Desember 20, 2007 – 9:14 am
“Marpangkirimon do na mangoloi jala na mangulahon patik ni Debata, jala dapotna do sogot hangoluan ni tondi asing ni ngolu ni diri on.”
-Pantun ni Ugamo Malim
Manusia yang mematuhi dan mengikuti ajaran Tuhan dan melakukannya dalam kehidupannya, memiliki pengharapan kelak ia akan mendapat kehidupan roh suci nan kekal.
-Kata bijak Ugamo Malim
Desember 20, 2007 – 9:00 am
Berbicara tentang Sari Matua, Saur Matua dan Mauli Bulung adalah berbicara tentangkematian seseoang dalam konteks adat Batak. Adalah aksioma, semua orang harus mati, dan hal itu dibenarkan oleh semua agama. Bukankah pada Kidung Jemaat 334 disebut: “Tiap orang harus mati, bagai rumput yang kering. Makhluk hidup harus busuk, agar lahir yang baru. Tubuh ini akan musnah, agar hidup disembuhkan. di akhirat bangkitlah, masuk sorga yang megah.”
Selain yang disebutkan diatas, masih ada jenis kematian lain seperti “Martilaha” (anak yang belum berumah tangga meninggal dunia), “Mate Mangkar” (yang meninggal suami atau isteri, tetapi belum berketurunan), “Matipul Ulu” (suami atau isteri meninggal dunia dengan anak yang masih kecil-kecil), “Matompas Tataring” (isteri meninggal lebih dahulu juga meninggalkan anak yang masih kecil). Sari matua Tokoh adat yang dihubungi Ev H Simanjuntak, BMT Pardede, Constan Pardede, RPS Janter Aruan SH membuat defenisi : “Sari Matua adalah seseorang yang meninggal dunia apakah suami atau isteri yang sudah bercucu baik dari anak laki-laki atau putri atau keduanya, tetapi masih ada di antara anak-anaknya yang belum kawin (hot ripe).
Oleh rapolo
|
Ditulis dalam Adat Batak Karo, Adat Batak Mandailing, Adat Batak Simalungun, Adat Batak Toba, Budaya dan Adat Batak
| Tag:Aruan, butet, Martilaha, Mate Mangkar, Matipul Ulu, Matompas Tataring, Mauli bulung, Pardede, sampe tua, Sari matua, Saur matua, Ulos tujung |
Desember 20, 2007 – 8:55 am
NEGERI ini punya banyak pahlawan nasional. Kebanyakan pahlawan lahir dari kancah perang gerilya, termasuk yang dikobarkan gerakan Padri di Minangkabau, Sumatera Barat.
Desember 19, 2007 – 9:01 am
1. Mangarisika..
Adalah kunjungan utusan pria yang tidak resmi ke tempat wanita dalam rangka penjajakan. Jika pintu terbuka untuk mengadakan peminangan maka pihak orang tua pria memberikan tanda mau (tanda holong dan pihak wanita memberi tanda mata). Jenis barang-barang pemberian itu dapat berupa kain, cincin emas, dan lain-lain.
2. Marhori-hori Dinding/marhusipa..
Oleh rapolo
|
Ditulis dalam Tata Cara dan Urutan Pernikahan Adat Na Gok
| Tag:Ditaruhon Jual, Jambar, Mangarisika, Mangihut di ampang, Maningkir Tangga, Manjalo Pasu-pasu Parbagason, Marhata Sinamot, Marhori-hori Dinding/marhusip, Maria Raja, Martonggo Raja, Partumpolon, Pudun Sauta, Tata Cara dan Urutan Pernikahan Adat Na Gok |
Desember 3, 2007 – 8:51 am
Tongkat Tunggal Panaluan oleh semua sub suku Batak diyakini memiliki kekuatan gaib untuk : meminta hujan, menahan hujan (manarang udan), menolak bala, Wabah, mengobati penyakit, mencari dan menangkap pencuri, membantu dalam peperangan dll. Ada beberapa versi mengenai kisah terjadinya tongkat Tongkat Tunggal Panaluan yang memiliki persamaan dan perbedaan, sehingga motif yang terdapat pada tongkat Tongkat Tunggal Panaluan juga bervariasi. Salah satu kisahnya sebagai berikut :