DR Adnan Buyung Nasution

Si Abang, Advokat Lokomotif Demokrasi

Mantan jaksa yang menjadi advokat handal ini sejak kecil sudah kelihatan berbakat aktivis. Pernah menjadi anggota DPR/MPR tapi direcall. Sempat menganggur satu tahun sebelum membuka kantor pengacara (advokat) dan membentuk Lembaga Bantuan Hukum Jakarta yang kemudian menjadi YLBHI dan dikenal sebagai lokomotif demokrasi.

Buyung lahir di Jakarta, 20 Juli 1934. Hidupnya cukup sarat dengan tantangan. Sejak kecil, umur dua belas tahun, Buyung bersama adik satu-satunya Samsi Nasution sudah harus menjadi pedagang kali lima menjual barang loakan di Pasar Kranggan, Yogyakarta. Di pasar itu pula, ibunya, Ramlah Dougur Lubis berjualan cendol. Sementara itu, ayahnya, R. Rachmat Nasution, bergerilya melawan Belanda dalam Clash II pada 1947-1948. “Itu masa-masa sulit. Kami hanya makan tiwul, karena tak sanggup beli nasi,” katanya seperti dikutip sebuah media cetak. Sejak kecil, ia menjadikan ayahnya sebagai teladan. “Dia pejuang, caranya pun tidak pilih-pilih. Dia bergerilya membela Republik. Sikapnya jelas, antipenjajahan dalam bentuk apa pun,” ujar Buyung tentang ayahnya. Kebanggaan Buyung tentu beralasan. Ayahnya memang sosok pejuang sejati: tidak hanya berjuang lewat gerilya, tetapi juga lewat informasi. Rahmad Nasution adalah salah seorang pendiri kantor berita Antara dan harian Kedaulatan Rakyat. Dia pula yang merintis berdirnya harian berbahasa Inggris The Time of Indonesia. “Dia menjadi semacam tokoh buat saya,” kata Buyung lagi.

Rupanya, Buyung juga tidak mau ketinggalan dari ayahnya dalam soal perjuangan. Ketika SMP di Yogyakarta, ia ikut Mopel (Mobilisasi Pelajar) dan melakukan aksi protes pendirian sekolah NICA di Yogyakarta. Ia ikut merusak sekolah dan melempari guru-guru sekolah tersebut. Memang, sejak kecil, Buyung sudah kelihatan berbakat aktivis. Saat bersekolah di SMA Negeri I Jakarta, ia pun sudah menjadi Ketua Cabang Ikatan Pemuda Pelajar Indonesia (IPPI). Kemudian, ia mengundurkan diri dan membubarkan organisasi itu karena mulai terkena bau-bau PKI dan membawa-bawa nama International Union of Student (IUS) yang kekiri-kirian.

Lulus SMA, Buyung hijrah ke Bandung dan mendaftar di Institut Teknologi Bandung (ITB), jurusan Teknik Sipil. Di sana ia aktif di Perhimpunan Mahasiswa Bandung. Tetapi ia hanya bertahan setahun di ITB, lalu pindah ke Fakultas Gabungan Hukum, Ekonomi, dan Sosial Politik, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Tidak lama di situ, pada 1957 ia pindah lagi ke Fakultas Hukum dan Ilmu Pengetahuan Kemasyarakatan, Universitas Indonesia, Jakarta. Lulus sarjana muda, sambil meneruskan kuliah, ia bekerja sebagai jaksa di Kejaksaan Negeri Istimewa Jakarta. Meski sudah menjadi jaksa, tetapi semangatnya sebagai aktivis tidak pudar. Ketika itu ia sempat mendirikan sekaligus menjadi Ketua Gerakan Pelaksana Ampera. Selain itu, ia juga menjadi anggota Komando Aksi Penggayangan Gestapu. Bersama Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) ia ikut turun ke jalan sehingga diinterogasi oleh atasannya. Bahkan sempat dirumahkan selama satu setengah tahun alias diskorsing dari pekerjaannya sebagai jaksa. Ia tidak diberi pekerjaan dan tidak diberi meja di kantor. Buyung dituduh antirevolusi, anti-Manipol-Usdek.

Kemudian ia mendapat surat pindah tugas ke Manado. Lucunya, ia ditempatkan di Medan. Entah bagaimana, Buyung tidak srek dengan pemindahan itu. Akhirnya, pada 1968, Buyung meninggalkan baju jaksa. Selain itu, ia juga di-recall dari DPR/MPR. Sekitar setahun ia menganggur kemudian membentuk Lembaga Bantuan Hukum, Jakarta. Untuk mendukung kerja LBH, Buyung membuka kantor pengacara (advokat). Sekali jalan, dua-duanya berkembang. Kantor pengacaranya merupakan salah satu kantor pengacara terbaik di Indonesia. Sementara itu, LBH–kemudian menjadi YLBHI dan membawahi LBH-LBH–pun tumbuh besar dan kemudian dikenal sebagai lokomotif demokrasi.

Soal pendirian LBH ini Buyung punya cerita menarik. Ketika ia menjadi jaksa dan bersidang di daerah-daerah terpencil, ia melihat orang-orang yang menjadi terdakwa pasrah saja menerima dakwaan yang ditimpakan kepadanya. Dari sana ia berpikir, orang-orang kecil yang buta hukum itu perlu dibantu. “Bagaimana kita mau menegakkan hukum dan keadilan kalau posisinya tidak seimbang. Di situ saya berpikir, harus ada orang yang membela mereka,” katanya. Tetapi niat itu dipendamnya. Kemudian, saat buyung kuliah Universitas Melbourne, Australia, ia melihat bahwa di negara itu ada Lembaga Bantuan Hukum. Itu membuat ia sadar bahwa bantuan hukum itu ada pola, model, dan bentuknya. pada 1969, Buyung kembali ke Indonesia. Kemudian ia menyampaikan ide itu kepada Kepala Kejaksaan Agung Soeprapto. Soeprapto memang memuji ide itu, tetapi ia menganggap belum waktunya diwujudkan. Buyung menyadari saati itu memang belum mendukung gagasan tersebut. Ia baru bisa merealisaskani idenya membentuk LBH setelah ia keluar dari Kejaksaan. Mula-mula gagasan itu dilontarkan kepada Profesor Sumitro dan Mochtar Lubis. Rupanya, Sumitro dan Mochtar cukup antusias mendukung ide itu. Namun, Sumitro menyarankan supaya Buyung membuka kantor advokat karena bagaimana pun Buyung harus memenuhi kebutuhan hidupnya. Tetapi sebelum Sumitro sempat membantu, dia keburu diangkat sebagai menteri perdagangan.

Selanjutnya, Buyung yang izin praktek advokatnya sempat dicabut itu menemui Menteri Kehakiman Prof. Oemar Seno Adjie untuk mengkonsultasikan ide itu. Rupanya pak menteri ini juga mendukung tapi menyarankan Buyung jadi advokat dulu supaya punya legalitas. Tanpa proses yang rumit, Buyung pun mendapatkan izin advokat, dan membuka kantor law firm. Tak lupa, ia juga mengajak beberapa temannya menjadi staf, seperti Nono Anwar Makarim, Mari’e Muhammad (bekas Menteri Keuangan). Kantor itu kemudian berkembang.

Kemudian, mulailah Buyung menyiapkan pendirian LBH. Ia mulai melakukan pendekatan dengan sejumlah advokat untuk mensosialisasi ide itu. Buyung tidak mau ada ganjalan untuk mewujudkan gagasannya. Soalnya, menurut Buyung, di beberapa negara LBH dimusuhi oleh para advokat. Tetapi syukur, ia tidak punya ganjalan apa-apa. Peserta Kongres Peradin (Persatuan Advokat Indonesia), terutama Yap Thiam Hien dan Lukman Wiryadinata (bekas Menteri Kehakiman), mendukung penuh gagasan itu. Buyung juga melakukan pendekatan dengan pihak pemerintah. Ia menemui Ali Moertopo yang waktu itu menjadi asisten pribadi Presiden Soeharto dan menjelaskan ide itu seraya meminta ide itu disampaikan kepada Presiden, apakah presiden setuju atau tidak. Rupanya tak lama, ia dipanggil dan mendapat kabar bahwa Soeharto setuju dengan gagasan itu. Malah, ketika pembukaan LBH ia mendapat 10 skuter dari pemerintah. Selain pemerintah pusat, Buyung juga mendekati pemerintah daerah DKI Jakarta. Ia menemui Ali Sadikin yang waktu itu menjadi gubernur. Rupanya, Ali juga satu suara dengan yang lain. Bahkan, yang mendukung bukan Ali sebagai pribadi, tetapi pemerintah daerah DKI Jakarta. Karena dukungan-dukungan itu, kemudian lahirlah LBH tanggal 28 Oktober 1970. Buyung pun tampil sebagai pemimpin LBH pertama kali.

Namun, ada satu hal yang tidak banyak diketahui dari si Abang ini, tak lain adalah namanya. Ternyata nama Buyung sebenarnya Adnan Bahrum Nasution. “Nama asli saya dalam akta kelahiran memang Adnan Bahrum Nasution,” kata Buyung suatu kali kepada Kompas. Semasa kuliah, bahkan ketika menikah namanya masih tertulis Adnan Bahrum Nasution. Cuma memang ia tidak menulis lengkap namanya: Adnan Bahrum Nasution, tetapi Adnan B. Nasution.

Tetapi kawan-kawannya suka memanggilnya Buyung. Perekatan nama Buyung di tengah namanya itu terjadi ketika menyelesaikan kuliahnya di Fakultas Hukum Universitas Indonesia pada 1964. Waktu itu petugas administrasi disana yang kerap mendengar sapaan Buyung terhadap si Abang, langsung saja menulis lengkap nama Adnan B. Nasution sebagai Adnan Buyung Nasution. Nama itulah yang kemudian dikenal banyak orang.

About these ads

14 Comments

  1. Posted Maret 28, 2008 at 1:24 pm | Permalink

    orang tua saya sangat salut dengan adnan buyung nasution sehingga akhirnya saya diberi nama adnan buyung lubis. Dan setelah saya membaca tulisan ini, perasaan saya hampir sama nasib saya dengan ompung. Dan tantangan memang kerap kali saya lalui, insya Allah saya berhasil melewati tantangan itu. Berjuang terus ompung, kami di Mandailing Natal tetap mendoakanmu semoga ompung buyung/ bahrum tetap sehat walafiat dan masalah yang saat ini dihadapi insyaallah akan ada jalan keluarnya. Horasss

  2. Posted Mei 24, 2008 at 6:43 am | Permalink

    Adnan Bahrum (Buyung) Nasution lahir di Jakarta tanggal 20 Juli 1934 adalah sahabat Soegana Gandakoesoema lahir di Cirebon tanggal 4 Pebruari 1931, penulis buku tentang globalisasi agama atau sebuah teori bagaimana menyelesaikan perselisihan persepsi antara agama dan perpecahan persepsi didalam agama berdasarkan kitab-kitab suci agama-agama berjudul:

    “BHINNEKA CATUR SILA TUNGGAL IKA”
    berisi XX+527 halaman berikut lampiran acuan terpisah berukuran 60×63 cm:
    “SKEMA TUNGGAL ILMU LADUNI TEMPAT ACUAN AYAT KITAB SUCI TENTANG KESATUAN AGAMA (GLOBALISASI)”
    hasil karya tulis ilmiah otodidak penelitian terhadap isi kitab-kitab suci agama-agama selama 25 tahun oleh:
    “SOEGANA GANDAKOESOEMA”
    dengan penerbit:
    “GOD-A CENTRE”
    dan mendapat sambutan hangat dari:
    “DEPARTEMEN AGAMA REPUBLIK INDONESIA”
    DitJen Bimas Buddha, umat Kristiani dan tokoh Islam Pakistan.

    Wasalam, Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal Agama millennium ke-3 masehi.

  3. epy
    Posted Juni 5, 2008 at 6:00 pm | Permalink

    kalau boleh saya mau nanya apak bapak Adnan Buyung punya sekolah Advokad, karena saya sedang mencari alamat sekolah advokad untuk ade saya. kalau ada saya mohon dibantu to alamat sekolahnya. Terimakasih

  4. Posted Juni 10, 2008 at 7:40 pm | Permalink

    Buku “BHINNEKA CATUR SILA TUNGGAL IKA” karya Soegana Gandakoesoema

    1. Telah diserahkan langsung pada hari senin tanggal 24 Septembar 2007 kepada Prof. DR ibu Siti Musdah Mulia, Ahli Peneliti Utama Litbang Departemen Agama Republik Indonesia untuk diteliti dan diputuskan hasil penelitiannya.

    2. Telah dibedah oleh:
    a. DR. Abdurahman Wahid, Gus Dur, Presiden Republik Indonesia tahun 1999-2001.
    b. Prof DR. Budiya Pradipta, dosen FS Universitas Indonesia.
    c. Prof DR Usman Arif, tokoh agama Konghuchu.
    d. Prof. DR. Robert Paul Walean, pendeta nasrani, peneliti isi Al Quran, sebagai moderator, sebagaimana Soegana Gandakoesoema, peneliti isi Al Kitab perjanjian lama dan perjanjian baru.

    Pada hari kamis tanggal 29 Mei 2008 jam 09.00 – 14.30, diauditorium Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, jl. Salemba Raya 21A, Jakarta Pusat 100002, dalam rangka peringatan satu abad (1908-2008) kebangkitan nasional dan “kebangkitan agama-agama” dalam Seminar dan Bedah Buku dengan tema merunut benang merah sejarah bangsa untuk menemukan kembali jati diri hari/tanggal Selasa 27 Mei – Kamis 29 Mei 2008.

    Wasalam, Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal Agama millennium ke-3 masehi.

  5. Posted Juli 2, 2008 at 3:21 am | Permalink

    Buku “BHINNEKA CATUR SILA TAUNGGAL IKA”
    Tersedia ditoko buku KALAM
    Jl. Raya Utan Kayu 68-H, Jakarta 13120
    Telp. 62-21-8573388

  6. Posted September 5, 2008 at 10:42 am | Permalink

    Salam dari perhimpunan mahsisawa bandung

  7. Posted Oktober 2, 2008 at 10:21 pm | Permalink

    Bang Buyung dimasa orde baru merupakan inspirator penentang azas tunggal Pancasila yang kemudian berlanjut dengan gerakan reformasi yang meruntuhkan orde baru.Tapi sekarang agaknya reformasi kembali mengarah pada azas tunggal yang lain. Ada dua kelompok yang menginginkan azas tunggal meski dengan ideologi berlawanan. Pada era reformasi ini mereka saling berhadapan.Perjuangan abang nampaknya masih panjang sekali.

  8. Posted Januari 2, 2009 at 1:10 pm | Permalink

    Buku “BHINNEKA CATUR SILA TUNGGAL IKA”
    Penulis: Soegana Gandakoesoema
    Penerbit: GOD-A CENTRE
    Bonus: “SKEMA TUNGGAL ILMU LADuNI TEMPAT ACUAN AYAT KITAB SUCI TENTANG KESATUAN AGAMA (GLOBALISASI)” berukuran 63×60 cm.

    Tersedia ditoko-toko buku distributor tunggal
    P.T. BUKU KITA
    Telp. 021.78881850
    Fax. 021.78881860

    Salamun ‘alaikum daiman fi yaumiddin, Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal Agama millennium ke-3 masehi.

  9. Bambang,SH
    Posted Juli 25, 2009 at 2:00 pm | Permalink

    Bang buyung,saya salut dengan perjuangan abang,saya ingin seperti abang..tapi saya baru menjadi kandidat di organisasi advokat yang abang pimpin yaitu KAI,bang perjuang kan kami agar kami dapat di lantik menjadi Advokat kayak abang?mohon di pertimbangkan ya bang

  10. umi kalsum
    Posted Agustus 13, 2010 at 8:38 pm | Permalink

    Jakarta, 13 Agustus 2010

    Kepada
    Yth : Ketua Dewan Redaksi
    Di
    Tempat.

    Dengan hormat,
    Saya mewakili keluarga besar JK Sidabutar (Alm) memberikan informasi kepada Dewan pimpinan Redaksi yang mana tujuannya adalah agar Berita ini dapat dimuat di Media yang bapak pimpin. Mengapa hal ini kami lakukan karena :
    1. Begitu sulit untuk mendapat keadilan di negara tercinta ini?

    2. Kami tidak lagi dapat mempercayai institusi hukum yang ada karena setelah kami laporkan ternyata tidak ada satupun tanggapan?

    3. Semua lembaga yang kantanya mengurus keadilan ternyata tidak memandang kasus kami apakah karena ini masalah keluarga atau karena semuanya telah ditutup dengan uang oleh Rustam Efendi Sidabutar Mantan kadishub DKI yang jelas-jelas merupakan penjahat korupsi yang telah memakan uang negara?

    4. Kami merasa satu-satunya cara untuk memperjuangkan keadilan adalah melalui media masa yang bapak pimpin karena semua cara telah ditempuh termasuk melalui adat atau kekeluargaan tetapi ternyata pihak Rustam Efendi Sidabutar tidak menggubris? Katanya orang batak taat pada adat tetapi lihat keponakan kandung dipenjara apakah itu yang namanya taat adat/ Dimana asas kekeluargaan itu?

    Demikian yang dapat kami sampaikan besar harapan kami bahwa harapan yang kami gantungkan kepada Media dapat kami peroleh sehingga keadilan yang semua kita harapkan dapat ditegakkan dinegara Indonesia tercinta ini.
    Atas perhatian dari bapak Pimpinan Redaksi kami mengucapkan banyak terima kasih.
    Hormat kami
    Mewakili Ahli Waris JK Sidabutar ( Alm)

    Jimmi Wiliyater Sidabutar
    Jl. Dwikora Raya 31-K, Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur.

    PEMERKOSAAN HUKUM YANG DILAKUKAN
    OLEH BARITA NAPITUPULU ISTRI MANTAN KADISHUB DKI RUSTAM EFFENDI SIDABUTAR
    TERHADAP KEPONAKAN KANDUNGNYA SENDIRI
    BONATUA SINAGA.

    Apakah Hukum selalu memihak kepada yang berduit dan berkuasa? Tidak adakan lagi keadilan bagi kami yang lemah dan tidak berkuasa? Itulah pertanyaan yang akan selalu muncul dan akan selalu berulang kejadian yang sama yaitu yang kuat memakan yang lemah. Dimana asas hukum Equality before the law (semua orang sama dimata hukum). Ini adalah kejadian yang menimpa Saudara kami Bonatua sinaga.
    Awalnya saudara Bonatua Sinaga disuruh mengelola keuangan yang dimiliki oleh Rustam Efendi Mantan Kadishub DKI pada saat beliau menjabat karena ketakutannya maka uang tersebut dipercayakan kepada Keponakannya untuk mengurus atau mengelolanya. Ternyata Rustyam Efendi Sidabutar terlibat di KPK yaitu kasus Busway dan telah dihukum dengan pidana penjara hanya kurang lebih 3 tahun dan terbukti telah memperkaya diri sendiri dan orang lain. Dengan pengelolaan uang tersebut dengan baik oleh Bonatua Sinaga maka Rustam Efendi dapat membeli Villa dipuncak, Hotel di Bali dan beberapa rumah serta rumah kos di Jakarta dengan menggunakan nama-nama keluarganya. Mengenai sumber uang tersebut adalah dari hasil usaha kebun kelapa sawit yang berada di Kalimantan Barat. Kebun tersebut merupakan usaha patungan antara JK Sidabutar (Alm) dengan Rustam Effendi Sidabutar yang merupakan abang Kandungnya.
    Adapun Riwayat kebun ini sendiri penuh dengan darah dan air mata dari keluarga JK Sidabutar (Alm) karena pada saat pembukaan lahan sampai dengan penanaman semua barang berharga yang dimiliki keluarga digunakan untuk membangun kebun tersebut tetapi setelah JK Sidabutar meninggal dunia kebun tersebut diambil alih secara Paksa oleh pihak Rustam effendi Sidabutar dengan memberi sejumlah uang yang mana uang tersebut diduga oleh ahli waris sebagai Deviden atau pembagian keuntungan karena sejak berdirinya kebun kelapa sawit tersebut (PT RATUBADIS ADHI PERKASA) tahun 1993 sampai tahun 2008 tidak pernah diberikan tapi ternyata oleh Rustam Efendi Sidabutar uang tersebut merupakan uang untuk mengalihkan hak kepemilikan kebun kelapa sawit tersebut menjadi miliknya dengan mengatas namakan Barita napitupulu yang merupakan istri Rustam Efendi Sidabutar. Kemudian dengan kekuasaan dan uang yang dimilikinya maka Rustam Efendi Sidabutar merubah Akta Perusahaan dengan meniadakan kepemilikan Saham Keluarga atau Ahli waris JK Sidabutar sebesar kurang lebih 40%.

    Setelah JK Sidabutar (Alm) meninggal dunia maka uang hasil kebun diambil alih oleh Rustam Efendi Sidabutar sendiri dengan mentransfer uang hasil kebun ke Rekening Bonatua Sinaga. Kemudian pada tahun 2009 Istri dari Rustam Efendy Sidabutar yaitu Barita Napitupulu melaporkan Bonatua Sinaga melalui Penasehat hukumnya karena menggelapan uang pengelolaan Hotel Efita di Bogor padahal Hotel tersebut adalah Hotel yang diterima Banatua Sinaga dari Ibunya sendiri yang merupakan saudara Kandung dari Rustam Efendi Sidabutar. Dengan uang yang dimilikinya maka Rustam Efendi Sidabutar sukses memenjarakan Bonatua dengan tuduhan penggelapan. Dengan uang dan kekuasaan yang dimilikinya (Rustam Efendi Sidabutar) maka pihak Polda Bandung dengan cepat memproses kasus tersebut dan memperlakukan Bonatua Sinaga Layaknya teroris dan penjahat yang patus dihukum dan tidak layak untuk memperoleh keadilan. Tetapi yang lebih mengherankan adalah penyidik tidak pernah memeriksa pelapor yaitu pengacara Barita Napitupulu dan tidak pernah juga memeriksa Rustam Efendi Sidabutar yang namanya selalu disebutkan didalam setiap pemeriksaan baik saksi maupun tersangka? Demikian juga pada saat pemeriksaan di Pengadilan negeri Bogor Rustam Efendi Sidabutar tidak pernah dipanggil oleh jaksa untuk disidang padahal tersangka melalui kuasa hukumnya telah meminta untuk Rustam Efendi Sidabutar dihadirkan? Demikian juga di pesidangan di Pengadilan Negeri Bogor karena tempat kejadiannya jadi disidang di PN Bogor pihak Kejaksaan dengan bersemangat yang tinggi mendakwa Bonatua Sinaga dengan tuduhan Money Loundring yang mana tidak jelas pencucian uangnya dimana dan uang siapa yang dicuci? Hakim juga memutuskan dengan mengesampingkan kesaksian para saksi dari pihak terdakwa dengan putusan 3 tahun penjara karena melakukan penggelapan uang Hotel Efita yang mana Hotel tersebut setelah diaudit ternyata merugi jadi uang siapa yang digelapkan???. Padahal saksi yang diajukan oleh Barita Napitupulu adalah saksi yang hanya mengetahui dengan ”Katanya”. Dan Patut dipertanyakan dari mana Barita napitupulu yang hanya seorang Guru SD yang hanya mengisi absent dan namanya terdaftar sebagai PNS tetapi tidak pernah mengajar bisa memiliki uang sebesar 12 Milyard yang dituduh digelapan oleh Bonatua Sinaga.
    Kemudian ditingkat banding juga diputus bersalah kemudian ditingkat kasasi lebih lucu lagi. Hanya dalam waktu tidak sampai satu bulan setelah menerima Permohonan Kasasi Hakim dengan kilat memutuskan dengan Hukuman 4 tahun penjara artinya ditambah 1 (satu) tahun penjara. Sedangkan kasasi yang kami ajukan untuk kasus lain yaitu mengenai permintaan RUPS sebelum kasus Penggelapan yang dituduh dilakukan Bonatua Sinaga tersebut diputus di PN Bogor belum juga diputus oleh Mahkamah Agung.

    Menjadi pertanyaan bagi kami : Sedemikian pentingkah kasus ini sehingga dengan begitu cepat diproses oleh Mahkamah Agung? Apakah sedemikian fatalkah atau dirugikannya negara Indonesia sehingga Bonatua Sinaga harus dihukum dengan maksimal dan perlu ditambah hukumannya? Jadi dimana keadilan bagi rakyat kecil yang tidak memiliki uang dan kekuasaan?
    Kemudian kelanjutan dari kasus ini setelah putusan Kasasi turun sekira bulan April 2010 beberapa bulan kemudian yaitu bulan juli 2010 semua ahli waris JK Sidabutar (Alm) mulai hendak dijadikan tersangka dalam kasus Money Loundryng karena telah menerima transferan uang yang dimerupakan hak mereka karena uang tersebut hasil kebun PT Ratubadis Adhi Perkasa dari Bonatua Sinaga dan perkara kembali ditangani oleh Polda Bandung dengan menggunakan laporan polisi yang dibuat oleh Penasehat hukumnya Barita napitupulu padahal Tempat kejadiannya di Bogor. Mulai saat itu satu persatu Ahli waris JK Sidabutar (Alm) mulai diteror oleh panggilan untuk menghadap Polda Bandung. Tidakkah terpikir oleh Penyidik Polda Bandung bahwa Bandung dengan Bogor itu jauh dan butuh biaya untuk kesana. Knapa tidak diperiksa di Bogor saja yang merupakan tempat tinggal para saksi dan tempat kejadian perkara juga tempat di mana kasus tersebut akan disidangkan?
    Inilah yang terjadi di negara Indonesiaku tercinta. Sampai kapan cerita seperti ini akan terjadi. Apakah yang lemah pasti salah dan apakah kekuasaan dan uang pasti benar? Dan apakah uang dapat mengatur segalanya?

    Sekian dan mohon analisa. Terimakasih

  11. umi kalsum
    Posted September 8, 2010 at 11:29 am | Permalink

    Memang kalau masalah uang ternyata tidak mengenal keluarga. Keluarga aja dipenjara agar dapat dikuras hartanya. Mana adat yang batak yang katanya hebat. Mana ada orang memenjarakan keponakan kandungnnya..

  12. @Umi Kalsum
    Posted Desember 5, 2010 at 1:39 pm | Permalink

    kepada YTH Umi Kalsum

    anda salah alamat atau tidak ada otaknya? page ini menceritakan tentang profile dari Dr Adnan Buyung Nasution yang kami hormati, comment yang ada seyogyanya yang berhubungan dengan Bpk. Adnan Buyung. Anda sudah mengetik comment panjang lebar tapi isinya tidak berhubungan dengan profile dari Bpk. Adnan Buyung. Saya sarankan untuk belajar ETIKA dunia INTERNET dulu sebelum menceburkan diri ke dunia elektronik ini. jangan anda kira dunia internet tidak ada etika bersopan santun!

  13. evi
    Posted Maret 11, 2011 at 2:04 am | Permalink

    kalo tidak salah justru rustam effenfi memperkaya keponakannya deh ..
    karna setau saya di keluarga besar rustam effendi justru jk sidabutar itu yang paling banyak dibantu

  14. Posted Desember 18, 2014 at 1:15 pm | Permalink

    I’ll right away take hold of your rss feed as I can not to find your e-mail subscription hyperlink or e-newsletter service.
    Do you have any? Kindly allow me understand so that I could subscribe.
    Thanks.


Tulis sebuah Komentar

Required fields are marked *
*
*

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 36 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: