Tata Cara dan Urutan Pernikahan Adat Na Gok

1. Mangarisika..

Adalah kunjungan utusan pria yang tidak resmi ke tempat wanita dalam rangka penjajakan. Jika pintu terbuka untuk mengadakan peminangan maka pihak orang tua pria memberikan tanda mau (tanda holong dan pihak wanita memberi tanda mata). Jenis barang-barang pemberian itu dapat berupa kain, cincin emas, dan lain-lain.

2. Marhori-hori Dinding/marhusip..

Pembicaraan antara kedua belah pihak yang melamar dan yang dilamar, terbatas dalam hubungan kerabat terdekat dan belum diketahui oleh umum.

3. Marhata Sinamot..

Pihak kerabat pria (dalam jumlah yang terbatas) datang oada kerabat wanita untuk melakukan marhata sinamot, membicarakan masalah uang jujur (tuhor).

4. Pudun Sauta..

Pihak kerabat pria tanpa hula-hula mengantarkan wadah sumpit berisi nasi dan lauk pauknya (ternak yang sudah disembelih) yang diterima oleh pihak parboru dan setelah makan bersama dilanjutkan dengan pembagian Jambar Juhut (daging) kepada anggota kerabat, yang terdiri dari :

1. Kerabat marga ibu (hula-hula)

2. Kerabat marga ayah (dongan tubu)

3. Anggota marga menantu (boru)

4. Pengetuai (orang-orang tua)/pariban

5. Diakhir kegiatan Pudun Saut maka pihak keluarga wanita dan pria bersepakat menentukan waktu Martumpol dan Pamasu-masuon.
5. Martumpol (baca : martuppol)
Penanda-tanganan persetujuan pernikahan oleh orang tua kedua belah pihak atas rencana perkawinan anak-anak mereka dihadapan pejabat gereja. Tata cara Partumpolon dilaksanakan oleh pejabat gereja sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Tindak lanjut Partumpolon adalah pejabat gereja mewartakan rencana pernikahan dari kedua mempelai melalui warta jemaat, yang di HKBP disebut dengan Tingting (baca : tikting). Tingting ini harus dilakukan dua kali hari minggu berturut-turut. Apabila setelah dua kali tingting tidak ada gugatan dari pihak lain baru dapat dilanjutkan dengan pemberkatan nikah (pamasu-masuon).

6. Martonggo Raja atau Maria Raja.

Adalah suatu kegiatan pra pesta/acara yang bersifat seremonial yang mutlak diselenggarakan oleh penyelenggara pesta/acara yang bertujuan untuk :
Mempersiapkan kepentingan pesta/acara yang bersifat teknis dan non teknis
Pemberitahuan pada masyarakat bahwa pada waktu yang telah ditentukan ada pesta/acara pernikahan dan berkenaan dengan itu agar pihak lain tidak mengadakan pesta/acara dalam waktu yang bersamaan.
Memohon izin pada masyarakat sekitar terutama dongan sahuta atau penggunaan fasilitas umum pada pesta yang telah direncanakan.

7. Manjalo Pasu-pasu Parbagason (Pemberkatan Pernikahan)
Pengesahan pernikahan kedua mempelai menurut tatacara gereja (pemberkatan pernikahan oleh pejabat gereja). Setelah pemberkatan pernikahan selesai maka kedua mempelai sudah sah sebagai suami-istri menurut gereja. Setelah selesai seluruh acara pamasu-masuon, kedua belah pihak yang turut serta dalam acara pamasu-masuon maupun yang tidak pergi menuju tempat kediaman orang tua/kerabat orang tua wanita untuk mengadakan pesta unjuk. Pesta unjuk oleh kerabat pria disebut Pesta Mangalap parumaen (baca : parmaen)
8. Pesta Unjuk

Suatu acara perayaan yang bersifat sukacita atas pernikahan putra dan putri. Ciri pesta sukacita ialah berbagi jambar :

1. Jambar yang dibagi-bagikan untuk kerabat parboru adalah jambar juhut (daging) dan jambar uang (tuhor ni boru) dibagi menurut peraturan.

2. Jambar yang dibagi-bagikan bagi kerabat paranak adalah dengke (baca : dekke) dan ulos yang dibagi menurut peraturan. Pesta Unjuk ini diakhiri dengan membawa pulang pengantin ke rumah paranak.
9. Mangihut di ampang (dialap jual)

Yaitu mempelai wanita dibawa ke tempat mempelai pria yang dielu-elukan kerabat pria dengan mengiringi jual berisi makanan bertutup ulos yang disediakan oleh pihak kerabat pria.

10. Ditaruhon Jual.

Jika pesta untuk pernikahan itu dilakukan di rumah mempelai pria, maka mempelai wanita dibolehkan pulang ke tempat orang tuanya untuk kemudian diantar lagi oleh para namborunya ke tempat namborunya. Dalam hal ini paranak wajib memberikan upa manaru (upah mengantar), sedang dalam dialap jual upa manaru tidak dikenal.

11. Paranak makan bersama di tempat kediaman si Pria (Daulat ni si Panganon)

1. Setibanya pengantin wanita beserta rombongan di rumah pengantin pria, maka diadakanlah acara makan bersama dengan seluruh undangan yang masih berkenan ikut ke rumah pengantin pria.

2. Makanan yang dimakan adalah makanan yang dibawa oleh pihak parboru

12. Paulak Unea..

a. Setelah satu, tiga, lima atau tujuh hari si wanita tinggal bersama dengan suaminya, maka paranak, minimum pengantin pria bersama istrinya pergi ke rumah mertuanya untuk menyatakan terima kasih atas berjalannya acara pernikahan dengan baik, terutama keadaan baik pengantin wanita pada masa gadisnya (acara ini lebih bersifat aspek hukum berkaitan dengan kesucian si wanita sampai ia masuk di dalam pernikahan).
b. Setelah selesai acara paulak une, paranak kembali ke kampung halamannya/rumahnya dan selanjutnya
memulai hidup baru.

13. Manjahea.

Setelah beberapa lama pengantin pria dan wanita menjalani hidup berumah tangga (kalau pria tersebut bukan anak bungsu), maka ia akan dipajae, yaitu dipisah rumah (tempat tinggal) dan mata pencarian.

14. Maningkir Tangga (baca : manikkir tangga)
Beberapa lama setelah pengantin pria dan wanita berumah tangga terutama setelah berdiri sendiri (rumah dan mata pencariannya telah dipisah dari orang tua si laki-laki) maka datanglah berkunjung parboru kepada paranak dengan maksud maningkir tangga (yang dimaksud dengan tangga disini adalah rumah tangga pengantin baru). Dalam kunjungan ini parboru juga membawa makanan (nasi dan lauk pauk, dengke sitio tio dan dengke simundur-mundur).Dengan selesainya kunjungan maningkir tangga ini maka selesailah rangkaian pernikahan adat na gok.

Yang menjadi bahan pertanyaan sekarang adalah :

a. Apa kebaikan dan keburukan urutan pernikahan adat na gok diatas ?

b. Masih relevankah tata cara pernikahan adat na gok diatas pada jaman sekarang ini ?

About these ads

85 Comments

  1. roit manurung
    Posted Februari 5, 2008 at 7:45 pm | Permalink

    sangat bagus dapat membantu halak batak yg lahir di jakarta.

  2. apri damanik
    Posted April 2, 2008 at 10:29 pm | Permalink

    sangt membantu memehami budaya simalungun

  3. Riris Melati Sinaga
    Posted April 12, 2008 at 5:12 pm | Permalink

    acara pernikahan adat bataknya bagus banget..
    dan sangat membantu buat kita anak muda yang kurang pengetahuan tentang adat.dan adat batak itu sangat luar biasa…

  4. Posted April 23, 2008 at 11:59 pm | Permalink

    kalau untuk kebaikanya y emnag baik karena dengan adanya acara sperti itu maka akan lebih dapa mengenal budaya sendiri dan memahami bahwa suku batak itu memang kaya akan adat budaya.

    kalu soal relevannya itu tergantung dari diri masing2 orng yang menjalaninya,dan menurut saya itu cukup relevan koq. AKur y.:-)

  5. Posted April 27, 2008 at 8:07 pm | Permalink

    @roit manurung, @apri damanik, @Riris Melati Sinaga, @eZra Sirait : mauliate godang

  6. Posted Mei 9, 2008 at 11:22 pm | Permalink

    saya mau nanya bisa gak menikah apabila marga ibu kita sama.
    mohon pencerahannya ke e-mail saya…
    salam

  7. eira
    Posted September 12, 2008 at 12:33 pm | Permalink

    saya sedand mencari budaya dan tata cara yg lengkap dalam pernikahan batak terus terang saya sebenarnya bukan keturunan batak.. terimakasih atas bantuannya

  8. Posted Februari 3, 2009 at 11:32 am | Permalink

    Sebagai orang batak qta mau tidak mau harus mengikuti budayanya hanya ada sisi-sisi tertentu yang perlu ditinjau kembali dengan persepsi masing-masing suku.

    sangat setuju aku dengan pendapat lae

  9. marieta
    Posted Februari 11, 2009 at 3:02 pm | Permalink

    saya setuju sekali dgn pendapat abang,,klo bukan kita orang batak yang jaga budaya batak sapa lagi??

  10. siska
    Posted Februari 19, 2009 at 10:22 am | Permalink

    satu hal yang sangat bagus, karena dengan adanya adat ini, kita juga boleh mengerti kita sudah diterima baik oleh pihak gereja dan juga kerabat. Dan ada dasar yang kuat dalam hidup rumah tangga. Mauliate

  11. nita
    Posted Februari 23, 2009 at 2:48 pm | Permalink

    sebenarnya sangat baik untuk kita2 yang lahir di kota tp yang jadi pertanyaan apakah adat sepanjang itu perlu dilakukan semua?
    Kan kita ini bukan semuanya orang berada,dan pesta sebesar itu memerlukan biaya yang sangat besar pula.

    harus menyesuaikan dengan keadaan

  12. Posted Maret 9, 2009 at 11:36 am | Permalink

    tata urutanya msh ada yang kurang… karna orang batak bukan hanya hkbp kn ada yang muslim jg jd dibuat dunk jika muslim.

  13. Posted Maret 9, 2009 at 11:45 am | Permalink

    adat pak-pak ada gak?

  14. maria sipahutar
    Posted April 1, 2009 at 10:24 am | Permalink

    saya sangat suka dengan pesta adat dan lagu2 batak

  15. Ramos P Hutagalung
    Posted April 14, 2009 at 3:47 pm | Permalink

    Horas Oppung Lae, Tulang, Amang Boru,Kale-kale.
    Kalau kata umpasa: Napinukka ni parjulo di paihut-ihut na um pudi.Dan Bukan Dipature na um pudi.Jadi kalau tidak mampu, apa kata dunia? Mate maho Haaa…..Haaaa….Haaaa….

  16. friska
    Posted Juni 4, 2009 at 5:36 pm | Permalink

    mantap kale,
    sangat membantu kaum muda,apalagi seperti kami yang kurang mengerti tentang adat batak,mantaplah
    thanks buat anda

  17. Johnny
    Posted Juli 15, 2009 at 8:02 pm | Permalink

    acara perkawinan adat batak saya sangat setuju /teruskan /lanjutkan haha..haha…namun tu angka raja parhata ke dua belah pihak unang pagajangku umpasa nai dibaenma sesingkat singkatnya asa singkat juga acara i.

  18. Ellyana.aritonang
    Posted Juli 30, 2009 at 2:38 pm | Permalink

    mang adat batak baik-baik kalau nika tapi jika da memiliki adak basti buruk.oya mang pernikahan orang batak enak ya dan cantik-canti lagi pakaiannya/busananya apalagi ulosnya bagus2 dan manis2 di pandang.

  19. Sinaga
    Posted Agustus 11, 2009 at 3:08 pm | Permalink

    Sisi baiknya adalah; bagi kita orang batak tidak akan kehilangan jati diri / adat istiadat yg penting untuk ita lestarikan.

    sis buruknya adalah : biaya, biaya disetiap melaksakan upacara adat yang sangat besar,

    mohon agar tetua dapat melakukan penghematan dalam setiap melaksanakan upacara adat.
    yang terladang karena ego dapat mengorbankan sisi ekonomi.

    Banyak acara adat batak, setiap pemilik hajatan pasti terhutang, jangan bicara untung, impaspun jarang.

  20. Posted Agustus 27, 2009 at 7:14 pm | Permalink

    bagus utk mempelajari adat batak,terutama yang merantau

  21. Thormen Marbun
    Posted September 6, 2009 at 3:04 pm | Permalink

    Adat batak itu sangat baik dijalankan, berdasarkan urutan2 itulah kita dapat menghargai diri kita sendiri melalui adat tersebut, kalau kita tidak menghargai diri kita sendiri niscaya orang lain juga tidak akan menghargai kita, jadi mari kita tetap menjaga adat istiadat kita, horas bangso batak……..

  22. khadier
    Posted September 7, 2009 at 2:32 pm | Permalink

    ak perlu tata cara pernikahan adat mandailing selengkap2 nya ni, kl ada yg tau tlng bntu ak , krimkan k email ak ya (Babyjhon@ymail.com).

    Terima kasih

  23. desy angelia sihombing
    Posted Oktober 21, 2009 at 9:03 am | Permalink

    Bagus bgt..
    Untung ad ini tgs kampus aq jd bs
    Kelar deh..
    Lengkap banget..

  24. tumbur pardede
    Posted Oktober 21, 2009 at 9:35 pm | Permalink

    sangat bagus!!! terima kasih atas informasinya.

  25. susanti napitupulu
    Posted Oktober 25, 2009 at 3:45 pm | Permalink

    saya sedang memerlukan data tentang tata csra dan urutan pernikahan,jdi saya minta tolong dikirimkan kealamat email saya ini.GBU

  26. susanti napitupulu
    Posted Oktober 25, 2009 at 3:46 pm | Permalink

    sy memohon agar data ini segera dikirim keemail saya,krn saya sdng mmbutuhkan bahan ini

  27. agha
    Posted Oktober 30, 2009 at 9:59 am | Permalink

    minta tolong,kasih masukan bagai mana tata cara pernikahan pria jawa & perempuan ny batak,aku bingung….please help me…..terima kasih sebelumnya….

  28. helly situmorang
    Posted Januari 4, 2010 at 1:30 pm | Permalink

    luar biasaaaaaaaaa………!!! jd pengen tau soal adat batak lebih jauh lg.horas jala gabeee…..!!!!

  29. Herwan Sigalingging
    Posted Januari 15, 2010 at 9:54 am | Permalink

    Ternyata ribet banget adat batak ini

  30. rina silaban
    Posted Februari 15, 2010 at 3:23 pm | Permalink

    bahhhhh……godang nai ate angka adat ni halak bataki?????sampe hancit ulu mamereng,apalagi ma molo diparsiajari sandiri pusing utok2.ada tidak cara mudah mempelajarinya???????????????????

  31. alicia
    Posted Februari 18, 2010 at 1:17 pm | Permalink

    waahh … jujur aja saya bingung .. soalnya bukan orang batak .. tapi harus dipelajari lah soalnya mau jadi orang batak .. thx buat info nya .. akan saya pelajari trz sampai mengerti .. HIDUP BATAK …

  32. boru pangaribuan
    Posted Maret 12, 2010 at 12:43 pm | Permalink

    terimakasih sudah membantu pr saya :D

  33. Posted April 22, 2010 at 11:39 am | Permalink

    Bagus sekali info ini.
    Mudah-mudahan kita yang mau belajar Adat Na Gok dari Pernikahan bisa mengerti dan mau melaksanakan adat ini dengan baik.

    Adat ini adalah kekayaan suku Batak yang harus tetap dilestarikan dan dijalankan dikehidupan kita dimasa Modern ini.

    Syalom.

  34. ida
    Posted Mei 11, 2010 at 6:56 pm | Permalink

    horas,

    Keterangan ini sngt bagus sekali & menambah wawasan qt,tapi bagaimana bila pernikahan itu dilakukan bukan sesama batak( pihak lelaki non batak) apakah sama saja???
    siapa yg menentukan besar sinamot ato jumlah materi yg ada?
    minimal brp?
    Apakah istilah “beli marga itu wajib”? dan apa Dampak kedepannya bila dilakukan ato tidak?
    krn selama ini yg saya dengar mengenai hal itu sangat sensitif dan terkesan orang batak itu matrealistis(maaf).??
    Maaf klo ada Kata2 kurang sopan krn saya msh ingin tau.Tolong di bantu..

    Mauliate.

  35. joel girsang
    Posted Mei 28, 2010 at 5:40 pm | Permalink

    mantap tumang

  36. egy gultom
    Posted Juli 16, 2010 at 12:27 pm | Permalink

    SANGAT MEMBANTU SAYA UNTUK MENGETAHUI LEBIH DALAM ADAT BATAK

  37. tarihoran
    Posted Juli 26, 2010 at 8:09 pm | Permalink

    horas…………
    ini sangat bagus skali untuk kami para remaja remaja yg ingin tahu tentang adat batak
    horas jala gabe

  38. Mitha
    Posted Agustus 18, 2010 at 3:21 pm | Permalink

    Setuju..cari HEPENG susah sekarang,
    jadi sederhana sajalah..

    Sinaga
    Dituliskan Agustus 11, 2009 pada 3:08 pm | Tautan Permanen
    Sisi baiknya adalah; bagi kita orang batak tidak akan kehilangan jati diri / adat istiadat yg penting untuk ita lestarikan.

    sis buruknya adalah : biaya, biaya disetiap melaksakan upacara adat yang sangat besar,

    mohon agar tetua dapat melakukan penghematan dalam setiap melaksanakan upacara adat.
    yang terladang karena ego dapat mengorbankan sisi ekonomi.

    Banyak acara adat batak, setiap pemilik hajatan pasti terhutang, jangan bicara untung, impaspun jarang.

  39. Mitha
    Posted Agustus 18, 2010 at 3:25 pm | Permalink

    pertanyaan yang sama dan mohon jawabannya

    ida
    Dituliskan Mei 11, 2010 pada 6:56 pm | Tautan Permanen
    horas,

    Keterangan ini sngt bagus sekali & menambah wawasan qt,tapi bagaimana bila pernikahan itu dilakukan bukan sesama batak( pihak lelaki non batak) apakah sama saja???
    siapa yg menentukan besar sinamot ato jumlah materi yg ada?
    minimal brp?
    Apakah istilah “beli marga itu wajib”? dan apa Dampak kedepannya bila dilakukan ato tidak?
    krn selama ini yg saya dengar mengenai hal itu sangat sensitif dan terkesan orang batak itu matrealistis(maaf).??
    Maaf klo ada Kata2 kurang sopan krn saya msh ingin tau.Tolong di bantu..

    Mauliate.

  40. anak sekolah
    Posted Agustus 22, 2010 at 7:52 am | Permalink

    bagus bgt artikelnya dan sangat komplit …

  41. Posted Oktober 2, 2010 at 11:34 am | Permalink

    horassssssssssss
    kt smua hrs menjunjun tinggi adat batak krn itu real untk hukum adat
    blesssssssss youuuuuuuuuu.

  42. Posted Oktober 2, 2010 at 11:40 am | Permalink

    Horas…ma hita sudena..
    molo au …adat on hita junjung terus ..alai di sima warisani..alai unang gabe adati hita sombah.Tuhan ima hita sombah..i ma tutu..God bless,
    tulang, opung, inangtua, aka bere boru.ibebere..sudena..maaf kalau salah dalam penulisan pengucapan lafal batak..harap di maklumi karena baru belajar…

  43. Posted Oktober 2, 2010 at 11:47 am | Permalink

    salammmmmmmm
    kalau mslh sinamot dan acara adat itu bs di musyawarakan kpd pihak keluarga,hadapi aja dulu pasti bs,asal kt benar….thank

  44. philip
    Posted Oktober 18, 2010 at 11:36 am | Permalink

    Mau tanya dong, ttg tatacara membeli marga di adat batak. Ada yang bisa bantu ? atau di mana saya bisa memperoleh informasi tsb.
    Mauliate godang

  45. Posted Oktober 30, 2010 at 11:20 am | Permalink

    Ada prosesi sebelum pemberkatan yang bisa dikecualikan?
    Atau yang bisa digabung jadi satu?

    Runtutan prosesi yang panjang dikhawatirkan mengakibatkan pengeluaran yang besar.

    Berapa biaya yang biasanya dikeluarkan untuk runtutan pesta adat lengkap seperti yang disebutkan di atas?

  46. Posted November 4, 2010 at 9:46 am | Permalink

    utk informasi awal cukup krna hrs dibhs detailnya dan tiap suku btk ada perbdaannya

  47. Posted November 5, 2010 at 10:30 am | Permalink

    Adat adalah yang wajib kita lakukan, tapi alangkah baiknya bila dapat kita persingkat, jangan marteletele toh satu tujuannya, memang ada pepata mengatakan Napinungka ni oppu parjolo di ihutton naparpudi, tetapi alangkah baiknya napinungka ni parjolo dapat di modipikasi kaum muda asal jgn lari dari nilai2 adat itu . horassss

  48. victor sgl
    Posted November 8, 2010 at 2:46 pm | Permalink

    adat batak sangat baik, sekalipun ngejelimat kolo di hayati makna dan fungsinya luar biasa, dan juga ada nilai flesibelity di dalamnya. holong dan atau kasih tertuang secara mendalam. thx n gbu

  49. Posted November 13, 2010 at 10:51 am | Permalink

    seharusnya orang batak mempelajari adat batak dan ambillah hikmahnya,
    adat itu tak perlu dimusuhi malah dianggap pekerjaan setan seperti kata-kata orang yang menyatakan dirinya kudus padahal ia bagaikan katak di bawah tempurung,hati-hati dengan orang memanfaatkan ayat-ayat
    tertentu supaya ia memperkaya diri dan keluarganya.Kemudian orang yang terlalu fanatik dengan adatpun percayalah bahwa adat tak ada berubah sesuai perkembangan jaman. Diatei tupa ma .

  50. Posted November 13, 2010 at 10:58 am | Permalink

    seharusnya orang batak mempelajari adat batak dan ambillah hikmahnya,
    adat itu tak perlu dimusuhi malah dianggap pekerjaan setan seperti kata-kata orang yang menyatakan dirinya kudus padahal ia bagaikan katak di bawah tempurung,hati-hati dengan orang memanfaatkan ayat-ayat
    tertentu supaya ia memperkaya diri dan keluarganya.Kemudian orang yang terlalu fanatik dengan adatpun percayalah bahwa adat berubah sesuai perkembangan jaman. Diatei tupa ma .

  51. Posted Desember 6, 2010 at 6:52 pm | Permalink

    Ini kurang spesifik.
    Buat dong yg lebih update, lebih terdefenisi.
    Jadi kesulitannya melaksanakan acara pernikahan Adat Batak itu di bagian mananya?
    Menurut saya, cuma repot doang.
    Tapi itulah orang Batak.
    Makin repot, maka nilai kesakralannya itu makin sangat dijunjung tinggi.
    Makanya, berbahagialah dilahirkan mjd seorang Batak. Mauliate :)

  52. Posted Maret 15, 2011 at 10:31 am | Permalink

    SAYA KAGUM DGN ADAT BATAK.MADAH2AN ADAT BATAK SEMAKIN MAJU&JANGAN PERNAH MALU JADI ORANG BATAK.BATAK CAHYOOO TRUZZZZZZZZZZZ, SYALOOM,,

  53. Nesa
    Posted Maret 17, 2011 at 3:57 pm | Permalink

    Ritual Adat batak dulunya dilaksanakan dengan sistem kekerabatan yang masih harmonis, dimana semua orang berperan untuk mewujudkannya. ya idiologi sosialis, ritual terperankan berbanding lurus dengan idiologi kebatakannya. bagaimana idiologi batak? itu yg harus kita terapkan. ungkapan anakta, Jabuta, hutata..semuanya berimplikasi pada kepemilikan bersama, dikelola bersama karena kepemilikan bersama. falsafah orang Batak akan baik kalau terus kita galakkan, tapi bedakan dengan ritual yang sering kita sebut sebagai adat, dan seakan-akan harus dipenuhi untuk menjaga kelestariannya atau biar dianggap ‘maradat’, bukan saya hendak mendorong agar kita tidak memenuhi adat tersebut, tapi coba kita kaji lebih lanjut, untuk melaksanakan ritual tersebut membutuhkan biaya yang cukup besar, padahal kita ketahui tidak semua orang mampu melaksanakannya, apakah dia akan dikatakan tidak maradat, hanya karena tidak mampu menjalani ritual, sementara pandangan hidupnya atau filosofi hidupnya mengarusutamakan idiologi sosialis yang seperti tertuang pada idiologi kebatakan itu sendiri. tapi kalau hanya melihatnya secara parsial menurutku ini penyederhanaan keBatakkan itu sendiri. filosofi atau falsafah kesejatian Batak, itu yang paling utama diterapkan.

    kalau ada yang mampu, ya tidak apa2 melaksanakannya, tapi ketika ada yg tidak mampu apakah kita berhak menjustifikasinya sebagai orang yg tidak maradat?
    satu lagi menjadi renungan bagi kita, apakah ketika ada yg ingin melaksanakan adatnya ada dari kita yang siap memberikan sebagaian dari kita untuk pelaksanaan ritual adat batak itu? mari bertanya pada diri kita sendiri.

    bagaimana kalau pernikahan dengan pasangannya yang berbeda suku, apalagi agama? dimana posisi adat atau ritual Batak itu?

    bukankah selama ini ritual atau adat batak itu seakan-akan hanya untuk orang batak dengan agama kristennya?

    mungkin itu membutuhkan pendalaman lagi bagi kita yang masih mengaku batak, ya mungkin karena melekatnya marga, maaf bukan sinis, tapi acap kali kalau sudah bermarga ya sudah batak-lah. tapi menurutku menjadi Batak adalah mampu menerapkan filosofi kesejatian Batak itu sendiri.

    mari belajar bersama untuk itu

  54. zainal baldatun tayy
    Posted Maret 28, 2011 at 2:10 am | Permalink

    bisa minta tolong info nya bagaimana menurut adat batak jika seorang dari luar suku batak (laki2) mau melamar perempuan dari suku batak (marga tanjung) dan kedua-duanya sesama muslim?
    terima kasih atas bantuannya ..

  55. wasiman hutabalian
    Posted April 20, 2011 at 8:54 pm | Permalink

    masih kurang lengkap menurut saya karana dalam hal parjambaran tidak dijelaskan secara rinci

  56. nurmalasari
    Posted April 21, 2011 at 4:43 pm | Permalink

    trima ksh buat keterangannya,sgt berguna buat sy.krn sy suku jawa tp sdh menikah dgn suku batak.

  57. nurmalasari
    Posted April 21, 2011 at 4:48 pm | Permalink

    tp slma ini yg sy pelajari (praktek) kyknya simple aj,,,,mknya sy agak bingung jg stlh membaca disini mengenai perkawinan adat batak.terlalu rumit y?

  58. westvillage
    Posted Mei 15, 2011 at 11:31 pm | Permalink

    bagaimana adat untuk pernikahan dimana mempelai pria non-batak, kristen, tapi tidak mau dikasih marga karena di sukunya sudah ada marga?Ulos pansamotnya untuk siapa?

  59. wakwax
    Posted Juni 28, 2011 at 11:26 pm | Permalink

    saya mau nanya kalo marga ibu sama,,bisakah menikah?*maksudnya bukan sama,tp sepadan marganya seperti naibaho dan simanulang

  60. Philip
    Posted Agustus 16, 2011 at 2:49 pm | Permalink

    saya sangat tertarik dengan upacara pernikahan adat batak. bisakah kita berdiskusi lebih lanjut? menurut lae atau pun ito, dimana letak inti pernikahan adat batak toba? sehingga tidak dapat digantikan? apa latar belakangnya?

    mauliate

  61. gonsang napitupulu
    Posted Agustus 24, 2011 at 12:34 pm | Permalink

    nampaknya karena sulitnya melakanakan adat nagok tersebutlah mencerminkan nilai rumah tangga orang batak Toba mencerminkan keteguhan menjadi pengikat holong yang bersifat holong kasih/ Agave kasih yang agave dan abadi, Semoga dengan cara adat nagok tercipta RT yang bahagia dan berkat

  62. Josafat
    Posted September 13, 2011 at 6:32 pm | Permalink

    mauliate godang…
    ala na boi au mangulahon tugas kuliah

  63. Posted September 13, 2011 at 7:38 pm | Permalink

    Semua yang diwarisakan kepada kita adalah baik adanya,tapi boleh kasih masukan kalau bisa dalam Acara pernikahan adat batak [Pesta Ujuk] bisa ditranslate kebahasa indonesia Siraja hata dari fihak boru dan paranak saling berbalas-balasan menyampaikan kata pujian.

  64. Posted September 13, 2011 at 7:51 pm | Permalink

    Shalom…Horas…!
    Artikel ini baik sekali menambah wawasan saya tentang kasanah adat batak,karena generasi kita yang sekarang apalagi yang kelahiran di perantauan telah banyak yang tidak bisa bahasa batak sama sekali apalagi ulaon adat batak,terkadang mereka ini disebut ‘DALLE’ . Salam dari Jawa Barat.

  65. maudur evigita tamba
    Posted September 16, 2011 at 1:16 pm | Permalink

    bagi adat batak soal biasa. tidak ada yang membuat sayakagum. karena menurut saya terlalu berlebihan dan membuat pengantinnya kecapaen. tapi disisi lain bagus ada didikan tersendiri untuk kita tau tutur dan sopan santun di lingkungan batak khususnya.

  66. maudur evigita tamba
    Posted September 16, 2011 at 1:18 pm | Permalink

    bagi saya adat batak soal biasa. tidak ada yang membuat saya agum. karena menurut saya terlalu berlebihan dan membuat pengantinnya kecapaen. tapi disisi lain bagus ada didikan tersendiri untuk kita tau tutur dan sopan santun di lingkungan batak khususnya. salam tuhan yesus memberkati

  67. rakyat biasa biasa saja
    Posted September 17, 2011 at 8:06 pm | Permalink

    Saya orang Jawa, tapi saya sangat tertarik pada adat Batak. Kebetulan saya banyak bergaul dengan mereka. Horan ma di hamu sude!

  68. Posted September 23, 2011 at 10:40 am | Permalink

    saya bangga jadi orang batak dengan adat batak yang cukup banyak dan bagus urutannya.trimakasih untuk penulis ini.syalom

  69. Saor Silitonga
    Posted Oktober 18, 2011 at 4:31 pm | Permalink

    Secara umum orang mengakui bahwa keluarga orang Batak cukup kokoh, suami istri sehidup semati, terlihat dari jumlah perceraian amat rendah di keluarga orang Batak (ada yg punya data?). Saya mencoba mengamati prosedur pernikahan di berbagai tempat dan suku. Sejauh pemahaman saya, sampai sekarang saya masih meyakini betapa “luar biasa”nya orang Batak dalam urusan upacara pernikahan. Sedikitnya ada 14 tahap utama. Plus dukungan ajaran gereja yang menjaga keutuhan keluarga, saya masih meyakini arti pentingnya “adat nagok” pernikahan. Serbuan budaya “short cut” dan kapitalisme, tentu saja ancaman serius bagi semua keluarga. Jayalah adat Batak!!!

  70. Noelliam gian
    Posted Oktober 21, 2011 at 8:22 pm | Permalink

    Jadi tahu tentang adat batak & bangga jadi orang batak walau nga mengerti bahasa batak.

  71. Ambarita
    Posted Oktober 24, 2011 at 12:20 am | Permalink

    artikel diatas bagus.cukup menambah wawasan.
    tapi pada kenyataan sekarang prosesi acara tersebut sudah di persingkat.walaupun tidak bermaksud mengurangi nilai sakralnya.
    misalnya:
    setelah selesai martumpol langsung dilanjut dengan marhusip .
    yang kedua pada acara pesta perkawinan.yaitu jika acara adat na gok selesai sebelum pihak keluarga dari mempelai perempuan pulang maka akan di sambung dengan acara tikkir tangga sekalian paulak une.
    acara seperti ini sudah di anggap lazim di simalungun dan sidikkalang.
    MAULIATE LAE/TULANG/APPARA.
    horace all.

  72. Borusasada
    Posted Oktober 31, 2011 at 8:50 pm | Permalink

    Stiap daerah pny adat msg2..qt jg bngga jd org batak yg pny adat istiadat spt diatas.
    Yg lbh membanggakan lg kalau qt tnjukkan adat itu dgn skap,tngkah laku n tutur kata dtngah masyarakat,jgn hny di upacara adat saja..asa tanda hita na maradat..

  73. dirman.situmeang
    Posted November 24, 2011 at 11:40 am | Permalink

    adat Batak sangatlah bagus dan harus dilaksanakan, namun perluh kita kaji masalah pelaksanaannya yang selalu bertele tele, maka harapan kita yg muda muda sekarang, bagaimana menjalankan pesta adat itu dengan singkat tanpa mengurangi makna yang sesungguhnya,

  74. elfan
    Posted Desember 11, 2011 at 10:46 am | Permalink

    Tapi karena sebagian besar warga sudah menjadi Muslim, maka perlu ada kajian hubungan Islam dengan keberadaan adat itu sendiri. Dan salah satu permasalahan ‘besar’ yang cukup berat ialah masalah penambahan nama ‘suku’ atau marga atau nama ‘nenek moyang’ setelah nama dirinya.

    Masalah penambahan nama nenek moyang dan bukan nama orang tua langsung pada nama setiap orang lalu dikaitkan pula dengan hubungan adat dan agama, inilah seyogianya dirasa perlu merujuk pada ajaran Islam itu sendiri. sebagai contoh menururt Al Quran ada suatu kewajiban dalam hal penggunaan nama sendiri ditambahi dan menambah nama ‘orang tua’ atau bapak-nya dan bukan nama atau identitas suku atau marga atau nama nenek moyangnya sendiri, mari kita simak QS. 33:5 sbb.

    Panggilah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; itulah yang lebih adil pada sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka (panggilah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu. Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

    Jika penambahan identitas nama atau suku atau marga dilihat dari kaca mata ajaran Islam, maka sudah nampak kecendrungan ke upaya ‘kesakralan’ atau pengkultusan sesuatu yakni nama suku atau marganya atau nama nenek moyang kita.

    Akibat yang cukup mendasar dari penampakan identitas marga atau suku tersebut adalah dengan adanya ketentuan atau rumusan adat seperti tidak boleh kawin semarga atau sesuku. pada hal dalam Islam tidak ada larangannya seseorang lelaki dengan perempuan yang berasal dari satu marga semacam itu.

    Atau akibat lainnya, kalau seseorang itu belum bermarga karena berasal dari suku lain, lalu akan dikawinkan maka ada suatu kewajibkan baginya untuk dipasangkan atau diangkat menjadi warga suku atau marga tertentu pula.

    Atas dasar sederhana tersebut, maka dirasa sudah perlu untuk kita kaji kembali masalah hubungan adat dengan ajaran agama khususnya Islam. Salah satu contoh penting kita kembali menerapkan identitas nama ‘bapak’ kita secara langsung itu lebih baik dari pada nama ‘nenek moyang’ kita dimana kita tak jelas riwayatnya, Muslim atau bukan.

    Karena pendapat saya di atas, maka saya mohon maaf jika tidak berkenan untuk dikemukakan. Wass.

  75. ZULKIFLI, NASUTION
    Posted Desember 24, 2011 at 2:25 am | Permalink

    HORASSSSS TUHITA SASUSENA..HALAK BATAK…
    MANTAP LAE…..ADAT DIMANDAILING………MANTAP JUO….
    JADI BANGGA MAHITA JADI ALAK BATAK….TERSERAH BATAK APA SAJA….

    HUTANGKU SIAN MANDAILING GODANG…….
    MULIATEEEEEE

  76. Posted Januari 31, 2012 at 6:50 pm | Permalink

    Seneng yah dijaman yg udah maju kaya gini..mudah searching2 apa yg kita pengen tahu..qlu basa batak *sukun2*
    jujur aku boru batak tp dah lahir&besar ditanah jawa,,tp gx pernah malu jd org batak..always proud^^
    pny kluarga yg maradat itu anugrah tp tetep aja aku msh haus ama smua yg berbau batak..thx yh udah nerbitin tulisan ini,,seenggaknya artikel2 bgini bs ngebantu kita tuk lbh paham lg tntang dunia batak..sai marsiajar ma hita saluhutna ^^/
    i ma tu tu .. hehe

  77. Aaron
    Posted Maret 8, 2012 at 6:35 am | Permalink

    ada nggak acara adat yang lebih singkat…???
    misalkan 3 hari atau 1 minggu gitu untuk semua prosesnya…?

    soalnya, biasanya TEMPAT KERJA AKU… cuti nikah hanya dikasih sekita 3 hari saja…

    dan Bagaimana Proses nikah PRIA bukan batak dan WANITA BATAK??

    apakah prosesnya sama atau beda??????

  78. Aaron
    Posted Maret 8, 2012 at 6:36 am | Permalink

    ada nggak acara adat yang lebih singkat…???
    misalkan 3 hari atau 1 minggu gitu untuk semua prosesnya…?

    soalnya, biasanya TEMPAT KERJA AKU… cuti nikah hanya dikasih sekitar 3 hari saja…

    dan Bagaimana Proses nikah PRIA bukan batak dan WANITA BATAK??

    apakah prosesnya sama atau beda??????

  79. Posted April 30, 2012 at 11:41 am | Permalink

    Sangat terbantu, saya mau merid dan ini petunjuk yang bagus…..salam.

  80. usdek panjaitan
    Posted Agustus 7, 2012 at 5:06 pm | Permalink

    saya dulu pengagum adat batak, tetapi sekarang tidak lagi karena setelah saya teliti dan sesuaikan dengan injil, ternyata upacara adat batak implisit mengandung penyemahan berhala yang tersembunyi. namun demikian saya tetap sangat bangga sebagai orang batak, abis gak bisa dirubah lagi.

  81. daud
    Posted Agustus 23, 2012 at 12:22 pm | Permalink

    a. Apa kebaikan dan keburukan urutan pernikahan adat na gok diatas ?
    kebanikannya adalah, kalau kita jalani…maka kehidupan yang dibungkus kecintaan
    terhadap budaya terlebih pada Tuhan akan semakin kuat.

    b. Masih relevankah tata cara pernikahan adat na gok diatas pada jaman sekarang ini ?
    kalau kita memanndang ini hanya sebuah ritual…ya memang….buang-buang energi.
    namun kalau kita memandang ini adalah suatu urutan siklus kehidupan dan tatacara
    etika kehidupan sosial ….saya rasa perlu sekali.
    banayaknya persoalan yang terjadi di hubungan suami-istri, anak-menantu, dan
    keluarga dengan keluarga….salah satu faktor utamanya adalah kurangnya
    menjalani urutan siklus khidupan. Semua pengen instan……dan akhirnya
    melupakan esensi dan etika.

  82. Parlin BN
    Posted November 8, 2012 at 9:11 pm | Permalink

    Apakah acara “TIKKIR TANGGA” msh relevan dengan kehidupan orang Batak saat ini?
    Phylosphi dari TIKKIR TANGGA pada zaman dahulu kala adalah orang tua mempelai Wanita memastikan bahwa Menantu nya adalah berasal dari keluarga bukan Kasta Budak. (Red. Kala itu suku Batak mengenal Perbudakan).

    Mohon pencerahan nya.
    HORAS

  83. parlin
    Posted Januari 2, 2014 at 11:46 pm | Permalink

    b.masih dan harus
    a.dampak (-)
    dizaman sekarang serta minoritas,dibutuhkan banyak biaya untuk melaksanakn adat seperti sewa gedung,catring,musik,sehingga menjadi sebuah pertimbangan yg berat,
    a.dampak (+)
    sangap,gensi,

  84. vira
    Posted Mei 5, 2014 at 10:52 am | Permalink

    Terima kasih untuk info yang kamu berikan.. Saya butuh info lebih nih ttg adat batak simalungun ini, saya boleh minta nomer hp kamu atau sosmed yg bisa dihubungin ga?saya perlu banget soalnya please please yaa kalau bisa di twitter saya saja @piraLC thanks yaaa😊

  85. Posted November 20, 2014 at 1:51 pm | Permalink

    Saya minta petunjuk, bagaimana tata cara pernikahan jika pihak perempuan berasal dari keluarga broken home? Saya Lestari di Medan, ayah dan ibu saya sudah lama cerai sejak saya usia 3 thn, saat saya usia 5 thn ayah saya menikah lagi. Saat ini yang jadi istri sah ayah saya secara adat adalah ibu tiri saya dan mereka tinggal di Pekanbaru. Saya sekarang tinggal di Medan bersama ibu kandung saya, ibu saya masih tetap sendiri dan tidak menikah. Saya berencana menikah Tahun depan, yg ingin saya tanyakan adalah bagaimana proses pernikahan yg saya jalani nantinya, apakah Ibu tiri dan ayah saya yg akan memberikan ulos Hela, atau ibu kandung dan ayah saya? Apakah benar Ibu kandung saya hanya sebagai Tamu di acara itu? Terimakasih


One Trackback/Pingback

  1. […] 14. Maningkir Tangga (baca : manikkir tangga) Beberapa lama setelah pengantin pria dan wanita berumah tangga terutama setelah berdiri sendiri (rumah dan mata pencariannya telah dipisah dari orang tua si laki-laki) maka datanglah berkunjung parboru kepada paranak dengan maksud maningkir tangga (yang dimaksud dengan tangga disini adalah rumah tangga pengantin baru). Dalam kunjungan ini parboru juga membawa makanan (nasi dan lauk pauk, dengke sitio tio dan dengke simundur-mundur).Dengan selesainya kunjungan maningkir tangga ini maka selesailah rangkaian pernikahan adat na gokSUMBER INFORMASI […]

Tulis sebuah Komentar

Required fields are marked *
*
*

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 36 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: