Sejarah berdirinya GKPS

Pendahuluan

Adapun Simalungun adalah suku Batak dari kelima Batak yang ada di Sumatera Utara . Simalungun artinya “sunyi” nama itu di berikan oleh orang luar karena penduduknya sangat jarang dan tempatnya sangat berjauhan antara yang satu dengan yang lain. Orang Batak Toba menyebutnya “BALUNGU” sedangkan orang Karo menyebutnya Batak Timur karena bertempat di sebelah Timur mereka.

Penduduk Simalungun bagian Timur pada umumnya sudah banyak menganut agama Islam sedangkan Simalungun Barat menganut Animesme. Bila di selidiki lebih dalam kepercayaan mereka dengan pemakaian mantera-mantera yang dari “Datu” yang untuk di persembahkan kepada roh-roh nenek moyang selalu di dahului panggilan kepada Allah diatas, Allah ditengah, Allah dibawah. Sistem pemerintahan di Simalungun di pimpin oleh seorang Raja, sebelum pemberitaan injil masuk Tuan Rajalah yang sangat berpengaruh. Orang Simalungun menganggap bahwa anak Raja itulah Tuhan dan Raja itu sendiri adalah Allah yang kelihatan.

Sistem mata pencaharian orang Simalungun yaitu bercocok tanam dengan jagung, karena padi adalah makanan pokok sehari-hari dan jagung adalah makanan tambahan jika hasil padi tidak mencukupi. Jual- beli di adakan dengan barter, bahasa yang di pakai adalah bahasa dialek (sendir). “Marga” memegang peranan penting dalam soal adat Simalungun. Jika di bandingkan dengan keadaan Simalungun dengan Batak yang lainnya sudah jauh berbeda, di Tapanuli sudah berdiri sekolah-sekolah, Rumah sakit, dan sekolah-sekolah keterampilan lainnya sehingga sistem kehidupan Tapanuli lebih maju.

Masuknya Injil dan Berdirinya GKPS

September 1903 masuknya injil Tuhan Yesus Kristus di Simalungun dan Pendeta yang membawanya ke Simalungun adalah Pendeta.DR. L . Nommensen sebagai kepala pemberita injil di tanah Batak.

Januari 1904 di mulialah Zending Simalungun yang bertempat tinggal di Pematang Raya dan Pdt. Guilllaume berada di Purba saribu untuk melayani pemberitaan injil di Simalungun Raya di bagian Barat. Sebagai hasil pertama dari pemberitaan injil di Simalungun baru pada tahun 1909 di Pematang Raya menerima permandian suci (Pandidion na parlobei) oleh Pdt. Theis kemudian di Parapat juga ada 38 orang yang menerima permandian suci.

1 September 1928 di adakan di Pematangan Raya pesta peringatan genap 25 tahun pemberitaan injil di Simalungun, dan atas kesepakatan dari beberapa Guru dan Sintua maka di bentuklah sebuak komite. Komite ini bertugas untuk membuat agenda Gereja, buku nyanyian “HALLELUYA”, Bibel dan sebuah buku renungan harian “Manna”. Pdt yang pertama dari Simalungun yaitu Pdt. J. Wismar Saragih.

15 November di bentuklah kongsi Laita di Sondiraya. Laita artinya ayo kita pergi. Kongsi ini merupakan suatu badan yang di gerakkan anggota jemaat Pematang Raya yanng bertujuan untuk mengajak umat Kristen untuk memberitakan injil dan menyaksikan nama Tuhan Yesus Kristus pada orang Simalungun dan tahun1938 di adakan Fonds saksi Kristus.

Simalungun menjadi 1 Distrik di Dalam HKBP

26 September 1940 maka jemaat Simalungun berkembang menjadi satu Distrik di dalam HKBP.

Distrik Simalungun HKBP Simalungun

5 Oktober 1952 anggota Synode Distrik Simalungun bersidang agar Simalungun berdiri sendiri terpisah dari HKBP, serta mengangkat pengurus harian dan majelis Gereja di HKBPS.

30 November 1952, untuk memudahkan urusan Gereja ini HKBPS di bagi menjadi tiga Distrik dan Kantor pusat GKPS didirikan di Pematang Siantar. Kantor pusat bermula menumpang dalam satu rumah sewa di Jalan Pantuan Nagari Martoba Pematang Siantar dan setelah mendapat sebidang tanah di Jalan Sudirman maka Kantor pusat HKBPS berdiri sendiri.

HKBP Simalungun menjadi GKPS

1 September 1963 HKBP Simalungun berganti nama dengan GKPS. Setahun setelah itu didirikan pusat pendidikan GKPS di Pematang Raya dan pembangunan Asrama Putra dan Putri dan tahun itu juga GKPS menjadi anggota PGI.

GKPS Menjalin Kerjasama Luar Negeri

15 Januari 1964 GKPS mendirikan pusat pelatihan pertanian di Pematanng Siantar (PELPEM GKPS) dan satu tahun kemudian GKPS menjadi anggota wilayah PGI-WILAYAH SUMUT dan anggota LWF, ELCA, dan menjalin kerja sama dengan DGD, LCA (Australia) dan berkembang CCA. Karena semakin berkembangnya jemaat GKPS didirikanlah Kantor pusat/kursus Zentrum GKPS dan mulai menjalin kerja sama dengan Gereja Mulheim Jerman.

Penutup

Behubungan dengan lokasi Kantor pusat GKPS yang ada di Jalan Sudirman sangat sempit dan suasana Kantor tersebut yang berketepatan dekat dengan Jalan raya sehingga para pegawai sulit dalam mengkonsetrasikan pekerjaannya. Atas pertimbangan hal tersebut di atas maka tanggal 4 September 1988 di dirikanlah penngembangan Kantor pusat GKPS Pematang Siantar, dan pada tanggal 2 Maret 1992 Kantor pusat GKPS berpindah ke Jalan Pdt. J.Wismar Saragih hingga sekarang.

About these ads

15 Comments

  1. Posted Mei 21, 2008 at 1:53 pm | Permalink

    salam buat semua jemaat GKPS,aku sangat bangga jadi jemaat GKPS,
    horas hu hita ganupan,

  2. Posted Oktober 29, 2008 at 10:34 am | Permalink

    syalom buat smua jemaat Gkps dimana pun berada.maju trus GKPS.smoga Gkps semakin berkembang tahun depan dan semakn banyak jemaatny.buat pendeta2 gkps jangan pernah lelah untuk membina jemaat gkps.gbu

  3. Posted Oktober 30, 2008 at 11:36 am | Permalink

    maju torus gkps i simalungun ulang nasiam rayohan laho pamajuhon gereja GKPS.salam knl dari sari sinaga.Gbu

  4. Monika
    Posted Februari 2, 2009 at 4:57 pm | Permalink

    Horas hubani hiTa haganup jemaat GKPS!
    maju ToRus n aRAhkon HiTa hasoman2Ta ase Lambin boi Roh doHorni bani NaibaTa.
    ulang maRloja-loja Hita laho makkoRjahon namadear…
    TUhan manggom-gomi hita haganup.

  5. Posted Maret 16, 2009 at 1:49 pm | Permalink

    aku anak gkps sion pematang siantar tapi dulu ,sekarang gkps bekasi .maju terus gkps
    Tuhan memberkati.

  6. Askasima. Sebayang
    Posted Maret 17, 2009 at 11:20 pm | Permalink

    Horas & mejuah juah Simalungun,
    jaya ma torus,
    riap hita mambangun GKPS HUBANI ARAH NA LEBIH MAJU,
    Sonai homa bani nassiam TOKOH2 SIMALUNGUN na i atas pardiateihon nassiam GKPS,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,
    ulang lupa hita bani motto
    HABONARON DO BONA
    DIATEITUPA,,,,,,,,,,,GBU

  7. Posted April 3, 2009 at 11:33 am | Permalink

    Horas orang simalungun salam kenal dari aku vivin saragih di medan…
    maju terus SIMALUNGUN

  8. Posted April 6, 2009 at 8:40 pm | Permalink

    mana sic

  9. T.eduart zhein
    Posted September 28, 2009 at 7:04 pm | Permalink

    org simalungun berasal dari india bkn dari samosir sprt yg org ketahui,Asal-usul Suku Bangsa dan Bahasa Simalungun

    Koreksi dan Bantahan Atas Tulisan Sdr. Ir Gunawan Napitupulu

    Oleh : Pdt. Juandaha Raya P. Dasuha, STh A.
    Pengantar
    Membaca tulisan Sdr Ir Gunawan Napitupulu di harian SIB (meski minus
    dukungan referensi dan data-data literatur ilmiah) sebagai putera Simalungun
    asli, saya teringat akan percakapan-percakapan formal maupun informal di
    masyarakat kita, di mana saudara-saudara etnis Batak Toba sepertinya tidak
    mampu dan tidak rela menerima dan mengakui “otherness” antara suku bangsa
    Simalungun dan Batak Toba. Dan supaya Sdr Ir Gunawan Napitupulu ketahui,
    oleh karena inilah sehingga Pdt. J. Wismar Saragih dan kawan-kawan dalam
    wadah Comite Na Ra Marpodah Simaloengoen pada tahun 1928 mengadakan
    perlawanan kultural dan intelektual terhadap pandangan dan kebijakan RMG
    dengan agency penginjil yang didominasi kaum Kristen Batak Toba yang
    dirasakan sangat meminggirkan dan merendahkan orang Simalungun yang
    pandangannya sama persis dengan pandangan Sdr Ir Gunawan Napitupulu. Untuk
    yang satu ini saya anjurkan agar Sdr membaca disertasi Pak Pdt. Dr. J. R.
    Hutauruk yang sudah diterjemahkan dan diterbitkan BPK Gunung Mulia yang
    berjudul Kemandirian Gereja juga buku sejarah GKPS yang saya tulis bersama
    Pdt. Dr. Martin Lukito Sinaga yang berjudul Tole den Timorlanden das
    Evangelium (Jakarta, 2003). Di kedua buku yang sarat dengan data-data ilmiah
    itu, dibentangkan bagaimana RMG plus agency Kristen Batak Toba tetap tidak
    mampu mengakui “otherness”nya etnis Simalungun dari Batak Toba.

    B. Otherness-nya Suku bangsa Simalungun dengan Batak Toba

    Setelah membaca dan mendiskusikannya dengan pemuka-pemuka adat/budaya
    Simalungun seperti Bapak Kadim Morgan Damanik (mantan Ketua Umum Partuha
    Maujana Simalungun Perwakilan Kabupaten Simalungun) dan Bapak Djaiman
    Saragih (Ketua Umum Madjelis Kebudajaan Simalungun Indonesia) dan membaca
    uraian Bapak Tuan Djariaman Damanik. SH dalam surat-suratnya kepada penulis
    dan membaca literatur asing dalam bahasa Belanda, Inggris, saya akan
    menanggapi point-point saya yang Sdr bantah itu sebagai berikut :

    1.
    Menurut Sdr Napitupulu, Etnis Simalungun bukan berasal dari India Selatan
    karena tidak mempunyai dasar sejarah yang sah. Perlu Sdr ketahui dari
    data-data dan penelitian yang dilakukan Bapak Djariaman Damanik, SH (mantan
    Kajati Sumut dan Bali) semuanya mengarah ke India Selatan tepatnya di
    Nagore. Ini apalagi dikaitkan dengan adat kebiasan, karakter dan anatomi
    tubuh keturunan raja-raja di Simalungun yang berbeda dengan orang Batak Toba
    yang kemudian mengaku menjadi orang Simalungun (seperti marga Saragih
    Simbolon, Sijabat, Manihuruk, Damanik Malau, Gurning, Ambarita).
    Penulis-penulis Belanda juga tidak menafikan kalau ada keturunan raja-raja
    Simalungun yang berasal dari India Selatan. Dan satu lagi apabila Sdr
    membaca disertasi Bapak Prof Dr Bungaran Simanjuntak, Konflik dan Status
    Kekuasaan Orang Batak Toba (Yogyakarta, 2002), beliau dari hasil
    penelitiannya mengatakan bahwa nenek moyang orang Batak besar kemungkinannya
    berasal dari keturunan suku bangsa Munda dan Nagpur di India Selatan, dan
    menilik adanya Kerajaan Nagur (di India ada kota “Nagpur”) di Simalungun
    yang jelas merupakan kerajaan Hindu pertama di Sumatera Timur, makin
    menguatkan pandangan beliau. Prof Payung Bangun berpendapat adanya konsep
    raja (monarch) di Simalungun yang berpola “tuan-hamba” berasal dari budaya
    India (Hindu) yang mengenal “raj” sebagai perwakilan dewa di bumi yang
    menjamin keselarasan hubungan antara dewa-dewa dengan manusia. Di Simalungun
    konsep “raj” ini jelas kelihatan pada saat sebelum masuknya zanding dan
    agama Islam, di mana raja-raja itu digelari dengan “tuhanta” artinya pemilik
    kita. RW Liddle malah meyimpulkan, raja-raja Simalungun itu dilihat sebagai
    representasi ilahi di bumi yang dianggap memiliki kekuatan adikodrati.
    Sampai saat ini, konsep pengormatan itu masih ada sisa-sisanya di masyarakat
    Simalungun, yaitu pandangan orang Simalungun terhadap tondong (Toba:
    hula-hula), tondong dianggap sebagai pemberi berkat (tuah) yang wajib
    dihormati seperti nyata dalam kalimat, “Tondong pangalopan podah, sanina
    pangalopan riah, boru pangalopan gogoh”. Dalam upacara-upacara adat
    Simalungun asli, tondong ini selalu berada di depan disambut oleh borunya
    dengan tarian yang khusyuk dan takzim sampai menyentuh tanah dengan sikap
    menyembah ke arah tondong dengan iringan gual Rambing-rambing Ramos sambil
    membawa persembahan kepada tondong tanda penghormatan yang berupa uang yang
    ditaruh dalam piring putih bertutup bulung tinapak dengan demban yang
    terdiri dari dua buah, satu untuk bapa dan satu lagi untuk inang. Dalam
    upacara kematian orangtua yang sudah “sayur matua” semua kaum laki-laki
    mengikatkan gotong porsa di kepalanya masing-masing yang bermakna,
    “keikhlasan keluarga dan orang yang hadir untuk memberangkatakan almarhum.”
    Di Sumatera Utara ini hanya pada suku Simalungun yang mempunyai adat seperti
    itu. Adat ini jelas dari India (Hinduisme), karena sampai sekarang orang
    Bali Hindu juga masih memakai porsa kalau bersembahyang di pura. Ada memang
    beberapa kebiasaan dari Siam yang terbawa ke Simalungun seperti “manurduk
    dayok na binatur” yang sekarang masih ditemukan di Laos. Ini dibawa oleh
    sebagian nenek moyang suku Simalungun yang berasal dari sana. Jelasnya, suku
    Simalungun berketurunan dari beragam nenek moyang, bukan dari satu
    keturunan, yang semuanya ada yang berasal dari India Selatan dan dari Siam.
    Ada yang masuk dari pantai timur, dan juga dari pantai barat melalui Aceh
    (menyusuri sungai Simpang Kanan di Singkel terus ke Pakpak, Tanah Karo dan
    akhirnya masuk ke Simalungun). Groeneveldt menulis dari tulisan Ying Yai
    Shenglan pusat kerajaan Nagur pernah berada di Pidie sekitar abad XIV.
    Batrlett (1952:633) menulis sebagaimana dikutip Arlin Dietrich (2003:13)
    bahwa nenek moyang orang Simalungun pada awalnya berkedudukan di pesisir
    pantai timur dan akibat desakan dari populasi orang Melayu dari Semenanjung
    Melayu yang mendirikan kesultanan Melayu berpindah ke pedalaman sampai
    mencapai pantai Danau Toba. Dan sampai sekarang pun penduduk Melayu di
    Serdang dan Deli masih ada yang mengakui kalau nenek moyangnya berketurunan
    dari suku Simalungun. Itulah sebabnya keempat marga itu bisa saling
    mengawini karena berbeda nenek moyang. Dan di Simalungun adat yang melarang
    kawin semarga itu masih ketat sekali dipegang. Orang yang kawin semarga itu
    dihukum oleh huta karena dianggap mardawan begu. Oleh karena itu, dari jalan
    sejarahnya Simalungun, penduduk yang menjadi etnis Simalungun sekarang ini
    secara garis besarnya terdiri dari dua keturunan nenek moyang, yakni Proto
    Simalungun (Simalungun Tua) yang merupakan keturunan raja-raja Simalungun
    yang berasal dari India Selatan dan Siam yang menurunkan marga-marga raja di
    Simalungun yakni : Sinaga, Saragih, Damanik dan Purba yang pada awalnya
    tanpa lineage (cabang marga/sub sib) dan keturunan kedua Deutero Simalungun
    (Simalungun Muda) yang secara umum berketurunan dari Samosir dan Toba yang
    zaman dahulu sewaktu raja-raja masih ada, menyesuaikan marganya dengan marga
    raja-raja yang sepengetahuan mereka di Toba Samosir ada kaitannya agar
    menjadi rakyat Simalungun (paruma ni harajaan Simalungun). Mereka ini
    memakai adat, bahasa dan budaya Simalungun dan bahkan ada di antaranya yang
    diangkat menjadi yang dipertuan (parbapaan) di Simalungun seperti Tigaras
    oleh marga Saragih Turnip dan Silampuyang oleh marga Saragih Sidauruk.
    Sekarang ini pun di Bosar Maligas dan Tanah Jawa masih ada yang berketurunan
    dari marga Butara-butar, Sitorus dan Sirait yang mengaku dirinya suku
    Simalungun karena mereka sudah beberapa generasi tinggal di Simalungun dan
    memakai bahasa, adat dan budaya Simalungun dalam kesehariannya. Nenek moyang
    mereka dahulu sudah berjanji dengan sumpah (marbulawan) di hadapan raja
    Tanoh Jawa bermarga Sinaga untuk menjadi paruma ni Harajaan Tanoh Djawa.
    Sedangkan marga Silalahi, Sitopu dan Sipayung pada zaman raja-raja memasuki
    marga Sinaga. Persoalan kependudukan ini masih berlangsung terus sampai
    zaman Belanda, di mana pada tahun 1930 pendatang dari Tapanuli menuntut agar
    pada mereka diangkat pemimpin sendiri (hoofd der Tobanezen), karena
    pendatang dari Tapanuli ini tidak bersedia di bawah kekuasaan raja-raja
    Simalungun. Tetapi ini tidak lama, karena raja-raja Simalungun merasa
    dilecehkan, sehingga mereka mengadukan persoalannya kepada pemerintah tinggi
    di Batavia. Dan akhirnya kedudukan mereka dikembalikan, seluruh pendatang
    wajib menaati hukum pemerintahan kerajaan. Barulah setelah raja-raja itu
    dibantai dalam aksi revolusi sosial 3 Maret 1946, ada kebebasan penuh kepada
    para pendatang dan foedalisme pun hapus di Simalungun.

    2.
    Mengenai posisi dan pengertian raja di Toba dan Simalungun sebenarnya sangat
    jauh perbedaanya. Mengenai hal ini, saya anjurkan agar Sdr Napitupulu
    membaca kertas kerja dari Pdt. Dr. S.M. Siahaan yang berjudul, “Peranan dan
    Kedudukan Raja dalam Struktur Suku dan Masyarakat Batak Toba” dalam Buletin
    STT HKBP Vocatio Dei VIII (April-Juni 1984) hal. 25-36. Saya kutip saja
    sebagian, “…..disimpulkan oleh AB Sinaga bahwa pengertian “raja” dalam
    masyarakat Batak Toba berbeda jauh dengan segala ide yang mengelilingi kata
    ini dalam bahasa Indonesia. Dijelaskannya perbedaan pengertian ini dengan
    pemakaian ungkapan : “raja disi, raja dison, samasama raja”. Dengan
    demikian, pengertian raja berarti bukan hamba atau “ndang hatoban.” Sebagai
    akibat dari sistim perkampungan yang tertutup, maka setiap kampung tidak
    tergantung kepada seorang raja yang administratif dan feodal” (hal 26). Akan
    halnya Raja Sisingamangaraja dalam kajian para sejarawan seperti diungkapkan
    Castles dalam disertasinya, “…hanyalah sekedar pendeta tertinggi dalam
    moitie kelompok Sumba yang mencakup marga Ompu Pulobatu, yaitu marga
    Sinambela” marga dinasti Sisingamangaraja bukan seorang raja sebagaimana
    pengertian ketetanegaraan modern. Karena itulah dalam disertasi Dr. Lance
    Castles yang sudah diterjemahkan bejudul Tapanuli (2001:13) ia jelas
    menerangkan, “Sebelum masa kolonial masyarakat Batak Toba hampir tidak
    mengenal negara (stateless). Penduduk kampung tinggal di kampung-kampung
    yang disebut huta. Dan untuk kelancaran administrasi pemerintahan di
    Tapanuli, Belanda kemudian mengangkat kepala-kepala kampung menjadi pemimpin
    dengan pangkat “radja ihoetan” dan “kapala nagari”, sedangkan di Mandailing
    dengan “kapala kuria. Akan halnya di Simalungun, berbeda jauh dengan
    masyarakat Tapanuli. Dalam disertasi Wolfgang Clauss, Economic and Social
    Change among the Simalungun Batak of North Sumatra (1982:48), beliau
    menjelaskan: “Of all Batak people, only the Simalungun had developed
    political structure that resembled a form of state. Before the coming of the
    Dutch, several small kingdoms headed by radjas exixted in Simalungun, but
    these lacked both clearly defined territorial boundaries and internal
    coherence. …..the radja’s direct rule was limited to his capital
    (pematang) and neighboring villages.” Dalam sejarah Simalungun kerajaan
    tertua di Sumatera Timur adalah Kerajaan Parpandanan Na Bolag (sekitar abad
    V) yang kemudian disebut Nagur yang bertentangga dengan Haru (cikal bakal
    Kesultanan Deli) dan Gasip (cikal bakal Kesultanan Siak). Nagur dengan
    dinasti Damanik kemudian pecah menjadi Raja Maroppat sekitar abad XIV
    (Panei, Silou, Tanoh Djawa dan Siantar). Setelah ditekennya Korte Verklaring
    oleh raja-raja Simalungun, partuanan banggal Purba, Raya dan Silimahuta yang
    semula daerah vassal dari Panei dan Silou diangkat statusnya menjadi
    kerajaan. Sehingga sampai revolusi sosial tahun 1946 ada tujuh kerajaan di
    Simalungun. Masing masing mempunyai pola pemerintahan yang sama yang disebut
    Sioppat Suhu dengan harajaan sebagai kabinetnya dan sub ordinat partuanan
    dan parbapaan sampai kepada pangulu dengan masing-masing gamot (pejabat
    pemerintah) yang dikendalikan dari pusat pemerintahan yang disebut
    “pamatang” (bukan pematang). Menurut J.R. Hutauruk, satu-satunya hanya ada
    di Simalungun.

    3.
    Bahasa Simalungun. Sdr Napitupulu menyimpulkan, sebenarnya tidak ada
    perbedaan yang mencolok sekali antara bahasa Simalungun dengan bahasa Batak
    Toba dan tidak ada kedekatan antara bahasa Simalungun dengan bahasa
    Sansekerta. Apa yang saudara ketahui itu adalah pengetahuan orang awam,
    mereka yang tidak paham dan kenal betul sejarah, struktur, grammatikal
    bahasa dan jiwa serta vokabulari bahasa Simalungun asli (karena dari daftar
    kata yang saudara tulis itu ada banyak kata yang bukan termasuk bahasa
    Simalungun asli dalam hal ini bahasa ibu saya bahasa Simalungun Sin Raya
    bahasa asli Simalungun). Dan untuk itu ada baiknya saudara membaca karya
    pakar bahasa dan aksara Batak Dr Uli Kozok yang berjudul, Warisan Leluhur:
    Sastra Lama dan Aksara Batak (KPG-Jakarta, 1999). Dan disertasi Prof Hendry
    Guntur Tarigan, Morfologi Bahasa Simalungun yang berhasil dipertahankannya
    di Fakultas Sastra Unibersitas Indonesia Jakarta pada tanggal 5 Juni 1979).
    Tetapi untuk lebih jelasnya saya akan merangkumkannya sebagai berikut :
    Memang benar, bahwa pada zaman zending, anggapan umum selalu mengkaitkan
    etnis Simalungun berasal dari Samosir (Toba) dan bahasanya hanyalah dialek
    saja dari bahasa Batak Toba. Itulah sebabnya bahasa dan kebiasaan di
    Tapanuli diterapkan di Simalungun oleh para zendeling Jerman yang mahir
    dalam adat dan bahasa Batak Toba. Sejak ketibaan Injil di Simalungun, bahasa
    Batak Toba-lah yang menjadi bahasa Gereja dan Pendidikan di Simalungun.
    August Theis, Guillaume dan Meissel sebagai pionir zending Kristen di
    Simalungun bukanlah orang yang paham dan menguasai bahasa Simalungun. Mereka
    bersama pembantunya dari penginjil Batak Toba selalu berkomunikasi dalam
    bahasa Batak Toba dalam mengabarkan Injil. Dalam sejarah hanya Simon-lah
    yang pertama sekali menganjurkan pemakaian bahasa Simalungun dalam
    mengabarkan Injil kepada pembantu-pembantunya dari Toba dalam mengabarkan
    Injil di Bandar pada tahun 1905. Simon-lah orang Jerman pertama yang sadar
    akan perbedaaan yang sangat mencolok antara bahasa Batak Toba dengan
    Simalungun. Dan karena “kesalahan” inilah sehingga zending RMG “tidak
    sukses” mengkristenkan orang Simalungun. Barulah sejak Pdt. J. Wismar
    Saragih (oppung-nya Jan Wiserdo Saragih) menjadi “oposan” bagi zending RMG
    dan kaum Kristen Batak Toba dalam memperjuangkan harkat, martabat suku
    Simalungun, bahasa dan budaya Simalungun kembali pada tempatnya semula,
    menjadi tuan di rumahnya di Tanoh Simalungun. Sebagai seorang Simalungun
    yang bertahun-tahun tinggal di Tapanuli, beliau paham benar bahwa ada banyak
    kata-kata dalam bahasa Simalungun dan Batak Toba yang sama bunyinya tetapi
    berbeda artinya. Tidak saya cantumkan di sini karena akan terlalau panjang.
    Kesemuanya ini sudah ia daftarkan (ada 200 buah) dan dipublikasikan di
    Sinalsal No. 52/Juli/1935. Dan sejak didirikannya Comite Na Ra Marpodah
    1928, pertumbuhan orang Simalungun yang menjadi Kristen berlipat ganda, itu
    disebabkan pemakaian adat, budaya dan bahasa Simalungun dalam proses
    penginjilan. Pangulu Balei Djaudin Saragih sebagai pejabat pemerintah sampai
    mengancam guru-guru Toba yang masih ngotot memakai bahasa Batak Toba akan
    mengadukannya ke Kerapatan Bolon Raja-raja Simalungun agar dihukum penjara.
    Dan sejak itu makin surutlah pengaruh bahasa Toba di gereja-gereja
    Simalungun dan akhirnya hilang sama sekali. Nah itulah sebentuk perlawanan
    orang Simalungun tempo doeloe terhadap pandangan inferiornya orang Toba
    terhadap orang Simalungun sebagaimana dalam pandangan Sdr Napitupulu.
    Baiklah kita kembali pada persoalan semula. Menurut ahli bahasa Dr Uli
    Kozok, bahasa Simalungun adalah bahasa tersendiri yang berdiri di antara
    bahasa-bahasa Batak (sebab tidak ada bahasa Batak yang tunggal secara
    ilmiah). Saya kutip selengkapnya : “Kelima suku Batak memiliki bahasa yang
    satu sama lain mempunyai banyak persamaan. Namun demikian, para ahli bahasa
    membedakan sedikitnya dua cabang bahasa-bahasa Batak yang perbedaannya
    begitu besar, sehingga tidak memungkinkan adanya komunikasi antara kedua
    kelompok tersebut. Bahasa Angkola, Mandailing dan Toba membentuk rumpun
    selatan, sedangkan bahasa Karo dan Pakpak Dairi termasuk rumpun utara.
    Bahasa Simalungun sering digolongkan sebagai kelompok ketiga yang berdiri di
    antara rumpun utara dan rumpun selatan (demikian juga pandangan Dr. P.
    Voorhoeve), namun menurut ahli bahasa Adelaar (1981) secara historis bahasa
    Simalungun merupakan cabang dari rumpun selatan yang berpisah dari cabang
    Batak Selatan sebelum bahasa Batak Toba dan Angkola-Mandailing terbentuk.
    Nah untuk lebih jelasnya Sdr Napitupulu agar membaca buku Dr. Uli Kozok
    tersebut di hal. 14.

    4.
    Pengaruh India/Sansekerta melalui Djawa-Hindu dan Pagaruyung pada suku
    bangsa Simalungun. Tideman, Tichelman dan Dr. P. Voorhoeve sebagai
    sarjana-sarjana Belanda mengakui bahwa suku Simalungun sangat dipengaruhi
    oleh India/Hinduisme. Pertama, sistem pemerintahan monarkinya Simalungun
    jelas merupakan adaptasi dari budaya India dengan “raj”nya yang
    menggolongkan masyarakat Simalungun dalam tiga kelas: partongah (high
    class), paruma (middle class) dan jabolon/hatoban (lowest class). Bandingkan
    dengan brahmana, vaisja dan sudra di India. Kedua, gual (kesenian asli)
    Simalungun yang sangat dekat dengan India, khususnya “inggou sarunei”.
    Sebagai seorang seniman Simalungun, yang dapat memainkan gonrang dan sarunei
    Simalungun, saya merasakan kalau seni musik Simalungun asli ini punya punya
    nilai seni yang khas dan daya “magic” tinggi, dan saya lihat ada banyak
    persamaan iramanya dengan irama tradisional India dan juga Thailand (saya
    pernah bermain musik tradisional dengan rombongan mahasiswa dari Universitas
    Thaksin dari Chiang Mai). Ketiga, upacara penabalan dan pemakaman raja-raja
    Simalungun tempo doeloe (masih ada microfilimnya di Leiden), sangat dekat
    dengan upacara penabalan dan pemakaman di India dan jauh beda dengan Batak
    Toba. Upacaranya agung, khidmat dan penuh dengan nilai-nilai kesakralaan dan
    dengan protokoler yang rumit serta khas. Untuk ini ada baiknya memang
    saudara membaca karya Dr. Harry Parkin, Batak Fruit and Hindu Thought
    (Madras, 1978). Keempat, bahasa Simalungun, jelas dipengaruhi bahasa
    Sansekerta atau Pallawa (India Selatan), hanya pada etnis Simalungun ada
    akiran ei, ou, ah, dan huruf penutup g, d yang oleh Dr. P. Voorhoeve
    diterangkannya merupakan bahasa bona-bona dari satu bahasa purba (proto
    language), di Karo dan Toba, huruf penutup ini hilang, karena semakin
    menjauh dari bahasa induknya. Yang uniknya, seperti diterangkan Dr. P.
    Voorhoeve, ada kata yang sama dalam bahasa Simalungun tetapi apabila huruf
    penutup dan akhirannya berbeda, maka artinya juga sudah berbeda. Contoh,
    “balog” artinya “perbatasan/boundaries”, “balok” artinya, “kayu gelondongan”
    , “dokdok” artinya, “cabut” seperti dalam sebaris kalimat Pustaha Tuan
    Bandar Hanopan tentang cerita Kerajaan Silou, “dokdok ma urat ni padang
    silah on, anggo idokdok ho taridah ma jambulan ni panakboru puteri Ijou”,
    “dokdog” artinya “bulir padi yang kosong/Toba: lapung”, “pusog” artinya
    “pusar manusia”, “pusok” artinya bisa “lang siat be/rapat” dan “berdukacita”
    , “parah” artinya “orang yang sakit”, “para” artinya “tempat perkakas di
    dapur”, “rub” artinya “bunyi kayu tumbang”, “rup” artinya bersama-sama,
    “pak” artinya suara benda jatuh, “pag” artinya “berani”. Di Simalungun ada
    terdapat bahasa tinggi mirip dengan bahasa Jawa Ngoko dan Jawa Inggil pada
    etnis Jawa. Menurut ahli bahasa Voorhoeve, bahasa ini hanya terdapat pada
    suku Simalungun dan sedikit pada suku Karo. Ini disebabkan struktur
    masyarakat Simalungun yang berpola “monarki feodalistis”, zaman dahulu
    seluruh percakapan dengan raja punya pola tersendiri yang rumit jauh beda
    dengan bahasa “awam” Simalungun sekarang ini. Untuk berbicara dengan raja,
    sipembicara harus menyebut raja “tuhanta”, permaisuri (puangbolon) dengan
    “lai” atau “lani”. Saya kutip sepenggal kalimat dalam Pustaha Parpandanan Na
    Bolag, “Ou, amang umbei-umbei, pardja do lai ham?” Marsampang homai ma guru
    ondi, “Ou amang pardusun, ulang ihatahon ham au amang umbei-umbei, dong do
    lai goranku Guru Langgam Banua Holing, hunjai ni Si Lindung do anggo ahu,
    hun tanoh Batang Toru, jayu silopak ulu, dapot do hubahen mardaras mardorus
    bulungni torop salih menjadi begu.” Di Simalungun dan Karo untuk menyapa
    orang yang lebih tua dengan kata “ham/kam”, sedangkan untuk di bawah
    tingkatan/sederajat dengan kata “ho.” Tetapi dibanding Karo, Simalungun
    masih punya “kekhususan”. “Apabila ada orang tua melemparkan pertanyaan
    kepada kita (yang lebih rendah), pamali apabila dijawab dengan “alo” (Toba”
    “olo”), karena akan dianggap menghina, karenanya harus dijawab dengan “eak
    Atturang” atau “eak dahkam”, demikian juga apabila menyebut lebih dari satu
    orang harus “nasiam” kepada yang lebih tua dan “hanima” atau “handian”
    kepada yang lebih muda/sederajat. Singkatnya, bahasa prokem di Simalungun
    itu ada dan rumit, ini tidak ada di Toba. Mengenai keterkaitan Hinduisme
    dengan Simalungun saya kutip tulisan Arlin Diertrich (2003:18-19), “istilah
    “Jawa” ….mengacu ke Pulau Jawa atau ….berkaitan dengan kata “Jau” dan
    dengan demikian mengacu pada “orang asing”. Legenda sehubungan dengan
    berdirinya Kerajaan Tanoh Djawa ini mengisahkan seorang pangeran dari Djawa
    atau “Djawa Silepahipoen” (orang-orang Djawa bergigi putih”. Nama yang
    terakhir ini mendorong Tideman untuk meyakini bahwa para penguasa Tanoh
    Djawa ada kemungkinan berasal dari Tanah Minangkabau atau campuran antara
    Jawa-Minangkabau.” Selanjutnya dijelaskan Arlin lagi, “…peninggalan budaya
    di Simalungun seperti anisan (tiang kubur) dan bangunan suci tertutup yang
    zaman dahulu yang berfungsi sebagai kuil pemujaan (dahulu banyak terdapat di
    Dolog Sinumbah-Pardagangan, penelitian Martua Radja Siregar) membuktikan
    keberadaan unsur pengaruh Djawa Hindu. Unsur pengaruh Djawa-Hindu juga
    dijumpai dalam konsep pemerintahan raja dan istana yang jauh lebih
    berkembang di wilayah Simalungun dibandingkan dengan suku-suku Batak
    lainnya. Makanya tidak mengherankan apabila Arlin menulis, “…seorang rekan
    warga India yang kebetulan berkunjung ke Sumatera Utara melontarkan
    pendapatnya bagaimana ia merasa seperti berada di kampung halamannya
    sendiri, karena banyaknya, “hal-hal yang berbau India” yang ia jumpai di
    daerah ini. Sebagai penutup, saya kutip tulisan Edwin M. Loeb dalam bukunya,
    Sumatra: Its History and People (1990:20), “The Bataks were influenced to a
    considerable extent by Hindu civilization. Direct Hindu influence is said by
    the natives themselves to have come from the east (Timur/Simalungun). The
    more important Hindu traits imported into the Batak country were wet rice
    culture, the horse (”batak”=penunggang kuda), the plow, the peculiar style
    of dwelling, chess, cotton and the spinning wheel, Hindu vocabulary, system
    of writing (dari aksara Pallawa-India Selatan) and religious ideas. Tulisnya
    lagi, “Of more practical importance was the influence exerted by the Hindus
    among the Timur (Simalungun) and Karo Bataks toward state formation. The
    Timur (Simalungun) district ruled by radjas and their families are the only
    large territorial units” (hal. 38).

    C. Kesimpulan :

    ++
    Menilik perjalanan sejarah suku bangsa Simalungun, nenek moyang suku bangsa
    Simalungun asli yang menurunkan marga Sinaga, Saragih, Damanik dan Purba
    (Sansekerta: “Naga”, “Ragih”, “Manik” dan “Purba”) jelas tidak benar berasal
    dari Toba Samosir melainkan dari keturunan sekelompok pengembara dari India
    Selatan (Nagore) yang mendirikan Kerajaan Nagur dinasti Damanik Nagur
    (500-1295) dan Siam (yang leluhurnya mendirikan Kerajaan Panei, Silou, Tanoh
    Djawa dan Siantar) yang masuk ke Simalungun via Aceh dan pantai Sumatera
    Timur. Pada abad ke-15 secara bertahap (bnd. teori sungsang) terjadi
    perpindahan antara masyarakat Simalungun ke Samosir (legenda sappar) dan
    menurunkan marga Sinaga, Manik, Purba dan Saragi (menurut sebutan orang
    Samosir) atau sebaliknya bermigrasi ke Simalungun dan memasuki marga
    raja-raja tersebut agar dapat memperoleh tanah di Simalungun. Jelasnya, di
    Simalungun ada dua keturunan nenek moyang, yaitu : Simalungun Tua (Proto
    Simalungun) dan Simalungun Muda (Deutro Simalungun).

    ++
    Bahasa dan aksara Simalungun berawal dari bahasa tua (Sansekerta/Pallawa) di
    India Selatan yang bercampur dengan bahasa Melayu Tua. Sedangkan, aksara
    Simalungun (surat sapuluhsiah) berasal dari aksara Pallawa yang menurut
    penelitian Dr Uli Kozok bermula di Padang Lawas (Mandailing) dari sana ke
    Simalungun kemudian ke Toba dan Dairi dan berakhir di Karo.

    ++
    Kebudayaan dan adat istiadat Simalungun asli banyak merupakan duplikasi
    adat dan budaya di India Selatan dan Siam yang pada abad ke XIII dan XIV
    akibat invasi Singosari dan Madjapahit budaya Jawa-Hindu turut menanamkan
    pangaruhnya. Pengaruh Melayu Islam dan Aceh masuk kemudian mulai abad XV dan
    XVIII dan budaya Eropa melalui zending RMG masuk pada permulaan abad XX.

    ++
    Mengingat banyaknya unsur budaya dan keturunan yang masuk ke Simalungun,
    sehingga etnis Simalungun tercatat merupakan etnis yang terbuka dengan
    pendatang (sehingga etnis Simalungun hanya + 20 % saja dari penduduk
    Kabupaten Simalungun sekarang dan toleransinya tinggi, sepanjang kepentingan
    dan harkat martabatnya tidak diutak-atik. Sebab suku Simalungun hidup dalam
    Habonaron do Bona yang menjunjung tinggi kebenaran dan keadilan.

    D. Penutup
    Demikianlah tanggapan saya atas bantahan Sdr Gunawan Napitupulu
    seorang etnis Batak Toba; yang menurut saya cukup “berani” menjelaskan
    eksistensi suku bangsa Simalungun. Koentjaraningrat begawan antropolog itu
    menulis, “yang dapat menjelaskan persis ekesistensi suatu suku bangsa adalah
    suku bangsa itu sendiri, bukan orang lain.”

  10. Posted Desember 27, 2009 at 1:46 am | Permalink

    sebelumnya saya sebagai cucu dari opung UH.SUMBAYAK,yang mana saya mau menangapi mengenai tulisan di atas yg menyatakan para pendiri GKPS yg awal sekali disana di tulis bahwa mereka “sewa” rumah untuk menjadi kantor pusat GKPS.dengan rasa hormat saya agar kata “sewa” rumah di jl.Patuanagari martoba Pematang siantar,”agar dihapus”,karena saya sebagai cucu dari yg punya rumah tersebut sudah menanyakan langsung ke orang tua saya sewaktu dia kecil Bapak DR. SOPAN EDDY SUMBAYAK,kalau rumah itu tdk pernah disewa oleh opung kami pada saat masa itu,rumah itu dikatakan oleh bapak saya di kasih pinjam untuk pelayanan gereja & pembangunan kantor pusat GKPS yg pertama kali dan tidak ada kata “sewa menyewa” pada masa itu,karena prinsinya alm opung kami pada masa itu berperinsip bersama alm.Pdt J.wismar saragih sumbayak untuk meyelamatkan perkabaran injil berbahasa simalungun & melestarikan kebudayaan Simalungun pada masa tersebutdan,kalau di buku kisah nyata Pendeta J.wismar saragih sumbayak,terbitan BPK Gunung mulia tidak kata “sewa”,.oleh karena itu sudilah kata2 sewa dapat di hapus di atas.mohon maaf kalau saya agak protes disini karena saya sbg cucu opung kami tercinta wajib menyampaikan pesan moral ini saya sampaikan.ok

  11. Posted Juli 22, 2010 at 5:14 pm | Permalink

    kepada saudar hukson sumbayak, ketika saya membaca komentar anda saya kagum dan bangga karena anda mengungkapkan sebuah kebenaran namun, jika kita juga melihat di situs GKPS mengenai sejarah GKPS tetap saja disana dituliskan bahwa tempat kantor pusat memang di sewakan oleh karena itu ada baiknya anda menanyakan kepada GKPS sebenarnya itu di sewa atau dipinjamkan begitu saja, sehingga kami yang membaca sejarah gkps tahu bagaimana sebenarnya masalah gedung kantor gkps yang dulunya.

  12. Posted Juli 22, 2010 at 5:15 pm | Permalink

    atau mengkin saja tu rumah mang gak di sewa melainkan mau mengatakan itu rumah sewaan mungkin beti saudara sumbayak.

  13. rudy sumbayak
    Posted Agustus 16, 2011 at 10:44 am | Permalink

    yg penting maju terus GKPS..,…..

  14. Barthimeus Sumbayak,S.Pd.
    Posted Agustus 30, 2013 at 10:48 pm | Permalink

    Diatei tupa ma bamu na dob manurathon informasi on.TUHAN jesus mamasu-masu. Horas !!!

  15. Posted Oktober 6, 2013 at 8:03 pm | Permalink

    Magnificent goods from you, man. I have understand your stuff previous to
    and you are just extremely wonderful. I really like what you have acquired here, certainly like what you are stating and the way in which you say it.
    You make it enjoyable and you still care for to keep
    it smart. I can not wait to read much more from you.

    This is really a great website.


Tulis sebuah Komentar

Required fields are marked *
*
*

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 36 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: