh Debata datang kepadanya dan mengatakan, “baen pe naung salpu i roma na tonggi, tarilu-ilu ho sonari, roma silas ni roha.” yang menyatakan bahwa: “Walaupun hari ini engkau menangis namun engkau juga akan merasakan kebahagiaan kelak.”
Boru Pasaribu kemudian mengandung dan dianggap berselingkuh dengan marga asing tetapi kemudian disangkal, sebab pada saat roh Debata hadir dan mengucapkan hal itu kepadanya, ia tak sendirian melainkan turut disaksikan putrinya. Maka kemudian, putra yang terlahir itu (yang kemudian dikenal dengan Raja Sisingamangaraja I), diakui sebagai utusan Debata.
Selanjutnya, Raja Sisingamangaraja memiliki keturunan hingga 12 keturunan. Itu pun secara roh. Hanya saja, hingga kini banyak yang tidak mengakui Raja Sisingamangaraja sebagai nabi bagi Ugamo Malim, melainkan hanya sebagai manusia biasa. Raja Sisingamangaja XII sendiri dikenal sebagai pahlawan Nasional. “Itulah yang menjadi anggapan ganjil terhadap Ugamo Parmalim selama ini,” kata Marnangkok.
Hingga akhir hayat Raja Sisingamaraja XII, keyakinan Ugamo Malim kemudian diturunkan melalui Raja Mulia Naipospos, yang merupakan kakek kandung Marnangkok Naipospos sendiri.
Inilah yang kemudian menjadi acuan pada acara atau ritual-ritual besar Ugamo Parmalim yang diadakan rutin setiap Sabtu dan setiap tahunnya. Ritual-ritual besar Parmalim itu seperti Parningotan Hatutubu ni Tuhan (Sipaha Sada) dan Pameleon Bolon (Sipaha Lima), yang diadakan pertama pada bulan Maret dan yang kedua bulan Juli. Yang kedua diadakan secara besar-besaran pada acara ini para Parmalim menyembelih kurban kerbau atau lembu. “Ini merupakan tanda syukur kami kepada Debata yang telah memberikan kehidupan,” kata Marnangkok.
Begitulah Ugamo Malim dalam ritual dan eksistensinya. Persoalan marginalisasi, kesucian, kontradiksi opini publik hingga harapan mereka, barangkali masih menunjukkan banyak pertanyaan. Namun, setidaknya dalam kepasrahan mereka dapat menikmati sedikit kebebasan di desa mereka sendiri, Hutatinggi. Tapi, hanya sedikit.
Sumber : (Toggo Simangunsong) Harian Global










5 Komentar
numpang berita ya ………!!
Wakil Kepala Staf Angkatan Darat (Wakasad) Letjen Cornel Simbolon menyatakan keprihatinan yang mendalam, karena ratusan meter hutan perawan di Tele, Kabupaten Samosir, Sumatera Utara, telah ditebas habis baru-baru ini. Selain mencemaskan resiko bencana longsor, apabila areal hutan seluas 2.250 hektar di daerah itu habis dibabat, Cornel juga mensinyalir bahwa investor cuma ingin menyikat kayu disana.
Hal itu dikemukakan jenderal kelahiran Pangururan, Samosir ini dalam acara diskusi TobaDream Dialogue, Sabtu sore 91/3) di TobaDream Cafe, Jakarta. Cornel hadir di sana sebagai peserta, sedangkangkan pembicara diskusi dengan tema “Penyelamatan Danau Toba : Difficuit but Possible“‘ itu adalah Cosmas Batubara dan Bungaran Saragih. Keduanya bekas menteri.
Pernyataan keprihatinan itu dilontarkan Cornel Simbolon pada sesi tanya-jawab. Sebenarnya yang jadi sorotan saat itu adalah upaya penyelamatan Danau Toba, terutama dari aspek pariwisata dan lingkungan. Tapi Cornel tidak mengajukan pertanyaan, malah langsung meminta perhatian dan kepedulian hadirin terhadap pembabatan hutan ynag sedang berlangsung di Tele.
“Memang benar seperti dikatakan Lae (Suhunan) Situmorang tadi, hutan di Tele sedang terancam sekarang ini.Tidak tanggung-tanggung, hutan yang akan ditebang di kawasan tangkapan air itu mencapai 2.260 hektar. Katanya mau dibuat kebun bunga. Katanya bunganya untuk diskspor,”papar jenderal yang cinta lingkungan itu.
“Kita sangat prihatin karena ratusan meter hutan perawan di sana sudah dibabat habis, katanya buat jalan ke areal yang akan diubah jadi kebun bunga,’tambahnya.
“Tele itu adalah daerah tangkapan air, dan seperti tadi dijelaskan Pak Bungaran, daerah itu sangat ringkih dan rawan longsor,”tutur Cornel sambil menegaskan,”Saya setuju dengan apa yang dikatakan Lae Situmorang, saya mengerti apa yang dikuatirkannya, bahwa besar kemungkinan rencana membuat kebun bunga di bekas areal hutan seluas 2.250 hektar itu hanya kedok. “
Yang disitir Cornel adalah ucapan Suhunan Situmorang di awal acara, saat menyampaikan kata sambutan selaku Ketua Steering Commitee TobaDream Dialogue. Suhunan membeberkan kepada hadirin mengenai pembabatan hutan di Tele, termasuk sinyalemennya bahwa target utama investor PT EJS dari Korse adalah menyikat kayu di hutan alam itu.
“Memang sudah banyak kejadian seperti itu, “ujar Wakasad Cornel Simbolon. “Hutan dibabat, katanya mau buat kebun kelapa sawit atau kebun bunga. Tapi, setelah hutan dibabat dan kayunya dijual, investornya kabur. Makanya kita harus cermati terus perkembangan di Tele ini. Itu adalah daerah tangkapan air, sebagian masih hutan perawan. Kenapa itu harus dibabat ?”
“Makanya kita harus selamatkan hutan Tele. Kalau perlu kita panggil Bupati Samosir Mangindar Simbolon ke Jakarta, untuk menjelaskan kebijakannya membabat hutan perawan di sana, “tegas putra Samosir yang kenal liku-liku kawasan Tele itu.
Hutan lindung
Letjen Cornel Simbolon, yang bicara berdasarkan hasil pengecekan terbaru di lapangan, dengan blak-blakan menyatakan kurang yakin mengenai kelayakan investasi kebun bunga di Tele. “Mau diangkut pakai apa bunga-bunga itu ke Medan ? Dan kalaupun bisa, biaya transportasinya pasti sangat mahal. Pokoknya sangat meragukan, sehingga lebih masuk akal kalau investor hanya mengincar kayunya,”ujarnya.
Menurut Cornel, selain penyelamatan hutan Tele, agenda sangat penting yang harus segera dilakukan adalah menentukan peta hutan di Samosir. “Perlu segera dilakukan maping untuk menetapkan yang mana hutan lindung, yang mana hutan ulayat. Di Samosir belum jelas maping seperti itu.”tandasnya.
Dalam kesempatan itu Cornel Simbolon menyatakan sangat menghargai dan mendukung program konservasi yang akan dikerjakan Komunitas TobaDream. Besok pagi (9/2) rombongan Komunitas TobaDream akan terbang ke Medan, untuk selanjutnya pada Senin 3 Maret 2008, tepat pukul 3, akan menanam pohon pada areal seluas 2 hektar di desa Martoba , Kecamatan Sidihoni, Kabupaten Samosir.
“Sangat saya hargai dan dukung program penanaman pohon yang akan dilaksanakan Komunitas TobaDream. Tapi perlu saya pesankan, kalian harus pentingkan untuk menjalin kerjasama dengan penduduk setempat. Jangan asal nanam pohon, tapi penduduk di sana hanya jadi penonton, akan sia-sia,”kata Cornel.
Dewasa ini banyak berkembang aliran kepercayaan yang menjurus kepada kebathinan. Apabila kita perhatikan di adat Jawa seperti misalnya aliran Kejawen. Hal ini tentu sah-sah saja, yang penting bahwa ajaran aliran kepercayaan itu tetap menrujuk kepada sebuah kitab suci agama yang dianut. Di Kantor kami (Bank Yudha Bhakti, Jakarta) beberapa pejabat ada yang memeluk suatu kepercayaan yang diyakini dapat membawa berkat (keberuntungan). Apalagi aliran kepercayaan tersebut tidak bertentangan dengan adat kebuadayaan. Demikian, mauliate godang.
<>.
Tulisan ini pertama sekali saya baca di Silaban.net (Persis Sama). Sumber : (Toggo Simangunsong) Harian Global, Artikel/Minggu,7 Jan’07, dan saya menanggapinya sebagai penanggap ke-5,:
Tanggapan Maridup Hutauruk:
Pada tanggal 26 Juni 2007 jam 9:11 pm
…….. Saya memang bukan penganut parmalim tapi sangat setuju anjuran bpk utk memberi ruang kpd parmalim. Saya melihat dari sudut pandang budaya dan terimakasih masih ada komunitas yang melestarikannya. Soalnya saya khawatir pak..kami ini akan punah digilas yang disebut ‘mono-culture’. Mauliate tu hamu Parmalim, Mulajadi Nabolon do mulajadi saluhut portibi on. Horas.
Tanggapan Maridup Hutauruk:
Pada tanggal 14 Oktober 2007 jam 3:28 pm
Mungkin ini hanya sebagai wacana penambah wawasan masyarakat bangsa batak bahwa agama parmalim mulai populer pada masa pemerintahan Sisingamangaraja X (sepuluh), yang sudah menjalin hubungan erat dengan kerajaan Aceh (islam). Agama ini berlanjut sampai kepada penyerahan kedaulatan keagamaan diserahkan oleh Sisingamangaraja XII (duabelas) kepada Raja Mulia Naipospos, sebelum Sisingamangaraja-XII menghembuskan nafas terakhir. Perlu pemahaman bahwa agama parmali bukanlah agama batak, tetapi sekelompok batak menganut agama ini semasa tanah batak mulai dimasuki oleh pengaruh asing (Paderi, Evangelisasi Kriten, penjajahan Belanda/Inggeris).Agama Bangsa Batak adalah agama yang dianut oleh Bangsa Batak yang sama tuanya dengan legenda Siboru Deangparujar, yang meriwayatkan panompaan banua-banua dan mula ni jolma, yang kemudian berlanjut kepada penataan tatanan kemasyarakatan dengan Dalihan Natolu. Intinya agama Bangsa Batak yang monotheis berorientsi kepada Mulajadi Nabolon sebagai ’supreme god’, sementara datu (konotasi positip) adalah sebagai perantara kepada Mulajadi Nabolon (pengejawantahannya sama dengan nabi-nabi pada sejarah Perjanjian Lama di Alkitab Kristen)
Kajian pribadi tentang batak sudah menunjuk kepada penemuan-penemuan purba di lembah indus (bronze-age)yg sdh terjalin perdagangan dgn sumer/akhadia (sekarang Iraq) untuk perdagangan jenis logam yang berasal dari Meluhha yaitu P.Sumatra yang harus ditempuh dengan marluga; malluga = meluhha (suatu pulau). Bahwa kata Batak berasal dari (bat.a)yang mempunyai berbagai arti, tetapi yang mendekati kepada konteks ‘Habatahon’ diartikan sebagai bat.a = jalan, bat.a = sej.burung, d.e.bat.a = sej. burung besar, bat.ara/ batara = burung berwarna abu, batak= sej. itik terbang; inilah terjemahan glyph yg ditemukan pada kapal karam di daerah Haifa yang diperkirakan ada pada peradaban ‘bronze-age’ sekitar abad 20-an sebelum masehi; korelasinya dengan legenda Debata Asiasi dalam wujud Manuk Patiaraja sebagai jalan manusia penyampai pesan kpd Mulajadi Nabolon. Bat.a dikatakan juga sebagai ‘pengelana’; Sementara dalam bahasa batak, kata ‘batak’ berarti ‘memecut kuda untuk berlari kencang’.
Banyak lagi misteri habatahon yang perlu diungkap agar insan-insan yg masih berasal dari keturunan Bangsa Batak mengetahui identitasnya, yang dalam konteks kebangsaan Indonesia menjadi manusia paling berhak menyebut dirinya asli pemilik Indonesia oleh karena dapat merunut identitasnya sampai 20 generasi kebelakang. Siapa lagi yg bisa klaim keasliannya di Indonesia ini selain manusia Bangsa Batak. Jadi Batak harus menyadari kesulitan2 administratip yg dialaminya dikeasliannya sbg satu unsur bernegara.
Horas!
Tanggapan Maridup Hutauruk:
Pada tanggal 14 Oktober 2007 jam 3:46 pm
Pada masa pemerintahan Sisingamangaraja-X berkembang penganut agama parmalim yang sudah berhubungan baik dengan kerajaan Aceh (islam). Kata parmalim sendiri berasal dari kata malim=orang suci. Sisingamangaraja adalah sebutan suatu gelar yang berkuasa berazaskan keagamaan (Priest King).Sisingamangaraja bukanlah berkonotasi singa-mangaraja sebagaimana legenda spinx di mesir yang melambangkan kekuatan menguasai. Kata ’singa’ tidaklah dikenal di batak kuno, karena binatang singa sebagai simbolisari kekuatan dan kekuasaan bukanlah dari kata Singa = binatang singa, melainkan berdasarkan dari kata ’sanga = priest’; kata ini terungkap dari penelitian bahasa yang dipakai pada masa (bronze-age), kemudian beradaptasi ke bahasa yang dipakai di kawasan India, termasuk bahasa yang dipakai dalam carita mahabharata
HORAS !! Perkenalkan saya, Drs. Jongker Simatupang,Ak.,MM, Sarjana Akuntansi Universitas Indonesia Lulusan Tahun 1989, dan lulus Program S2 / Magister Akuntasi Universitas Indonesia Tahun 1993. Saya pernah bekerja di Bank Duta. Saya cicit kandung dari Pahlawan Nasional Jenderal (Purn) TB Simatupang. Sekarang saya bekerja di Kantor Pusat Bank Yudha Bhakti dan jabatan yang saya pangku sekarang sebagai Direktur Operasional. Saat ini saya sedang ambil Program Magister S3 / Doktor di Universitas Indonesia. Mauliate godang…
Tuhan
Pesan 1: Tuhan – Terbagi : 25
1. Berawal dengan sesuatu gumpalan dengan material-material yang ajaib dan menakjubkan.
2. Saat itu, Tuhan muncul dengan secara sempurna tanpa sesuatu dari apa pun.
3. Dengan kesempurnaanNya itu, maka Ia membagi diriNya sendiri menjadi pecahan yang sangat sempurna.
4. Akhirnya, Tuhan membelah diriNya sendiri agar ada banyak bermacam-macam materi-materi yang sulit untuk diketahui oleh siapa pun.
5. Tuhan membelah diriNya sendiri lagi agar menjadi gumpalan roh-roh.
6. Saat itu, Ia mempunyai pecahan sangat sempurna yang tidak usah memakai perintah berlebihan.
7. Akhirnya, jadilah sebuah lapangan besar serta ruangan yang tidak tahu sampai di mana batasnya dan dengan pecahan-pecahanNya itu, Ia jadikan roh-roh yang akan menjadi mahkluk-mahklukNya.
8. Dari pecahanNya itu, Ia mempunyai dua roh yang akan menemaniNya di rumahNya.
9. Saat itu, kedua roh-roh pecahanNya berkeliling di sekitar halaman rumah Tuhan.
10. Akhirnya, kedua roh-rohNya itu bertemu dengan dua pecahanNya yang agak aneh.
11. Kedua roh-roh dari pecahanNya itu berbicara dengan dua pecahanNya yang agak aneh itu.
12. Lalu, mereka berdua berkata : Lihatlah itu, kita ada teman yang akan menjadi teman kita. Lalu, mereka berdua menjumpai kedua roh-roh pecahanNya itu.
13. Hey mahkluk baru, apa yang kalian berdua lakukan di sekitar ini ?.
14. Lalu, kedua roh itu menjawab : Kami berdua dari pecahanNya, lalu Ia menawarkan untuk menjelajahi lapanganNya serta lainnya agar kami tahu.
15. Saat itu, kedua pecahanNya yang aneh itu mengajak kedua roh-roh dari pecahanNya itu untuk berjalan bersama mereka.
16. Lalu mereka menyuruh kedua roh-roh itu untuk merasakan hal indah yang belum mereka berdua merasakan.
17. Lalu kedua pecahanNya itu berkata : Sudahkah kalian berdua merasakan hal indah seperti kami berdua ?.
18. Kedua roh-rohNya itu menjawab : Kami berdua belum tahu apa maksud merasakan hal indah itu.
19. Mereka berdua akhirnya menunjukkan hal indah yang kedua roh-roh pecahanNya itu lakukan.
20. Ketika mereka berdua menunjukkan kepada kedua roh-roh pecahanNya itu, seketika itu ada gempa yang sangat kuat.
21. Akhirnya mereka berdua kaget dan berlari dengan cepat, sebaliknya juga kedua roh-roh pecahanNya itu berlari ke arah yang sama.
22. Lalu, kedua pecahanNya itu yang aneh mengajak lagi untuk melihat keindahan yang belum mereka sempat lihat.
23. Saat itu, akhirnya mereka berdua melihat keindahan itu dengan jelas sampai mereka tidak lupa akan hal itu.
24. Setelah selesai untuk memperlihatkan keindahan kedua pecahanNya itu, mereka sangat ingin melakukan seperti yang sudah mereka lihat.
25. Tidak lama kemudian, kedua roh-roh pecahanNya itu diambil oleh Tuhan untuk menghuni tempat baru dari pecahanNya yaitu alam semesta.
Alam Semesta
Pesan 2 : Alam Semesta – Terbagi : 20
1. Saat setelah Tuhan memasukkan kedua roh-roh pecahanNya itu ke alam semesta, mereka ditempatkan oleh Tuhan di bumi ini.
2. Saat itu, bumi ini masih terbentuk tidak sempurna, sambil kedua roh-roh pecahanNya itu sambil berjalan-jalan di dalam alam semesta, akhirnya bumi ini jadilah tempat yang sangat sempurna untuk mereka berdua.
3. Setelah bumi terbentuk, Tuhan mengirim mereka berdua ke dalam pusat tanah bumi yang berlahar merah, dan akhirnya Tuhan mengubah pecahanNya itu menjadi manusia yang belum sempurna dengan gumpalan tanah merah yang sudah kering.
4. Lalu, Tuhan menyempurnakan kedua pecahanNya itu dengan keajaibanNya.
5. Akhirnya, jadilah kedua roh-roh pecahanNya itu menjadi sepasang manusia yaitu laki dan perempuan.
6. Saat itu, keduanya diberi nama olehNya Laki dan Perempuan.
7. Mereka berdua sangat kaget setelah berada di permukaan bumi yang belum mereka ketahui dan sangat berbeda dengan rumah Tuhan.
8. Tapi, mereka berdua tidak mempedulikan bahwa mereka telanjang.
9. Lalu, yang mereka ingat terakhir mereka berdua bertemu dengan dua mahklukNya di luar lingkungan rumah Tuhan, dan mempertunjukkan keindahan kedua mahklukNya itu, dan ketika itu ada gempa dahsyat, dan mereka berdua berlari dengan jalan yang sama kedua mahklukNya itu.
10. Setelah itu, mereka ingat terakhir kedua mahkluk itu memperlihatkan keindahan mereka, dan akhirnya Tuhan membawa mereka ke bumi saat mereka belum sadar.
11. Lalu, Tuhan berkata kepada kedua laki dan perempuan itu, hey kedua mahklukKu yang sempurna, Aku sudah beri kalian berdua tempat untuk hidup dan Aku sudah beri nama kepada kalian berdua.
12. Nama itu, kalian berdua harus ingat, hey mahklukKu (Laki), namamu adalah Laki dan temanmu (Perempuan) itu adalah Perempuan.
13. Lalu, kedua manusia itu mengingat nama mereka terus-menerus sambil mereka berkeliling di sekitar tanah luas di bumi.
14. Saat itu, mereka berdua mengingat lagi kedua mahklukNya itu memperlihatkan keindahan mereka.
15. Akhirnya, mereka berdua pun melakukan hal yang sama seperti kedua mahklukNya yang aneh itu.
16. Setelah itu, mereka berdua merasakan hal yang sama dengan kedua mahklukNya yang aneh itu.
17. Mereka sangat puas dengan keindahan yang dilakukan oleh mereka berdua.
18. Setelah itu, Tuhan memberikan mereka berdua buah-buahan dan tumbuh-tumbuhan yang berwarna-warni di atas permukaan bumi.
19. Akhirnya, mereka berdua menikmati hidangan yang sudah disiapkan oleh Tuhan sejak bumi terbentuk dan sebelum mereka berdua ada, sudah ada binatang-binatang raksaksa yaitu penghuni kedua setelah tanaman-tanaman dan buah-buahan.
20. Lalu, mereka berdua akhirnya mempunyai keturunan yang akan meneruskan menghuni bumi ini sampai punah.
Keturunan
Pesan 3 : Keturunan – Terbagi : 5
1. Akhirnya, mereka berdua mempunyai keturunan untuk memperbanyak keturunan agar menghuni bumi ini lebih banyak.
2. Setelah mereka mempunyai keturunan, maka beberapa keturunan mereka berdua mempunyai keturunan sampai berlipatganda.
3. Setalah itu, mereka berdua akhirnya kembali lagi ke rumah Tuhan setelah mereka sudah merasakan hal indah bersama pasangan dan keturunan yang berlipatganda itu.
4. Tapi, mereka sangat khawatir dengan keturunan mereka yang banyak itu, karena mereka berdua takut terjadi sesuatu hal yang tidak dinginkan oleh mereka.
5. Lalu Tuhan berkata : Janganlah khawatir dengan keturunan-keturunan kalian berdua, karena mereka akan menyempurnakan sejarah di bumi.
Terpecah Belah Tanah Di Bumi
Pesan 4 : Terpecah Belah Tanah Di Bumi – Terbagi : 7
1. Lalu, keturunan-keturunan Laki dan Perempuan itu mempunyai akal sangat baik, tapi, dari banyak keturunan-keturunan mereka berdua itu ada yang baik dan buruk.
2. Saat itu, keturunan-keturunan mereka berdua, sedikit demi sedikit agak lebih sempurna daripada mereka berdua.
3. Mereka merantau dan saling bertarung demi apa saja dan sebagainya.
4. Lalu, seketika itu juga saat mereka merantau, terjadilah gempa dahsyat yang sampai mereka berlari-lari tanpa tujuan.
5. Akhirnya, tanah di bumi terpecah belah menjadi beberapa pecahan.
6. Setelah gempa usai, masing-masing keturunan Laki dan Perempuan tidak tahu berada di mana setelah gempa itu.
7. Lalu, mereka mencari-cari pasangan mereka sampai akhirnya mereka menemukan masing-masing pasangan mereka.
Muncullah Indonesia
Pesan 5 : Muncullah Indonesia – Terbagi : 3
1. Setelah terpisah dari saudara-saudara mereka, mereka berusaha mengembangkan sesuatu di atas tanah air ini.
2. Masing-masing keturunan Laki dan Perempuan, mereka menghuni masing-masing pulau di Indonesia.
3. Setelah menghuni bertahun-tahun, akhirnya banyaklah keturunan-keturunan di Indonesia sampai masing-masing tidak mengenal lagi saudara-saudara mereka.
Dinamisme
Pesan 6 : Dinamisme – Terbagi :
1.
Animisme
Pesan 7 : Animisme – Terbagi :
1.
Sunda Wiwitan
Pesan 8 : Sunda Wiwitan – Terbagi :
1.
Agama Djawa Sunda
Pesan 9 : Agama Djawa Sunda – Terbagi :
1.
Buhun
Pesan 10 : Buhun – Terbagi :
1.
Kejawen
Pesan 11 : Kejawen – Terbagi :
1.
Parmalim
Pesan 12 : Parmalim – Terbagi :
1.
Kaharingan
Pesan 13 : Kaharingan – Terbagi :
1.
Tonaas Walian
Pesan 14 : Tonaas Walian – Terbagi :
1.
Tolottang
Pesan 15 : Tolottang – Terbagi :
1.
Wetu Telu
Pesan 16 : Wetu Telu – Terbagi :
1.
Naurus
Pesan 17 : Naurus – Terbagi :
1.
Aliran Mulajadi Nabolon
Pesan 18 : Aliran Mulajadi Nabolon – Terbagi :
1.
Marapu
Pesan 19 : Marapu – Terbagi :
1.
Purwoduksino
Pesan 20 : Purwoduksino – Terbagi :
1.
Budi Luhur
Pesan 21 : Budi Luhur – Terbagi :
1.
Pahkampetan
Pesan 22 : Pahkampetan – Terbagi :
1.
Bolim
Pesan 23 : Bolim – Terbagi :
1.
Basora
Pesan 24 : Basora – Terbagi :
1.
Samawi
Pesan 25 : Samawi – Terbagi :
1.
Sirnagalih
Pesan 26 : Sirnagalih – Terbagi :
1.
Sejarah
Pesan 27 : Sejarah – Terbagi :
1.
Pangeran Madrais
Pesan 28 : Pangeran Madrais – Terbagi :
1.